
Bab 4
(PoV dokter Herdian)
"Mami ... sakit, Mi ...," rintih Rhico dengan wajah pucat seperti tidak berdarah.
"Iya, Sayang. Mami di sini, kok. Yang kuat, ya, sayang." Ocha berdoa agar tidak terjadi apa-apa pada anaknya.
"Cha, tolong hubungi Reren. Biar dia menemani kita. Kalau ada yang perlu dibeli, dia aja yang bergerak. Kita fokus ke Rhico," kata Gun.
Sebenarnya Ocha males mengikuti suruhan suaminya. Karena masih ingat dengan kejadian yang membuatnya sakit hati. Membela wanita lain dibandingkan istri sendiri. Tidak pantas.
Panggilan diterima oleh Reren setelah deringan keempat.
"Ya, Mi. Aku lagi di kelas. Bye," putus Reren sebelum disahut oleh Ocha.
"Dasar anak setan!" makinya, setelah melihat layar ponsel berubah menjadi menu utama.
Reren sekarang super cuek pada orangtuanya. Baginya rumah dan keluarga hanya sebagai persinggahan semata. Kesehariannya di luar bersama teman-teman dan enjoy setiap malam pada diskotik yang berbeda. Dalam sehari semalam, dia menghabiskan uang lima ratus ribu rupiah. Untung saja ATM selalu diisi oleh papinya.
Dokter sudah beraksi di ruangan untuk menangani Rhico. Sekitar lima orang tenaga medis masuk ke dalam. Ocha dan Gun masih sibuk dengan ponsel dan gaya mereka masing-masing.
Tim dokter telah berusaha keras, tetapi belum ada perubahan pada diri pemuda yang selalu merasa menang pada orangtuanya. Mungkin ini adalah karma karena selalu kurang ajar dan mengabaikan ucapan dan nasihat yang diberikan.
Dua orang polisi juga menemani mereka. Memang seharusnya begitu karena Rhico adalah tahanan baru. Sepantasnya dijaga ketat agar tidak lari. Pihak kepolisian khawatir kalau sakitnya hanyalah kepura-puraan saja untuk mengelak dari penjara.
"Cha, Mas keluar dulu, ya. Mau ngopi. Kepala pusing banget," ucap Gun, sembari beranjak dari duduknya.
"Mas, sebentar lagi napa, sih. Kan kita belum tahu keadaan dengan Rhico. Malah pergi. Nggak tanggung jawab banget kamu, Mas," celanya.
__ADS_1
"Lah, kok, malah ngomong gitu? Kan aku cuma mau ngopi doang. Kau bisa kasi tau melalui telepon. Ribet amat, sih!" balas Gun dengan sedikit membentak.
Dua polisi itu memerhatikan sepasang suami-istri itu. Mereka berpikiran, ternyata orang kaya belum tentu rumahtangganya bahagia. Buktinya, selama yang mereka lihat, pertengkaran selalu saja terjadi. Uang dan harta bukanlah tolak ukur yang paling utama.
"Pak, saya ke warkop bentar," pamitnya pada polisi yang ikut berjaga.
Kedua polisi itu mempersilakan. Memang tidak bisa diharapkan sepertinya, bila peran orang tua mulai hilang.
Ruangan tempat Rhico dirawat telah dijaga ketat. Tidak boleh dikunjungi oleh tamu lain, kecuali keluarga sendiri. Itu pun cuma kedua orang tua dan saudara kandung. Sudah menjadi peraturan dari pihak kantor polisi. Wajib dilakukan demi kenyamanan pasien agar lekas sembuh.
***
Sudah dua hari anak gadis Gun dan Ocha tidak pulang ke rumah. Sudah biasa seperti itu. Namun, kali ini sungguh berbeda. Tidak memberi kabar apa pun. Walaupun tidak pulang selama tiga hari, dia memberitahu melalui telepon, kadang mengirim pesan singkat. Dengan begitu Ocha tidak terlalu khawatir dan sedikit tenang.
"Mas, Reren ada nelepon atau pesan?" tanya Ocha.
"Hadeh, kamu ini," keluhnya. "Anak perempuan itu seharusnya lebih dekat dengan mamanya. Bukan aku! Bikin mumet aja," ucapnya, sembari membunyikan mulut pertanda kesal.
"Kalau kau nggak tenang, kenapa nggak dihubungi? Hah! Sama kamu itu makin setres aku," pekik Gun.
"Mas--"
"Udah, udah. Aku males debat. Aku mau cari angin dulu." Gun keluar. Dia hubungi Syania dan mengajak bertemu di sebuah kafe untuk menghilangkan penat.
Ocha menitikkan air mata tanpa suara tangisan. Dia pendam emosi dan duka. Tidak ingin lagi didengar polisi yang berjaga. Terutama Rhico yang masih dalam perawatan. Mungkin saja dia bisa mendengar suara yang ada di dekatnya. Bukannya sembuh, malah makin sakit karena memikirkan kondisi ketidakharmonisan orangtuanya.
Wanita dengan dua anak itu memastikan kalau media sosial putrinya aktif. Aplikasi berwarna hijau dia klik dan mencari nomor kontak Reren. Ada tulisan online di bawah namanya. Ocha mencoba menghubungi tanpa berpikir panjang.
Suara seperti kereta api terus berbunyi menandakan kalau panggilan belum diterima. Ocha mengulanginya lagi sampai diterima oleh putrinya. Sayangnya, tidak ada sahutan meski sudah hampir lima belas kali dilakukan. Dia mengira kalau ponsel anaknya hilang.
__ADS_1
"Bu, dipanggil dokter Herdian di ruangannya," ucap seorang perawat saat menemui Ocha. Saat ini, dokter itu yang menangani penyakit diderita Rhico.
Ocha langsung bergegas menuju ruangan yang telah disebutkan perawat. Jantungnya berdegup tidak menentu. Ada perasaan tidak enak. Karena ini pertama kali terjadi di keluarga Gun Jahrie. Keluarga kaya dan terpandang.
Ketukan pintu dari tangan Ocha mampu membuat dokter yang lebih muda darinya terkejut. Mata dokter itu membulat sempurna saat melihat Ocha. Perempuan energik dan masih saja kelihatan cantik dan anggun.
"Masuk, Bu." Dokter Herdian memberi senyuman manis.
"Terima kasih, dok," balas Ocha. "Oya, dok, gimana dengan kondisi anak saya?"
"Owh, iya, Bu. Mmm ... namanya Rhico, ya." Dokter terdiam sejenak sembari menguncupkan bibirnya. "Begini, menurut pemeriksaan saya, sakit yang dideritanya tidak begitu parah. Hanya saja perlu diperhatikan dan ditindaklanjuti. Bagaimanapun, kesehatan itu tidak lepas dari peran keluarga. Terutama ibunya. Ya, tau sendiri kan, Bu. Seorang anak lebih dekat dengan ibunya. Seperti saya contohnya. Ini contoh, lho," jelasnya dan diakhiri dengan tawa kecil sebagai hiburan.
"Iya, dok. Jujur, selama ini saya dan suami sibuk dengan bisnis masing-masing. Di rumah hanya ada asisten. Jadi, masing-masing memiliki kesibukan. Bahkan kami sekeluarga jarang berkumpul. Dan terbilang tidak pernah. Saya di rumah, papinya pergi. Begitulah perputarannya. Bergantian juga dengan anak-anak."
"Nah, mungkin itu yang jadi pemicu kenapa Rhico menyentuh barang haram. Juga dengan sakitnya, terlalu sering memakan makanan di luar yang banyak mengandung penyedap rasa yang berlebihan. Tidak semua, sih, begitu. Tau sendiri lah, Bu. Kalau nggak menggunakan itu, makanan yang mereka jual kurang disukai pelanggan."
Ocha baru sadar karena ucapan dokter tampan yang ada di hadapannya. Senyuman manis yang dilontarkan sulit dia lupakan. Paling dia sukai dari tenaga medis itu adalah memiliki pemikiran yang matang dan dewasa. Jarang dia menemui laki-laki muda seperti itu.
"Jadi gimana, dok, solusinya?"
"Kita tunggu saja keadaannya, sambil diberi obat, agar sakitnya bisa sembuh. Saya berusaha demi ibu."
Ocha mengangguk dan mengucapkan terima kasih atas bantuan dokter itu. Di akhir pembicaraan, Ocha diberikan kartu nama yang disertai nomor ponsel.
"Jika ada keperluan, hubungi saja ke situ, Bu. Saya siap melayani dan membantu," pesan dokter Herdian.
Ocha keluar ruangan, sebelumnya menyelipkan kartu tersebut ke dalam dompet.
--bersambung--
__ADS_1
Silakan Like dan Komen.