
Terlihat seorang wanita yang tengah memasang jilbabnya. Ia menyiapkan tas serta peralatan yang akan ia butuhkan nantinya saat perkuliahan.
Dia adalah Ravina Azzahra, mahasiswi semester lima studi bisnis.
Tin!
"Woy, Vin! Cepetan elah, bentar lagi kita masuk ini!" teriak seorang perempuan di atas motor.
"Iya bentar, Sal!" balas Ravina dengan tak kalah kerasnya.
Setelah melihat tidak ada lagi yang tinggal, ia kemudian buru-buru keluar dan mengunci pintu kosannya. Saat berbalik, ia melihat temannya yang sudah cemberut di atas motor.
Tanpa merasa bersalah, Ravina langsung naik dan menepuk pundak temannya itu.
"Yok bang jalan," canda Ravina pada Salwa temannya.
Salwa menatap tajam temannya itu melalui kaca spion, lalu tersenyum smirk. Saat Ravina sudah selesai mengenakan helm, Salwa langsung menancap gasnya tanpa memberi aba-aba.
Ravina yang kaget dengan aksi temannya itupun dengan segera berpegangan dengan tas temannya. Untung tidak ada orang disitu, jika tidak Ravina pasti sudah menahan malu karena kakinya yang sempat naik tadi.
"Kalau ngak ikhlas bilang dong bang, bukan tancap gas aja!" ucap Ravina sambil memberengut kesal.
Salwa kembali meliriknya tajam dari kaca spion saat mendengar temannya itu masih memanggilnya dengan sebutan 'bang'.
"Lama-lama aku tinggalin kamu nanti di lampu merah." Ancam Salwa pada Ravina yang saat ini sudah mendekatkan kepalanya kepada Salwa , karena tidak mendengar apa yang diucapkan temannya itu.
"Apa?! kamu mau traktir seblak?! Aduh jangan gitu dong Sal, aku ngak enak kalau nolak," jawab Ravina yang tidak nyambung.
"Nah gitu dong, kalau kamu panggil cantikkan aku jadi seneng," balas Salwa yang juga tidak nyambungnya.
Ravina mengangguk-angguk seakan paham apa yang dibicarakan oleh Salwa. Padahal aslinya, mereka berdua sama-sama melenceng dari topik awal.
Saat pemberhentian lampu merah, mereka berada tepat di depan Zebra cross. Mereka melihat detik lampu merah itu, yang berjalan dengan lambat.
"Eh, Sal. Jadikan kamu traktir aku seblak?" tanya Ravina pada Salwa guna menghilangkan kebosanannya.
Salwa yang merasa tidak pernah berjanji pun, dengan cepat menoleh ke belakang. Ia melihat Ravina heran yang dibalas dengan kedua alis yang dinaikkan oleh Ravina.
__ADS_1
"Sejak kapan aku janji sama kamu kayak gitu, Vin?" tanya Salwa heran.
"Lah bukannya tadi pas di motor kamu bilang itu ke aku ya, Sal?" tanya Ravina balik.
Salwa yang merasa tidak pernah berjanji pun membantah ucapan Ravina. Ravina yang tidak mau kalah juga turut membantah Salwa.
Hingga mereka berdua berdebat di atas motor yang mereka duduki. Mereka tidak memperdulikan beberapa pasang mata yang menatap ke arah mereka.
Hingga perdebatan mereka terhenti ketika mendengar teguran yang dilakukan oleh polisi melalu mikrofon, yang melihat mereka dari kamera cctv.
"Kepada dua orang wanita pengendara yang berada di depan Zebra cross, yang mengenakan helm berwarna coklat dan abu-abu, agar sekiranya menghentikan perdebatan kalian. Jika mau berdebat, berdebatlah di tempat yang aman dan jauh dari jangkauan orang. Sehingga kalian akan dapat bebas saling baku hantam nantinya. Terimakasih."
Bertepatan dengan selesai pengumuman itu, lampu pun sudah berubah menjadi warna hijau. Sebelum mereka melajukan motornya, mereka berdua menyempatkan diri untuk melambaikan tangan pada kamera cctv dan tersenyum cerah.
Setelah itu, mereka pergi meninggalkan orang-orang yang melihat mereka dengan keheranan. Begitulah dunia pertemanan mereka, penuh dengan ke absurd-an.
Tapi dibalik itu semua, mereka tetap mempertahankan hijab mereka. Bahkan mereka menjaga aurat mereka dengan sangat baik. Bagi mereka berhijab itu kewajiban mereka dan itu tidak bisa diganggu gugat.
Motor mereka sudah terparkir di kawasan parkiran kampus. Dengan buru-buru mereka berdua berlari dengan kencang, dan menekan tombol lift.
Saat tombol lift terbuka, mereka berdua langsung masuk. Hingga saat pintu lift hampir tertutup kembali terbuka kembali.
Sudah jelas faktor yang pertama karena rupa mereka yang tampan. Selain itu mereka merupakan anak dari pendonasi besar di kampus ini, juga sekaligus anggota dan ketua BEM.
Mereka bertiga pun masuk dengan santai. Ravina dan Salwa pun tidak mempersalahkan itu, toh lift ini digunakan untuk umum.
"Eh, kamu Ravina kan?" tanya salah seorang dari ketiga pria itu, yang memiliki badan tinggi, kulit berwarna kuning langsat, serta ada tahi lalat kecil di pipi kanannya tepat di bawah mata.
"Eh, kak Devan. Maaf ya kak, aku ngak lihat tadi kalau itu kakak," ringis Ravina merasa tidak enak.
"Ngak papa, Ra. Santai aja kali, kaya sama siapa aja," balas Devan santai yang dibalas senyum canggung oleh Ravina.
Ting!
Mereka berlima pun keluar secara berturut. Saat Ravina ingin keluar, dia bertabrakan dengan Alvin yang ingin juga keluar.
"Eh, maaf kak. Sumpah ngak sengaja sumpah," kata Ravina sambil mengangkat dua jari kanannya.
__ADS_1
Lalu setelah itu, dia tetap keluar lebih dulu dari pada Alvin. Ravina berjalan cepat menghampiri Salwa yang dengan teganya meninggalkannya sendiri di lift bersama Alvin si kulkas berjalan.
"Kamu mah main tinggal-tinggal aja, Sal," ucap Ravina sambil cemberut.
"Heleh, kamu yang lama malah salahin aku lagi," balas Salwa tak mau kalah.
Baru saja Ravina ingin membalas Salwa, perkataannya terhenti saat mendengar panggilan dari Devan.
"Kenapa kak?" tanya Ravina bingung.
"Enggak, cuma mau bagi tau, kalau nanti siang jam tiga kita ada pertemuan organisasi," sambung Devan dan menatap tersenyum pada Ravina.
"Kak, aku ikut organisasi juga loh kak, masa kakak ngingetinnya cuma si Vina?" tanya Salwa pura-pura marah.
"Iya, Salwa juga jangan lupa ya nanti datangnya jam tiga," jawab Devan dengan lembut sambil tertawa kecil.
"Okey deh kalau gitu. Yok Vin, keburu dosen masuk entar," Mendengar apa yang diucapkan Salwa, Ravina langsung berlari terlebih dahulu meninggalkan Salwa.
"Woy Vina! Tungguin!" Jerit Salwa sambil berlari kencang mengejar temannya.
Sementara ketiga pria yang melihat mereka itu hanya menggelengkan kepalanya. Diantara semua wanita yang bersikap manis di depan mereka bertiga, lain halnya dengan Ravina dan Salwa yang tidak ada anggun-anggunnya.
"Udah yok buruan masuk, nanti keburu dosennya dateng lagi," ajak Rehan kepada kedua temannya.
Sepanjang mereka melewati koridor, banyak pasang mata yang menatap mereka. Seakan angin lalu, mereka bertiga pun tetap berjalan tanpa merasa terbebani.
Saat masuk kelas, Alvin dikagetkan dengan pelukan seorang wanita yang notabenya adalah pacarnya. Alvin kemudian membalas pelukan itu tak kalah hangat, lalu tersenyum tipis kepada Raisa, pacarnya.
"Kenapa kesini? Nanti kalau dosen masuk gimana?" tanya Alvin lembut.
"Aku mau anterin kamu ini!" Raisa menyodorkan tiket bioskop dengan semangat.
Alvin menerimanya, lalu membaca jadwal yang tertera di tiket itu. Ia lalu resah, lantaran pada jam itu ia akan ada pertemuan penting sebagai ketua BEM.
"Sya, kamukan tau aku ada jadwal aku hari ini penuh," kata Alvin memandang nelangsa ke arah Raisya.
Raisya yang tadinya berwajah cerah berubah menjadi masam seketika. Ia lalu meletakkan tiket itu dengan kasar di meja, lalu pergi meninggalkan Alvin.
__ADS_1
Sedangkan Alvin, tidak memiliki niat untuk mengejarnya. Lagi pula dia juga sudah bilang pada Raisya jauh-jauh hari. Ia lalu mengedikkan bahunya, lalu duduk dengan santai di kursi yang dipilihnya.
Devan dan Rehan yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepala saja melihat tingkah sahabat mereka.