
"Ma.. Pa.. Dinda pulang"
"Sayang, kok kamu baru pulang? Kemana saja tadi?"
"Tadi ada urusan sama teman"
"Kalau begitu, mandi dulu gih. Terus makan" Dinda beranjak menaiki anak tangga satu persatu dengan tatapan kosong.
"Ini baru pertama kalinya, ada orang nyatain perasaannya secara langsung ke gue" pikir Dinda.
Ya hanya itu yang Dinda pikirkan sekarang. Sebenarnya ia bingung jika James akan menanyakannya kemabali, jawaban apa yang harus dikatakannya antara iya ataukah tidak. Dua kata itu yang selalu bermuculan di otaknya.
Setelah beberapa menit setelah Dinda selesai mandi, ia kemudian duduk ditepi ranjangnya dan kembali melamun.
Tok... Tok... Tok... Ketukan pintu membuyarkan lamunan nya.
"Dinda, kamu sudah selesai mandinya?" Wati kembali mengetuk pintu kamar putrinya itu
"Dinda?"
"TIDAK!"
"Apa yang tidak?" Wati mendengar teriakan Dinda menjadi panik dan khawatir, ia terus mengetuk pintu kamar Dinda yang masih terkunci.
"Enggak apa-apa ma, ini lagi hafalin drama buat tugas minggu depan" teriaknya dari dalam kamar.
"Kamu ini bikin mama panik"
Setelah mengetahui bahwa ibunya sudah pergi, Dinda mengambil nafas dalam\-dalam dan membuangnya dengan kasar.
"Sepertinya pikiranku harus diasupin sama video-video Jimmin dan teman-temannya" ucapnya sambil meraih ponselnya.
Keesokan paginya, ketika Dinda sudah siap berangkat ke Sekolah, sebuah pria dengan postur yang cukup tinggi sudah berdiri di depan rumahnya.
"Siapa ya?" pria itu membalikkan tubuhnya.
"James?" ucap Dinda kembali, kali ini dengan sedikit tertawa karena melihat wajah pria itu.
"Hai, Din"
"Haha.. Muka lo kenapa bentol-bentol kaya gitu?" tanyanya kembali sambil terbahak-bahak.
"Ini gara-gara disengat sama lebah" jawab James memasang raut wajah sedih.
"Ih kok bisa?" ucap Dinda yang masih tertawa.
"Tadi gue jalan, tiba-tiba ada anak kecil mau ambil layangan di atas pohon, terus salah lempar kena sarang lebah, eh si bocah malah lari jadinya gue yang disengat"
"Uh kasian haha..."
__ADS_1
"Lo jangan ketawa terus dong, bantuin kompres atau apa kek, sakit nih"
"Ntar sampai Apotek di depan lorong, gue beliin deh"
"Beliin obat?"
"Gue beliin jamu kuat buat lo, supaya lo gak kesakitan lagi"
"Lo gila? Ogah gue minum jamu"
"Ya lo sih, udah tau ke Apotek ya pasti beli obat, malah nanya lagi. Yaudah ayo jalan"
Sementara berjalan, mereka berbincang\-bincang karena keasikan Dinda lupa membeli obat untuk James.
"Anyway, lo tumben banget gak naik motor atau mobil mewah lo itu?"
"Kan lo tau sendiri, bokap gue udah sita semua yang dikasih ke gue"
"Em.. Sorry ya. gara-gara gue, lo jadi jalan kaki. Terus lo ke rumah gue jalan kaki juga?"
"Tadi mang ujang nganterin gue diam-diam, oh iya nanti pulang sekolah kita barengan, mau gak?"
"Boleh sih, tapi kayanya gue agak telat. Ada bimbingan olimpiade"
"Ya, gue tungguin"
"Mereka kenapa ngeliatin kita kaya gitu?" tanya Dinda suka gue jalan sama cewe"
"Emang kenapa?"
"Lo gak tau ya? Minggu ini Posisi Randy yang jadi cowo populer di Sekolah udah digantikan sama gue"
"Widih hebat juga lo, padahal gak ganteng-ganteng amat, tapi bisa populer" ejek Dinda yang membuat James menjadi kesal.
Selang beberapa menit, semua siswa yang menatap James dan Dinda, tertawa terbahak-bahak sampai salah satu siswi berbisik pada Dinda.
"Lo kok mau jalan bareng sama dia? Liat dong mukanya"
Dinda langsung tersadar bahwa wajah James masih bengkak dan belum diobati
"Aduh, gue lupa mampir ke Apotek, beliin dia obat" batin Dinda.
"Woi James, lo tu gak cocok jadi cowo populer mingguan di Sekolah"
"Ran, Kalo udah tersingkir dari jabatan cowo populer mingguan, tutup mulut aja. Ingat umur lo udah tua, udah berapa kali lo gak naik kelas"
"Hahaha... James! Sebelum lo ngomongin gue, mending lo berkaca dulu kalo ke Sekolah. Atau lo mau gue pinjami kaca dari anak perempuan? Anyway itu cewe lo?"
"Iya, emang kenapa?"
__ADS_1
"Din, lo pede banget jalan sama cowo yang mukanya bentol-betol gini, jelek banget sumpah. Tapi gue doain, semoga langgeng ya kalian berdua setelah gue permaluin di depan teman-teman. Bye" tawa Randy sangat menghibur hatinya karena melihat James yang begitu malu.
Tap tap tap
"James, tunggu! Lo jalannya cepat banget sih"
"Lo ngapain masih buntutin gue? Emangnya gak malu deket-deket gue terus?"
"Kepedean banget lo, siapa juga yang mau ngedeketin"
"Ya terus?" tanya James, perkataan Dinda saat ini sangat membingungkan baginya.
"Ayo sini ikut gue"
*UKS*
"Mau ngapain ke sini?"
"Itu muka lo diobati dulu, biar gak tambah parah" Dinda memoles minyak zaitun dan esensial lavender pada sengatannya. James terus menatap wajah Dinda tanpa berkedip saat ia memoles minyak pada wajah James tanpa sadar pria itu mengatakan sesuatu yang membuat hati Dinda berbunga-bunga.
"Makasih Din. Gue sayang banget sama lo, walaupun gue dipermaluin di depan banyak orang, tapi lo gak pernah menjauhi gue"
"Harusnya gue yang minta maaf, tadi keasikan ngobrol jadi lupa beliin obat"
"Gue juga mau minta maaf, soal omongan gue yang tadi. Siswa yang lain pada salah paham soal hubungan kita"
"Gak usah minta maaf, yang lo bilang betul banget"
"Ma..maksudnya gimana?"
"Soal pertanyaan lo kemarin, jawabannya.... Iya" ucap Dinda dengan menyunggingkan senyuman manisnya.
"Serius ini? Yaampun gue gak percaya impian gue kesampaian juga" ucap James yang langsung memeluk Dinda dengan perasaan bahagia.
"Tapi kita backstreet dulu ya" ucap Dinda yang masih ada dalam dekapan James.
"Why? Kenapa harus backstreet? Kamu malu?"
"Bukan gitu, pokoknya ada satu hal yang gak bisa diungkapkan sekarang"
"Tapi di dalam suatu hubungan, harus ada kejujuran"
"Iya aku tau, tapi aku gak bisa bilang sekarang. Maaf"
"Baiklah, gak apa-apa. Kita kan bisa komunikasi lewat ponsel"
"Makasih"
"Sama-sama sayang" James mencubit hidung mungil Dinda, tindakannya itu membuat pipi Dinda merona.
__ADS_1