The Cold Wedding

The Cold Wedding
Choise


__ADS_3

"Kak! Kok kakak ngak ngebantah pertunangan ini sih?"tanya Ravina heran kepda Alvin yang berada di hadapannya.


Namun Ravina merasa merinding, saat melihat Alvin hanya berdiri diam di hadapannya. Mana lagi mereka berada di bawah pohon mangga, dengan posisi Ravina berada tepat di depan batang pohon itu.


Jangan kalian pikir mereka saat ini sedang duduk, saat ini mereka sedang berdiri karena tidak ada bangku atau tempat duduk di sekitar pohon mangga tersebut.


Semilir angin sepoi-sepoi menyapu permukaan wajah Ravina, yang membuat ia semakin merinding saja. Apalagi ia teringat cerita adiknya yang mengatakan bahwa pernah terjadi penampakan Mbak Kunti yang sedang duduk ria di salah satu dahan pada pohon tersebut.


Entah apa kerja Mbak Kunti duduk nongki di pohon mangga ini, dasar hantu tidak memiliki modal. Dan sialnya lagi, dahan itu tepat berada di atas kepalanya.


"Kenapa aku milih tempat ini sih? Mana agak jauh lagi dari rumah!" Sesal Ravina dalam hati.


"Lo kenapa?" Tanya Alvin datar pada Ravina yang ternyata sedari tadi melihat ekspresi Ravina yang tengah gusar.


"N-ngak apa-apa kok, Kak," jawab Ravina dengan tersenyum kikuk, berusaha menormalkan raut wajahnya yang tengah ketakutan.


"Oh iya. Kakak belum jawab pertanyaan aku tadi!" Ravina mengatakan itu dengan sedikit keras.


"Lo kenapa ngak nolak?" Tanya Alvin balik tanpa ekspresi.


Ravina gelagapan, kemudian ia berdehem guna mencari alasan.


"Y-yaa karena ini wasiat dari ayah aku." Ia mengalihkan pandangannya menatap ke arah lain.


Untung dia mempunyai jawaban langsung, jadi dia tidak perlu gelagapan lagi.


Berbeda dengan Alvin yang tidak puas dengan jawabannya. Bahkan pria itu berdengus keras sembari menatap Ravina tajam.


"Jadi karena alasan itu lo langsung terima aja perjodohan ini, bahkan lo belum tau siapa yang mau dijodohin dengan lo?" Tanya Alvin sedikit heran lalu bersedekap tangan di depan dadanya.


Ravina menganggukkan kepalanya santai, lagi pula tebakan pria itu memang benar kan.


Alvin memicingkan matanya menatap curiga pada wanita itu, lalu tak lama ia tersenyum remeh menatap Ravina yang balik menatapnya heran.


Alvin berdecih kecil menatap Ravina. "Cih! Atau lo memang udah tau bakalan dijodohin dengan orang kaya, makanya lo nerima perjodohan ini dengan mudah."


Ravina ternganga mendengar kesimpulan gila yang dibuat oleh Alvin. Entah karena terlalu kaget atau marah dia hanya tetap diam dengan ekspresi cengonya.


Namun ia tidak tau bahwa pria di depannya itu mengartikan lain ekspresinya saat ini. Alvin tersenyum sinis melihat Ravina yang masih diam. Menganggap tebakannya benar adanya.

__ADS_1


"Lo ngak usah berlagak sok kaget, gue tau orang kayak kalian cuma manfaatin harta kekayaan gue dan bokap gue kan?!" Alvin berkata keras dengan matanya yang menatap Ravina kian tajam.


Pandangan Alvin kepada Ravina tak ubahnya seperti sifat pacarnya, dan juga 'dia'.


Alvin mengangkat jari telunjuknya tepat di depan wajah Ravina yabg masih syok. "Dengar ini baik-baik. Kalau lo mikir setelah nikah dengan gue, lo bisa dapetin uang atau nafkah sekalipun dari gue, maka lo salah besar. Gue ngak bakalan sudi, dan ngak akan pernah biarin itu terjadi."


Alvin memandang remeh pada perempuan yang ada di depannya itu, seraya berdengus kecil.


Ravina membuang kasar napasnya, lalu balik menatap tajam Alvin yang saat ini menatapnya remeh. Ia lalu bertolak pinggang, dan sedikit menaikkan dagunya saat berbicara pada Alvin.


"Yang mau harta sama duit Kakak siapa?! Kalau mau nuduh itu juga harus ada buktinya dong, jangan Kakak pikir mentang-mentang kaya bisa semau jidat Kakak ngomong sama orang lain. Lagi pun ya nih Kak, kalau aku tau dari awal orang yang bakal dijodohin dengan  aku itu Kakak, udah dari awal aku ngenolak aja langsung," balas Ravina dengan amarah yang menggebu-gebu.


Ia tidak pernah sebelumnya direndahkan oleh orang lain, apalagi itu laki-laki. Lalu dengan mudahnya Alvin merendahkan bahkan menghina nya dan keluarganya tepat di depan matanya.


Mana mungkin dia terima begitu saja.


"Kalau Kakak ngak mau lakuin perjodohan ini, bilang secara langsung tadi. Jangan bersikap seolah-olah Kakak menerimanya tadi di depan keluargaku. Dasar plin-plan!"


Alvin kian emosi mendengar ucapan perempuan di depannya, apalagi secara terang-terangan Ravina mengumpatnya plin-plan.


Alvin maju selangkah mendekati Ravina dengan pandangan tajam menghunus perempuan itu.


Namun Ravina juga tak kalah memandang Alvin tajam, bahkan ia seakan tidak terpengaruh melihat Alvin yang sudah menatapnya dengan tatapan membunuh.


"Kenapa enggak, Kakak juga berani ngatain keluargaku tadi." Potong Ravina dengan dagu yang terangkat.


Alvin mengusap kasar wajahnya, lalu berdengus keras. Ia menatap Ravina datar, tapi tangannya saat ini sudah terkepal erat.


Dahi Ravina tiba-tiba berkedut, seakan mengingat-ingat sesuatu. "Kalau ngak salah, Kakak udah punya pacarkan?" Tanya Ravina dengan mata memicing.


Alvin yang mendengar itu berdengus kecil, lalu menatap Ravina remeh. "Memang kenapa? Lo kecewa?"


Alvin menatap Ravina yang terdiam mendengar jawabannya. Ia kemudian tersenyum sinis, lalu memasukkan satu tangannya pada saku celana pria itu.


"Lo udah tau gue punya pacar, tapi lo tetap mau nerima?" Alvin tersenyum sinis pada Ravina lalu sedikit menggelengkan kepalanya.


Bukannya marah, Ravina justru tersenyum ceria mendengar itu. Bahkan Alvin yang tadinya tersenyum sinis langsung menatapnya bingung.


"Kan aku tadi udah bilang, aku ngak tau kalau orang yang bakalan dijodohin dengan ku itu, Kakak," jawab Ravina.

__ADS_1


"Lo pikir gue percaya? Buktinya aja sekarang lo tau kalau gue udah punya pacar, jadi lo mau gue percaya kalau lo sebenarnya ngak tau menahu soal perjodohan ini?" Alvin tertawa tidak menyenangkan.


Ravina memutar malas kedua matanya. "Ya Allah. Bukan cuman aku aja yang tahu kali Kak, semua orang di kampus juga udah pada tau."


Wanita itu berkata dengan nada malas.


Alvin tertegun sejenak mendengar jawaban dari Ravina. Sebenarnya pria itu juga cukup sadar kalau, kebanyakan orang di kampus mengetahui kisah asmaranya bersama sang pacar.


Alasannya tak lain karena dia juga merupakan orang yang berpengaruh di kampusnya.


Sedetik kemudian ia kembali merubah raut wajahnya menjadi dingin, seperti tidak terjadi apapun.


Ia sedikit berdehem sebelum memulai perkataanya. "Seperti yang lo dengar, berita itu memang benar. Jadi, lo mau apa?" Tanya pria itu sambil mengangkat dagunya kehadapan Ravina.


"Bagus deh kalau gitu, Kakak batalin aja perjodohan ini. Kakak bilang aja kalau Kakak udah punya pacar." Ravina tersenyum cerah sambil mengatakan itu, beda lagi dengan Alvin yang sudah berwajah dingin.


"Gue ngak bisa nolak perjodohan ini. Dan masalah pacar, gue bakalan tetap pacaran kayak biasa walaupun nantinya gue udah nikah dengan lo," jawab Alvin.


Ravina yang tadinya tersenyum, langsung berwajah suram. Inilah yang dia takutkan, dia menikahi orang yang salah. Bagaimana bisa Alvin mengatakan itu dengan gampang, bahkan saat ini mereka belum memiliki hubungan tetapi pria itu sudah merencanakan hal yang buruk.


Sementara Alvin merasa puas melihat wajah suram Ravina.


"Dengar ini baik-baik, entah pun gue jadi suami lo nantinya, lo ngak berhak ngatur hidup gue atau ngurusi kehidupan pribadi gue. Mau gue punya pacar sekalipun, lo ngak berhak untuk marah."


Setelah mengatakan itu, Alvin tersenyum puas menatap wajah Ravina yang saat ini tengah menatapnya nanar.


"Dan kalupun lo mau punya kekasih sekalipun nanti, gue ngak bakalan peduli. Yang pasti lo ngak berhak ngurusin hal pribadi gue. Paham lo." Alvin menekan kata terakhirnya, setelah itu pergi meninggalkan Ravina yang masih mencerna ucapan pria itu.


Ia tak menyangka pria itu bisa berbuat begitu. Walaupun Ravina juga tidak ingin menikah, tapi dia masih dapat menerima apa yang di katakan oleh ibunya.


Bohong jika ia mengatakan ia tidak peduli dengan pernikahannya nanti. Dia juga sama seperti wanita lain, yang menginginkan kehidupan pernikahan yang harmonis bersama orang yang dia cintai.


Setidaknya dia ingin menjalin hubungan yang normal tanpa adanya keterpaksaan. Lalu setelah mendengar ucapan Alvin tadi, jujur saja ia merasa sakit hati sekaligus tidak percaya.


Ingin menolak tapi ia sadar ini pesan dari almarhum ayahnya. Sungguh dia dalam dilema besar saat ini. Menjalankan pesan dari ayahnya, juga sama seperti menyerahkan hidupnya pada penderitaan.


Ia mengehela napas kasar, lalu menatap langit malam yang sama sekali tidak ada ornamen bintang disana. Yang ada hanya bulan sabit yang sebagian tertutupi awan gelap.


Ia lalu membuang nafas kasar, dan melihat bidang Alvin yang menjauh darinya. Ia menatapnya dengan pandangan kesal, bahkan mulutnya sudah ikut menggerutu sedari tadi.

__ADS_1


Pada akhirnya dia juga pergi meninggalkan tempat itu, mengikuti Alvin dari belakang dengan jarak yang cukup jauh.


Bersambung...


__ADS_2