
REYNAND GEOVANO 25 th
CEO perusahaan properti terbesar se Asia. Hidupku hanya dihabiskan dengan tumpukan kertas yang selama ini menghasilkan pundi-pundi rupiah yang bisa membuatku seperti sekarang. Walaupun aku memiliki segalanya tapi entah mengapa masih ada yang kurang menurutku, dan entah apa itu.
"Rey lo jadi ikut kan nanti malam?" gue tersentak dari lamunanku saat mendengar suara sahabatku yang ternyata berada satu ruang denganku.
Dia TONI ABRAHAM sahabatku sejak kecil, ia juga seorang CEO Warisan keluarganya ABRAHAM CORP namanya.
"sejak kapan lo disitu?" tanyaku heran, pasalnya aku tidak mendengar pintu dibuka.
"ye, lo'nya aja yang ngelamun mulu dari tadi. Gue udah telefon lo berkali-kali tapi gak lo angkat, yaudah gue kesini, sekalian kesananya bareng" jawabnya.
" whatever" jawabku dan berusaha kembali fokus mengerjakan kertas-kertas yang bertumpuk dimejaku sembari menunggu waktunya kita pergi.
...***
...
"Toni!! Rey!!" panggilan seseorang membuatku dan Toni mencari darimana sumber suara tersebut. Setelah kutemukan ternyata panggilan tersebut berasal dari salah satu temanku dan Toni, Ryan namanya. Kami berjalan mendekat kearahnya.
"Hai! Kapan lo balik" tanya Toni setelah melakukan salam ala pria.
"kemarin" jawabnya tersenyum.
"wah CEO kita yang satu ini kayanya makin sukses aja ya bro?" ucapnya yang ditunjukan padaku.
__ADS_1
"amin" jawabku
"oh ya sebagai awal pertemuan kita, gimana kalau gue traktir minum?"
"Boleh!" jawab semua antusias.
Aku melangkah menuju sofa dan menjatuhkan tubuhku disana, hingga Ryan datang dengan dua gelas minuman ditangannya.
"nih" Ryan memberikan satu gelas minumannya untukku.
"thank" jawabku sembari mulai menyesap minuman ditanganku sedikit demi sedikit.
Setelah beberapa menit aku mulai merasakan sesuatu yang aneh dengan tubuhku, kepalaku terasa sangat pusing dan tubuhku terasa panas.
"kenapa Rey?" tanya Ryan yang masih duduk disampingku.
"yaudah lo istirahat aja, kebetulan tadi gue udah pesen kamar, tapi buat lo aja lah, kasihan gue liatnya"
"thank bro"
"hm"
Aku berusaha berdiri tegak, mencari kamar dengan nomor yang sama dengan kunci yang tengahku pegang.
Ceklek
__ADS_1
Saat gue membuka pintu gue gak liat kesekitar, menutup pintu yang otomatis terkunci dan saat membalikan badan gue melihat seorang gadis yang meringkuk ketakutan didekat kasur. Entah mengapa tubuh gue tambah panas dan tiba-tiba ingin melakukannya.
Saat gue berjalan semakin mendekat, ia justru jatuh kesamping dan saat gue cek ternyata ia pingsan.
"apakah semenakutkan itu melihatku?" batinku.
Kenapa dengan tubuhku, aku sangat ingin melakukannya, kulit kami yang bersentuhan sangatlah menyiksaku.
Aku sudah tidak perduli, walaupun nanti dia marah karena melakukannya saat ia pingsan. Mungkin kalau aku kasih tips lebih ia juga tidak akan marah. Itulah yang ada dipikiranku kala itu.
Sudah cukup, aku sudah tidak tahan.
Aku mengangkatnya dan membaringkanya dikasur.
"cantik" pujiku tanpa sadar.
Langsung kupagut bibirnya yang sedari tadi menggoda untukku merasakannya dan rasanya... manis dan kenyal, dan aku tidak bisa berhenti melakukannya. Langsung kuturunkan tanganku kebuah dadanya dan kuremas pelan sembari terus menciumnya.
Ia membuka matanya dan kurasakan tubuhnya memegang saat melihatku tengah menggerayangi tubuhnya.
"apa yang anda lakukan?" tanyanya sembari tangannya berusaha menyingkirkan tanganku yang masih asik memainkan kedua buah dadanya. Tapi semua sia-sia karena tenaganya tak sebanding denganku.
"tuan jangan!" jeritnya saat kubuka paksa pakaiannya. Entah kenapa tak ada rasa kasian untuknya saat melihatnya mengeluarkan air mata.
"diamlah ******!! Lo itu sudah sering dipake, jadi gak usah berlagak nolak!!" ucapku tanpa memikirkannya, bahwa kata-kataku telah melukai batinya yang terdalam dan mungkin akan sangat sulit disembuhkan.
__ADS_1
Hingga semua pemikiran dan kata-kataku dipatahkan saat melihat darah keluar dari sela-sela penyatuan kami.
"l-lo"