
Bab 3
(PoV Richo)
Masih pada hari yang sama. Ocha dan sekretarisnya kebingungan. Terpaksa memanggil tukang parkir yang bertugas di sekitaran.
"Mas, ke mari dulu," panggil sekretaris pada tukang parkir yang tidak jauh.
Tukang parkir itu datang menghampiri. Ocha memandangi ban mobil yang kempis dengan posisi tubuh jongkok. Dia merasa tidak habis pikir dengan kejadian saat ini. Mana mungkin kedua ban bisa kempis kalau bukan karena disengaja.
"Saya yakin ini kerjaan Gun, Mis," ucapku sembari berkacak pinggang.
"Ada apa, Bu?" tanya tukang parkir.
"Ini, Mas. Ban kami bocor, ada bengkel sekitar sini, nggak?"
"Setahu saya nggak ada, tapi coba, deh, cari ke sana," saran tukang parkir.
"Mir, kamu yakin dengan ucapannya?"
"Yakin napa, sih?" Mira berharap kalau bosnya percaya dengan ucapan seseorang yang belum dikenal.
Mira pergi mencari bengkel dengan berjalan kaki. Baru lima langkah, dia kembali pada Ocha. Dia tiba-tiba merasa ragu karena Ocha telah terdahulu kurang yakin. Ponsel yang ditaruh di dalam saku, segera diambil. Lalu entah siapa yang dia hubungi. Ocha hanya diam sambil melihat ke kanan dan kiri siapa yang lewat.
[Mas, mobil Bu Ocha kempis, nih. Tolongin, dong.] Ocha mengirim pesan pada seseorang.
[Posisi?]
Mira mengirimkan letak tempat mereka berada. Kebetulan alamatnya mudah dicari. Apalagi saat ini masih berada di depan restoran. Awan mulai menggelap.
Mendung menghambat semuanya. Hati kedua wanita itu semakin gelisah. Terlebih pada Ocha. Dia tidak ingin tubuhnya terkena air hujan. Karena tidak kuat menahan dingin. Dia selalu menggigil bila sudah tersentuh gerimis atau hujan. Penyakitnya itu sejak kecil. Kata orangtuanya alergi dingin.
"Mas!" teriak Mira, memanggil seseorang yang lewat.
Sepeda motor berhenti tepat di dekat mereka.
"Waduh, kok, dua-duanya pada kempis? Ini bukan lagi nahas namanya. Tapi sial," celetuk tukang bengkel.
"Terus gimana, dong?" tanya Ocha dengan selidik.
"Mmmm ... bentar, aku mikir dulu," ucap tukang bengkel, sembari menggeser layar ponsel.
__ADS_1
Ocha menarik napas panjang. Pun dengan Mira yang tidak sabar dengan kelakuan orang yang dia hubungi. Keduanya sibuk dengan ponselnya untuk menghilangkan jenuh.
Baru saja memegang ponsel, nada panggilan berdering.
"Ya, Mas." Ocha menerima panggilan dari suaminya.
"Cepat ke kantor polisi sekarang. Richo ada masalah."
"Tapi, Mas. Ban mobil lagi kempes. Dua, tuh," sahut Ocha.
"Mas nggak mau tahu, pokoknya sekarang datang."
Tuuut ... tuuut ... tuuut ....
Panggilan diputus oleh Gun. Polisi sedang menyidak anak laki-laki semata wayang yang sudah kehilangan kendali.
"Mir, bisa saya tinggal? Ada urusan mendadak, nih." Ocha mencari-cari taksi atau ojek yang lewat.
"Owh, iya, Bu. Gpp, nanti saya hubungi teman saya saja untuk menyiapkan ini semua," jawab Mira dengan penuh pengertian.
Tidak membutuhkan waktu lama, lewat ojek dengan jaket berwarna dominan hijau. Selama di perjalanan, Ocha memikirkan kesalahan anaknya. Selama ini hanya kenakalan tawuran, suka balap liar motor, juga ke diskotik yang kadang pulang sampai teler.
Saat itu juga, dia sadar akan kesalahannya dan Gun karena tidak pernah lagi fokus pada tingkah laku anak-anak mereka. Rhico juga sudah merasa nyaman dengan sikap dan penampilan yang dia banggakan. Pun dengan Reren. Selalu gonta-ganti pacar. Konon katanya, dia penyuka **** bebas dengan pasangannya.
"Bu, udah sampai," kata sopir pada Ocha yang sedari tadi mengkhayalkan kehidupan rumahtangganya.
"Owh, iya, Mas. I-iya," sahut Ocha dengan gelagapan.
Langkah kaki yang lumayan berat, wanita dua anak itu berusaha tegar. Terlebih ini sudah menjadi urusan yang berwajib. Berulangkali dia menarik napas panjang lalu melepaskannya.
"Cha, sini," panggil Gun dari pojok ruangan.
"Ada apa dengan Rhico?" bisik Ocha.
"Anakmu kedapatan membawa barang terlarang."
"Gila kau, Mas? Anakku? Dia anak kau juga dan darah dagingmu sendiri.
"Kalau anakku, nggak mungkin seperti ini. Kan kau mamanya, sudah tentu sembilan puluh persen adalah didikan ibunya.
"Hallaaaahhhh, sok suci kau! Denger, ya, Mas. Aku terlalu sibuk di luar. Lagian ada asisten yang menemani mereka."
__ADS_1
"Makan, tuh, didikan konyol," sanggah Gun. Dia meletakkan tangannya ke atas dada.
Polisi yang berjaga memanggil kami. Tentu saja sebagai seorang ibu, nalurinya sangat lunak. Terutama tentang anak yang dilahirkan. Dia meneteskan air mata yang diseka dengan tisu yang dibawa ke mana saja.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Ocha dengan suara parau.
"Mi ... bebaskan aku, Mi. Aku nggak bersalah." Pemuda itu menangis di depan mamanya karena menyesali perbuatannya.
"Sebentar, ya, Sayang. Biar Mama yang urus semuanya.
Pertemuan mereka melalui jeruji besi berkarat.
"Gimana, Mas? Apa kita urus saja?" Ocha berharap agar suaminya menyetujui sarannya.
"Hmmm ... kita pikirkan dulu," sahut Gun. "Kenapa, sih, Rhico melakukan hal sebodoh ini? Anak tak be berguna!" makinya pada darah dagingnya sendiri.
"Udah, nggak usah mencari-cari kesalahan. Ini sudah jalannya, Mas. Lagian, selama ini, Mas nggak begitu peduli sama anak."
"Ah! Ngawur! Apanya yang kau bilang? Bukan hanya aku yang nggak peduli. Kau juga. Sebagai seorang ibu, harus lebih ekstra. Kalau Mas, cuma pencari nafkah untuk kalian."
"Dan pencari perempuan untuk kepuasan. Ya, kan? Nggak usah ngelak," cela Ocha.
"Bisa nggak kau diam! Nggak usah membicarakan hal lain di depan anak," tegur Gun pada istrinya.
Gun meninggalkan Ocha dan Rhico. Dia menuju ke meja petugas yang menangani kasus anaknya. Sementara Ocha masih berbicara dengan putranya.
Gun mengusahakan agar Rhico bisa keluar dari kantor polisi. Mumpung mereka punya banyak uang, tidak ada salahnya untuk memberi suap pada polisi setempat.
Sayangnya, permintaan Gun tidak mudah untuk dipenuhi. Kenapa? Tentu saja alasannya karena kasus Rhico yang satu ini berbeda. Kalau sudah mengenai barang haram, susah untuk dimaklumi. Ujung-ujungnya rehabilitasi.
"Mi ... aku ... lemes banget." Rhico memegang perutnya sambil menunjukkan wajah mengerut.
"Napa, kau, Nak?" tanya Ocha dengan wajah murung.
"Sakit, Mi. Sakiiiiit ...," keluh Rhico.
Tiba-tiba tubuh Rhico ambruk ke lantai. Ocha menjerit histeris dan memanggil nama anaknya. Orang-orang yang ada di sekitar mereka datang berhamburan menuju tempat kejadian. Gun tampak lesu melihat keadaan anaknya.
Pihak kepolisian membuka pintu jeruji dan membawa Rhico ke rumah sakit sebelum kondisi tubuhnya semakin parah. Ocha naik ke mobil menemani putranya. Air matanya tidak berhenti berlinang. Sesekali dia membelai rambut Rhico dan mencium keningnya.
Belum pernah melihat Rhico seperti ini. Anak laki-laki semata wayang mereka, terus merintih kesakitan pada bagian perut. Ocha mengelus perut anaknya dengan penuh kasih sayang dan perhatian. Barulah dia menyadari, ternyata sudah terlalu lama dia tidak duduk berdampingan dengan anak-anaknya. Hanya ponsel yang selalu menjadi teman keseharian mereka semua.
__ADS_1
--bersambung--
Next?