
Sementara itu
"Ma...papa pulang" dibawah atap bangunan yang lumayan tua itu terlihat seorang wanita paruh baya menuruni anak tangga sembari melihat siapa yang datang.
"Loh kok papa pulangnya jam segini tumben banget" ucap wati sambil mencium tangan kanan suaminya.
"Iya bos papa mau berangkat ke luar negeri"
"Emangnya disana berapa lama"
"3 hari kayanya, oh iya Dinda kemana?" tanya Handoko clingak clinguk mencari keberadaan anaknya.
"Belum pulang, mungkin lagi ada pelajaran tambahan buat olimpiade bulan depan"
"Oh gitu yaudah papa naik dulu ya, oh iya ma papa mau langsung tidur aja gak usa dibuatin teh"
"Emm..." anggukkan kepala wati sudah menandakan bahwa ia setuju dengan apa yang suaminya katakan.
Handoko berlalu meninggalkan Wati di lantai bawah pikirannya saat ini kacau, mengapa semua ini terjadi padanya? Semua usaha yang ia lakukan hancur begitu saja.
Kring kring telepon rumah berbunyi membuat Wati yang tadinya didapur berlari untuk segera menjawab sambungan telepon itu.
"Iya hallo"
"Ma ini Dinda, Dinda mau minta izin hari agak telat pulangnya"
"Iya nggak apa-apa sayang, yang penting jangan sampe malam ya"
"Iya ma, yaudah Dinda matiin dulu"
"Iya sayang"
Tut...tut...tut... Sambungan terputus.
Perasaan Dinda saat ini campur aduk, ia takut jika dianggap cewe yang tidak baik oleh papanya James.
Didalam ruang tamu hanya ada mereka bertiga, suasananya sunyi tidak ada seorang yang mengeluarkan kalimat satupun hanya terdengar deru nafas mereka, dan kalau disitu ada jangkrik mungkin saja suaranya akan lebih nyaring.
Mata Ilham tertuju pada gadis berambut panjang yang tergerai sampai pinggang mungilnya. Melihat papanya seperti itu James mulai ketakutan, rasa takut dan bersalah bercampur jadi satu.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu berhubungan dengan anak saya" ucap Ilham yang sedang menginterogasi mereka berdua.
"Pa..papa apa-apaan sih kita cuma teman"
"Papa lagi tidak berbicara denganmu James, jadi diamlah. dan apa tadi yang kamu katakan? cuma teman? Apakah teman itu bukanlah suatu hubungan?" bentak Ilham dan matanya masih tetap tertuju pada wanita muda itu.
"Eh om sa..saya juga tidak tau, saya tidak berteman dengan anak om"
"Kalian ini memang sangat labil, yang satu bilangnya lain terus yang satu lagi bilang lain juga, saya tidak mengerti. apa diantara kalian berdua ada yang bisa jelaskan?"
James menyenggol pelan tangan Dinda untuk memberi isyarat agar Dinda mengakui perkataannya.
Tetapi Dinda bukan tipe cewe yang suka berbohong.
"Dia pacar aku pa" suasana diam sejenak sampai akhirnya gebrukan meja membuat dua insan di depan Ilham terkejut.
"James papa didik kamu bukan jadi anak yang kurang ajar. baikalah papa minta maaf selama ini terus memaksa kamu untuk menerima perjodohan dengan anak dari rekan kerja papa, tapi jika kamu sudah mempunyai pasangan jangan kamu membawanya masuk ke dalam kamarmu" oceh Ilham frustasi.
"Pa, ini salah paham dia masuk ke kamar cuma buat bersihin kamar aku sama kamar mandi, itu aja"
"Apakah kamu gila? Dia seorang perempuan, bagaimana bisa kamu menyuruhnya untuk membersihkan kamar mu, Ya Lord" Ilham kembali duduk dan menetralkan pikirannya karena emosi, sesekali ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan kasar.
"Nama kamu siapa?"
"Apa kamu serius sama anak saya?" pertanyaan Ilham membuat James dan Dinda bertatapan, wanita ini tidak bisa mengucapkan apa-apa tapi karena paksaan James, Dinda pun harus berbohong
"Saya serius om, saya tau kalau saya bukan wanita yang cantik, yang mempunyai tubuh bagus, dan keluarga saya juga tidak mempunyai banyak harta tapi saya yakin saya bisa membahagiakan James" ucap Dinda asal-asalan dan membuat James terbelalak kaget bahkan Dinda sendiripun tidak sadar bahwa dia akan mengatakan seperti itu.
"Apakah itu cukup untuk membuat saya percaya sama kamu?" semua kembali terdiam kemudian Ilham melanjutkan pembicaraannya.
"Oke mulai saat ini saya akan mengurangi uang bulanan James, dan James tidak boleh menggunakan Kendaraan apapun di rumah ini termasuk semua kartu kredit"
"What? Terus aku naik apa pa? Kan papa tau sekolah baru aku jauh" sembari mengacak ngacak rambutnya, pernyataan Ilham membuatnya frustasi.
"Iya itu derita kamu, kamu cari cara agar dapat menuju ke sekolah kamu tepat waktu tanpa menggunakan kendaraan di rumah ini, lagipula masih banyak angkutan umum atau ojek, tapi yang lebih bagus kamu ngekost di dekat sekolahmu"
"Yah pa, mana uangnya? Papa kan udah kurangi uang jajan aku, mana cukup buat bayar kosan"
"Itu jadi urusan kamu, dan satu lagi.. Kamu tau rumah Dinda kan?"
__ADS_1
"Eh... Iya pa" ucap James berbohong pada Ilham.
"Kalau begitu selesai ini kamu antar dia pulang dan weekend kita berkunjung ke rumahnya" Ilham berdiri merapikan jasnya lalu beranjak meninggalkan mereka.
Sejak James duduk di bangku sekolah dasar orang tuanya mulai sering bertengkar, bahkan istri Ilham itu sering memukulinya terkadang Ilham hanya diam mendengar ocehan istrinya tetapi makin lama Ilham makin tidak kuat, saat itu istrinya sering sekali keluar rumah meninggalkan anak tunggalnya sendirian di rumah yanh cukup besar, sehingga Ilham menyuruh orang untuk memata-matai istrinya sendiri.
Setelah James lulus sekolah dasar
Barulah Ilham mengetahui bahwa istrinya telah berselingkuh sejak mereka belum menikah, maka dari situlah Ilham mengusirnya, masalah itu yang membuat Ilham terbebani sampai sekarang.
"Gue pulang" ucap Dinda yang sudah mengambil tasnya dan ingin beranjak keluar.
"Eh Din, tunggu dulu kan lo kesini sama gue jadi pulangnya juga sama gue"
"Gak usah gue bisa naik angkutan umum"
"Enggak Din pokoknya gue antar, sebentar ambil kunci dulu"
Dinda menghela nafas panjang dan membuangnya dengan kasar.
Tin...tin...tin...
"Ayo Din naik" setelah Dinda menaiki motor sport milik James
Semuanya biasa-biasa saja, tidak ada yang ingin memulai pembicaraan hingga mereka tiba Dinda.
Dinda dengan cepat menuruni motor dan bertanya pada James.
"Lo tau rumah gue darimana?" ucap Dinda sembari melepas helmnya
"Eh.. Itu lo masuk dulu deh udah hampir gelap ntar dicariin"
"Kalo gak mau jawab pertanyaan gue tinggal bilang aja kali nggak usah mengalihkan pembicaraan, nih helm lo gue masuk ya, bye" Dinda hendak beranjak namun James menahannya.
"Din, sorry soal yang tadi maksud gue gak gitu kok beneran"
"Yaudah lah lupain aja, lepasin tangan gue ngapain masih dipegang"
"Hm oklah sekali lagi gue minta maaf ya"
__ADS_1
Emm.... Anggukan kepala Dinda belum cukup membuat James kehilangan rasa bersalah, Dinda adalah wanita yang kuat ia mampu menahan tangisnya dan tetap tersenyum walaupun perasaannya tersakiti.
Setalah melihat pintu rumah Dinda tertutup James kembali menyalakan motornya dan metancap gas nya dan dalam beberapa saat ia sudah sampai di rumahnya.