The Charmer

The Charmer
Bertemu


__ADS_3

Tin.. Tin..


"Iya mas, tunggu sebentar saya buka pagarnya"


"Makasih mang ujang"


"Iya mas sama-sama"


James memarkirkan mobilnya diantara deretan mobil mewah yang ada di garasi rumahnya.


"Ayo turun"


"Serius gak apa-apa gue takut orang tua lo marah"


"Gak apa-apa, bokap lagi di luar negeri"


"Okey"


"Mang ujang nih kunci mobil"


"Loh mas besok gak naik mobil?"


"Enggak, saya mau naik motor"


"Oke mas, itu cewenya mas ya?" bisik mang ujang kepo.


"Cuma temen mang dia kesini ada perlu"


"Oh iya udah saya kebelakang dulu mas, nanti kalo ada perlu panggil saya aja"


"Emang biasanya gitu kan?"


"Oh iya juga ya, yaudah mas permisi mbaknya saya permisi"


"Oh iya"


Dinda sedang asik melihat banyaknya bunga warna-warni didepan rumah James dia sangat menyukai bunga apa lagi bunga anggrek.


"Woi cewe cengeng" sontak Dinda menoleh.


"Lo panggil siapa?"


"Disini cuma ada kita berdua, jadi ya pastinya gue manggil lo"


"Eh dengar ya cowo rese, nama gue Amelia Adinda Mayasari bukan cewe cengeng jangan seenaknya ubah-ubah nama gue"


"Lo juga sama, ingat ya nama gue James Alberth bukan cowo rese dan jangan seenaknya ubah nama gue" mereka saling bertatapan dengan tajam, tapi di hati James sangat senang akhirnya bisa lebih dekat dengan Dinda walaupun dengan cara berdebat.


"James"


"Dinda" mereka berbicara bersamaan hingga membuat gugup satu sama lain.


"Yaudah lo duluan deh, kan yang punya rumah"


"Apa hubungannya? Yaudah jadi gini habis lo bersihin kamar mandi tolong sekalian masak ya"


"What? Lo kira gue pembantu rumah tangga, enggak mau"


"Oke kalo gitu pintu keluar disebelah sana"


"Ih iya ya gue masak"


"Dari sini lo masuk taro tas di ruang tamu aja, habis itu lo jalan lurus belok kiri, kan ketemu dapur tuh terus belok kanan ada pintu warna coklat nah itu kamar mandi tamu ntar jangan lupa kamar mandi di kamar gue juga ya"


"Iya" jawab Dinda ketus.


Dua puluh menit setelah itu.

__ADS_1


Dinda menghampiri James yang sedang duduk memainkan ponselnya.


"Lo lagi ngapain?" tanya Dinda penasaran sambil melihat layar ponsel James.


"....."


"Gue lagi nanya ini woi, kagak ada niatan buat jawab pertanyaan gue"


You has been slain.


"Aduh lo banyak tanya sih, gue mati ni"


"Dih cuma game cupu-cupu itu gue mah juga bisa"


"Heh ngomongnya sombong, padahal nanti kalau main pasti noob"


"Eh gini-gini gue udah elite jangan ngecengin dong"


"Buahaha baru elite aja udah bangga"


"parah ni cowo kalau lo jago kapan-kapan kita costum"


"ayo lah gue mah ngikut aja yang kalah traktir makan di kantin seminggu ya"


"lah enggak ah kalo traktir, gue man-.."


"bacot lo, udah sana lanjutin kerjaan lo gue udah hidup lagi ni awas aja kalau ganggu lagi"


"Kalau bukan karena buku itu, mulut ni cowo yang sukanya nyinyir mulu udah gue tabok"


Ucap Dinda lirih tetapi masih dapat didengar


"Apa lo bilang? Lo tunggu aja apa yang bakalan gue lakuin nanti"


"Serah lo, gue mau bersihin kamar mandi lo dimana?"


"Oke" Dinda berjalan mengikuti arah yang ditunjukkan James padanya.


Rumah milik keluarga Alberth mempunyai tiga lantai dan di lantai ketiga cuma ada kamar James, rumahnya begitu besar sehingga Dinda kelelahan naik turun tangga.


Dinda melihat setiap sudut rumah itu designnya yang mewah, foto-foto yang berjejer rapi.


Sejak Dinda duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, ia ingin sekali membangun rumah yang sangat besar untuk kedua orang tuanya saat sudah dewasa nanti, karena saat ini hanya Dindalah yang orang tuanya punya, kakak laki-laki Dinda pergi meninggalkan rumah saat wati melahirkan Dinda.


"Ck anak cowo kamarnya emang selalu berantakan" Dinda mulai membereskan dari pakaian kotor yang terbuang di setiap sudut ruangan itu.


"Ueekk, sampai kolor aja dibuang-buang saking joroknya" ia memegang itu dengan dua jari di sebelah kanan dan tangan kiri menutup hidungnya karena kamar James memang sangat bau.


Seketika James datang dan merampas barang yang dipegang dinda dengan rasa geli lalu menyembunyikan dibelakang badannya.


"Kan gue suruh bersihin kamar mandi kamar gue, bukan kamar gue"


"Iya habisnya lo jorok banget, kolor aja lo buang-buang emang lo mau kena penyakit? Ni juga kamar bau banget, pagi-pagi itu langsung buka jendela supaya angin dari luar itu masuk lo cium gak sih ni kamar lo pengap banget, kalo bisa lo beresin tempat tidur nih pas baru bangun terus nyapu dikit kek pegang ni telapak kaki gue pasirnya banyak banget terus itu juga sampah kalo udah penuh gitu dibuang"


"Bacot lo, udah bersihin kamar mandi aja sana"


"Enggak bisa lo pokoknya diluar aja dulu, gue mau bersihin kamar lo, gue baru tau cowo yang tiap kesekolah hmm wangi rambut disisir rapi gayanya udah kaya anak pejabat tapi aslinya jorok"


Jleb kata-kata yang diucapkan Dinda barusan membuat hati James terasa perih.


"Lo ngomongnya gitu amat yaudah gue keluar, eh tapi tunggu dulu" James mendekatkan tubuhnya pada Dinda sehingga membuat Dinda melangkah mundur namun James tetap maju.


Wanita cantik itu sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi kini punggungnya sudah mendapati tembok.


"James lo mau ngapain? Ja..jangan macam macam lo"


James mendengar namun ia tidak menghiraukan perkataannya ia semakin mengikis jarak diantara mereka.

__ADS_1


"Siapa yang mau macam-macam sih cantik"


"Ja..james gue serius"


"Gue juga serius, gue cuma mau ambil handuk yang ada dibelakang lo, awas!"


"O..oh sorry" Dinda tersipu malu ia tidak mau sampai James melihat wajahnya yang kini mirip seperti kepiting rebus.


"Jangan lupa bersihin kamar mandi sampai bersih" ia jalan meninggalkan Dinda dengan pipi yang masih merah.


"Eh satu lagi, gue suka liat pipi lo yang merah merona kaya gitu" kali ini James benar-benar meninggalkan Dinda dengan pipi yang semakin memerah.


Wanita itu mulai membersihkan ruangan 6x7m itu, bagi Dinda kamar James sangat besar hingga membuatnya kelelahan.


"Biasanya juga gue bersihin kamar, tapi gak pernah secapek ini"


Tiba-tiba Dinda mendengar keributan dilantai bawah, seketika itu seseorang membuka pintu kamar dengan sangat kasar.


Brakk


"Ngumpet Din cepetan ngumpet"


"Aduh jangan dorong-dorong dong kenapa sih?"


"Udah ngumpet aja dulu"


"James, kamu ngapain sih buru-buru ke kamar?"


"****** gue, nah Din ngumpet dibawah kolong aja cepetan"


"Iya tunggu" teriak James pada seorang pria paruh baya.


"Kamu ngapain sih?"


"Eheh ini pa, lagi beres-beres kan malu kalo papa masuk terus kamarnya berantakan"


"Iya tapi gak usah buru-buru juga, kan papa masih mau peluk kamu dulu"


"Yaudah papa turun dulu nanti habis beres-beres aku turun kok"


"Oke, jangan lama-lama ya papa ada bawa coklat kesukaan kamu"


"Iya pa" Alberth hendak meninggalkan ruangan itu tetapi ia lupa mengatakan sesuatu.


"Itu tadi di sofa ruang tamu papa liat kaya ada tas cewe, punya siapa?"


"Ha? Oh itu punya temen aku pa, dia kayanya lupa soalnya buru-buru pulang"


James mengeles untuk menutupi keberadaan Dinda


"Masa bisa sampai lupa bawa tas, ada-ada aja temen kamu"


Dari bawah kolong kasur yang sempit Dinda mendengar percakapan mereka berdua tanpa disengaja ia refleks berteriak ketakutan sambil berguling-guling untuk keluar dari kolong itu.


"Aaaa... James ada kecoa, itu ih geli terus tadi naik ke tangan gue tadi" wanita itu menjerit sambil memeluk James seakan-akan James adalah ayahnya karena Dinda mengapit tubuh James pada kedua kakinya yang dinaikkan sampai ke perut pria itu.


"lo takut ya gak apa-apa tapi jangan berlebihan, malu nih" bisik James pelan tetapi dapat didengar papanya.


"He iya sorry gue geli"


"Yaudah turun tunggu apa lagi"


"Oh iya lupa hehe"


"Ehemm saya tunggu dibawah"


"Iya pa"

__ADS_1


"I..iya om" jawab mereka bersamaan.


__ADS_2