The Charmer

The Charmer
Aneh


__ADS_3

keesokan harinya terlihat tiga orang pria sedang berbincang-bincang di ruang kelas*


"Brian, katanya besok udah mulai bimbingan buat olimpiade, lo jadi ikut kan?" tanya Ryan memastikan.


"Iyalah ikut"


"Emang olimpiade mapel apa?" James juga ikutan bertanya.


"Fisika"


"Lo jangan percaya sama dia, James. Lo tau gak dia ikutan olimpiade itu bukan atas dasar niatnya, tapi karena Dinda juga ikutan"


"Ehehe Brian tampang lo yang pendiam gini, bucin tingkat dewa ternyata"


"Gue tu gak bisa jauh-jauh dari ayang Dinda"


"Ehehe.. Ryan, urus temen lo nih, bucin banget sampai manggil ayang-ayangan jadian juga belom"


"Kasian banget ya, udah naksir sama Dinda hampir dua tahun tapi gak berani ngungkapin, lebih baik lo pake pelet aja Bri Hahahaa"


"*** lo pada, lo berdua kalo udah naksir sama cewe pasti juga sama"


Cek...cek.. Perhatian bagi siswa-siswi yang mengikuti olimpiade harap segera memasuki ruangan osis, terimakasih.


Setelah pengumuman yang di sampaikan oleh kepada sekolah, semua siswa-siswi yang mengikuti olimpiade berjalan menuju ruangan osis, termasuk Dinda.


"Brian, masuk gih. Ntar ayang Dinda lo nungguin"


"Yaudah gue pergi ya, lo berdua jangan kangen. Bye" setelah melihat Brian pergi, James mulai berkata.


"Temen lo noh, kayanya udah gila"


"Gila karena cinta, hahaha"


"Terus sekarang kita mau ngapain?"


"kita ke basecamp aja, hari ini mata pelajarannya bu Rina, beliau pasti gak masuk kelas"


"emang kenapa?"


"Lo gak tau? Beliau kan pembina osis"


"Oh gitu ya, yaudah cabs yuk"


Sesampainya di basecamp James membaringkan tubuhnya dan mulai memikirkan kejadian kemarin, "mengapa semua jadi serumit ini?" pikir James, ia masih merasa bersalah hingga tadi malam tidak bisa tidur.


"Oi James" teriak Ryan tepat di dekat telinga James entah sudah berapa lama James melamun dan teriakan itu membuat James mengerjapkan matanya berulang-ulang.


"Gila lo ya, bisa budeg ni kuping"


"Ya habisnya lo ngelamun mulu, dari tadi gue nyerocos sendiri, emang lo ngelamunin apa sih?"


"Enggak ada apa-apa kok, cuma pengen ngelamun aja"


"Awas kesambet lo"

__ADS_1


"Wah lo do'anya jelek banget"


"Ehehe lo tau aja, tapi ya bro kalo lo ada masalah cerita aja apapun masalahnya kita bakalan bantuin lo, kecuali...." ucap Ryan digantung"


"Kecuali apa?"


"Kecuali kalo lo hamilin anak orang, gue gak ikut campur deh hehe"


" wah wah ni anak mulutnya minta ditampol kayanya" James membuka salah satu sepatunya dan sudah mengambil ancang-ancang untuk memukul Ryan.


"Eh.eh. santai dulu bro gue cuma becanda"


James kembali duduk dan menaruh sepatunya.


"Hmm jadi gini, gue mikirin soal Dinda"


"Ha? Si Dinda kenapa? Atau jangan-jangan...."


"Jangan-jangan apa?"


"Lo hamilin Dinda"


"Lo beneran mau gue tampol?"


"Eheh sorry, emang si Dinda kenapa?"


"Nanti juga lo tau"


"Wah beneran ni, James udah gitu sama si Dinda. Waduh bahaya" ucap Ryan seperti berbisik, namun dapat di dengar oleh James.


"*** lo, muka gue masih dipake kali, ntar kalo bebeb Amanda udah gak suka sama gue gimana?"


"Makan tuh sepatu gue, makanya jangan asal ngomong"


"Ya lo ngomongnya gitu gue kira lo sama Dinda udah..." Ryan dengan cepat menutup mulut dengan kedua tangannya ketika melihat James yang mulai mengangkat sepatu sebelahnya.


"Satu kali lo ngomong gitu lagi ni sepasang sepatu gue bakal mendarat di wajah kering lo itu"


"Jahat banget, udah dilempar sepatu terus dikatain lagi, mimpi apa gue punya temen sejahat ini"


2 jam telah mereka habiskan di basecamp dan cuma dua kegiatan yang mereka lakukan yaitu bermain game mobile dan tidur siang, tak lama setelah mereka tertidur pulas, seseorang datang dan membangunkan mereka.


"Woi.. Woi bangun"


"Aduh bentar lagi, masih ngantuk nih"


"Yaudah kalo gak mau, padahal gue bawain makan nih dari kantin" ucap Brian sambil menyodorkan makanan yang ia bawa di dekat hidung Ryan.


"Widih.. Lo tau aja kalo gue lagi laper, makasih ya" Ryan langsung membuka mata dan mencomot gorengan yang dibawa Brian.


"Lo kalo soal makan aja cepet banget, bisa mengalahkan kecepatan pesawat jat"


"Kalian udah selesai rapat?"


"Udah James, baru aja keluar"

__ADS_1


"Dinda dimana?"


"Tadi sih gue liat dia ke kantin bareng Amanda sama Joe"


"Okedeh gue cabut duluan ya, ada urusan sama Dinda" James berlalu meninggalkan Ryan dan Brian yang menatapnya penuh tanya.


"Eh tunggu.. gue lupa sepatu, oke gue pergi dulu. Bye" kali ini James benar-benar pergi dan sudah menghilang dari pandangan Ryan dan Brian.


"Ryan?"


"Iya Brian"


"Temen kita kenapa Ryan?"


"Ryan juga gak tau Brian"


"Ih lo apaan sih jadi alay gini"


"Eheh yaudah makan yuk" ucap Ryan dengan mulut yang masih terus mengunyah.


*Disisi lain*


"Din.. Dinda." seketika Dinda memutar kepalanya untuk mengetahui siapa yang telah memanggilnya.


"Ya Tuhan ni cewe ternyata cantik banget, kenapa gue baru sadar" pikir James sambil menatap Dinda


"Woi, ngapain lo liatin gue kaya gitu?"


"Ini mata gue suka-suka gue mau liat lo kaya gimana"


"Tapi objek yang lo liat itu gue, risih tau gak? Gue tau kalo gue itu cantik jujur aja kali" ucap Dinda dengan memutar malas kedua bola matanya.


"Iya lo cantik banget, dan gue suka" ucap James yang masih melamun, entahlah James sudah seperti terhipnotis oleh kecantikan Dinda.


"Eh mon*et, bangun jangan mimpi mulu lo"


"Apaan sih, oh iya gue tadi manggil lo soalnya mau minta maaf yang kemarin, seriusan gue gak bisa tidur kaya merasa bersalah terus"


"Lo hari ini kenapa sih, tumben banget mau minta maaf, tapi yaudah lupain aja kemarin itu ya kemarin gak usah di ungkit-ungkit lagi"


"Okedeh kalo gitu gue balik ke kelas ya"


"Iya"


Tetapi James masih saja berdiri disana dan melihat Dinda tanpa berkedip.


"Katanya mau balik" ucap Dinda yang tidak direspon sama sekali.


"James...." Dinda berteriak tepat di lubang telinga James dan itu membuat ia tersadar dari lamunannya.


"Lo apaan sih bisa budeg ni kuping, mana tadi si Ryan udah teriak juga lagi"


"Ya lo katanya mau balik, kanapa jadi ngelamun disini"


"Ehee yaudah deh gue balik beneran nih. Bye"

__ADS_1


__ADS_2