
Hampir sebulan Febi telah membuka toko kuenya dengan nama Fela Bakery.
Dari hari ke hari toko kue Febi semakin banyak pembelinya dan banyak pesanan kue dari beberapa langganan. Kesibukan Febi membuatnya mempekerjakan orang yang dapat menjaga Fela. Febi juga mempekerjakan 3 orang pegawai untuk membantu toko kue. 1 orang bersih-bersih toko, menata kue serta mengisi kembali rak kue yang kosong bernama Tia. 1 orang bagian kasir dan pembukuan bernama Sinta. Sinta dan Tia juga bertugas melayani pembeli. 1 orang membantu Febi membuat kue bernama Lisa.
Diantara ketiga pegawainya ada 1 yang tinggal bersamanya di ruko bernama Sinta. Sinta adalah gadis yatim piatu yang tinggal di panti asuhan sejak kecil. Setelah lulus SMK, Sinta mencari pekerjaan dan keluar dari panti untuk hidup mandiri. Sinta dipercaya untuk bagian kasir dan pembukuan sesuai dengan sekolah kejuruannya.
Sinta anak yang pintar dan selalu mendapatkan beasiswa. Dia juga rajin dan suka menolong. Dia tidak mau selalu merepotkan ibu panti. Sinta telah mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah. Dia ingin mandiri dan keluar dari panti, maka dari itu Sinta mengambil kuliah malam dan pagi hingga sore Sinta bekerja di toko kue milik Febi.
"Yu, ini adalah toko kue yang gue ceritain kemaren. Kuenya enak banget. Gimana kalau kita pesen kue buat rapat besok di sini aja?" ucap Gina kepada Ayu saat masuk ke dalam Fela Bakery.
" Oke deh. Sekalian beli kue buat sarapan." ucap Ayu.
"Inikan ruko punya Febi." pikir Ayu.
Setelah memilih beberapa kue untuk sarapan, mereka berjalan ke arah kasir.
"Ini semua jadi 37.500." ucap kasir
Ayu memberikan uangnya seraya berkata " Gue pesen kue untuk rapat sebanyak 50 dus diantar ke alamat ini ya." sambil memberikan kartu nama kantornya.
"Untuk kapan ibu?"
"Besok jam 10."
"Baik bu. terimakasih."
Saat bersamaan Febi yang telah selesai membuat kue berjalan keluar dan bertemu dengan Ayu.
"Feb! Kapan loe nyampe Bandung? loe kagak kabarin gue?" Ayu terkejut melihat Febi berada di Bandung.
" Sebulan yang lalu. Sekarang gue tinggal di sini."
" Toko ini punya loe?"
"Iya, gue buka toko kue ini hampir sebulan."
"Nomor hp loe masih sama kan? Besok loe aja yang anter kue pesenan gue ya.. gue tunggu. loe masih simpen no hp gue kan?"
__ADS_1
"Iya, pasti masih gue simpen." ucap Febi sambil tersenyum senang.
"Ya udah sampe ketemu besok." ucap Ayu.
Hari itu begitu banyak yang memesan kue untuk esok hari.
Febi juga mendapat surat dari pengadilan untuk jadwal sidang perceraiannya. Hancur hatinya saat membaca surat itu, tapi dia harus tetap tegas dan terus berjuang untuk anaknya dan masa depannya.
Sore harinya, Fela anak Febi begitu rewel. ketika menyentuh dahi Fela, Febi sangat terkejut karena badan Fela panas sekali. Febi langsung memesan taksi online untuk pergi ke rumah sakit.
"Dokter, suster tolong anak saya panas sekali" panik Febi saat masuk ke ruang UGD. Lalu meletakkan Fela di atas brankar yang kosong.
"Tolong ibu tunggu di luar, kami akan memeriksa anak ibu." ucap suster.
Setelah beberapa saat dokter keluar.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?" ucap Febi
"Anak ibu demam. Tolong untuk di beri ASI yg tiap 1 jam supaya tidak dehidrasi dan ini resep bisa ibu tebus di apotik." ucap dokter menerangkan dengan lembut.
" Baik dok. terimakasih." ucap Febi lalu masuk untuk menggendong Fela dan pergi untuk menebus obat.
Kasih ibu sepanjang masa. Perjuangan seorang ibu tidak dapat dinilai dengan materi.
* * * * *
Kediaman Bram
Mira merasa sangat senang.
"Hari ini resepsi pernikahan gue dan semua orang akan tahu bahwa gue istri Bram." Mira berbicara pada diri sendiri dengan tersenyum penuh arti.
Dekorasi yang indah dipenuhi bunga di sekeliling halaman belakang rumah Bram. Sudah tersedia berbagai menu makanan, kue, buah dan minuman di atas meja yang dihias dengan begitu sempurna.
Di dalam kamar, Mira terus mengembangkan senyumnya sambil di rias MUA yang tiba 1 jam yang lalu.
"Nyonya terlihat sangat cantik." ucap seorang MUA dengan tersenyum puas atas hasil karyanya mendandani Mira.
__ADS_1
" Mari nyonya silahkan berganti pakaian." ucap seorang wanita yang bertugas untuk melayani Mira dan menuntunnya ke ruang ganti untuk memakai gaun yang akan dipakai untuk resepsi pernikahannya.
Gaun berwarna biru langit dengan berhiaskan batu swarovski sebagai hiasan melekat indah di tubuh Mira. Dengan perut yang sedikit membuncit membuat ibu hamil itu semakin terlihat mempesona.
Di ruangan lain, Bram memakai tuxedo berwarna hitam dengan dari kupu-kupu membuatnya terlihat semakin tampan.
Acara dimulai pada pukul 16.00.
Suasana sangat ramai, banyak tamu sudah berdatangan. Para kolega dan teman-teman kedua mempelai pun berdatangan.
Akan tetapi kedua orang tua Bram tidak ada di acara tersebut. Mereka tidak tahu jika anak mereka menikah lagi dengan wanita lain. Yang mereka tahu rumah tangga Bram dan Febi baik-baik saja.
Bram menempati rumah pribadinya yang dibeli usai menikah dengan Febi. Semua pelayan yang bekerja di rumah itu adalah pelayan yang baru. Pelayan di mansion utama tidak ada yang dibawa untuk bekerja di rumah pribadi Bram.
Pengantin turun dari lantai 2 dan berjalan ke halaman belakang rumah tempat acara resepsi dilaksanakan. Mereka bergandengan tangan mesra. Senyum terus mengembang di kedua bibir pengantin. Pengantin berjalan dan menyapa kolega dan teman-teman nya.
Acara berlangsung dengan sangat meriah dan lancar. Meskipun ada beberapa teman Bram yang mengetahui bahwa istri Bram adalah Febi, mereka merasa terkejut jika pengantin perempuannya bukan Febi. Tapi mereka tetap mengucapkan selamat kepada kedua mempelai.
"Selamat bro. Semoga berbahagia dan tidak menyesal karena telah berpisah dengan wanita baik seperti Febi." ucap Rendy sahabat Bram yang kecewa karena pernikahan kedua Bram.
"Terimakasih. Aku sangat mencintai Mira. Febi hanyalah masa lalu." ucap Bram.
Tamu-tamu undangan dan teman-teman mempelai sudah meninggalkan tempat acara. Hari sudah gelap dan kedua mempelaipun sudah masuk ke kamar mereka untuk membersihkan diri. Mereka berdua kelelahan lalu tidur dengan berpelukan.
* * * * *
Ruko Febi di Bandung
Hingga tengah malam Fela rewel dan tidak mau turun dari gendongan bundanya. Febi terus menggendong dan menjaga Fela. Hatinya terasa sakit saat anaknya sakit. Ibu mana yang tega jika anaknya sedang sakit dan tidak peduli.
Setiap jam Febi memberi asi kepada Fela sesuai anjuran dokter.
Fela mulai tenang ketika jam menunjukkan pukul 2 dini hari. Febi yang sudah kelelahan pun ikut tertidur.
Mohon untuk memberikan like dan vote..
terimakasih
__ADS_1
ViLiana