
Author Pov
Tampak seorang gadis baru saja turun dari sebuah Bus kelas Ekonomi. Ia terlihat kesulitan berjalan dikarenakan banyaknya orang yang berlalu lalang dan banyaknya barang yang dibawanya. Ia mengeluarkan secarik kertas dari saku jaketnya dan membaca tulisan yang ada didalamnya kemudian bergegas keluar dari Terminal dan menyetopkan sebuah Taxsi yang kebetulan melintas didepannya. Ia segera memberitahukan arah tujuannya kepada sang supir yang langsung dimengerti.
...***
...
"Assalamualaikum..." salam Keysha disertai ketukan pada pintu kayu kontrakan yang tak terlalu besar dihadapannya.
"waalaikumsalam" Sahut seseorang dari dalam setelah dua kali ketukan dan ucapan salam yang Keysha lontarkan, tak lama pintupun terbuka menampilkan seorang wanita muda yang tampak terkejut saat melihat siapa yang bertamu dikediamannya.
"Keysha!" pekiknya langsung memeluk adik dari Suaminya tersebut.
"kamu sudah sampai? Naik apa kesini? Bukannya kemarin bilangnya naik Travel? Kok mba gak denger ada suara kendaraan?" tanya Fitri setelah melepas pelukan antara dirinya dan adik iparnya.
"jadinya aku kemarin naik Bus kesininya Mba" jawab Keysha disertai senyuman. Ia tidak menyangka akan mendapat sambutan yang begitu hangat dari Kakak Iparnya yang selama ini jarang datang kerumah Ibu dan Ayahnya di desa.
"Kenapa gak bilang Mba atau Mas? Kalau tadi kamunya bilang kan nanti mas Pri bisa jemput kamunya di Terminal" cecarnya pada gadis yang tak lain adalah adik iparnya tersebut.
"gak perlu Mba, yang pentingkan sekarang akunya sudah sampai" tolak halus Keysha.
"tapikan kami khawatir, apalagi ini pertama kalinya kamu pergi ke Jakarta, sendirian pula" ucapnya kembali, Keysha mengulas senyum menanggapi.
"masuk dulu yuk, Mba sampai lupa suruh kamunya masuk" ajak Kakak Iparnya yang langsung diikuti Keysha.
“Mba kebelakang sebentar, kamu duduk-duduk aja disini, kalau mau, kamu juga bisa langsung istirahat dikamar itu” Beritahu Mba Fitri sembari salah satu jari telunjuknya mengarah kesebuah ruangan yang tidak jauh dari posisinya duduk sekarang.
“Iya Mba” setelah mendapat jawaban dari adik iparnya, Mba Fitri segera berlalu menuju dapur yang berada dibelakang kontrakan kecilnya.
Keysha yang ditinggalkan sendirian, mulai berdiri dan melihat-lihat beberapa mesin jahit yang tergeletak memenuhi ruangan. Kakak dan Istrinya di Jakarta memang bekerja sebagai tukang jahit yang menerima beberapa pesanan. Entah itu untuk pribadi atau mungkin beberapa pabrik yang menginginkan pakaian seragam untuk dipakai dalam jumlah besar.
Keysha mengangkat tangannya, menyentuh sebuah foto yang terdapat gambar keponakan perempuannya. Keysha tidak menyangka, waktu ternyata sangat cepat untuk berlalu. Padahal ia masih ingat dengan sangat jelas bagaimana dulu ia menggendong sang ponakan dengan tangannya yang justru malah membuatnya menangis.
“udah gede ya sekarang” ucap Keysha sedih dan bahagia. Jujur, ia terkadang masih ingin kembali kemasa lalu, dimana ia masih belum mengerti dengan kerasnya dunia. Bermain bersama keponakan-keponakan kecilnya yang kini telah tumbuh semakin dewasa.
“aduh” keluhnya saat merasakan sakit di area perutnya. Tanpa berlama-lama, Keysha langsung berjalan cepat menuju kakak iparnya yang tadi pamit untuk kebelakang bagian rumahnya.
"Mba aku numpang ke Toilet ya" izin Keysha pada Mba Fitri yang kini tengah membuat teh didapur kontrakannya.
"Ya, mangga Key. Toiletnya ada diujung situ" izinnya seraya menunjuk sebuah ruangan dibagian ujung. Keysha yang melihatnya, langsung memasuki ruangan yang ternyata berada tidak jauh dari posisi kakaknya tadi berada. Memang kontrakan yang kakak dan kakak iparnya sewa tidaklah terlalu besar. Tapi disini, semua hidup dengan aman, nyaman dan Insya Allah berkecukupan.
***
__ADS_1
"assalamualaikum, Bun, Bunda!" teriak seseorang dari luar rumah. Mba fitri yang tengah membuat minumanpun kaget dan refleks menjatuhkan sendok yang tengah ia gunakan untuk mengaduk teh didalam gelas teruntuk adik iparnya, Keysha. Tanpa menunggu lama ia segera berjalan sedikit berlari menuju pintu depan yang tengah digedor kasar dengan suara seseorang yang terus memanggil namanya.
"Waalaikumsalam" sahutnya sedikit kencang seraya membuka pintu yang memang tidak kunci
"Ayah, kok udah balik jam segini?" tanyanya pada sang suami yang datang kembali dengan wajah memerah dan nafas yang menderu seolah habis berlari.
"Bun.. Keysha Bun!" gugupnya dengan nada khawatir. Ia tidak mendengar pertanyaan sang istri dengan baik, setelah sebelumnya mendengar kabar cukup buruk dari salah satu kakaknya yang ada di Desa.
"Keysha? Memangnya kenapa?" Mba Fitri merasa bingung dengan suaminya yang tidak juga kunjung menjelaskan duduk perkaranya.
"ayo masuk dulu, kita bicarain didalam" ajaknya kemudian karena merasa kondisi suaminya yang sepertinya sedikit terguncang akan suatu hal.
"sekarang cerita" suruh Mba Fitri setelah mereka berdua duduk disofa yang berada tidak jauh dari posisi mesin jahit dan bahan-bahan pakaian yang belum terselesaikan.
“Tadi aku dapat kabar, katanya Keysha.. eh” henti dan kaget Mas Pri saat melihat sebuah tas besar yang tergeletak tidak jauh dari posisinya. Ia mencondongkan tubuhnya kemudian mengambil benda yang menjadi pusat perhatiannya.
“Ini tas siapa?” tanya Mas Pri pada sang istri yang masih menatap segala tingkah aneh sang suami.
“Keysha” jawab Mba Fitri sesuai fakta yang ada.
“HA! Beneran? Kok bisa udah disini?” tanya Mas Pri seolah tak percaya. Wajah kalutnya kini telah terganti dengan wajah bingung dan penasaran tingkat tinggi.
“ya bisalah. Orang dia datang sendiri kok tadi” jawab Mba Fitri kemudian bangkit pergi menuju dapur kembali. Ia mulai melanjutkan kegiatannya dalam membuat minuman dan mengangkat sebuah bolu dari panggangan.
“Ada apa Mba, tadi kayaknya ada tamu ya?” tanya Keysha yang baru keluar dari dalam kamar mandi. Mba Fitri yang melihatnya tersenyum.
“Assalamualaikum” panggil Keysha pada Kakak kandungnya yang masih fokus pada tas ransel miliknya yang entah bagaimana kini justru berada dipangkuan sang kakak.
Mas Pri yang mendengar suara didepannya, reflek langsung mengangkat kepalanya. Kedua kornea matanya membola seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya didepan sana.
“Key..Keysha” ucapnya ragu, pasalnya beberapa menit lalu ia baru saja mendapat kabar jika travel yang dinaiki Keysha telah mengalami kecelakaan tunggal disalah satu jalan tol yang menuju arah Jakarta.
“Kenapa Mas? Kok kaya kaget gitu?” tanya Keysha mulai menyalimi tangan sang kakak yang hanya diam menatap dirinya.
Keysha yang ditatap seperti itu, tentu merasa risih. Ia akhirnya memilih duduk tepat didepan kursi yang bersebrangan dengan sang kakak yang tidak juga kunjung melepaskan tatapannya pada dirinya.
“Mas! Jangan natap aku gitu dong, aku jadi takut liatnya “ marah Keysha kelepasan pada akhirnya. Tapi sayang usahanya tetap tidak membuahkan hasil sesuai yang diharapkanya.
“Mas” Kali ini bukan Keysha yang menegur, melainkan Mba Fitri yang akhirnya muncul dengan kedua tangan tengah membawa nampan berisi tiga gelas minuman dan satu buah piring berisi kue yang baru saja selesai ia angkat dari panggangan.
Mas Pri yang mendapat teguran akhirnya mulai mengerjapkan kedua matanya. Ia melihat sang adik, Keysha sebagai tersangka dari kesedihanya.
“kok kamu sudah ada disini?” tanya Mas Pri pada sang adik yang kini tengah menikmati kue buatan Mba Fitri.
__ADS_1
“ya bisa dong mas. Aku kan punya Kaki sama Tangan. Punya Akal dan Pikiran, tentu aku bisa berjalan bahkan pergi kemanapun aku mau” jawab Keysha.
“bukan itu maksud Mas. Kamu bukannya pamit kesininya naik Travel yah?” tanya Mas Pri mulai memasuki inti permasalahan.
“Aku gak jadi naik Travel Mas” ucap Keysha menyuapkan potongan terakhir kue yang berada ditangan kanannya.
“waktu di pemberhentian untuk istirahat, aku turun buat ke Toilet. Terus pas aku mau balik, eh Travelnya ternyata udah pergi” jelas Keysha kemudian meminum pelan teh miliknya yang masih mengepulkan uap.
“syukurlah” Keysha yang mendengarnya tentu langsung dibuat tersedak minumannya.
“Kok malah bersyukur gitu si Mas?, harusnya Mas Pri sedih dong aku ditinggalin. Kalau akunya ilang gimana coba?” marah Keysha pada sang Kakak.
“Bukan gitu Key. Disini Mas seneng dan sangat bersyukur banget karena Tuhan masih menjaga kamu dengan sangat baik” ucap Mas Pri disertai tatapan sendu dan bahagia di satu waktu yang sama.
“memangnya kenapa Mas?” Tanya Keysha setelah melihat suasana yang sepertinya tidak pas untuk dibuat bercanda.
“Tadi, Mas baru saja dapat telepon dari Desa. Disana dapat kabar katanya Travel yang kamu naiki, telah mengalami kecelakaan pagi tadi. Dan mereka meminta Mas untuk mencari kamu karena disini rumah Mas yang paling dekat dengan lokasi” jelas Mas Pri.
“InalillahiWainailaihiRojiun” ucap Keysha menutup mulutnya tak menyangka.
“Ternyata bener ya Mas, Mba. Kalau dibalik kemalangan yang kamu hadapi, akan terjadi suatu hal yang belum tentu kamu mengerti.” Ucap Keysha tiba-tiba.
“bener Key. Ingat, kita boleh bermimpi, dan sangat boleh untuk berusaha. Tapi jika nanti hasilnya tidak sesuai dengan kehendak kita, maka kamu jangan menyalahkan Tuhan kita. Karena beliau tidak akan memberi cobaan diluar batas wajar. Dan beliau juga tidak akan memberi musibah, tanpa adanya berkah dibalik semuanya” pesan dan nasehat Mba Fitri pada sang adik ipar yang fokus mendengarkan.
“Iya Mba. Aku bakal selalu ingat kata itu” jawab Keysha kemudian.
“Oh iya Key, mendingan sekarang kamu hubungi keluarga di Desa. Ibu sama Ayah pasti khawatir disana” perintah Mas Pri menyodorkan ponselnya yang langsung Keysha terima.
“hallo” ucap suara dari arah seberang sana.
“Hallo Bu, ini Keysha” jawab Keysha yang disambut teriakan lega dari sana.
“Piye keadaanmu nduk?” terdengar suara Ibunya yang berbicara dengan isak tangis yang mungkin sudah tidak bisa ditahannya.
“keysha baik-baik saja disini Bu. Ibu jangan khawatir. Ibu juga harus tetap jaga kesehatan supaya jangan sakit-sakit lagi” ucap Keysha menenangkan.
“Syukurlah kalau kamu baik-baik disana. Kamu juga jaga kesehatan ya sayang” nasehat Ibunya. Keysha yang mendengarnya tanpa sadar mulai meneteskan air matanya. Mungkin ia sedikit sedih karena harus berpisah lama dengan kedua orangtua yang selama ini merawat dirinya.
“nggih Bu” jawab Keysha. Ia dan ibunya beserta para saudaranya di Desa mulai berbicara banyak hal dalam waktu yang lumayan lama. Hingga akhirnya Keysha terpaksa harus mengakhiri panggilan tersebut karena mulai merasa lelah setelah melakukan perjalan panjang yang baru pertama kali ia rasakan.
“nih Mas. Terimakasih ya” sodor Keysha mengembalikan ponsel tersebut pada pemiliknya. Mas Pri menerimanya dan mulai kembali menikmati makanan di depan mereka.
“Mas Pri, Mba Fitri. Keysha pamit ke kamar ya. Permisi” pamit Keysha pada kedua orang yang masih menikmati makanan mereka. Dan kedua kakaknya itu mengangguk mengizinkan dirinya untuk pergi menempati sebuah ruangan yang sebelumnya ditinggali saudara sepupu dari pihak Mba Fitri.
__ADS_1
Keysha yang merasa sangat kelelahan akhirnya langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur busa tanpa mandi atau bahkan hanya sekedar mengganti pakaian.
“ semoga kedepannya akan selalu berjalan lancar. Aamiin” doanya kemudian mulai memejamkan matanya. Mengarungi alam mimpi yang mulai membawanya pergi.