
Rumah sakit A
Febi masuk ke ruang UGD, menunggu Dea yang sampai saat ini belum sadar. Menggenggam tangan kecil Dea sembari melantunkan doa untuk kesembuhan Dea.
"Dea" ujar Oma Dea getir dengan meneteskan air mata kepedihan melihat cucunya terbaring tak berdaya.
"Febi, terima kasih karena mau menemani Dea dan menghubungi kami." sambung Oma Dea.
"Sama-sama Tante. Sebaiknya Tante langsung menemui dokter yang menangani Dea." kata Febi.
"Saya titip Dea dulu sebentar." ucap Oma Dea lalu meninggalkan ruangan itu.
Febi langsung pergi ke ruang rawat Fela anaknya di NICU anak ketika Dea akan disiapkan suster menuju ruang operasi. Ruang NICU anak adalah ruangan yang hanya terdapat boks-boks bayi. Tidak ada orang tua yang boleh masuk ke ruangan kecuali pada jam-jam tertentu untuk menjenguk atau keperluan tertentu dengan perawat atau dokter anak.
Febi pergi ke kantin rumah sakit untuk mengisi perutnya yang sedari tadi hanya diisi sedikit makanan.
Setelah makan, Febi berjalan menuju ruang operasi untuk mengetahui kabar Dea.
Di depan ruang operasi ada Oma, Abang Daniel, Aiden, pengasuh Dea dan pria yang telah menolong Dea membawanya ke rumah sakit yang bernama Seto.
Operasi Dea berlangsung selama 4 jam.
"Dokter, bagaimana keadaan anak saya Dea?" tanya Aiden pada saat dokter yang mengoperasi Dea keluar dari ruang operasi.
"Operasi berjalan dengan lancar tuan. Nona Dea dalam keadaan stabil hanya saja belum sadar karena pengaruh obat bius. Nona Dea akan diobservasi dulu pasca operasi, jika terus membaik maka akan di pindahkan ke ruang perawatan." jelas dokter.
"Terima kasih dokter."
"Sama-sama pak, ini merupakan tugas kami sebagai dokter."
Semua keluarga Dea menunggu di depan ruang observasi. Hanya 1 orang yang diperbolehkan untuk masuk ke ruangan menemani Dea.
"Feb, terima kasih karena telah menghubungi kami." ujar Aiden
__ADS_1
"Sama-sama tuan, kebetulan saja saya juga sedang berada di rumah sakit ini." jawab Febi.
"Kamu sakit?" tanya Oma Dea yang mendengarkan pembicaraan Febi dengan Aiden.
"Bukan saya nyonya, tapi Fela anak saya jatuh dari tempat tidur. Sekarang sedang di ruang NICU bayi."
"Jangan panggil nyonya, panggil Tante saja ya..Semoga Fela lekas sembuh." ucap tulus Oma Dea mendoakan Fela.
"Terima kasih nyo...hmm Tante. Kalau begitu saya permisi pulang dulu. Semoga Dea lekas sehat." ucap Febi lalu berdiri dan hendak pergi.
"Tunggu Feb, biar kamu di antar Aiden saja. Aiden dan Daniel sekalian akan pulang buat bersih-bersih, tidak baik anak kecil berlama-lama berada di rumah sakit."
"Jadi merepotkan Tante."
"Tidak repot Feb, saya dan Daniel juga akan pulang." jawab Aiden yang berdiri menghampiri Febi.
Didalam mobil mereka berdiam diri dengan pikiran mereka masing-masing. Daniel yang lelah telah tertidur di pangkuan pengasuhnya.
Setelah sampai di rumah masing-masing, Febi mengecek bahan-bahan di dapur kafe miliknya apakah ada yang perlu untuk dibeli lagi dan mengecek laporan penjualan kafe.
Sesampainya di NICU anak, Febi mendapat kabar bahwa Fela baik-baik saja dan sore ini sudah boleh dibawa pulang. Sambil menunggu, Febi pergi ke ruangan Dea akan tetapi Dea tidak ada di sana. Setelah bertanya kepada suster jaga, ternyata Dea sudah dipindahkan ke ruang perawatan.
"Selamat siang, bagaimana keadaan Dea?" salam Febi kepada Aiden dan Oma Dea yang saat itu sedang berada di ruangan itu.
"Siang, Dea sudah membaik tapi sampai sekarang masih belum sadar." jawab Oma Dea sendu.
"Dea pasti baik-baik saja Tante." doa tulus diucapkan Febi.
"Bagaimana keadaan Fela?" tanya mama Dea
"Sore ini Fela sudah boleh dibawa pulang Tante." jawab Febi.
Febi melihat tangan Dea bergerak.
__ADS_1
"Tante tangan Dea bergerak." ucap Febi.
Aiden dengan sigap memencet tombol di atas brankar untuk memanggil suster jaga rumah sakit itu.
Dea membuka mata perlahan.
"Yah, Dea pusing, Dea haus."
"Sebentar sayang, ayah panggilkan dokter dulu ya untuk memeriksa Dea." jawab Aiden lembut dan memberikan minuman kepada Dea.
Suster dan dokter datang memeriksa keadaan Dea.
"Nona Dea sekarang sudah membaik. Perbanyak istirahat saja, obat di minum teratur." ucap dokter tersenyum melihat perkembangan Dea.
"Baik dokter, terima kasih." jawab Oma Dea.
"Dea.. cepat sembuh sayang." kata Febi sambil tersenyum memegang tangan Dea.
"Dea pengen punya bunda seperti bunda Febi. Teman-teman Dea diantar jemput sama bundanya. Dea diantar jemput sama sus." kata Dea sambil meneteskan air mata.
Siang tadi pihak sekolah sudah datang untuk meminta maaf atas kelalaian menjaga anak didiknya serta menjelaskan alasan kejadian naas tersebut bisa terjadi. Pihak sekolah tidak mengetahui perihal Dea berlari keluar area sekolah karena memang pada saat itu anak-anak sedang menunggu jemputan pulang sekolah. Pihak sekolah sudah menyelidiki alasan Dea berlari ke jalan dan sudah memberikan pengertian kepada semua murid di sekolah agar tidak boleh menghina atau membully teman-teman lain yang mempunyai kekurangan.
Aiden yang mendengar penjelasan dari pihak sekolah merasa bersalah karena selama ini dia hanya mementingkan egonya sendiri.
Dan saat ini ketika mendengarkan tangisan putrinya, Aiden merasa semakin bersalah kepada anak-anaknya.
"Dea pengen punya Bunda. Dea mau bunda Febi jadi bundanya Dea. Bolehkah Dea panggil bunda?" ucap Dea sesenggukan.
Febi dan Aiden saling pandang ketika mendengar keinginan Dea.
"Boleh sayang, tentu saja boleh." ucap Febi seraya memeluk Dea. Tak terasa air mata menetes di kedua pipinya. Dia juga memikirkan nasib anaknya yang tidak mempunyai seorang ayah.
Dalam keadaan seperti ini Oma Dea semakin memaksa Aiden untuk segera menikah. Oma Dea berharap jika Febi akan menjadi menantunya. Dea juga sudah sangat menyayangi Febi begitu juga Febi yang terlihat sangat menyayangi Dea.
__ADS_1
Aiden yang sejak pertemuannya di mall dengan Febi merasa ada getaran, setelah mendengar keinginan Dea berjanji untuk membuka hatinya pada perempuan yang di sayangi anaknya itu.