The Charmer

The Charmer
Perasaan itu


__ADS_3

"James kok lo pindah sekolah di sini padahal kan sekolah lama lo sama sekolah kita musuhan dan sekolah lo juga kayanya lebih canggih dari sekolah disini"


"Gue udah males, disana banyak peraturan, gue tipe orang yang santai dan paling gak suka dikekang kecuali sama orang yang gue sayang"


"Ahaha sifat lo dingin-dingin kaya es batu tapi bisa bucin juga ya"  Brian dan Ryan tertawa geli sedangkan James tetap memasang wajah datarnya.


"Terus kalo kalian hobinya apa?"


"Kalo si Brian sukanya ngupil terus ditempelin di dinding tapi kalo dikelas coba aja lo liat di bawah mejanya, wuiihh dijamin banyak banget kotoran hidung"


"Apaan sih lo ngumbar aib temen sendiri"


"Ahahaha.....".   James jadi ikut ikutan tertawa geli, Ryan dan Brian yang melihat itu rasanya senang akhirnya bisa membuat temannya tertawa lepas seperti itu.


"Tapi James kalo gue sukanya tidur siang, sama main game di belakang sekolah atau enggak di rooftop, kita juga udah bikin basecamp di belakang sekolah"


"Jadi kalian kalo tidur gimana?"


"dibelakang kan pohonya banyak, batangnya juga lumayan besar, jadi biasanya gue naik di atas pohon, kalo Brian tidurnya di atas kayu yang udah kita buat jadi kaya tempat tidur gitu"


"Emang gak dimarahi?"


"Enggak pernah dimarahi karena gak pernah katahuan soalnya jalan satu-satunya untuk kebekalang sekolah cuma kita aja yang bisa pakai, tapi kalo di rooftop kita udah sering ketahuan"


"Boleh juga tuh, kayanya asik deh. Kapan-kapa ajak gue ya"


Kali ini Brian yang berbicara


"Tapi ini rahasia kita bertiga, jangan dibocorin. Rencananya habis dari kantin kita mau bolos, mata pelajaran kedua katanya sih gak ada guru yang masuk"


"Iya bener James, lagian basecamp kita dekat banget sama ruang guru dan ruang kepala sekolah jadi bisa nebeng pake wifi, tinggal pilih mau pake yang mana"


"Emang gak ada passwordnya?"


"Loh James, si Brian nih jago banget bobol wifi"


"Widihh keren lo, yaudah gue laper ke kantin yok"


"Ayo"


Sementara itu


"Joe kemana sih, mie goreng nya keburu dingin nih" Amanda khawatir.


"Tadi sih katanya mau rapiin buku tapi kok sampe sekarang belum datang juga"


"Iya nih bentar lagi udah mau masuk"


"Man habisin dulu seblakya, gue mau bayar"


"Hm oke"


Kring...kring...kring


"Ayo Man masuk"


"Oke"


"Man, kayanya perut gue gak bersahabat nih, duluan ya".  Dinda lari terbirit-birit menuju kamar mandi.


"Lo makan bakso terlalu banyak, doyan sih doyan tapi gak sampe ngabisin2 mangkuk juga, aduh ni temen-temen gue sukanya ninggalin gue sendirian" Amanda kembali ke kelas dengan rasa kesal.


*kembali lagi di kantin*


"Ini baru mau makan malah udah bel masuk, mana belum pesan lagi"


"Kita kan hari ini bolos pelajaran santai ajalah bro"


"Oh iya benar juga"


"James kita makan di langganan gue aja orangnya cantik terus bisa ngebon juga" ucap Brian.


"Lo muji orangnya cantik karena sering kasih gratis kan?" tutur Ryan sembari memasang wajah tidak suka.


"Ehehe mas Ryan tau aja, yaudah ayo jalan ke ujung sana"


*pos mpok Lela"


"Mpok saya pesan kaya biasa, nasi sama ayam+tahu tempe+sayur+sambal diatas nasinya penuhin ya"


"Siap mas, terus mas yang dua lagi mau makan apa?"


James melihat Brian terheran heran, pikirnya.


"Ni bocah badan ceking tapi makan segunung, emang tu perut muat apa ya nampung segitu banyak, apa jangan-jangan dia jelmaan ular sanca ah lebih burknya lagi apa dia keturunan b*b* yang bisa makan kotorannya sendiri, iya benar hidungnya juga sama"


"Mas, mas yang diujung ditanyain kok malah ngelamun"


"Oh iya mpok saya makan nasi, sayur, sama ayam aja"


"Oke tunggu sebentar ya"

__ADS_1


  Sementara mpok lela menyiapkan makanan, mereka berbincang-bincang tentang tipe cewe yang mereka suka.


"James lo pernah pacaran?" tanya Brian.


"Enggak pernah"


"Kenapa gak pernah, lo gak tertarik sama perempuan?" kinii Ryan yang berbicara.


"Jujur ya gue sebenarnya males pacaran menurut gue pacaran cukup satu kali dan itu akan berlanjut ke pelaminan, tapi yang gue gak suka bokap gue selalu berusaha jodohin gue sama anak temennya"


"Loh bagus dong, lo tau gak kita aja udah males jomblo bertahun-tahun" jawab Brian dengan wajah yang sengaja dibuat sedih.


"Apa lo bilang, kita? Lo aja kali gue mah udah punya bebeb Amanda" Ryan membernarkan perkataan Brian.


"Jadian juga belum, jangan ngarep"


  James terkekeh melihat tingkah kedua teman barunya yang seperti anak kecil dia selalu dibuat lebih bahagia saat bersama dengan teman-temannya.


"Ngomong-ngomong tipe cewe lo kaya gimana James?" tanya Brian kepo.


"Kalo gue sih pokoknya gak sok cantik, baik juga sopan terus pintar, pintar dalam segala hal lah, karena menurut pemikiran gue cewe yang pintar itu gak bakalan pernah mencampakkan pasangannya, kecuali kalo pasangannya yang salah" jawab James dengan bibir tersenyum lebar dan ia sudah membayangkan itu semua, semua tentang pernikahannya dan anak-anaknya kelak tetapi sampai sekarang ia belum menemukan wanita yang cocok dengannya.


"Tunggu tadi lo bilang pintar dalam segala hal kan?". Tanya Ryan memastikan.


"Iya, emang kenapa?"


"Oh berarti yang pintar main di ranjang juga dong". Ryan terkekeh, kembali ia menepuk bahu teman barunya sembari berkata "hati-hati nanti malah lo yang K.O sama cewe pintar itu"


Ryan dan Brian tertawa sepuasnya karena baru kali ini mereka melihat laki-laki yang sifatnya dingin dan cuek seperti juga bisa jadi bucin.


"*** lo pada"


"James, lo kan maunya cewe yang pintar nih, kenapa gak coba pdkt sama Dinda, dia udah cantik terus pintar lagi. Selalu juara umum disekolah terus sering ikut olimpiade". Usul Ryan, yang membuat wajah Brian berubah drastis, yang tadinya cerita menjadi cemberut.


"Dinda siapa?"


"Cewe yang sering bilang lo cowo rese"


"Oh cewe pengemis itu"


"Lah pengemis? Dinda pengemis? Setau gue dia anak orang kaya kok ya walaupun gak kaya-kaya amat setidaknya dia mampu lah". Ucap Ryan membenarkan.


"Iya benar Dinda gak mungkin gitu, lo tau gak yang sering jalan sama dia? Katanya Dinda itu kalau mau sesuatu gak pernah minta sama orang tuanya dia selalu beli pake uangnya sendiri". Sahut Brian tidak suka, karena sejak pertama masuk sekolah Brian menyukai Dinda, maka dari itu dia mencoba mendekati kedua teman Dinda agar dapat membantunya.


"Bukan ngemis uang dijalan kali, maksudnya dia mau bersihin kamar mandi rumah gue selama dua minggu cuma buat satu buku yang menurut gue gak penting sama sekali"


"Wah lo suruh dia bersihin kamar mandi rumah lo? Sadis bener, gebetan gue tu awas aja lo sampe ngapa-ngapain dia". Brian mendadak emosi mendengar perkataan James.


"Awas kepincut sama dia bang"


"Apaan sih lo berdua, gue cuma suruh dia bersihin kamar mandi rumah gue soalnya pembantu dirumah lagi pulang kampung"


"Nih mas pesanannya"


"Wah mpok makasih ya"


"Iya sama-sama mas Brian"


Selepas makan tiga serangkai itu beranjak pergi dari kantin, rasanya mereka mengantuk dan ingin tidur siang di basecamp, tetapi sesaat mereka berjalan seorang wanita menabrak tubuh James dengan sangat keras.


Bruukkk


"Aduh sorry gak sengaja, gue lagi buru-buru". Wanita itu terjatuh seketika James menjulurkan tangannya untuk menolong wanita itu, tetapi..


"Lah lo? Kalo tau yang gue tabrak itu lo, gue males minta maaf".


Dinda yang tadi ingin ke toilet, berubah pikiran karena baru teringat bahwa ponselnya tertinggal diatas meja tempat ia makan tadi, Dinda bergegas kembali ke kantin, tetapi tanpa sengaja ia menabrak seseorang, dan ia sudah tidak tahan lagi seperti ada sesuatu yang ingin keluar tapi tidak bisa dikeluarkan sekarang.


"tunggu dulu, lo tadi bilang apa? Udah nabrak terus lo gak ada rasa bersalah?". Tanya James ketus, ia tidak suka orang yang tidak mempunyai rasa bersalah.


"Aduh gue buru-buru". Dinda sudah tidak tahan lagi rasanya seperti menahan tangis ketika seseorang yang dia sayang membuatnya kecewa, tapi ini tidak sebanding degan itu.


"Itu kenapa lo pegangin perut, terus kaki lo kenapa kaya orang jalan ditempat gitu, lo mau brojolan?"


"Ehh sembarangan aja kalo ngomong, gue kaga gini kar-..."


Ucap Dinda terhenti setelah mendengar suara yang cukup besar sehingga mereka semua dapat mendengarnya.


Broootttt...


Dinda berlari mengambil ponselnya tanpa mendengarkan cerocos mereka.


"Waduh nih cewe cantik-cantik kentutnya bau juga". Ucap Ryan menutup sembari menutup hidungnya.


"Dinda sayang, maaf ya A'a Brian bukannya jijik tapi ini tarlalu bau, A'a Brian gak kuat cium nya"


"Lo jorok banget sih, kalau mau kentut liat tempat dan waktu dong, mana gue habis makan lagi mau muntah ni jadinya"


"Makanya tadi gue kan udah bilang lagi buru-buru, gak mau dengar sih". Ia lari terbirit-birit seperti sedang melihat sosok makhluk astral.


30 menit kemudian.

__ADS_1


Seseorang keluar pintu kamar mandi milik perempuan.


"Aduh lega akhirnya keluar juga ni tabungan dalam perut, eh tapi udah berapa lama gue didalam ya". Ia melihat jam kecil yang melingkar ditangan kirinya.


"Astaga udah setengah jam bisa-bisa dimarahi sama guru mapel"


Dinda berjalan menuju kelasnya, sebelum kelas Dinda adalah kelas Amanda, Dinda berniat mengambil buku paket matematika yang dipinjam Amanda karena mapel pertama mereka matematika dan pasti Amanda membawanya.


Tetapi sebelum Dinda sampai di kelas Amanda ia melewati lorong yang diujungnya ada pintu seperti pagar kecil, kisahnya pintu itu sudah lama tidak bisa dibuka dan banyak yang bilang kalau didalam sana adalah tempat yang cukup angker.


"Loh pintu itu bukannya gak bisa kebuka?". Ia melangkah mendekati pintu itu dan tiba-tiba saja...


Bruukkk


Seorang perempuan menabraknya.


"Aduh kak maaf gak sengaja saya sedang buru-buru"


"Oh iya gak apa-apa, sini kakak bantu beresin bukunya"


"Makasih ya kak, maaf sekali lagi"


"Iya, lain kali hati-hati ya"


Dinda tidak jadi mendekati pintu itu, dia berlari setelah mengingat kalau saat ini masih jam pelajaran.


Tok...tok...tok...


"Permisi bu"


"Dinda kamu dari mana?"


"Maaf bu tadi perut saya sakit jadi ke toilet dulu"


"Iya sudah, kalo begitu silahkan duduk tapi udah mendingan kan perutnya?"


"Iya mendingan kok bu"


Jam pulang sekolah Joe mampir ke kelas Amanda untuk pulang bersama.


"Man ayo balik"


"Tunggu gue masukin buku dulu, dinda mana?"


"Ada dikelas, dia lagi bete gak tau deh kenapa"


Setelah mendengar percakapan mereka seorang pria dari kelas Amanda keluar dari ruangab itu, nampaknya sedang buru-buru sampai hampir menabrak pintu.


"Aduh mas ganteng hati-hati dong nanti kalau nabrak mukanya udah gak ganteng lagi"


Oceh Joe yang tidak dihiraukan oleh James.


Brukk...


Dobrakan pintu yang sangat keras membuat Dinda terkejut hampir saja ia melempar ponselnya.


"Loh lo ngapain ke sini?


"Ikut gue"


"Iya gue gak akan kabur tapi lepasin tangan gue, sakit ini"


"Nanti sampe diparkiran baru gue lepasin"


James menarik tangan Dinda sampai diparkiran entah apa yang ia rasakan sampai ingin sekali membawa Dinda kerumahnya.


"Masuk". Suruh James


".....". Dinda terdiam sambil menatap mata James tajam.


"Masuk". Bentak James


"Iya iya gue masuk, santai aja dong"


Dinda akhirnya masuk ke dalam mobil sport milik James, saat itu perasaan James campur aduk entah mengapa saat bertemu Dinda perasaannya selalu berubah-ubah kadang ia susah untuk mengontrolnya.


"Eh lo gila ya? Bisa mati kita kalo lo bawa mobilnya kaya kerasukan setan gini"


"....." pria itu tidak menghiraukan perkataan Dinda ia tetap melajukan mobilnya, setiap mobil yang ada di didepan diselip satu per satu.


"James please gue takut, lo kenapa sih?". Mendadak James menghentikan mobilnya dipinggir jalan, ia melihat tetesan air mata yang membasahi pipi mulus milik Dinda.


cittttttt


suara decitan ban saat mobil mewah itu direm mendadak.


"Sorry" sambil mengusap air mata Dinda.


"Lo kalo mau mati, sedirian aja sana jangan ngajak gue, biar buluk gini gue masih mau idup, hikss.."


"Iya gue minta maaf, jangan nangis lagi". James memeluk Dinda, mengusap-usap punggungnya sampai Dinda tenang kembali.

__ADS_1


"Yaudah kita jalan lagi ya?"


Anggukan kepala Dinda membuat James memutar kunci mobilnya, belum sampai lima menit mobil sport berwarna hitam pekat sudah sampai dirumah mewah yang di samping pagarnya bertulis keluarga Alberth dengan ukiran yang sangat indah.


__ADS_2