
Bab 2
(PoV Gun)
"Apa-apaan kau!" Gun marah sejadi-jadinya pada istrinya karena menyiramkan air bekas mengepel lantai.
Baju Vhivie basah bak mandi di kolam yang airnya butek. Sial sekali nasib Vhivie hari ini. Belum pernah dia mendapatkan seperti ini. Dia letakkan tas ke lantai dan membuka sepatu hak tinggi yang dipakai.
"Kurang ajar! Perempuan nggak tau diri!" marah Vhivie dan berusaha memukulkan sepatunya ke ke tubuh Ocha. Namun, Gun berhasil menangkis pukulan ke arah istrinya.
Pihak keamanan restoran itu, juga berusaha untuk melerai dan menenangkan. Perempuan yang mengaku masih gadis itu, masih saja ingin menyakiti fisik istri Gun. Gun bukannya membawa istrinya, malah pergi dengan menggandeng tangan perempuan yang dia sebut sebagai klien.
Betapa terlukanya perasaan Ocha sebagai istri yang tidak dianggap. Bagaikan pisau belati tajam menusuk kalbu, juga dihempas ombak dan badai besar menghantam tubuhnya. Dunia seakan mau runtuh. Memang, ini bukan yang pertama bagi Ocha. Namun, kali ini sungguh terlalu. Air matanya mengalir tanpa suara tangisan.
***
Ocha sudah berniat untuk tidak pergi bekerja. Kejadian kemarin mampu membuat semangatnya hilang seketika. Kepala pusing, badan juga lemas. Bagaimana tidak, energi yang dikeluarkan pada saat menghadapi suami dan wanita itu sudah cukup menyita waktu dan tenaga.
"Dari mana kamu, Ren? Kok, baru pulang?" tanya Ocha pada putrinya yang baru pulang sejak kemarin sore.
"Biasalah, Mi. Sama temen. Udah, ah. Aku ngantuk banget, capek," keluh Reren, sembari mengikat kembali rambutnya yang acak-acakan.
"Biasa? Jadi selama ini kamu pulang seperti ini? Teksas sekali hidupmu!"
"Au ah." Reren meninggalkan wanita yang dia panggil dengan sebutan mami.
"Reren! Jawab!"
Reren tidak menggubris perkataan maminya. Dia menaiki anak tangga dan menuju kamar. Lalu terdengar suara pintu dihempaskan. Ocha terkejut dengan kelakuan putrinya. Selama ini dia tidak tahu apa saja tingkah anaknya di luar sana. Pun dengan anak lajangnya. Selalu pulang dengan urak-urakan dan bau alkohol.
Gun tidak pernah memberi perhatian pada kedua anaknya. Baginya, bila sudah dewasa, harus bisa menjaga diri. Jadi, tidak perlu lagi diatur atau diarahkan seperti anak kecil. Terpenting, disekolahkan dan diberi uang sesuai kebutuhan. Mobil juga disediakan agar mudah pergi ke mana saja tanpa mengganggu aktivitas kedua orang tua dengan meminjam mobil. Gun dan Ocha tidak mau jika perjalanannya dihalangi.
"Mami! Laper, nih!" teriak Rhico dari lantai atas dan duduk pada anak tangga.
"Ya, makanlah. Kan ada Bi Tum yang menyiapkan sarapan.".
"Ambilin, ih! Aku males turun!" suruhnya. Dia menggaruk kepalanya yang gondrong seperti anak jalanan.
"Bisa nggak, sih, ngomong yang sopan?"
"Ah!" Rhico kembali ke atas dengan menghentakkan kakinya.
Ocha sebagai ibu, selalu saja mengabaikan perhatiannya pada keluarga. Itu semua karena ulah suaminya yang tidak memedulikannya. Keluarga mereka sudah diambang kehancuran. Dengan memberikan uang dan apa yang mereka butuhkan, rasanya sudah cukup.
__ADS_1
"Bu, dipanggil bapak di ruangan tengah."
Ocha langsung menuju tempat yang disebutkan oleh Bi Tum. Malas sebenarnya mau menuruti, tetapi mungkin ada hal penting yang harus diketahui.
"Ada apa, sih?"
"Duduk dulu, dong. Nggak bisa santai apa?"
"Ah, aku mau ke dalam. Tu de poin aja," desak Ocha.
"Mulai saat ini, jangan lagi pernah ikut campur dengan klienku. Siapa pun yang bersamaku, abaikan. Ini demi keutuhan rumah tangga kita." Gun memintanya agar Ocha berusaha untuk nyaman melihat suaminya dengan wanita lain.
"Apa kamu nggak waras lagi?"
"Ini bukan tentang waras atau tidak waras. Ini tentang kebebasan. Untuk apa? Ya, untuk menjaga semuanya."
"Kebebasan? Apa Mas tidak pernah bebas? Dengar, ya, Mas. Sejak kita menikah, aku tidak pernah melarang Mas dekat dengan siapa pun. Termasuk wanita lain. Asalkan tidak di depan mata."
"Sama saja. Mulai detik ini, bila kita ketemu di mana pun. Jaga keharmonisan keluarga kita. Lagian, aku rasa, kita tak perlu lagi saling percaya. Kita ambil jalur masing-masing, meski kita masih berstatus suami-istri."
"Dengar, ya, Mas. Lebih baik kita berpisah daripada harus melihat neraka di depanku." Ocha meminta untuk diceraikan.
"Enggak, enggaaak! Perceraian di antara kita tidak akan pernah terjadi. Sampai kapan pun! Saat ini, aku ingin hidup dengan caraku sendiri. Tolong beri aku kebebasan Cha," mohon Gun pada Ocha, istrinya sejak dua puluh enam tahun yang lalu.
"Jadi, Mas memintaku untuk berbuat kotor seperti, Mas. Haaa?!" Ocha menjatuhkan dirinya ke sofa termahal di kota tersebut. "Ya, Allah ... aku nggak habis pikir sama Mas. Kenapa aku harus jadi korban yang, aduuuh ... bisa gila aku karena ini."
Ocha masih diam memikirkan permohonan suaminya. Dia pandangi gambar pernikahan mereka. Sesekali teringat masa bermesraan dan saling memberi sumpah sebelum akad terjadi. Namun, sumpah sudah di makan usia dan waktu. Tidak ada lagi yang namanya cinta tulus dan suci.
"Sayang, Mas berharap jangan pernah menduakan Mas. Cinta dan diri Mas hanya milik kau seorang. Percayalah, hidup dan matiku hanya untukmu. Maka cintai Mas bukan karena uang dan harta yang ada. Tapi untuk membalas cinta Mas dengan kata-kata dan perbuatan baik menjadi istri yang sempurna." Kalimat itu masih terngiang kala masih dalam masa pacaran. Indah sekali.
Sayangnya, semua itu hanya sebuah ungkapan belaka. Tidak ada yang namanya kesempurnaan, meski pernikahan telah berlangsung antara mereka. Reren dan Rhico pun menjadi korban pertikaian orangtuanya.
***
"Bu Ocha, kita duduk di sana, yuk." Sekretaris Ocha mengajak ke meja tengah kafe.
"Gimana kalau kita--"
"Sini aja, Bu. Nggak usah ke sana." Sekertaris memotong ucapan bosnya sembari menarik lengan dengan sedikit memaksa.
"Saya maunya di sana," pinta Ocha. Hendak berbalik arah saja dicegah oleh orang kepercayaannya. Ocha merasa diatur.
"Ish, kamu kenapa, sih, melarang saya di sana?"
__ADS_1
Gadis itu meletakkan jari manisnya ke bibir dengan tujuan untuk tidak lagi bicara.
"Sa--" Ocha menghentikan ucapannya setelah apa yang dia lihat ketika memandang berbalik arah.
"Bu ... plis jangan marah."
Tanpa menanggapi ucapan sekretaris itu, Ocha mengarah ke meja yang sedikit tersembunyi di balik tiang besar penyangga kafe. Tidak ingin berpikir panjang, Ocha mengambil air segelas dan membuangnya ke arah wanita yang membuat dia murka.
Byur!
"Aduh! Apa-apaan ini? baju saya basah. Anda punya masalah apa ke saya!" marah wanita itu dengan membentak.
"Saya punya masalah? Hei! Anda yang punya masalah ke saya. Ngaca!" Amarah Ocha semakin memuncak.
"Cha, bisa nggak, sih, menghargai aku!"
"Menghargai gimana maksudnya? Dengan memberikan kebebasan dengan wanita lain? Atau aku bebas menyaksikan suaminya bermesraan dengan wanita lain? Ha-ha-ha, iya, ya. Begitu caranya menghargai? Lantas, aku nggak boleh berbuat sesukanya dengan melihat ini?"
"Maksudnya apa ini, Mbak?" Wanita itu belum paham juga penjelasan Ocha.
"Saya is-tri-nya! Paham!"
"Lho, Bapak bilang kalau istri Bapak sudah pindah keluar negeri. Dan sudah bercerai sejak setahun lalu. Ini?" ungkap wanita itu.
"Bercerai? Kita bercerai, Mas? Apa Mas sudah gila! Haaa?!" sanggah Ocha.
"Bu-bukan itu maksudku. Ee, anu, ki-kita masih, eh, belum bercerai, kok." Gun tampak gugup. Semua mata tertuju padanya.
"Dasar buaya! Sudah tua tapi tidak punya harga diri! Mau jadi apa aku nantinya. Punya istri ngakunya sudah duda. Tua bangka nggak tau malu!" cela wanita itu.
"Tunggu! Hei!" panggil Gun pada kekasih barunya.
"Aku nggak akan membiarkan kamu terus mempermalukan saya! Lihat saja nanti apa balasan untukmu," ancam Gun pada istrinya.
"O ... ho ... oke. Aku terima tawaranmu untuk membalas, Mas. Silakan saja. Kutunggu sampai kapan pun."
"Mudah sebenarnya permintaanku. Tapi sulit kau laksanakan. Dasar istri durhaka!"
Ocha meninggalkan suaminya dan berlalu ke meja mereka semula. Perutnya semakin lapar karena sudah ngomel panjang. Sekretarisnya terlihat gemetaran melihat adegan itu. Dia sengaja mencegah agar Ocha tidak melihat ke arah Gun dan wanita itu. Malah ada sebuah kontak batin menyatakan kalau ada sebuah pemandangan terburuk.
Setelah selesai makan, Ocha dan sekretarisnya pulang. Ketika naik ke mobil, dia merasa ada perubahan aneh pada mobil. Seperti miring sebelah. Saat diperiksa, ternyata kedua ban sebelah kiri kempis.
Seseorang telah melakukan ini. Ya, ini ada unsur kesengajaan.
__ADS_1
--bersambung--
Next?