
...Hai teman-teman, sebelum baca pastikan udah klik tombol likenya ya!...
...Jangan lupa follow🤗...
...Kamsamida!!!...
Saat ini Ravina bersungut kesal melihat ibunya yang sudah menyiapkan baju gamis berwarna peach, dengan ronderan manik di pinggang dan lengannya.
"Bu, ngapain sih pakai baju kayak gini? Pakai aja baju yang ada di lemari," ucap Ravina protes.
"Udah, kamu pakai aja. Malu nanti kalau calon suami kamu liat kamu pakai baju jelek," ucap Ibu Ravina terlampau jujur.
"Ya Allah, kok jujur banget sih Bu?" tanya Ravina sambil sedikit bergidik saat mendengar kata 'calon suami'.
"Udah, cepat siap-siap. Ibu mau keluar dulu mau lihat persiapan." Setelah mengatakan itu, Ibu Ravina keluar dari kamar putrinya.
Ravina melakukan apa yang dikatakan ibunya, walau dengan perasaan kesal. Sesudah itu dia melihat penampilannya di cermin yang menampakkan seluruh tubuhnya.
"Ck! Apaan sih pakek gamis kayak gini," gerutu Ravina.
"Kak! Dipanggil ibu keluar!" Jerit Zein dari luar kamar.
"Iya!" Balas Ravina dengan suara yang keras juga.
Dengan malas ia lalu keluar dari kamarnya, dengan wajah kesal dan cemberut. Zein yang memang masih berada di depan pintu menatap takjub pada kakaknya.
"Masyaallah, bahagia banget kayaknya nih mau jumpai calon suami," ucap Zein sambil memandang menggoda kakaknya.
Ravina memutar matanya malas lau melangkah melewati adiknya. Zein yang melihat kekesalan kakaknya tertawa kecil, lalu ikut membuntuti kakaknya berjalan ke ruang tamu.
Sesampainya di ruang tamu, Ravina heran melihat tante serta pamannya juga duduk disana. Ia lalu menyalami mereka satu persatu, lalu duduk di samping ibunya.
"Kok Tante sama paman ada disini, Bu?" tanya Ravina pelan pada ibunya.
"Ibu yang ngundang mereka kesini Vin," jawab ibu Ravina dengan pelan juga.
"Masyaallah, makin cantik aja ya Vina," puji Tante Ravina.
"Iya dong, Tante. Namanya juga glow up," jawab Ravina dengan percaya diri yang kuat. Bahkan dia sampai mengibaskan ujung jilbabnya ke belakang.
Ibu Ravina yang melihat itu, langsung memukul paha putrinya. Ravina mengaduh kesakitan lalu mengelus pelan pahanya bekas pukulan kecil ibunya. Lalu ia kembali memperbaiki jilbabnya, lalu tersenyum kecil pda tantenya yang berada di sofa samping mereka.
Sementara Tante dan pamannya tertawa melihat tingkah keponakan mereka yang tidak berubah. Lalu Zein ikut turut bergabung bersama mereka, dan masih menatap kakaknya menggoda.
Ravina rasanya ingin menjambak dengan kuat rambut adiknya yang saat ini sedang tertata rapi. Tapi ia juga tidak mungkin mempermalukan dirinya lagi, jadi dia hanya dapat melirik adiknya dengan bibir yang bergerak seperti berkata.
'Awas kamu'
__ADS_1
"Bu, jam berapa sih mereka datangnya? Zein mau keluar ada janji sama temennya Zein," keluh Zein.
"Tunggu bentar lagi, Zein. Ini momen penting untuk kakak kamu lho," jawab Paman Zein.
Mendengar itu Zein mendengus pelan, lalu menatap tajam ke arah kakaknya. Merasa ditatap, Ravina menolehkan kepalanya dan benar saja Zein tengah memandangnya tajam saat ini.
"Apa?!" Tanya Ravina dengan judas dan menatap adiknya tidak kalah tajam.
"Tanggung jawab dong kak! Aku ngak jadi keluar karena calon laki kakak datangnya lama," ucap Zein meluapkan kekesalannya.
"Apaan?! Kalau mau keluar ya keluar aja, jangan malah nyalahin orang," jawab Ravina tidak terima.
Zein yang tadinya ingin marah, malah mendadak menatap kakaknya sambil menahan senyumannya.
"Cieee, yang lagi belain calon suaminya," ucap Zein sambil menaik turunkan alisnya.
Ravina menganga mendengarnya, apalagi sekarang Tante, Paman bahkan ibunya saat ini sedang menertawakannya. Padahal dia mengucapkan itu karena dia tidak mau disalahkan oleh Zein, bukan untuk membela calon suaminya.
Entah sudah bagaimana wajah Ravina sekarang karena menahan marah dan malu secara bersamaan. Ini semua karena ulah adiknya yang minim akhlak.
Baru saja ingin membantah ucapan adiknya, lagi-lagi ia dihentikan dengan ketukan pada pintu mereka. Paman Ravina segera berdiri dan membukakan pintu.
Setelah itu Ravina bisa melihat seorang pria paruh baya yang mengenakan jas berwarna abu tua, serta kemeja yang berwarna putih. Pamannya berpelukan singkat pada pria paruh baya itu seperti pelukan seorang teman yang sudah lama tidak bertemu.
Setelah berpelukan, pamannya mempersilahkan pria paruh baya itu masuk. Dan mempersilahkan pria itu untuk duduk pada sofa yang berada tepat di depan Ravina.
"Maaf atas keterlambatan kami," ucap pria paruh baya itu memasang wajah bersalah.
"Tidak apa-apa Arsen, lagi pula jarak dari sini dengan rumahmu juga terbilang jauh," ucap Paman Ravina.
"Terimakasih Bagas, ternyata sikapmu tidak berubah sama seperti Dafa," ucap pria paruh baya itu lalu tersenyum hangat pada Bagas, Paman Ravina.
"Oh iya, ngomong-ngomong dimana putramu? Aku tidak melihatnya tadi datang bersamamu," tanya Bagas heran.
Ravina yang sedari tadi menyimak percakapan antara Pamannya dan pria paruh baya di depannya sedikit merasa lega. Ternyata bukan pria paruh baya ini yang akan menikah dengannya.
"Dia bersamaku tadi, tapi ia berhenti sebentar. Katanya dia meninggalkan sesuatu, jadi dia pergi menjemputnya bersama beberapa pengawalku," jelas pria paruh baya itu.
Tak berselang lama, masuklah empat orang pria berpakaian seragam dengan masing-masing ditangan mereka memegang bingkisan. Lalu dengan rapi mereka meletakkan itu satu persatu di meja yang ada di ruang tamu itu.
Sebagian lagi mereka hanya memegangnya, karena meja itu sudah penuh oleh bingkisan mereka maupun minuman yang telah disediakan oleh Ibu Ravina.
"Maaf atas keterlambatannya," ucap seorang pria yang masuk setelah para pengawal tadi, yang langsung mengundang tatapan setiap orang.
Rambut yang tertata rapi, wajahnya yang bak dewa yunani di tambah lagi saat ini pria itu mengenakan kemeja berwarna navy yang digulung hingga siku, memperlihatkan tangannya. Dipadukan dengan celana hitam kain pria itu yang membuat pria itu terlihat sangat sempurna.
"Sudahlah, ayo kemari Al," Ucap Arsen pada putranya.
__ADS_1
Ravina menundukkan kepalanya tidak berani melihat pria yang duduk tepat berseberangan dengannya. Ia memejamkan matanya kuat, dan sesekali mengintip kecil melihat sepatu yang di kenakan oleh pria itu.
"Dasar orang kaya, masuk rumah orang ngak lepas sepatu!" Sempat-sempatnya Ravina mengomentari pria di depannya dalam hati.
"Semuanya perkenalkan ini putraku, namanya Alvin Aldiano Dharmendra," ucap Arsen memperkenalkan putranya pada semua orang yang ada di ruangan itu.
"Alvin?" batin Ravina, lalu mengangkat kepalanya penasaran.
"Gila!" Jerit Ravina dalam hati, dan tak sadar dia menatap horor pada Alvin di depannya. Bagaimana ia tidak kaget, saat mengetahui orang yang akan dijodohkan dengannya adalah ketua BEM mereka.
Bahkan Alvin sempat menatap Ravina dengan dahi sedikit berkerut. Lalu tak lama kemudian ia kembali merubah ekspresi wajahnya kembali menjadi datar, bahkan dia menghunus Ravina dengan tatapan dinginnya.
"Biasa aja dong kak lihatnya! Kayak lagi ngeliat hantu aja!" Cibir Zein menatap sinis kakaknya.
Ravina memperbaiki ekspresinya, dan menatap kesegala arah kemana saja, asalkan tidak melihat ke arah Alvin.
"Perkenalkan Nak Alvin, ini putri tante namannya Ravina Azzahra," ucap inu Ravina sambil memegang kedua lengan putrinya yang membuat Ravina tersentak kaget, lalu tersenyum paksa kepada Alvin yang masih menatapnya dingin.
"Saya sudah kenal tante, kami cukup sering bertemu," kata Alvin sambil tersenyum tipis tetap memandang Ravina dengan dingin.
Lagi-lagi Ravina dibuat melotot, bisa-bisanya Alvin bilang sering padahal mereka berpapasan juga cuma sekali seumur hidup seingat Ravina. Ravina menatap Alvin horor entah kenapa dia merasa takut melihat senyuman Alvin.
"Iya kan, Ravina?" tanya Alvin dengan penekanan disetiap katanya, masih dengan senyumannya. Sebenarnya melihat Alvin tersenyum begitu membuat ketampanan pria itu makin bertambah, tapi bagi Ravina itu sama seperti senyuman iblis.
"Hehehe ..., Iya kak," ucap Ravina sambil menggaruk dengkulnya yang gatal, yang langsung dapat tepukan kecil dari ibunya.
"Baguslah kalau kalian sudah saling mengenal, jadi pertunangan ini bisa langsung kita mulai," ucap Arsen ayah Alvin dengan bahagia.
"Apa?! Tunangan?!" Tanya Ravina dengan suara yang keras.
Jadi ini jawaban dibalik gamis yang ia pakai terpaksa, ini juga jawaban kenapa paman dan tantenya juga turut datang malam ini. Baiklah semua terasa jelas sekarang.
Tapi yang lebih membingungkannya lagi, kenapa seperti dia saja yang tidak menyetujui perjodohan atau pertunangan ini. Buktinya hanya dia yang berseru kaget mendengar berita ini, sedangkan Alvin terlihat biasa saja.
"Tunggu-tunggu, dia kan udah punya pacar? Wah, ngak bener nih cowok!" Ravina hanya dapat membatin, jelas dia tidak berani berbicara langsung.
"Kenapa kamu kaget? Bukannya kamu udah tau bakalan dijodohin?" tanya Alvin santai.
"Kak! Kita perlu bicara!" Ucap Ravina tegas, lalu melangkah keluar dimana orang lain tidak dapat mendengar percakapan mereka nantinya.
Alvin dengan santai mengikuti Ravina di belakang, sambil tersenyum tipis menatap orang yang ada di ruangan itu. Ia berjalan sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya.
"Woy kak! Belum juga nikah udah mau berduaan aja, ingat yang ketiganya setan loh!" Ucap Zein sok menasehati kakaknya.
"Kamu setannya!" Ravina mengatakan itu sambil menatap adiknya tajam, tapi lagi-lagi orang yang ada di sana malah tertawa melihatnya.
Ravina tidak sadar Alvin melihatnya dengan seringaian kecilnya saat memarahi adiknya tadi.
__ADS_1
"Menarik," ucap Alvin dalam hati sambil terus mengikuti Ravina dari belakang.