
Amira
Terlahir dalam keluarga sederhana dan hidup dengan seorang Ibu single parents beserta 6 saudaranya disebuah desa terpencil.
Saat itu Amira masih berumur 6 tahun.
Sejak itu Amira sudah mulai kekurangan kasih sayang dari Orang tuanya, termasuk Ibunya.
Suatu hari
Ibu, dimana Ayah ku ? . Amira bertanya kepada Ibunya
Ibunya sembari tersenyum dan berkata, Ayah sedang mencari uang yang banyak buat kita.
Karna Ibunya terlalu sibuk mencari nafkah dan menghidupi anak-anaknya, Ibu pun jadi kurang memberi perhatian kepada anak-anaknya.
Ia berangkat pagi pulang malam, setiap hari demi sesuap nasi yang bisa Ia berikan kepada anak-anaknya.
Tahun demi tahun pun berlalu, dan Ayah tak kunjung pulang. Gumam Amira dalam hati
Ku lihat raut wajah Ibu ku yang semakin pucat dan mulai berkerut.
Tatap matanya yang begitu kosong, seakan anak-anaknya lah semangat hidupnya yang tersisa.
Amira pun mulai beranjak dewasa.
Dia mulai merantau sejak berumur 18 tahun.
Mak, Aku ingin mengubah kehidupan kita. Aku ingin merantau ke pulau seberang katanya
Ibu menyaut, Tanpa bisa berkata-kata sambil menangis.
Besok paginya, Amira pun terbang ke Bali dengan harapan ingin mengubah takdir keluarga nya.
Tiba di Bali, Amira bertemu dengan seorang pria yang bernama Fahmi.
Fahmi sepertinya orang yang baik.
Dia sangat banyak membantu ku.
Mulai dari mencari tempat tinggal juga pekerjaan.
Tahun demi tahun aku diperantauan, aku mulai bisa mengubah kehidupan kami dikampung.
Semua perlahan stabil dan membaik.
Ekonomi kamipun sudah lumayan terpenuhi.
Tapi di balik itu semua, aku selalu merasa sendiri.
Kesepian.
Selalu berharap dapat perhatian dan kasih sayang dari orang-orang sekitarku terutama Ibu.
Aku orangnya memang agak pendiam dan kurang pandai bergaul.
Mungkin itu salah satu penyebab aku selalu merasa sendirian.
__ADS_1
Tapi ternyata bukan.
Penyebab utamanya adalah sejak aku kehilangan sosok Ayah, yang membuat aku mulai merasa tersisih dalam hal apapun.
Semua kemampuan ku tersembunyi karna itu.
Aku merasa mungkin inilah takdir ku.
Aku selalu bersikap seolah aku baik-baik saja, padahal jauh didasar jiwa ku, aku butuh kehangatan, dukungan, kasih sayang.
Perlahan aku mulai gelap mata, aku berkencan dengan beberapa pria dengan harapan akan mendapatkan apa yang ku cari.
Tapi ternyata aku salah, aku malah semakin kacau dan semakin menjadi-jadi.
Kepercayaan ku terhadap itu semua semakin sedikit.
Aku keliru, yang kuanggap kebahagiaan malah menghancurkan.
Bukan hanya aku tapi juga orang-orang yang tulus mendekati ku.
Disebuah perjalanan, aku tertitih dengan tangis dalam hati.
Inikah takdir ku ?
Apakah keadilan tidak berlaku untuk ku ?
Itu berulang-ulang yang terucap dari mulut ini.
Tuhan........
Ambil saja nyawa ku, jika memang tak ada lagi kebahagiaan yang tersisa untuk ku.
Apalagi yang ku harap ?
Apalagi yang ku kejar ?
Ocehan ku yang sungguh tak berguna .
Aku putus asa.
Fahmi, !!!
Mengapa kau menuntun ku kejalan ini, kata Amira kepada pria yang mengikutinya.
Dunia ini bukan milik ku.
Tak ada yang layak ku raih dari semua ini.
Sesampainya dirumah , Amira langsung tertidur.
dan Fahmi pun beranjak pulang.
Kasihan sekali kamu Amira, tatapnya dengan iba.
Esok paginya, telfon ku pun berdering.
Aku terbangun.
__ADS_1
Ohh ternyata kamu Fahmi , ada apa ?
Aku jemput sebentar lagi, siap-siap sana !!
Seperti biasa aku pun berangkat ke kantor dan melakukan rutinitas biasa ku.
Segala pekerjaan adalah kebahagiaan tersendiri buat ku.
Karena dengan kesibukan itu, aku bisa melupakan kesedihan ku.
Bayangkan saja bertahun-tahun aku hanya seperti robot yang tak terarah.
Tulalit... tulalit....
Suara handphone ku.
Ibu menelepon.
Perbincangan terjadi berjam-jam.
Kapan pulang ?
Itu adalah hal yang selalu dipertanyakan Ibu kepadaku.
Kapan ?
Aku sendiri tidak punya jawaban buat itu.
Aku merasa sudah mulai damai dikejauhan. Karna dekat pun aku tetap merasa jauh.
Banyak rasa yang tak bisa aku ungkapkan.
Mungkin memang lebih baik menyendiri dahulu.
Entah sampai kapan perjalanan ku ini akan berakhir, yang ku tau aku akan tetap melangkah jauh sampai aku titik hembusan nafasku.
Aku orang yang bodoh.. putus asa tanpa pendirian.
Aku memang pantas berada ditakdir ini.
Selalu merasa sendiri meski sedang berada di keramaian.
Semua ini salahmu Ayah.
Semua ini salah mu !!
Seandainya saja kamu tak meninggalkan kami, aku tak kan kehilangan arah ku.
Tapi ya sudahlah, apa yang mau disesali. Tak akan ada yang berubah. Dia lebih bahagia tanpa kami.
Lebaran demi lebaran, berlalu berlaru dan lumrah.
Angin bawalah duka ku bersamamu. Hilangkan semua duka ini.
Musnahkan segala kekacauan diri ini.
Amira selalu terlihat seperti orang yang putus asa.
__ADS_1
Kalau saja azal menjemput, mungkin itu juga bukan akhir dari segalanya.
Melainkan masih awal.