The Cold Wedding

The Cold Wedding
03. Aku sih Yes


__ADS_3

"Mungkin sampai disini saja pertemuan kita hari ini. Salam mahasiswa!" ucap Devan dengan tatapan tegas di depan layar monitor sambil mengepalkan tangan kirinya, dan mengangkat tangan itu tinggi ke depan.


"SALAM MAHASISWA!" ucap segerombolan mahasiswa serempak, sambil mengangkat tangan mereka seperti yang dilakukan oleh Devan.


Setelah itu satu persatu mahasiswa dan mahasiswi keluar dari aula sebagai tempat pertemuan organisasi himpunan. Tak terkecuali Ravina dan Salwa, mereka juga turut hadir dalam pertemuan organisasi.


Bahkan, mereka memiliki kedudukan di organisasi tersebut. Itulah mengapa Devan yang sebagai ketua, dapat mengenali mereka berdua.


"Rara!" Panggil Devan dengan suara yang bersemangat.


Salwa dan Ravina berbalik menatap ke arah Devan uang berjalan sambil tersenyum ke arah mereka berdua. Atau lebih tepatnya Ravina.


"Dia manggil kamu Rara, Vin?" tanya Salwa pelan sambil memiringkan kepalanya mendekatkan mulutnya pada telinga Ravina yang ada di sebelah kanannya.


"Ngak tau, mungkin enggak deh," jawab Ravina pada Salwa sambil berbisik juga di telinga kiri temannya itu.


"Tapi kok Kak Devan ngeliatin kita sih? Apa jangan-jangan kita aja kali yang kegeeran?" tanya Salwa yang dibalas gelengan oleh Ravina.


"Mungkin kali ya," balas Ravina pelan.


Karena keasikan saling berbisik, mereka sampai tidak sadar Devan sudah berdiri di hadapan mereka berdua. Dia mengernyit heran melihat dua manusia yang tak menyadari keberadaannya ini. Bahkan Devan kaget melihat mereka ingin berbalik pulang.


"Eh, kok kalian mau pergi?" tanya Devan heran.


"Kok suaranya dekat?" ucap Salwa sambil berbalik kembali, begitu juga dengan Ravina.


"Astaghfirullah!" ucap mereka kaget secara bersamaan.


"Kok kakak bisa ada disini sih kak?" tanya Salwa sambil memegang dadanya kaget.


Devan menggaruk pelipisnya sebentar, sambil tersenyum tak enak pada mereka.


"Bukannya gue udah manggil kalian tadi?" tanya Devan bingung.


Alis Ravina yang awalnya bertaut sedetik kemudian ia melebarkan matanya. Jadi yang dipanggil Rara tadi dia gitu?


"Ooo, jadi ceritanya Kak Devan manggil Ravina Rara gitu ya kak?" tanya Salwa sambil tersenyum misterius dan alis yang dinaik-naikkan menatap Devan.


Devan yang mendengarnya kemudian terkekeh kecil, hingga giginya yang rapi terlihat jelas. Bahkan Salwa yang tadinya berekspresi konyol pun langsung terhenti melihat tawa kecil Devan.


Ia mengerjabkan matanya lalu tanpa sadar memegang lengan Ravina dengan kuat.


"Manis banget, meleleh adek bang," batin Salwa sambil memegang lengan Ravina kuat.

__ADS_1


Ravina merasa geram pada Salwa yang masih memegang lengannya kuat. Ia tersenyum canggung pada Devan, lalu menyenggol Salwa dengan lengannya yang dipegang oleh Salwa.


Salwa pun langsung tersadar dan menyengir lebar ke arah Ravina yang juga melihat ke arahnya, lalu kemudian ia mengangkat dua jarinya dengan cengirannya yang belum hilang.


"Kenapa, Ra?" Tanya Devan bingung melihat Ravina yang seperti menahan sesuatu.


"Ngak! Ngak papa kok, Kak. Oh iya Kak Devan kenapa manggil aku, Kak?"  tanya Ravina langsung merubah ekspresi wajahnya.


"Malam ini lo ada acara ngak, Ra?" tanya Devan pada Ravina masih dengan senyumnya.


"Kayaknya enggak ada deh, Kak. Emang kenapa Kak?" ucap Ravina merasa heran begitu juga dengan Salwa yang ada di sampingnya.


"Malam ini ada film baru tayang di bioskop, rencananya sih gue mau nonton sama yang lain. Lo mau ikut ngak?" tanya Devan santai sambil memasukkan satu tangannya kedalam saku celananya.


Ia lalu meniup rambut depannya yang sempat jatuh di dahinya.


"Ni orang niup rambut aja, damagenya udah nambah" batin Salwa.


"Kakak ngajak si Vina aja, Kak?" Salwa menatap Devan seakan-akan kecewa.


"Mulai deh" batin Ravina sambil melirik malas ke arah Salwa.


"Kejam kamu, Mas! Kejam!" ucap Salwa mendramatisir, sambil menunjuk ke arah Devan. Setelah itu dia bersandar pada pundak Ravina, seakan-akan ia tengah patah hati.


Devan menatap tidak enak pada orang sekelilingnya, sambil melambaikan kedua tangannya seakan berkata.


"Bukan Gue Woy!"


"Wa, udah dong. Gue dilihatin orang ini, gimana kalau lo ikut jugak. Bebas deh lo mau ajak siapa aja, nanti gue yang bayarin." Tawar Devan sambil berkata pelan. Diluar dugaan, setelah mengatakan itu, Salwa langsung mengangkat kepalanya dan tersenyum penuh menatap Devan.


"Benar ya, Kak! Tapi jangan tiketnya aja dong, masa nonton film pop corn nya ngak ada. Kan ngak seru!" ucap Salwa dengan semangat, membuat Devan kaget saat mendengar Salwa yang tiba-tiba berbicara dengan semangatnya.


"Ya Allah, Sal. Demi apa kamu buat aku malu pakek banget. Malah ngelunjak lagi,"  ringis Ravina dalam hati.


Ia menatap tidak enak pada Devan, yang saat ini tengah memedang dadanya karena kaget. Namun, sedetik kemudian Devan berdehem dan mengubah ekspresinya menjadi cool kembali.


"Iya Salwa, tenang aja pop corn sama minumnya nanti gue traktir juga kok," kata Devan sambil tersenyum.


Mendengar itu Salwa tersenyum lebar kegirangan, begitu juga Ravina. Awalnya saja dia bersikap sok malu, namun mendengar traktiran dia ikut juga bersorak gembira.


"Ada untungnya juga punya teman yang minim akhlak, Hahaha ..." tawa Ravina dalam hati.


Devan melihat mereka tersenyum girang, membuat jantungnya berdetak kencang. Ia melihat ke arah salah satu dari mereka, lalu mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


"Sial! Bisa-bisa jantungan gue," rutuk Devan dalam hati.


"Ya udah, kalau gitu gue luan ya. Nanti ketemuannya di Mall. Gue cabut dulu!" Setelah mengucapkan itu, Devan meninggalkan mereka terburu-buru.


Ravina dan Salwa keluar dari aula itu dengan senyuman mereka yang tidak pudar. Apalagi jika mengingat mereka akan menonton gratis malam ini. Sebagai kaum kos sejati, hal ini tidak boleh dilewatkan begitu saja.


"Eh, Vin. Kayaknya Kak Devan suka sama kamu deh?" tanya Salwa tapi dengan wajah yang sedikit sedih.


"Ngak mungkin, Sal. Kalau misalnya sebaliknya kayak mana?" Ucap Ravina sambil tersenyum menggoda Salwa.


"Maksudnya?" Tanya Salwa tidak paham.


"Ya maksud aku, kalau misalnya kak Devan suka sama kamu gimana?" tanya Ravina lalu melihat mata temannya yang seperti berbinar bahagia.


"Ya kalau memang kayak gitu, aku sih yes. Ngak tau sama mas Anang," jawab Salwa sambil tertawa.


Tanpa mereka sadari, ada seorang pria yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka lalu tersenyum mendengar perkataan yang baru saja didengarnya itu.


"Kak Devan," panggil seorang mahasiswa yang mengejutkan pria yang sedang menguping tersebut.


Devan yang kaget, sekaligus takut bila  didapati menguping langsung menatap pria yang memanggilnya dengan tajam. Lalu menoleh lagi kepada dua gadis yang masih berjalan tanpa menoleh ke belakang.


"Syukurlah," batin Devan.


Devan kembali memandang mahasiswa itu dengan tatapan tajam yang membuat lelaki yang ditatapnya menjadi ketakutan. Lelaki itu membetulkan sedikit kaca mata minusnya, dengan tangan yang bergetar.


"Apaan?" tanya Devan ketus.


"I-itu Kak, Kakak dipanggil Kak Alvin ke ruangan BEM," jawab pria itu dengan tergagap. 


Devan melirik malas ke arah pria itu, lalu menyentuh pundak pria itu dengan sedikit kuat, yang membuat pria itu kaget setengah mati. Devan melenggang pergi dengan tersenyum mengejek samar.


Ia menaiki lift agar lebih cepat sampai ke ruangan Alvin. Saat pintu lift sudah terhenti, ia keluar dengan siulan santai yang ia buat. Lalu seperti seharusnya para wanita yang melihat itu, tersenyum malu-malu. Bahkan Devan mendapati ada yang berlalu lalang tidak jelas sedari tadi.


Ia lalu membuka pintu ruangan Alvin dengan santai. Dan betapa kagetnya dia melihat ruangan itu yang sudah seperti kapal pecah. Dia buru-buru masuk dan menutup pintu, setelah itu dia mendekati Alvin yang tengah duduk di kursi yang memiliki roda di kakinya, lalu menggoyangkan kursi itu ke kiri dan kanan. Sedangkan kaki pria itu di naikkan ke atas meja di depannya.


Devan duduk pada sofa yang ada di sudut ruangan itu. Ia memperhatikan Alvin yang berpenampilan urakan. Kemeja hitamnya yang ia gulung sampai lengan, serta kancing di dadanya yang lebih terbuka. Serta jangan lupakan rambut berantakan pria itu. Penampilan pria itu bertambah urakan, ketika melihat rokok yang ada di jari temannya itu.


"Huft. Lo dapat masalah lagi, Al?" tanya Devan yang direspon Alvin hanya dengan lirikannya saja.


Alvin mematikan rokoknya dengan menekan ujung rokok pada asbak yang ada di atas meja. Ia memperbaiki kancing bajunya, lalu bangkit dari kursinya dan bergabung duduk di sofa.


"Bokap gua mau ngejodohin gue, Dev," ucap Alvin dengan nada datar sambi menyandarkan kepalanya pada sofa, dan menatap ke arah platform.

__ADS_1


"Ha?! Lo dijodohin?"


__ADS_2