
Bab 7
Wanita itu juga melihat Ocha dengan wajah murung. Tangan berada di perutnya yang membesar. Sementara sebuah tas berisi pakaian terletak dekat kakinya.
"Mbak, ada Mas Rio?" tanyanya sambil berdiri dengan kewalahan. Tangan kanannya diletakkan ke belakang panggul untuk menahan sakit.
"Mas Rio? Di sini nggak ada yang namanya Rio, Mbak. Mungkin Anda salah rumah, deh." Ocha menjawab enteng.
"Enggak, Mbak. Saya nggak salah rumah. Saya tau betul kalau ini rumah Mas Rio," ucapnya untuk memastikan ingatannya.
"Tapi ini rumah saya. Didalamnya ada tiga orang, tetapi tidak ada yang bernama Rio, Mbak."
Wanita itu mencoba menghubungi Gun melalui panggilan ponsel. Sayangnya, panggilan itu direject oleh Gun. Entah apa sebabnya. Ocha dengan tidak sabar, kembali bertanya.
"Mbak siapa? Kok, nyari Rio?" Ocha bisa menangkap jawaban wanita itu. Hanya saja masih ingin mendengar kejelasan langsung.
"Saya ditinggalkan setelah Mas Rio tau kalau saya hamil, Mbak. Sudah delapan bulan saya mencarinya. Tapi nggak pernah ketemu. Ditelepon juga direject. Memang, Beliau tidak pernah memblokir nomor hp saya. Dia malah sering melihat story saya di aplikasi hijau. Nggak tau apa maksudnya." Penjelasan wanita itu membuat Ocha susah beranjak dari beranda rumah.
Ocha punya firasat kalau lelaki yang bernama Rio itu adalah suaminya. Hanya saja memakai nama palsu untuk mengelabui setiap wanita yang dia kencani.
"Boleh tau ciri-cirinya, Mbak?" selidik Ocha. Lalu dia duduk di sebelah wanita itu untuk mendengarkan.
"Tubuhnya tinggi besar, sebak rambutnya ke kanan, perutnya sedikit buncit. Ada bekas jahitan di kening."
Mendengar paparan tersebut, Ocha dia adalah Gun.
"Apakah ini orangnya, Mbak?" Ocha menunjukkan poto suaminya di ponsel.
"I-iya, Mbak. Ini dia Mas Rio," ucapnya girang.
Seketika perasaannya runtuh. Walaupun dia tahu suaminya memiliki banyak wanita di luar sana. Namun, belum pernah ada yang hamil. Ini sungguh memancing kemarahan Ocha.
"Kok, potonya ada sama, Mbak?"
"Udah, nggak pa-pa, kok. Santai aja, ya."
Tanpa berpikir panjang dan menjelaskannya, dia mengajak wanita hamil itu masuk ke rumah mewahnya.
"Bentar, ya, Mbak. Saya ke kamar bentar." Ocha masih merahasiakan, siapa lelaki yang telah menghamili wanita itu dalam kehidupannya.
__ADS_1
Ocha menuju kamar, Gun sudah tidak ada lagi di tempat tidur. Dia berpikiran kalau suaminya berada di meja makan menikmati mie instan yang dimasak oleh asisten mereka.
Tanpa bicara pada Gun, dia menarik lengan tulang besar dan mendesak untuk mengikutinya. Mie instan yang ditiup sejak tadi sudah bisa disantap, tetapi Ocha keburu memaksa.
"Apaan, sih! Ih, lepas, Cha. Lepas!" bentak Gun pada istrinya.
"Udah, ih. Ikut aja." Terus berjalan.
Seketika Gun terheran-heran dengan penampakan di jam segini. Bagaimana tidak, perempuan yang telah dia abaikan dalam keadaan hamil, kini hadir di depan matanya. Bahkan di rumahnya sendiri. Bukanlah hal yang biasa bagi pasangan suami-istri itu.
"Mas, Mas Rio! Mas, ke mana aja? Lihat ini, lihat!" Wanita yang bernama Megah itu menunjukkan perutnya yang berisi janin hasil cinta kasih mereka berdua.
"Si-siapa kamu! Siapa?!" Gun pura-pura lupa, tapi dilihat dari gelagatnya, dia mengenali wanita itu.
"Mas ... nggak usah basa-basi. Ini aku Megah." Megah mencoba meyakinkan.
Gun melipat kedua tangannya ke dada dengan santai, seolah bukan dia pelaku dari kehamilan itu. Sambil memandangi perut Megah, dia berkata, "Ada berapa orang ayah dari anak itu?"
"Maksud, Mas? Astaghfirullah ... cuma Mas yang pernah berhubungan badan denganku. Aku berani sumpah. Aku wanita baik-baik, Mas."
"Apa? Kamu wanita baik-baik? Ha-ha-ha, apa ada wanita baik-baik diajak mesum sama laki-laki yang bukan suaminya? Ha?! Mikir, dong," pekik lelaki bertubuh tegap.
"Mas, boleh aku bertanya? Tapi tolong jawab dengan jujur," tanya Ocha. "Mbak, duduk dulu. Nanti lemas."
Megah duduk di sofa yang berada tidak jauh dari tempatnya. Sementara Gun masih terlihat biasa-biasa saja. Namun, jantungnya berdegup kencang tidak beraturan. Ini pertama kali dalam hidupnya kalau wanita yang dia kencani malah hamil.
"Mas lebih baik ngaku kalau anak yang dikandung Mbak ini adalah anak Mas."
"Nga-ngaku apaan, Cha? Mas, ngga ada berhubungan dengan dia, kok?!" elaknya.
Megah hendak menyahut jawaban lelaki yang dia kenal dengan nama Rio. Belum sempat bicara, Ocha menaruh jari manisnya ke bibir dengan cepat, agar Megah diam saja.
"Mas ... Mas. Aku nggak percaya kalau Mas nggak punya hubungan dengan Mbak ini. Ini buktinya, apa kurang jelas!" Emosi Ocha mulai mengganas.
"Udahlah, Cha. Jangan percaya dengan wanita ini. Bikin pusing aja," jawabnya sambil berbalik arah.
"Mas! Bisa nggak, sih, menghargai pembicaraan ini? Harus bijaksana, dong. Jangan kaya anjin*!"
Gun kembali mengarahkan tubuhnya pada Ocha.
__ADS_1
"Jangan berdebat dengan hal yang nggak penting! Paham!" Gun marah karena mengelakkan malu.
Megah menangis sambil melihat dan membelai perutnya. Sepertinya dia benar-benar sedih. Niat hatinya, kalau pun Gun tidak mau menerima anak tersebut, maka dia akan mengasuh dan menanggungjawabinya sendiri. Karena dia tahu, bila ditelantarkan pastinya dosa akan bertambah.
"Bisa nggak, sih, Mas jujur sekali ini aja? Laki-laki macam apa kamu, Mas! Dasar pengecut!" maki Ocha dengan geram.
"Kamu maunya gimana, gimana? Ha?!" Matanya menatap tajam ke arah Ocha dan bergantian pada Megah.
"Aku mau kamu jujur, itu aja!" Suara mereka sangat lantang. Rumah sebesar itu membuat ruangan menggema karena teriakan mereka berdua.
"Jujur apa, Ocha? Hadeh ... nggak mutu banget bahasannya. Ah!" ocehnya.
Tiba-tiba Megah merasakan sakit di bagian perutnya. Sambil merintih, dia memeganginya dengan menahan mulas.
"Mbak, to-tolong saya. Sakit, Mbak," keluhnya dengan wajah meringis.
"Lho, sudah bulannyakah?" tanya Ocha.
Wanita itu hanya memberi anggukan. Dia tidak sanggup lagi bicara saking menahan sakit. Ocha memegangi wanita selingkuhan suaminya itu dan bersegera membawanya ke rumah sakit.
Selain sakit hati dan kecewa pada Gun, dia juga menyimpan rasa iba pada wanita tersebut. Bagaimanapun, di perutnya ada bayi yang harus dia selamatkan. Berdosa bila mengabaikannya.
Setelah Megah masuk ke mobil, Ocha kembali ke rumah untuk memanggil suaminya. Dia melibatkan ayah dari janin itu untuk bertanggungjawab.
Awalnya Gun menolak, tapi dengan ancaman yang diberikan Ocha, akhirnya dia menurut dengan terpaksa.
Mobil disetir dengan kecepatan sedang, agar Megah tidak terlalu merasakan terlalu sakit. Sekitar sepuluh menit, mobil yang ditumpangi telah sampai ke depan rumah sakit. Beberapa perawat menyambut mereka dengan membawa kursi roda.
Gun membawa mobil ke parkiran. Ocha ikut bersama Megah. Tim dokter dan perawat memeriksa Megah di ruangan. Ocha tetap menemani dan memberi semangat pada wanita yang mengandung anak suaminya.
Pedih sebenarnya perasaan Ocha, tapi apa mau dikata. Segalanya sudah menjadi suratan takdir. Mungkin ini adalah jalan untuk menyadarkan Gun agar tidak lagi berbuat zina pada wanita-wanitanya.
Dokter menyarankan agar mengadakan operasi cesar untuk kelahiran anak Megah. Kondisinya sangat parah, janin yang ada dalam perut sungsang. Setelah diUSG, ari-ari bayi berada di bawah. Jadi sulit untuk normal.
Gun menyetujuinya atas paksaan dari Ocha. Tanda tangan persetujuan pun ditulis. Gun dengan berat hati menerima semua keputusan ini. Dalam hatinya, agar keduanya tidak hidup lagi. Karena nantinya akan menambah masalah dan beban hidup.
Setelah operasi berjalan selama satu jam, salah satu perawat memanggil Ocha dan Gun. Mereka masuk ke ruangan dokter. Ada yang ingin disampaikan dan ini sangat penting.
--bersambung--
__ADS_1