The Angel

The Angel
14. Ayah Baru untuk Reynand


__ADS_3

"kak Rey lagi apa?" kutengokan kepalaku ke arah sumber suara yang ternyata berasal dari suara Keysha yang kini tengah berdiri dibelakangku seraya menatapku.


"ngopi" ucapku seraya mengangkat cangkir kopi yang masih mengepulkan asap. Aku bersyukur semenjak menikah Key sudah banyak bicara saat bersamaku, tidak seperti awal kita bertemu dan saat aku mengantarnya pulang dulu.


Semakin kesini aku semakin tau sifat dan sikapnya terhadap sekitar. Sepertinya aku tidak akan menyesal menikah dengannya. Aku mulai menyadari semenjak kami menikah, aku lebih sering tersenyum dan merasa hidupku lebih berwarna dan tidak terlalu monoton.


"kak Rey"


"ya" jawabku sembari menyesap kopi yang tinggal setengah itu.


"kita jadi pergi hari ini?"


"hm" gumamku karena aku masih menikmati kopi yang tinggal sedikit.


"kenapa?" tanyaku saat melihatnya menunduk, aku meletakan cangkir yang kini tinggal berisi ampas kopi.


"gak apa-apa" jawabnya seraya menggeleng.

__ADS_1


"kenapa hm?" aku mengangkat dagunya agar mendongak menatapku yang kini telah berdiri menjulang didepannya.


"hiks... hiks" dia memeluku dan setelahnya terdengar isakan dan kurasakan bajuku mulai basah.


"kok malah nangis?" tanyaku heran.


"a aku gak ma... mau pergi huaaa" aku heran karena tangisnya yang justru bertambah keras. Apa ada yang salah dengan pertanyaannku?


Kulihat Mamah, Ayah dan Ibu serta saudara-saudara Key yang masih menginap dirumah orang tuanya, tempat hajatan pernikah kami dua hari lalu diadakan muncul dari kamar mereka masing-masing dengan tergesa serta raut wajah khawatir yang begitu kentara.


"kenapa sama Key, Rey?"tanya mamah berusaha melepaskan pelukan Key dariku, Key melepaskan pelukannya dan beralih memeluk mamah. Mamah yang melihatku mengangkat bahu beralih menatap Key yang kini menangis dipelukannya.


Key melepaskan pelukannya dan memperlihatkan wajahnya yang sembab dan hidungnya yang memerah serta sesenggukan yang sesekali masih terdengar.


"a aku gak ma... mau pergi" kulihat mamah dan kedua orang tua Key dan saudara-saudaranya yang berdiri dibelakang mereka menaikan salah satu alisnya.


"pergi kemana?"

__ADS_1


"ke ja karta" semua orang yang ada disana menampilakan senyum lega. Mungkin mereka mengira tadinya Key kenapa sampai menangis kejer dipagi-pagi seperti ini, dan ternyata semua itu hanya karena ia yang tidak ingin pergi ke Jakarta, kerumah suaminya.


Mungkin karena tak tega atau apa ayah Key maju, mengambil tubuh putrinya dari dekapan mamah Karin menjadi berdiri menghadapnya dengan wajah terbilang kacau.


"dengerin ayah" Key menatap ayahnya. Kini kedua tangan ayah Key tengah memegang kedua lengan atas Key dengan pelan.


"sekarang kamu adalah seorang istri, dan sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu. Kamu harus berubah, sekarang kamu bukan tanggung jawab ayah lagi. Kamu memiliki suami dan kamu tanggung jawabnya, kamu harus ikut kemanapun ia pergi, setia disampingnya dalam keadaan susah sekalipun. Ingat surga seorang istri adalah restu suami. Paham!" Key mengangguk pelan.


"walaupun selama ini ayah keras sama kamu, bukan berarti ayah tidak sayang kamu. Semua itu ayah lakukan karena ayah sangat menyayangi putri ayah dari apapun. Walaupun kamu telah membuat kesalahan yang fatal, tapi kami sebagai orang tua hanya bisa memaafkan dan berdoa semoga kehidupan anak-anaknya akan selalu dalam keadaan baik dan bahagia" Key langsung menubrukan tubuhnya, memeluk ayahnya erat. Semua terharu mendengar penuturan ayah Key. Memang sebelumnya aku juga menyangka, kalau ayah Key sangat membenci kami, tapi ternyata semua dipatahkan dengan kata-kata bijaknya hari ini.


Tak terasa cairan bening keluar dari pelupuk mataku, aku merasa iri dengan istriku yang bisa merasakan kasih sayang seorang ayah yang begitu tulus seperti mertuaku itu, sementara aku... sangat ingin merasakannya tapi tak bisa. Aku membalikan badanku berniat pergi dari situasi yang selalu berhasil membuatku melow.


"Rey" aku menghantikan langkahku tanpa berbalik, aku tau apa yang aku lakukan sangatlah tidak sopan. Mungkin mereka akan menganggapku sangatlah kurang ajar, ditambah aku yang sudah menghancurkan salah satu putri keluarga ini, mungkin mereka akan menganggapku lelaki brengsek, sangat sangat brengsek. Tapi pemikiranku patah saat mendengar penuturan mertuaku, ayah Key.


"apa kau tidak ingin memeluku juga? Sekarang aku juga ayahmu Reynand" aku berbalik dengan mata merah, segera berlari menerjangnya, memeluknya walaupun agak sulit karena Key yang masih memeluk ayah Farhan.


"ayah.....terima kasih" aku semakin erat memeluk beliau dan kudengar ia tertawa dan disambut suara tepukan tangan dari orang-orang disekitar kami.

__ADS_1


Aku tersenyum, bahagia, akhirnya aku memiliki papah, figur yang selama ini aku impikan dan nantikan.


Terima kasih ayah, aku berjanji akan menjaga puterimu dan akan selalu berusaha membahagiakannya, tidak akan aku biarkan siapaun menyakitinya.


__ADS_2