
Bab 6
(PoV Ocha)
Gun baru saja pulang dari sebuah pagelaran lukisan. Tampak lesu dan berantakan. Sebelum menuju mobil saat hendak pulang, dia dihujani pukulan pada perut dan wajah. Gun sendiri tidak tahu apa alasannya dia menerimanya.
"Cha, Ocha, buka pintu." Gun memanggil, seraya mengetuk pintu kamar.
"Ngapain, sih?" Ocha sudah cantik dengan dandanannya. Dia hendak menemui seseorang.
"Cha! Buka!" Gun menendang pintu dengan sesukanya dengan berulang-ulang.
Ketidakpedulian Ocha membuat dirinya lalai akan kewajiban pada suaminya. Tanpa tegur sapa, bicara, malah membenci.
Gun menanyakan hendak ke mana istrinya pergi dengan dandanan dan wangi yang menyengat. Sayangnya, bukannya menjawab, malah pergi dan mengabaikannya. Serendah itulah dia menganggap pernikahannya.
***
Ocha yang sudah sampai di tempat yang telah dijanjikan. Hati Ocha berdebar, jantung juga berdegup kencang seolah mesin dengan kecepatan tinggi. Melebihi anak SMP yang sedang pubertas.
"Selamat malam, Bu Ocha. Wah, udah lama, nih?" tanya seseorang mengagetkannya.
"Eh, malam, dok. Saya baru sampai, kok. Gimana dengan pasien Anda hari ini?"
"Hari ini aman, tidak ada pasien parah. Bisa ke Mall juga kalau mau. Palingan juga saya kangen dengan ibunya pasien kemaren."
"Waduh, enak, dong, kerjanya bisa ngangenin seseorang," ledeknya.
"Iya, sekarang udah ketemu, kok, Bu. Seneng banget rasanya," ucapnya membuat Ocha penasaran.
"Mana dia, dok? Kenalin, dong ...."
"Ada ... ada ...," jawabnya singkat, senyumannya manyun.
Lirikan mata Ocha membuat dokter Herdian mulai tertegun. Memang, dokter tampan itu belum menikah, tetapi dia lebih menyukai wanita yang sudah bersuami. Bahkan lebih tua darinya. Menurut pemikirannya, seorang wanita yang telah menikah lebih perhatian dan peduli dengan lelaki yang dia sukai selain suaminya.
__ADS_1
Dokter Herdian bukan tidak mau menikah, hanya saja dia trauma dengan awal ijab kabul hampir terlaksana. Perjodohan dengan seorang gadis, ternyata jauh dari kata cinta. Bahkan gadis itu melarikan diri saat ijab kabul dimulai. Dokter Herdian yang mulai belajar menyukai calon istrinya, malah mendapat perlakuan memalukan seumur hidup.
Gadis itu pergi dengan lelaki pilihannya. Cantik, punya pekerjaan sebagai pramugari. Dia mencintai kekasihnya putra seorang pengusaha. Dokter Herdian berpasrah diri. Sejak itu, dia menganggap semua gadis tidak akan pernah mencintainya. Makanya dia selalu mendekati wanita bersuami.
"Bu, ternyata ibu lebih cantik dari pada Reren." Dokter Herdian mengucapkan pujian itu karena Ocha memperlihatkan poto keluarga yang ada dalam dompetnya.
"Ish, kamu. Saya ini sudah tua, lho. Mana mungkin Reren kalah dari saya? Ngaco kamu," ketus Ocha dengan senyuman mengembang.
"Usia boleh tua, Bu. Tapi ... selera tetap berkelas. Eh, muda maksudnya. Ha-ha-ha," ledek dokter Herdian. "Bai de wei, saya boleh panggil ibu dengan sebutan nama ibu sendiri?"
"Ha?!" Ocha bengong melihat ucapan lelaki itu.
"Ee ... maksud saya ... enggak, Bu. Lupakan saja," elaknya.
"Herdian sayang. Panggil saja saya Ocha. Biar kelihatan lebih akrab. Ha-ha-ha," sahut Ocha. Mereka berdua tertawa geli sambil menahan malu.
"Ocha, boleh saya lebih dekat denganmu? Maaf jika saya memaksa." Dokter Herdian telah menyisipkan butir-butir cinta di hatinya untuk ibunya Reren.
"Kamu serius, Sayang?" tanyanya tidak percaya.
"Diih, jangan jawab, Cha. Saya bingung."
"Lho, kan kamu punya suami. Bebas, dong, mau kapan dan di mana aja. Asal ada waktu. Ya, kan?"
Ocha menggeleng. Hubungan badan dengan Gun sudah tiga bulan tidak pernah dilakukan. Gun yang terlalu capek sepulang kerja, sementara Ocha juga sibuk dengan karirnya. Dengan wanita lain, Gun bisa melepaskan birahinya. Makanya sampai di rumah terlalu lelah.
"Cha, kamu punya masalah dengan Pak Gun?" Herdian mengerutkan keningnya, sembari mengelus tangan Ocha dengan mesra.
Wanita itu mengangguk. Ocha tidak ingin lagi bicara. Ingin dia kunci rahasia rumah tangganya yang tidak lagi harmonis. Pilu perasaan wanita itu tidak bisa digambarkan. Pembicaraan berhenti sejenak, ketika seorang pramusaji datang membawa hidangan yang dipesan.
Dalam kamus dokter Herdian, tidak ada baginya saling bicara saat makan berlangsung. Pemuda berusia tiga puluh tiga tahun itu punya adab dan etika dalam menghadapi hidangan. Sudah terbiasa sejak dari kecil.
"Hai, Mbak. Wah ... lagi dengan siapa, nih?" sekretarisnya menghampiri.
"Eh, ini dokter Herdian yang menangani penyakit Rhico. Sedang ada konsultasi, cara pengobatan anakku. Sama siapa ke mari, Mir?" Ocha mengalihkan perhatian.
__ADS_1
"Tuh, sama temen." Mira menunjukkan ke meja dekat lemari pendingin. "Saya ke toilet dulu, ya, Mbak. Permisi."
Ocha mengangguk tanda setuju dan Mira berlalu pergi. Dokter Herdian yang telah menyelesaikan makannya, membuka pembicaraan.
"Siapa wanita tadi, Cha?" Dokter Herdian melap tangannya dengan tisu.
"Owh, dia Mira, Sayang. Sekretarisku di kantor," terang Ocha. "Awas, lho, kalau macem-macem dan berpaling dari aku."
"Ha-ha, Ocha ... Ocha ... ternyata ibu-ibu itu cemburuannya melebihi, ya. Ha-ha-ha," ledek dokter Herdian sambil menutup mulutnya.
"Apaan? Udah, jangan bahas. Eh, kapan, nih, kita jalan-jalan ke luar kota? Udah lama nggak liburan," paparnya.
"Saya rencana minggu ini mau pergi. Sendirian, sih. Kalau kamu mau ikut, yuk."
"Nah, ini, nih, yang kutunggu. Saya nunggu kabar dari kamu aja, Sayang," ucap Ocha dengan senyuman.
Sudah tiga jam mereka berada di tempat itu. Mereka tidak menyadari kalau jarum jam sudah menunjukkan pukul tengah dua belas malam. Ternyata malam hampir larut. Ocha yang tidak ingin pulang, menolak ajakan dokter Herdian untuk kembali.
Dokter pujaan hati Ocha, berhasil merayu wanitanya dengan menjanjikan bertemu lagi besok di tempat berbeda. Lihai juga pemuda itu merayu Ocha. Ucapannya sangat berarti bagi seorang ibu dari pasiennya.
***
Mira mengirimkan pesan pada Ocha untuk memberitahukan bahwa laporan keuangan hari ini meningkat. Terlebih ada lonjakan tinggi yang harus terus ditingkatkan. Usaha dilakukan Ocha dengan sepenuh hati. Wajar bila bisnisnya maju.
'Ini pertanda baik kalau dokter Herdian pembuka hoki dalam bisnisku,' batin Ocha. Dia berniat tidak akan melepas pemuda yang saat ini dekat dengannya.
Gun tampak lesu, sakit kepala melanda. Tidak ada perhatian dari istrinya. Apalagi saat ini dalam pikiran Ocha hanyalah dokter Herdian semata. Gun benar-benar rindu akan belaian kasih sayang dari istrinya, Ocha.
Reren juga sudah kembali beraktivitas dengan biasa. Meski baru sembuh, gadis kelahiran pada bulan September itu tidak merubah kesalahan kemarin. Tetap tidak pulang selama dua hari dan tempatnya entah di mana yang dia mau.
"Cha ... Cha ... siapin air hangat untuk mandi. Badanku nggak enak," adu Gun mencari perhatian.
"Udahlah, Mas. Aku sibuk sekarang. Bye," pamitnya membawa tas yang berisi ponsel, dompet, dan lainnya.
Tidak ada gunanya mengeluh pada Ocha. Malah menambah masalah nantinya. Gun memanggil asisten mereka untuk menyiapkan segala kebutuhan mereka. Ocha secepatnya pergi ke tempat dokter Herdian bekerja.
__ADS_1
Saat Ocha berada di depan rumah, dia melihat sosok seorang wanita duduk di kursi beranda rumah dengan memegangi perut yang membuncit seperti orang hamil lima bulan.
--bersambung--