
"Ha?! Lo dijodohin?!" tanya Devan tidak percaya, yang dibalas deheman malas oleh Alvin.
Devan ingin tertawa mendengar itu, namun dia menahan sekuat tenaga. Lagi pula, kenapa masih ada budaya perjodohan ini sih?
"Gue ngak bisa bayangin sih, Al. Jadi gimana dengan Raisya? Lo bakalan putusin dia gitu?" tanya Devan beruntut.
Alvin menegakkan kepalanya, dan menatap penuh pada Devan dengan dingin.
"Ngak tau, yang pasti gue ngak bakalan nyetujui perjodohan sial*n ini," ucap Alvin yang disimak baik oleh Devan.
"Tapi lo kan tau bokap lo punya riwayat jantung, kalau lo nolak apa ngak bahaya sama kesehatan bokap lo, Al?" Tanya Devan sekaligus menasehati.
Alvin mendengus kesal mendengar itu. Lagi-lagi masalah penyakit itu.
"Lo udah tau mau dijodohin sama siapa?" tanya Devan lagi, yang dibalas anggukan singkat oleh Alvin.
"Gue mau di dijodohin sama anak almarhum sahabatnya bokap gue," jawab Alvin.
"Haduh, udah ngak ngerti lagi gue. Si Rehan, Tio sama Kevin, udah tau masalah ini?" tanya Devan yang dibalas gelengan oleh Alvin.
"Rehan sama Tio pulang cepat hari ini, mereka berdua ada acara karena mereka sepupu. Sedangkan Kevin, dia belum pulang ke Indo," jawab Alvin.
Devan menghela nafasnya, dia juga bingung ingin kasi saran gimana. Secarakan, ini menyangkut masa depan temannya.
"Gue ngak tau mau ngomong gimana, Al. Satu yang pasti, kalau lo mau ngenolak lo harus lihat kesehatan bokap lo dulu. Jangan emosi, lo harus tahan emosi lo sebisa mungkin," Nasihat Devan yang dibalas anggukan oleh Alvin.
"Dan masalah lo sama si Raisya, walaupun perjodohan ini ngak ada, lo harus tetap mutusin dia," sambung Devan yang langsung ditatap dingin oleh Alvin.
"Gue ngak akan putusin dia, lo kan tau gue pacaran sama dia udah lama," jawab Alvin.
"Itu terserah lo, Al. Lo ngak bisa jalanin hubungan hanya karena lo ngerasa udah lama aja. Kalau lo merasa udah ngak srek lagi sama si Raisya, lo harus putusin dia secepatnya." Setelah mengucapkan itu, Devan berdiri dan ingin keluar namun ia berbalik dan berkata lagi pada Alvin yang tengah memandangnya dingin.
"Jangan bodoh, Al. Gue tau kalau lo ngak pernah cinta sama si Raisya, bahkan dia juga mungkin sama. Sekali-kali lo harus lihat kegiatan pacar lo biar lo tahu apa yang udah dia lakuin," ucap Devan datar lalu keluar sepenuhnya dari ruangan itu.
Alvin lalu membanting vas yang ada di atas meja itu ke dinding, sehingga menimbulkan suara yang nyaring. Mukanya sudah memerah, bahkan nafasnya pun ikut memburu.
Entah sudah berapa kali ia disuruh untuk memutuskan Raisya. Dan jika kalian mengira dia tidak pernah mematai pacarnya itu, kalian salah besar. Dia tahu selama ini pacarnya itu sudah berselingkuh di belakangnya hampir setahun.
Serta alasan kenapa pria itu masih memberikan Rasya kemewahan,karena dia hanya membiarkan mereka bermain-main dulu, agar tiba waktunya dia yang bermain-main bersama tubuh mereka nantinya.
Dan apa tadi, bodoh? Ayolah, dia bukan orang seperti itu. Jika dia langsung memberi pelajaran pada mereka sekarang, itu tidak akan seru. Setidaknya dia akan berbaik hati membiarkan pacarnya dan selingkuhannya melakukan Anniversary mereka terlebih dahulu. Setelah itu, barulah dia bisa membunuh mereka dengan sayatan indahnya.
Mata Alvin berkilat membayangkan bagaimana tetesan darah yang keluar dari tubuh kekasihnya itu. Erangan kesakitan, serta permohonan ampun lirih sudah terbayang di kepala Alvin. Bahkan dia tersenyum cerah membayangkan itu, seakan itu hal menggembirakan yang dia nantikan selama ini.
"Tunggulah satu bulan lagi, sayang. Dan selama itu, nikmatilah harta yang kau pakai dariku. Karena aku akan mengambilnya kembali, bersamaan dengan nyawamu dan kekasih barumu," ucap Alvin sambil menggores-gores foto Raisya dengan pria selingkuhannya.
...****************...
"Duh, Sal. Ibu aku nyuruh aku buat pulang nih," ucap Ravina dengan nada yang cemas.
"Ya udah pulang aja, lagian jarak dari sini kerumah kamu juga empat jam-an kok. Apalagi, Jumat besok kita ngak ada masuk matkul. Sabtu sama Minggu kita libur, ya udah sih, Vin. Kamu pulang aja gih," saran Salwa pada temannya.
__ADS_1
"Lagian yah, Vin. Kita juga udah jarang banget ngak pulang karena ngak ada waktu libur. Kamu manfaatin aja hari ini, mungkin Ibu kamu juga lagi rindu kamu sekarang ini," sambung Salwa yang didengarkan baik oleh Ravina.
Sekarang ini mereka berdua berada di kosannya Ravina. Salwa memang sudah sering kesini setiap selesai mata kuliah. Alasannya karena kosnya sedikit jauh, dan juga dia bisa ngadem dulu katanya.
"Iya juga sih. Aku nitip salam sama kak Devan ya, Sal. Maaf ngak bisa dateng nanti malam," ucap Ravina mengingat dia juga sudah sempat berjanji akan ikut tadi.
Salwa membola kan matanya, lalu ia menggigit kukunya sendiri, kebiasaannya jika sedang gugup. Untung saja Ravina membahas itu, jika tidak dia mungkin bisa lupa lagi.
Ia kemudian bergegas bangkit dari posisi berbaring santainya di kasur kecil Ravina, lalu bersiap-siap ingin pulang. Ravina yang melihat itu merasa heran.
"Kamu kenapa, Sal?" Tanya Ravina heran.
"Ish, aku lupa Vin, kalau nanti malem kak Devan ngajakin nonton," ucap Salwa sambil mengikat tali sepatunya di luar.
"Kok bisa?! Jadi Wardah sama Nia udah kamu kasih tau kan?" Tanya Ravina.
"Alhamdulillah udah, Vin. Bye Vina, jangan rindu ye," ucap Salwa melambaikan tangannya lalu menstater motornya dan meninggalkan kosan Ravina.
Setelah melihat kepergian temannya, Ravina juga buru-buru untuk packing barang yang akan dibawanya pulang. Setelah memastikan semuanya ia kemudian mengenakan tas belakangnya yang telah terisi barang-barangnya.
Ravina kemudian pergi dengan ojol yang sudah dipesannya sedari tadi, dan kini tengah menunggunya di luar.
"Ayo Mbak," ucap Ravina setelah selesai mengenakan helm.
Merekapun langsung berangkat ke halte bus. Setelah sampai di halte, ia langsung membuka helmnya, dan sedikit memperbaiki jilbab pashmina coksunya. Ia menyerahkan helm itu sekaligus membayar ongkosnya.
Setelah memesan tiket, ia langsung naik ke dalam bus, dan memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela.
Dan ya, ayahnya sudah meninggal dunia saat dia masih kelas dua SMA. Serta biayanya perkuliahannya berasal dari pekerjaan paruh waktu yang diambilnya. Untungnya dia mendapatkan beasiswa, jadi dia tidak perlu memikirkan uang kuliahnya lagi.
Sedangkan ibunya bekerja sebagai guru disalah satu SMA Negeri. Ia memiliki adik laki-laki yang saat ini berumur 18 tahun, dan sedang duduk dibangku SMA kelas tiga.
"Assalamu'alaikum! Ada orang ngak nih di rumah?! Bidadari mau masuk nih!" Ucap Ravina dengan tidak santainya tepat di depan pintu rumahnya, tapi belum ada juga satupun yang membukakan pintu untuknya
" Halo! Spada ..., Kepada Ibu Maisyaroh, ini anaknya yang paling cantik udah sampai lho! Kok pintunya ngak dibuka sih say!" ucap Ravina yang kali ini menggedor pintu rumahnya.
Ravina heran kenapa tidak ada juga yang menjawab dari dalam. Ia pun mengintip dari kaca jendela rumahnya, dan terlihat adiknya tengah asik bermain game di ruang tamu.
"Ngak bisa dibiarin ini!" Ravina lalu buru-buru meraih handphonenya dan menelepon adiknya lewat WA.
Butuh waktu lama akhirnya adiknya membalas telponnya.
"Halo!" ucap Ravina ngegas langsung saat melihat adiknya sudah mengangkat telpon.
Adiknya yang mendengar suara Ravina dengan kaget, bahkan hampir menjatuhkan handphonenya.
"Apaan sih, Kak! Bukannya ngucapin salam malah langsung ngegas aja," protes adiknya.
"Kamu yang apaan! Kakak udah di depan pintu ini, bukain kek pintunya," ucap Ravina dengan kesal.
"Iye-iye bentar. Dari kamar mandi tadi!" Alibi adiknya.
__ADS_1
"Alah, ngak usah banyak alasan deh masnya. Ngaku aja lagi main game kan tadi!," Ucap Ravina masih melihat adiknya itu dari jendela kaca yang gordennya belum ditutup.
"Kok tau?" Tanya adiknya pelan yang berhasil didengar oleh Ravina.
"Lihat ke arah jendela." Perintah Ravina pada adiknya.
Ravina pun buru-buru menghidupkan senter handphonenya, dan mengarahkan tepat di bawah dagunya. Adiknya yang mendengar perkataan kakaknya itupun langsung melihat ke arah jendela dengan heran.
Dan ...
"Astaghfirullah! SETAN!" Jerit adik Ravina bahkan saat ini dia sudah terjatuh dari sofa yang didudukinya.
Ravina tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah adiknya tadi. Dan jangan lupakan bagaimana adiknya jatuh dari sofa dengan tidak estetoknya.
Adiknya melihat pada kakaknya yang sudah tertawa hebat di luar jendela. Ia pun menggosok-gosok bokongnya yang sakit, dan berdiri membuka pintu.
Cklek
"Udah buruan masuk!" ucap adiknya kesal.
"Assalamu'alaikum adikku Zein yang jelek. Kakakmu yang bidadari ini sudah pulang," ucap Ravina sambil memeluk adiknya yang tingginya sudah melebihi dia.
Zein, adiknya Ravina memutar bola matanya malas, tapi tetap membalas pelukan kakaknya. Setelah itu Ravina masuk, dan mereka kembali mengunci pintu rumah mereka.
"Kakak ngapain ngintip di jendela kayak gitu sih? Entar kalau dikira maling, terus digebukin gimana?" tanya Zein sambil melihat Ravina kesal.
"Salah siapa yang ngak ngedengerin suara kakak tadi, hampir aja pita suara kakak putus jerit-jerit di lur," ucap Ravina kesal.
"Iya gua yang salah, cewek kan selalu bener," ucap Zein dengan malas.
"Eh iya, Ibunda ratu mana Zein?" tanya Ravina heran sambil melihat-lihat kesekeliling rumah, dan tetap tak menemukan Ibunya.
"Ooo, ibu lagi nginep di rumah tante Irda. Ada acara tadi sore, ya udah deh Ibu langsung nginep aja, capek juga nanti pulang pergi," jawab Zein yang menyambung gamenya dan kembali duduk di sofa.
"Ooo, gitu," ucap Ravina mengangguk-angguk.
"Lagi main apa sih kamu Zein?" tanya Ravina penasaran yang juga sudah ikut duduk di samping Zein.
"Ish, udah jangan kepo. Kakak ngak bakalan paham juga kalau dijelasin. Udah sono mandi, baunya udah kayak terasi gitu," Sungut Zein sambil menjauhkan dirinya dari Ravina.
Ravina yang mendengar itu dibuat kesal. Ia lalu, berdiri sambil menggerutu kesal pada adiknya. Tiba-tiba ide cemerlang terlintas di kepala imutnya.
Ia mengacak rambut hitam adiknya itu, hingga yang tadinya rapi sekarang sudah tidak berbentuk.
Setelah itu ia lari buru-buru sebelum mendapat amukan dari adeknya.
"KAK RARA!" Suara Zein menggelegar memenuhi rumah itu.
Bersambung ....
Mohon kritikan dan saran yang membangun ya bestieee
__ADS_1
See you ...