Tersesat Dalam Jalan Pulang

Tersesat Dalam Jalan Pulang
Imajinasi


__ADS_3

Seolah dunia semakin tua.


Kasus kali ini sedang diperbincangkan dimana-mana.


Kekacauan di negeri sendiri pun semakin meraja lela.


Yang kaya semakin kaya. Dan yang miskin semakin miskin.


Amira seolah ikut terganggu dengan kekacauan yang sedang terjadi sekarang.


Banyak yang sehat bertumbangan, yang sakit hanya meninggalkan nama.


PHK semakin banyak.


Seperti dikantorku saat ini.


Beberapa orang telah dipaksa berhenti dengan alasan ini alasan itu.


Kalau tidak bekerja, mau makan dari mana ? , teriak mereka.


Yang berkuasa pun tidak bisa melakukan banyak.


Dengan berat hati tindakan memang harus dilakukan.


Kulihat berita di televisi pun semakin tidak ada kejelasannya.


Hari itu hari minggu, hari pekan yang cukup untuk bersantai.


Dan salah satu teman kerja mengajak ke pantai.


Dengan cuaca yang cerah, panas kami pun menikmati suasana pantai yang begitu ramai.


Ada Wulan,Tiara, Elista, Mutia, dan Aku.


Ku lihat Wulan sedang melamun ditengah keramaian itu.


Dia anaknya memang sedikit tertutup. Itu penyebab dia sering terlihat murung daripada kami.


Aku pun mendekati dan mencoba mengajak dia mengobrol.


Wulan ?


Bukankah hari ini sangat menyenangkan ?


Ramai dikunjungi wisatawan dan tawa-tawa anak-anak yang bermain disana.


Dia hanya tersenyum dan tidak mengatakan apapun.


Kuajak dia berkeliling. Bersandar gurau supaya dia lupa akan masalah yang mengganggunya.


Tapi ternyata itu tidak cukup.


Ditengah kesibukan kami yang sedang happy-happy bermain ditepi pantai. Dia malah mengungsi dan menjauh dari tempat kami.


Dan aku pikir hanya aku yang merasakan sikapnya itu. Ternyata teman-teman yang lain juga merasa bahwa ada hal yang tidak bisa Wulan ceritakan. Mungkin.


Mutia pun mengajak kami membuat rencana. Dan kembali mengajak Wulan untuk bergabung dengan kami.


Dan tawa pun kembali.


Sejenak dia ikut ceria.


Didalam mobil dalam perjalanan pulang, Tiara pun mencoba memancing Wulan untuk bicara.


Dan ternyata karna masalah dikantor.


Dia takut menjadi salah satu orang yang termasuk akan diberhentikan itu.


Dan kami berempat pun bingung bagaimana cara mengatasinya.


Karna sejujurnya pun itu juga sangat menggangguku.


Keesokan harinya dikantor.


Pak Jerry , Sebagai manager perusahaan kami pun menyuruh kami mengikuti meeting mendadak.

__ADS_1


Perasaan kami mulai gak enak mendengar itu.


Dan pada rapat tersebut ternyata tidak seperti dugaan kami.


Hari ini saya mengumpulkan para rekan semua disini, Apakah tau Alasannya ? , ungkap Pak Jerry


Kami terdiam dan menatap kearah Pak Jerry


Jangan tegang begitu. Candanya begitu santai


Saya sebagai perwakilan perusahaan ini ingin menyampaikan. Kalian semua pastinya sudah mendengar kabar buruk di luaran sana. Kekacauan yang terjadi di mana-mana. Yang merisaukan rakyat kecil seperti kita.


Dengan perkataannya semakin mengarah. Mungkin dugaan kami memang tak salah.


tetapi para rekan sekalian tidak usah khawatir, perusahaan kita masih memberi sedikit toleransi untuk kita.


Tidak akan ada pemberhentian secara paksa.


Dan aku harap para rekan-rekan sekalian ikut kerjasama dalam meningkatkan kinerja diperusahaan kita ini. ungkap Pak Jerry


Dan itu membuat kami perlahan tarik nafas dan merasa lega.


Alhamdulillah, dalam hati ku


Aku lihat Wulan bereaksi, senyum itu kembali berbinar dibibirnya. Aku ikut senang melihatnya.


Dengan kabar baik itu, kami pun merencanakan akan melakukan karaoke sepulang kerja.


Sebagai tanda syukur juga kebebasan atas asas-asas yang sudah mengganggu otak kami beberapa hari ini.


Kami pun menikmati hari itu.


Dan tak sadar ternyata sudah larut malam.


Kami pun bubar dan pulang ke rumah masing-masing.


Sampai jumpa, sampai ketemu dikantor besok. Teriak Tiara kegirangan.


Sesampai dirumah telepon ku pun berdering.


Ada kabar buruk lagi. Nenek ku telah dipanggil Tuhan.


Ibu pun memaksa supaya aku pulang.


Tapi bagaimana.


Diluar sana kekacauan sedang terjadi saat ini.


Aku pun mencoba untuk membuat Ibu memahami.


Mak... Maafkan Amira. Amira hanya bisa mendo'akan nenek dari sini. sambil menangis


Dan aku pun memberi beberapa penjelasan kepada Ibu. Hingga akhirnya Ibu mencoba untuk mengerti keadaanku.


Dan telepon pun terputus.


Tiba-tiba hujan turun petir menyambar.


Seolah dunia sedang marah dan tak memihakku, pikirku.


Aku pun mencoba menenangkan diriku dan tertidur.


Esok paginya.


Terjadi lagi kekacauan diluar.


Banyak orang berunjuk rasa dijalanan. Sehingga membuat jalanan ditutup.


Dan kami pun untuk sementara menunda pekerjaan kami dulu. Dan melakukannya dirumah.


Sungguh Negeri ku tercinta.


Karna dimana-mana sedang ada keributan yah mau gak mau harus mengurung diri didalam rumah.


Aku sama sohib-sohib tercinta pun melakukan Video grup.

__ADS_1


Kami membahas kekacauan yang sedang terjadi di luaran. Seakan kami adalah pemerintah dan penegak hukum.


Terkadang lucu.


Tapi itu hanya sebatas mengisi kekosongan kami.


Untuk beberapa hari , Aku akan terkurung didalam rumah.


Untung aku masih punya persediaan makanan.


Aku menghabiskan masa-masa dirumah ku dengan membaca, menulis dan menonton.


Aku iseng-iseng menulis cerita dan mengirimnya ke berbagai peminat.


Dan tak ku duga ternyata banyak yang menggemari tulisan ku.


Tidak disangka sebuah keboringan ku dirumah ternyata bermanfaat.


Tut... Tut .. tutttt


Bunyi telepon ku berdering


Ternyata dari agen media cetak. Dia menawarkan untuk mencetak tulisan-tulisan ku.


Dan pastinya aku senang.


Apalagi jika itu memang bermanfaat untuk orang lain. Dan juga bisa jadi peluang duit buat ku.


Aku pun semakin fokus menulis dan mendalami nya secara dasar.


Bahkan aku berpikir ini bisa jadi mata pencaharian buat ku.


Kan lumayan tuh.


Dan teman-teman ku pun akhirnya mendengar dan ikut juga membaca tulisan-tulisan ku. Dan mengejekku.


Amira.... Bakal jadi bintang nih kayaknya. Ungkap Elista sambil mengejekku di chat grup


Apaan sih, dengan sedikit malu


Mereka pun terus terusan menggombal ku.


Itu adalah jenis bahwa mereka ikut senang dan mendukung ku.


Sebuah imajinasi bisa menjadi uang.


Yaa tidak disangka memang.


Ditengah perjalanan hidup yang sungguh melelahkan, ternyata kisahnya berguna juga.


Dan kembali ke rutinitas biasa. Akupun harus bekerja.


Dengan pekerjaan yang menumpuk dan sudah cukup menguras tenaga.


Aku pun sementara menutup tulisan ku.


Karna menjalani keduanya membuat aku kewalahan.


Banyak penggemar yang kecewa dan menunggu tulisan-tulisan ku selanjutnya.


Tapi aku bingung harus menjalankan yang mana.


Semua sama pentingnya.


Dan kewajiban ku dikantor pun tak mungkin aku tinggalkan.


Hingga ada salah satu teman memberi masukan-masukan dan perbandingan.


Aku semakin bingung harus menjalankan yang mana.


Tapi masuk akal juga apa yang telah berusaha dijelaskan teman ku itu kepada ku.


Akhirnya aku pun memutuskan risen dari tempat kerja ku dan memfokuskan diri dengan tulisan-tulisan ku.


Aku memilih ini karna ini memang lebih menjanjikan.

__ADS_1


Baik itu dibidang karir sendiri maupun perbaikan masa depan ku.


__ADS_2