The Best Mommy

The Best Mommy
Bab 1


__ADS_3

Jedaaaarrrrrrrr.......


Jedaaaarrrrrrrr.......


Hujan turun ke bumi dengan derasnya, suara petir menyambar bergantian.


"Keluar kamu dari rumah ini!!


Kamu perempuan tidak berguna. Saya ingin anak laki2, tapi ternyata kamu melahirkan anak perempuan dan rahimmupun telah diangkat. Bawa juga bayi ini!" bentak Bram kepada istrinya yang sedang menggendong bayinya.


Bram menyeret koper yang berisikan pakaian istri dan anaknya dengan kasar hingga ke ruang keluarga lantai satu rumah itu.


"Semenjak saya tahu janin yang kau kandung adalah perempuan, saya telah memutuskan untuk menikahi Mira. Mira sedang mengandung anakku dan menurut USG janin itu laki-laki." tambah Bram.


Air mata terus mengalir dengan derasnya di pipi Febi istri Bram.


Sejak mengetahui dari USG kalau janin Febi berjenis kelamin perempuan, Bram semakin jarang pulang ke rumah.

__ADS_1


Beberapa minggu setelah melahirkan, Febi mengalami kecelakaan sehingga menyebabkan rahimnya di angkat. Perlakuan Bram kepada Febi semakin hari semakin kasar, Bram juga tidak menyentuh anak mereka. Bram pun membawa pulang seorang wanita dengan perut yang sedikit membuncit karena tengah mengandung.


Betapa sakit dan hancur hatinya mengetahui suaminya selingkuh saat dirinya tengah berbadan dua. Dan suaminya tidak menginginkan anak mereka karena berjenis kelamin perempuan yang berusia hampir 3 bulan. Bahkan selingkuhan nya kini sudah hamil 5 bulan.


" Mas, bayi ini adalah anak kita. Kenapa kamu tega kepada darah daging mu sendiri?? " hiks..hiks... ucap Febi dengan air mata yang terus mengalir di pipi wanita cantik itu.


"Mulai detik ini, saya talak kamu dan kamu bukan istriku lagi. PERGI!!!" bentak Bram


" Mas tolong jangan usir kami. Aku rela di madu asal kami tetap di rumah ini dan memberikan kasih sayang kepada anak kita. Kasihan anak kita." ucap Febi sesenggukan sambil bersimpuh di kaki suaminya.


"Mas, tatap dan gendonglah Fela, anakmu, darah daging mu. Apakah tidak ada sedikit pun kasih sayang kepada nya?" ucap Febi.


"Sayang perempuan ini sangat menyebalkan..suara tangisannya membuat telingaku gatal." ucap Mira manja.


" Tenang sayang, sebentar lagi dia akan pergi dari rumah ini. Kamu istirahat saja, biar aku selesaikan masalah ini." ucap Bram lembut kepada Mira.


Bram memanggil asisten rumah tangga dan menyuruh untuk mengantarkan Mira menuju kamar Bram di lantai 2.

__ADS_1


bruukkkk...


Dengan tega Bram menyeret Febi keluar rumah dan melemparkan kopernya lalu menutup pintu dan menguncinya.


Febi terus menangis di teras rumah itu. Setelah beberapa saat dia pergi dari rumah itu dengan menggendong Fela anaknya dan membawa kopernya.


Beberapa orang yang lewat di depan rumah Bram sempat melihat Bram mengusir Febi. Satpam yang melihat Febi dan bayinya akan pergi saat hujan deras pun merasa iba, lalu memayungi dan membawa Febi dan bayinya ke pos ronda yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah itu.


Pos ronda tersebut di bangun seperti rumah kecil berukuran 3*3 meter oleh warga setempat untuk warga dan satpam yang berjaga di lingkungan sekitar. Di dalamnya hanya ada kursi kayu, TV tabung 14 inchi dan kentongan.


Setelah mengantar Febi dan bayinya di pos ronda, satpam tersebut meninggalkan pos ronda dan kembali bertugas.


Hujan semakin deras seakan memahami kepedihan hatinya. Febi merasa sedih, dia menangis. Luka yang digoreskan suaminya benar- benar membuatnya terpuruk. Febi berteduh di pos ronda dan beristirahat di sana hingga subuh tiba.


Subuh itu setelah hujan reda, Febi pergi meninggalkan Jakarta, kota yang penuh kenangan. Meninggalkan semua kenangan manis dan pahit. Dengan sisa uang yang ada di dompetnya, dia pergi ke Bandung.


Bandung adalah tempat di mana Febi lahir dan dibesarkan. Kedua orang tua Febi telah meninggal dunia. Tanpa ada saudara karena orang tua Febi adalah yatim piatu yang tumbuh di panti asuhan dan Febi adalah anak tunggal.

__ADS_1


__ADS_2