Tersesat Dalam Jalan Pulang

Tersesat Dalam Jalan Pulang
Sakit Tak Berdarah


__ADS_3

Rasya Putra Santoso ialah pria misterius yang selama ini dibalik teroran itu. Dia adalah teman lama ku yang sudah lama tak berjumpa dengan ku.


Tidak sengaja waktu itu kami berpapasan lagi disuatu rumah makan waktu itu.


Aku melihat nya lewat, tapi tidak terlalu jelas.


Aku seperti mengenali dan sangat tidak asing tapi agak ragu.


Hingga tiba-tiba dia sudah dibelakang ku.


Amira !!


Dengan kaget aku menoleh agak sedikit kebingungan karna sudah agak-agak lupa siapa dia.


Aku Rasya, teman lama kamu yang dulu pernah satu kantor Lo.. Rasya mencoba mengingatkan ku.


OOO iya iya iya.. Lama tak berjumpa bagaimana mana kabar mu ?


Masih bekerja ditempat lama ?


Rasya seperti senyam senyum seperti kesenangan.


Alhamdulillah kabar aku baik mir, Aku juga masih ditempat lama. Kamu sendiri bagaimana kabar mu ? , sambung Rasya.


Dan kami pun tak banyak berbincang karna urusan pekerjaan. Dan dia pun meminta kontak ku lalu melanjutkan urusannya.


Seketika aku tidak menyangka akan bertemu dia lagi setelah sekian lama.


Dulu aku pernah sempat naksir sama dia. Tapi waktu itu dia sedang sama orang lain.


Dan sekarang tidak tahu apa dia sudah berkeluarga atau belum.


Selamat malam mir, Ini aku Rasya. Sudah tidur belum ? . Bunyi pesan teks ku.


Iya Sya, selamat malam. Belum nih, jawab ku


Ohh.. Lain waktu kita harus ngobrol-ngobrol lagi nih.. ngopi-ngopi.. Banyak yang ingin disampaikan kepada mu mir. Sahut Rasya


Rasanya ada yang janggal dan aku makin penasaran.


Setelah beberapa hari berlalu kami pun sering mengatur waktu untuk bertemu.


Dan aku yaa pastinya enjoy karna ternyata perasaan ku masih sama. Masih tertarik dan nyaman berada disisinya.


Dan yang tidak aku duka, ternyata dia juga memiliki perasaan yang sama. Dia juga sudah dari dulu memendam perasaan suka terhadap ku.


Mir... Sekarang kamu lajang bukan ?


tanya Rasya dengan suara serak terdengar agak canggung.


Aku hanya mengangguk.


Aku sebenarnya sudah malas pacaran apalagi memulai dari awal. Dengan mengingat umur yang sudah cocok berkeluarga juga. Aku ingin mencari orang yang mau serius.


Terus ??? . Lanjut ku


Iya begini mir... Aku rasa kamu orang yang pas, orang yang cocok untuk jadi pendamping ku.


Kamu mau gak menjalin hubungan yang serius dengan ku ?


Kamu mau gak menikah dengan ku ? . Gumamnya penuh harap


Sebenarnya itu yang aku harapkan. Tetapi karena aku perempuan aku harus sedikit jual mahal dan menyuruh dia memberi aku waktu seminggu untuk memikirkankannya.


Full dalam seminggu setelah itu kami tidak ada kontakan sama sekali. dan tiba-tiba dia ngajak bertemu lagi.


Dan kemudian aku pun mengatur waktu dan bertemu dengan dia.


Mir.... Bagaimana ?

__ADS_1


Sudahkah ada jawaban dari pertanyaan aku hari itu ?


Memandangiku dengan penuh perasaan.


Aku sedikit canggung dan gemetaran sebenarnya. Tapi aku pura-pura rilex dan menjawab.


Iya Sya,, Aku bersedia menikah dengan mu. Dengan suara terbata-bata.


Dan akhirnya kami pun mulai menyiapkan semuanya. Terutama meminta persetujuan kedua belah pihak keluarga.


Dan Alhamdulillah ternyata semua lancar. Orang tua ku maupun orang tua dia merestui kami. Dan akhirnya kami pun menikah.


Diawal-awal pernikahan semua masih baik-baik saja. Masih terlihat harmonis dan romantis.


Tapi seiring waktu..


Setelah beberapa bulan, semua perlahan berubah.


Padahal saat itu aku sedang mengandung anak pertama kami .


Tapi aku merasa kami perlahan terasa jauh meski dekat.


Tidur pun tak lagi seperti dulu.


Sering berselisih paham.


Bahkan yang paling menyakitkan buat ku dia menjadi lebih sering mengomentari ku.


Mulai dari sikap, penampilan, dan pelayanan.


Kami menjadi jarang akur.


Sedikit-sedikit ribut, sedikit-sedikit akur.


Kata orang sih itu normal.


Tapi aku udah mulai capek. Aku sering berpikir untuk mengakhirinya.


Dia sekarang berbeda.


Lebih sering marah-marah. Dan kadang dia gak sadar bahwa dia sudah membentak ku. Dan itu menyakiti ku.


Hingga suatu hari aku mulai bertanya pada diri ku sendiri.


Apa yang salah dari ku ?


Apa yang seharusnya ku perbaiki ?


Tapi itu masih saja jadi pertanyaan yang gak ada jawabannya dibenak ku.


Suatu hari ku coba mendekatinya lagi dan terus mendekatinya.


Tapi dia malah sedikit merasa terganggu.


Apa aku yang berlebihan ? , tanya ku dalam hati


Mungkin dia memang capek kerja. Atau adalah hal lain yang membuatnya semakin tak nyaman.


Sayang, Boleh aku menanyakan sesuatu ?


Kayak sama orang lain aja. Ngomong aja yang. Jawabnya santai


Aku pun bertanya dengan ragu-ragu. Apa kamu sudah bosan dengan ku ?


Dengan hubungan kita ?


Dia pun mendekat, menghampiri ku lalu memeluk ku.


Ku lihat senyum di wajahnya.

__ADS_1


Sayang .. Kita sudah menikah. Sebentar lagi punya anak dan pasti aku menyayangimu.


Tapi jawaban itu hanya melegakan sementara.


Sikapnya yang kadang dingin membuat aku selalu mempertanyakan posisi ku dan perasaannya.


Karna buat apa sebuah hubungan jika sudah tidak ada cinta kasih didalamnya.


Dipertahankan akan lebih menyakitkan.


Berpisah pun akan banyak yang akan tersia-siakan.


Ohh tuhan...


Ujian apa yang menimpa rumah tangga ku ?, sambil menangis


Selalu tertanam di benak ku.


Janji dan sumpah pernikahan kami dulu.


Yang membuat aku masih terombang-ambing dengan perasaan ku yang kacau.


Aku hanya menginginkan suami ku kembali.


Yang mencintai ku. Menyanyangi ku.


Yang peduli dan perhatian seperti waktu itu.


Benar kata pepatah.


" Pria semakin di kejar, akan semakin jauh. Semakin disayang akan semakin menyakitkan ".


Tapi kenapa tidak.


Kami sudah mengucap janji suci.


Dan sudah sewajarnya perasaan ku hari demi hari makin bertambah kepadanya.


Itu salah.. Itu salah ... Aku harus memberi sedikit ruang untuk diri ku sendiri. gumam ku


Aku ingin mencari kesibukan. Tapi melihat kondisi badan ku yang sedang berbadan dua. *Bagaimana coba ?


Yang. .. Sayang.... Aku bosan dirumah. Aku capek gak ngelakuin apapun. Aku ingin melakukan sesuatu yang membuat aku sedikit sibuk.


Mau buat apa yang .. Keadaan kita lagi begini yaa beginilah dulu. Sabar-sabar dulu. Fokuskan pada anak kita dulu*. mencoba menenangkan ku.


Kadang aku menikmati hari-hari yang membosankan ini.


Tapi kadang pikiran ku kacau sendiri tanpa arahan.


Aku takut stress.


Apalagi kalau dia sedang bekerja. Aku benar-benar sendirian dirumah.


Yang aku lakukan yah hanya tidur, nonton, tidur lagi, nonton lagi. Begitulah setiap hari.


Urusan rumah pun kadang gak cukup untuk membuang penat ini.


Dia pulang kerja. Kadang ingin berkeliling sejenak. Merilekskan otak. Tapi tidak enak.


Seharian dia sudah lelah bekerja. Gak mungkin aku masih mengganggu waktu istirahatnya lagi.


Lagi dan lagi aku berperang dengan otak ku sendiri.


Rasanya pengen melakukan me time, liburan atau represing selama seminggu diluar rumah.


Mana tau rasa bosan, kacau dan penat ini bisa hilang.


Tapi itu hanya sebatas keinginan.

__ADS_1


Dan gak baik juga meninggalkan suami sendirian hanya demi menjauh dari kekelaman.


Huhhh.. Sungguh melelahkan.


__ADS_2