
Bab 1
(PoV Ocha)
Mobil yang disetir seperti tersendat jalannya. Sudah bertahun-tahun lamanya tidak pernah seperti ini. Terlebih karena selalu dirawat dengan baik. Bahan bakarnya saja selalu dalam keadaan full. Sedikit saja berkurang, akan cepat diisi oleh Ocha. Pun dengan suaminya Gun.
Mereka memiliki mobil masing-masing. Sudah tentu kebersamaan mereka juga berkurang. Apalagi Ocha sebagai wanita karir dengan satu anak perempuan yang sudah menduduki bangku SMA. Sedangkan suaminya juga pekerja keras yang di otaknya hanyalah bisnis dan bisnis.
Jarang sekali bercanda dan duduk bersama. Selain di kantor masing-masing, di rumah pun yang menemani mereka hanya ponsel dan laptop. Sampai-sampai putri mereka sendiri selalu pergi dengan temannya entah ke mana.
"Aduh ... ini mobil kenapa, sih? Tumben banget, kek, rongsokan," ocehnya pada dirinya sendiri sambil menginjak rem dengan berlahan.
Dia keluar mobil sembari melihat ke kiri dan kanan. Siapa tahu ada yang bisa membantu memperbaiki mobil saat di pinggir jalan. Tidak satu pun ada yang lewat kecuali dum truck dan bus lainnya. Tidak mungkin dia memberhentikannya.
"Di tengah hutan begini mana ada orang yang lewat." Icha semakin mengeluarkan ocehannya.
Dia meraih ponsel untuk menghubungi suaminya terlebih dahulu. Walaupun dia tidak yakin kalau suaminya mau datang. Paling tidak bisa menyuruh orang bengkel datang ke tempat Ocha berhenti.
Sudah tiga panggilan dicoba Ocha, tetapi tidak juga diterima oleh Gun, suaminya. Dia ulang kembali hingga sepuluh kali panggilan, barulah diangkat.
"Mas, di mana?"
"Masih di hotel. Kenapa?"
"Mobilku, Mas. Keknya, rusak, deh."
"Aduh, Mas lagi sibuk-sibuknya, nih." Benar dugaan Ocha. "Mas telepon bengkel biasa aja, ya. Biar mereka datang," saran Gun.
"Oke, Mas."
"Tolong kirimkan lokasinya ke Mas. Biar Mas kirimkan ke nomor tukang bengkel."
Ocha menuliskan alamat yang dia sendiri sulit menyebutkannya. Terpaksa menggunakan peta share lokasi. Setelah terkirim pesan tersebut, dia mengecek pesan singkat lainnya yang masuk.
Dia berpikir kenapa terlalu lama montir itu datang. Sementara Ocha sudah mulai khawatir karena sendirian di jalanan. Sekitar sepuluh menit kemudian, sebuah mobil berhenti di depan mobil Ocha.
"Ibu Ocha?" tanya seorang pria dengan membawa tempat alat-alat bengkel seadanya.
"Ya, dengan saya sendiri. Montir?" Sama sekali Ocha tidak mengenal lelaki itu. Mungkin pekerja baru.
"Iya, Bu."
"Owh, ok. Silakan cek mobil saya." Setelah itu aku melihat ponsel. Menggeser layar sekaligus melihat berita terbaru dari kantor.
Sekitar dua puluh menit, mobil sudah bisa dinyalakan. Berarti kerusakan tidak terlalu parah. Ocha sudah merasa kalau waktunya sia-sia di sini. Seharusnya dia sudah sampai ke suatu tempat dan bisa menghasilkan uang.
__ADS_1
Ucapan terima kasih yang Ocha sampaikan, sebagai pertemuan terakhir antara keduanya. Masalah pembayaran jasa, harus melalui bos pemilik bengkel. Dan itu membuat lebih baik daripada harus melakukan transaksi di tempat sepi.
Ocha terburu-buru dengan mengendarai mobil. Ketika berada di lampu merah, mobil mewah berwarna hitam mengkilap tepat di sampingnya untuk menunggu si hijau. Dia mengenali mobil tersebut.
"Mas Gun? Tapi dengan siapa dia?" ucapnya pelan pada diri sendiri.
Dia perhatikan dari kaca jendela. Sedikit samar karena Gun juga menutup jendela. Apalagi kaca berwarna hitam dan posisi mobil di kiri. Jadi sulit untuk dipastikan.
Lampu kuning menyala, lalu hijau dan diperbolehkan untuk melaju. Kini pikiran Ocha ada pada suaminya dengan wanita itu. Untuk menghindari rasa sakit, dia memaksa hatinya untuk berkata kalau itu hanya sebatas teman sekantor. Bahkan karyawan hotel.
Tepat di restoran terkenal di kota itu, Ocha melihat mobil suaminya terparkir. Dan kebetulan dia juga hendak makan di sana. Ragu kalau misalnya mereka sama-sama makan meski berbeda meja.
'Ah, ini tempat umum. Siapa pun bebas makan di sini,' pikirnya, sambil membelokkan mobil ke parkiran ujung.
Ocha berharap agar tidak diketahui keberadaannya oleh suaminya. Dari pojok, dia melihat gelagat Gun yang sedari tadi asyik bicara dengan wanita itu.
Seorang pramusaji datang menghampiri untuk memberikan katalog menu yang disediakan. Dengan hati yang bercampur aduk, dia hanya memesan sup daging dan nasi saja. Tanpa teh, tanpa jus. Cukup segelas air putih hangat.
Sesaat hendak menyuapkan nasi ke mulut, mata Ocha tertuju pada tangan Gun memegang jemari wanita itu dengan lembut. Sungguh panas perasaan Ocha. Nasi yang hampir masuk ke mulut, kini terpaksa dikeluarkan.
Dia menarik napas panjang dan berat. Memang, ini bukan yang pertama kali dia saksikan, tetapi Ocha tetap diam demi hubungan pernikahan yang lumayan awet. Semua itu dilakukan, agar rumah tangganya benar-benar utuh.
Diraihnya ponsel, laku mengirimkan pesan singkat melalui aplikasi berwarna hijau.
[Lagi di kantor.]
Ocha diam. Tega sekali Gun atas perlakuannya. Cepat membalas pesan dari Ocha, tapi karena takut kalau Ocha tau tingkahnya. Padahal Ocha selalu melihatnya sendiri.
[Mas sama siapa?]
[Sama beberapa karyawan di kantor. Kebetulan ada rapat hingga sore.]
Ocha meninggalkan mejanya dan menemui suaminya.
"Mas," panggil Ocha, tepat di depan Gun berdiri.
"Ocha? Ka-kamu sama siapa?" Gun tampak gelisah dan bingung.
"Mas di kantor?" tanya Ocha. "Terus, ini yang namanya rapat dengan beberapa karyawan?"
"Aduh! Kamu mau apa, sih? Haaa?! Hargai, dong, temen, Mas."
"Mas minta aku ngehargain wanita ini? Kamu salah, Mas?"
"Lah, dia klien Mas, Cha. Ngerti, dong."
__ADS_1
"Klien? Dengan klien bisa bergandengan tangan? Aku yang bodoh apa kamu, sih, Mas?"
"Cha! Ini klien Mas. Tolong jaga sikap ...," pintanya dengan suara ditekan agar tidak terdengar pengunjung restoran.
"Aku nggak akan tinggal diam, Mas! Aku istrimu. Wajar kalau aku marah dengan kelakuan suaminya sama wanita lain."
"Mbak! Denger nggak apa yang dikatakan Pak Gun. Saya klien hotel. Bukan siapa-siapa," bantah wanita itu untuk membela Gun.
"Saya nggak mau denger! Yang jelas Anda adalah PE-LA-KOR!"
"Hei! Saya nggak suka ada yang ganggu, ya! Ingat! Saya bukan gadis sembarangan! Paham!"
Tanpa menjawab lagi, Ocha menumpahkan jus buah naga ke baju wanita itu. Kini warna baju sudah berubah dari yang awalnya putih. "Makan, tuh, gadis terhormat!"
"Ocha! Keterlaluan kamu!" Ocha meninggalkan mereka dan pergi begitu saja. Makanan yang tersaji juga tidak sempat di makan. Itu semua karena ulah suaminya.
Gun masih saja membantu wanita itu membersihkan bajunya dengan tisu. Bukannya mengejar istrinya, malah asyik dengan wanita yang haram untuk dia sentuh.
"Kamu nggak pa-pa kan, Sayang. Maafkan istri saya. Dia memang begitu, kok." Gun mengatakan kalimat itu, seolah merasa istrinya yang bersalah.
"Saya nggak pa-pa, Pak. Tapi, lihat ini, baju saya jadi rusak begini. Aduh," kesalnya.
"Setelah makan, kita ke mana? Kamu ada bawa baju lain?"
"Nggak ada, Pak," jawabnya. "Owh, saya ada baju di tas. Saya baru ingat."
"Habiskan dulu makannya."
"Enggak, deh, Pak. Nggak selera lagi. Saya ke toilet dulu."
Gun menunggu di mejanya. Cleaning servis membersikan lantai yang terkena tumpahan jus.
[Awas kamu, Cha!]
Pesan singkat dari Gun telah dibaca Ocha. Namun, Ocha tidak membalas pesan itu.
"Yuk, balik ke hotel, Pak."
Gun mengangguk dan menggandeng tangan Vhivie dengan mesranya.
"Augh! Huh!" Vhivie seketika seperti orang hanyut di sungai.
--bersambung--
Next?
__ADS_1