TERPAKSA TERNODAI

TERPAKSA TERNODAI
Masalah Datang Bertubi-tubi


__ADS_3

Bab 5


(PoV Reren)


Masalah Rhico belum juga tuntas, sementara pekerjaan di kantor sudah mendesak untuk diselesaikan. Meski Ocha adalah pimpinannya, tapi juga memiliki tanggung jawab yang besar. Dimulai dari pimpinan, baru ditiru oleh bawahan dan karyawan.


Kesehatan Rhico sudah mulai membaik. Keluhan di bagian perut juga berkurang. Cara berbicaranya normal kembali, tidak seperti kemarin seperti orang terkena setruk. Tidak begitu jelas apa yang dia ucapkan. Untungnya obat yang dikonsumsi adalah obat mahal.


Pihak Polres setempat mengeluarkan surat pada Gun dan Ocha, bahwa Rhico akan segera di bawa kembali ke tahanan. Setelah menerima surat dari dokter yang menyatakan kalau Rhico bisa dirawat jalan.


"Rhico, semoga kamu sehat dan jangan malas makan. Demi kesehatan kamu, perbanyaklah istirahat dan tenangkan pikiran. Ingat, berdoalah." Dokter Herdian memberi pesan pada pasiennya.


"Iya, dok. Terima kasih atas perhatiannya. Semoga Anda juga diberi kesehatan," balas Ocha.


Polisi membawa mereka ke Polres.


***


Ocha terbangun pada pukul satu dini hari. Dia mendapati Gun tidak ada bersamanya. Biasanya jam dua belas sudah pulang. Tiada kabar dan pesan kalau kepulangannya terlambat sampai di rumah.


Sebagai seorang imam dalam rumah tangga, sebaiknya membuat contoh bagi anak-anaknya, agar menjadi orang baik. Apalagi keluarga mereka berlimpah harta. Bila salah jalan, maka akan salah dalam mengelola keuangan. Betapa tidak, karena semua membutuhkan uang.


Kehancuran rumah tangga diawali dari merosotnya ekonomi disebabkan wanita dan berfoya-foya. Pun dengan Ocha, walaupun tidak selingkuh, tapi hidupnya terlalu berlebihan dalam membeli produk mahal.


Baju, sepatu, bahkan asesorisnya yang aduhai membuat banyak orang ingin memilikinya. Gun memiliki banyak uang. Masih memberikan sejumlah uang melalui transfer ATM. Lain lagi dengan penghasilan yang dia dapatkan dari kantornya sendiri.


"Cha, buka pintunya. Cha," panggil Gun, sembari mengetuk daun penyekat kamar.


Ocha tidak menggubrisnya. Sekali-kali memberi hukuman pada suami yang merayap entah ke mana. Ocha tidak ingin satu ranjang malam ini. Ya, agar Gun tidak mengulangi lagi perbuatannya.


"Cha, Cha ... bukain!" Suara Gun mulai meninggi.


Karena merasa bising dan terganggu, terpaksa membuka-buka dengan sedikit membantingkan pintu.

__ADS_1


"Bisa pelan nggak, sih? Ha?!" Gun tampak marah atas sambutan tidak baik.


"Nggak usah ngajak perang! Aku capek!" bentak Ocha, meminta perhatian.


"Seharusnya kamu itu melayani suami, bukan malah marah-marah!"


Mereka adu mulut, sampailah pada waktu subuh. Terlihat pertikaian semakin runyam. Ocha mengambil sebuah benda keras, bekas vas bunga dan siap untuk dilemparkan ke arah suaminya, Gun.


"Aduh! Gila kamu," celetuk Gun memegangi kepalanya terkena vas.


"Itu belum ada apa-apanya dibandingkan dengan sakitnya diselingkuhi, Mas," papar Ocha untuk menyadarkan.


"Hah! Makanya jangan ngurusin diri sendiri, dong. Sekali-kali ... kau itu ladenin suamimu. Paham!"


Ocha malah melemparkan bantal ke arah Gun. Dia keluar kamar untuk mengambil segelas air minum. Haus yang ditahan sejak sejam lalu membuat kerongkongannya kering. Biasanya sudah disiapkannya oleh asistennya dari sebelum maghrib. Mungkin karena Ocha pulangnya pukul delapan, jadi tidak bisa menyediakannya karena dikunci kamar dibawa.


Suara pintu diketuk dengan keras. Pelan terdengar dari luar. Ketukan itu datang bertubi-tubi seperti ada bahaya. Gun membuka pintu dengan kesal bercampur lelah.


"Pak, ini putri Bapak?" tanya salah satu warga sambil menggotong Reren.


"Kami menemukannya di jalan yang agak sepi tergeletak. Awalnya yang menemukan bukan orang sini. Nah, terus ada yang lapor kalau mereka menemukan wanita. Ya, kami lari ke sana. Terus ada yang kenal, katanya anaknya Pak Gun," jelas lelaki memakai topi.


"Cha! Ocha!" teriak Gun, agar mami dari anak-anaknya datang.


Tubuh Reren diletakkan di atas sofa. Orang-orang yang ada bersama rombongan itu, berusaha untuk menyadarkan gadis itu dengan memberikan minyak kayu putih ke indera penciuman. Ada juga yang memercikkan air ke wajahnya. Dalam waktu sepuluh menit, akhirnya usaha itu berhasil. Reren terbangun, tapi tubuhnya lemas, termasuk pandangannya begitu kosong.


Ocha yang baru saja datang, mengesalkan apa yang dia lihat. Dia tidak menyangka kalau anak gadisnya bisa seperti ini. Memang, sudah tiga hari Reren tidak dia temui.


Kehidupan rumah tangga mereka sangat bebas dari perhatian dan kepedulian. Tidak ada yang namanya mencari, terpenting adalah kesibukan Ocha dan Gun tidak terganggu dalam mengelola bisnisnya. Uang, uang, dan uang. Hanya itu dalam pemikiran mereka.


"Saya rasa, sebaiknya kalian pulang saja. Makasih udah menolong anak kami dan membawanya ke sini," ucap Gun pada warga setempat.


"Baiklah, Pak. Jaga anak Bapak, ya. Jangan sampai terulang lagi," balas salah satu dari mereka. "Kami permisi." Mereka menyalami Gun dan Ocha, lalu meninggal keluarga kaya raya.

__ADS_1


Setelah warga tidak terlihat lagi, Gun memarahi istrinya dengan kata-kata pedas. Tidak ada pengertian pada Reren yang masih diam seribu bahasa. Malah tidak menanyakan apa yang terjadi.


"Cha! Kau itu seorang ibu. Sudah seharusnya tau ke mana anak-anak pergi! Bukan malah seperti pohon lupa buahnya!" bentak Gun, suaranya cukup kuat dan membuat bising seisi rumah.


"Kok, aku terus yang disalahin. Hei! Dengar, ya. Kau papinya, bukankah tanggung jawab itu sepenuhnya dari Mas? Ha?!" balas istrinya dengan nada tinggi pula.


"Dasar istri kurang ajar!" Gun melayangkan telapak tangannya ke pipi Ocha yang mulus dan terawat.


"Tega kau nampar aku, Mas. Tega ...." Ocha menangis sejadinya. Mereka lupa dengan Reren yang membutuhkan perhatian lebih.


"Mi ... Pi ... sakit ...," keluh Reren sambil memegang perutnya.


Barulah Ocha sadar kalau Reren masih lemah di samping mereka. Dia duduk ke sofa bersama putrinya, lalu membelai lembut rambut yang telah dilahirkannya dua puluh tahun yang lalu.


"Kau kenapa, Nak? Kenapa jadi begini?" Ocha menatap wajah putrinya.


Sementara Gun tetap dengan tangannya yang dilipat ke dada sembari memandangiku langit-langit ruangan. Dia duduk bersandar ke sofa.


"A-aku hamil, Mi." Reren menangis. "Mobilku dibawa kabur setelah pacarku tau aku begini. Dan aku nggak tau lagi apa yang terjadi," tangisnya semakin pecah.


"Apa? Hamil?" Ocha memutar badannya ke arah lain. Lalu dia remas rambutnya, dari depan hingga belakang. "Tapi kenapa mobil juga bawa kabur sama dia? Sudahlah nyawa terancam, mobil juga jadi korban."


"Makanya, terus pantau anakmu. Jangan suka ke sana ke mari dengan sesuka hatimu," tandas Gun.


"Kan, lagi-lagi aku yang disalahkan. Hah!"


"Mi, aku mau tidur," ucapnya lirih.


Ocha memapah Reren ke kamar dan membiarkannya tidur dengan lelap. Lalu kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Tidur kembali dengan pulasnya.


Gun terus menggeser layar ponsel. Chat dari beberapa wanitanya menumpuk belum dibaca. Bianca, wanita bersuami yang kini dekat dengannya selalu mengisi hari-hari dengan kata-kata sayang membuat Gun meleleh.


Syania dan wanita lainnya juga menjadi korban rayuan untuk dijadikan pemuas kebutuhan seksual Gun yang tidak lagi menyentuh tubuh istrinya. Dari luar saja kebutuhan batinnya sudah terpenuhi. Tidak memikirkan zina dan dosa. Terpenting puas karena banyaknya uang untuk membayar mereka.

__ADS_1


--bersambung--


__ADS_2