
Kubuka kedua mataku, melirik jam didinding kamarku yang kini masih menunjukan pukul 02.15 pagi. Entah kenapa akhir-akhir ini aku sering merasa lapar dipagi buta seperti ini, apa mungkin karena keberadaannya?
Aku mengusap perutku yang masih datar, belum menunjukan perubahan apapun. Kulirik samping kiriku, seorang pria yang kini berstatus suamiku masih tertidur lelap. Setelah perdebatan singkat antara kami lebih tepatnya aku yang memulai. Semua terjadi karena aku yang tidak ingin tidur satu ranjang dengannya, selain karena belum siap aku juga takut ia akan melakukan hal yang macam-macam disaat aku tertidur, walaupun kami sudah sah dimata hukum maupun agama, tetapi aku tetap belum siap jika harus melayaninya sebagai bentuk kewajibanku sebagai istri. Hingga perdebatan itu diakhiri dengan ia yang langsung melompat kearah kasur dan pura-pura tidur, aku berusaha menyuruhnya menyingkir bahkan sampai menarik salah satu tangannya tapi tetap saja aku kalah kuat dengan tubuhnya yang bisa tergolong besar. Mungkin karena kesal ia malah berbalik menariku hingga aku jatuh kedalam pelukannya yang menurutku hangat. Aku terus berontak dan terhenti saat ia mengatakan
"jangan terus bergerak sayang, kamu membangunkannya, apa kamu mau bertanggung jawab untuk menidurkanya hm?"
Aku berhenti bergerak saat mendengar bisikan itu tepat ditelingaku ditambah sesuatu yang kini terasa menusuk perutku, aku menatapnya yang kini tengah menyeringai kepadaku.
"bagaimana?" aku refleks menggeleng.
"kalau begitu tidurlah, aku sangat lelah my wife" aku mengangguk dan mulai merebahkan kepalaku dilenganya yang berotot setelah sebelumnya merubah posisi kami menjadi lebih nyaman masih dengan ia yang memeluku hingga kami tertidur lelap.
...***
__ADS_1
...
Aku mengguncang tubuhnya yang tertidur miring membelakangiku, aku baru menghentikannya setelah ia mulai mengerjapkan matanya, membalikan badanya dan merubah posisinya menjadi duduk bersila menatapku.
"ada apa" tanyanya dengan suara serak yang entah mengapa aku menyukainya, sembari menggosok kedua matanya yang masih setia terpejam yang menurutku sangatlah lucu untuk lelaki seumurannya.
"aku lapar" ia menaikan salah satu alisnya sembari menggaruk tengkuknya setelah benar-benar membuka kedua matanya lebar.
"tapi ini masih pagi?" tanyanya heran setelah kembali melihat ke arahku.
"aku juga tidak tau, pokoknya sekarang aku lapar dan ingin makan!" ucapku dengan nada merajuk. Aku sempat tertegun dengan nada suara yang baru saja aku keluarkan. Ini pertama kalinya aku melakukan hal konyol tersebut didepan orang lain, bahkan aku tidak pernah melakukannya dengan orang tuaku sekalipun. Apa mungkin bawaan debay?
"lalu, mau makan apa?" tanyanya.
__ADS_1
"nasi goreng" kataku antusias, entah mengapa membayangkannya saja sudah membuatku ngiler.
"oke, aku bangunin mamah dulu, mau minta tolong buatin buat menantunya yang tengah ngidam" saat ia hendak bangkit aku segera mencegahnya dengan ucapanku yang sepertinya mampu membuatnya syok terbukti dengan raut wajahnya yang tadinya mengantuk dan terkesan ogah-ogahan menjadi lebih...waw
...***
...
Reynand POV
Keysha itu benar-benar! Aku kesal! Sangat-sangat kesal tapi tidak sampai tahap benci. Bagaimana tidak, ia membangunkanku dengan mengguncang tubuhku kasar dipagi-pagi buta seperti ini hanya demi sepiring nasi goreng. Dan yang semakin membuatku kesal adalah ia menyuruhku yang memasaknya dengan dalih anak kami yang memintanya, dan lihatlah sekarang, setelah hampir 1 jam aku berkutat dengan wajan dan alat masak lainnya dan dapur yang tadinya rapi kini telah kusulap menjadi sesuatu yang mampu membuat siapapun yang melihatnya akan marah, dan dia justru mengatakan dengan entengnya bahwa makanan yang kubuat tidaklah enak, dan ia sudah kenyang. Padahal ia baru satu suap memakannya. Kuelus dada berusaha bersabar.
Ingatlah rey itu semua demi anakmu, calon keturunanmu yang kini ada didalam tubuh wanita yang membuatmu kesal dan sudah kau hancurkan hidupnya dan yang tanpa sadar telah membawa banyak hal positif dalam hidupmu. Pembawa kebahagian yang tidak pernah kau sangka.
__ADS_1