
" Alvin!" Bentak pria paruh baya pada Alvin, menatap tajam ke arah Alvin yang saat ini sedang duduk santai melipat satu kakinya di singgle sofa.
"Ini peringatan terakhirku untukmu, kau harus menerima perjodohan ini dan kau tidak boleh membantah!" ucap pria itu lagi pada putranya yang bahkan tidak peduli dengannya.
Ia menatap nyalang putranya yang duduk tepat di hadapannya. Posisi mereka saat ini saling berhadapan dengan meja sebagai pemisahnya. Ruangan itu diliputi hawa dingin akibat perselisihan yang terjadi antara ayah dan anak itu.
"Terserah Daddy ingin mengatakan apa, yang jelas aku tidak ingin melakukan perjodohan konyol itu," ucap Alvin dengan sorot mata dingin.
Ia lalu berdiri berniat meninggalkan ruangan itu.
"Jika kau keluar selangkah saja dari ruangan ini, jangan salahkan aku menghancurkan semua usahamu saat ini," ucap pria paruh baya itu melihat punggung anaknya yang tertutupi kaus hitam.
Alvin menghentikan langkahnya seketika. Dari mana ayahnya tau dia memiliki bisnis kecil di luar?
Ia berbalik menatap ayahnya dengan heran.
"Kenapa? Kau pikir aku tidak tau kau sedang merintis cafe kecil?" tanya Ayah Alvin sambil terkekeh sinis pada putranya.
"C'mone, Son. Kau tidak akan bisa mengelabui Daddy mu ini," sambung ayah Alvin sambil bersandar santai pada sofanya, dan sedikit memperbaiki letak dasinya.
"Ck! Dad, apa pentingnya sih perjodohan itu?" tanya Alvin merasa frustasi.
Ayah Alvin menatap putranya tegas, tapi masih ada kelembutan sedikit tersirat di matanya. Ia mendekati putranya yang kini masih berdiri.
"Aku sudah berjanji bersama sahabatku, Alvin. Sedari kau kecil, akulah yang pertama kali menjodohkan mu pada putrinya dan dia menyetujui itu. Dan sekarang sahabatku itu sudah meninggal," ucapĀ ayah Alvin yang tergambar kesedihan di matanya.
"Aku melakukan ini bukannya tidak memikirkan masa depanmu, justru aku memikirkan mu setiap harinya. Aku tidak ingin kau mendapatkan wanita yang salah, Nak." Sambung ayah Alvin sambil mengusap pelan kepala putranya itu.
Alvin memundurkan kepalanya lalu menatap kesal ke arah ayahnya. Ayah Alvin yang melihat putranya begitu hanya tersenyum lucu.
"Lalu apa Daddy pikir wanita itu baik untukku?" tanya Alvin dengan kesal.
"Daddy yakin, dia baik untukmu Al." Ayah Alvin menjawab dengan yakin dan menatap tepat kearah mata anaknya yang berwarna abu-abu persis seperti dirinya.
"Lalu kenapa harus sekarang Dad? Kenapa tidak nanti saja? Lagipula umurku juga masih 21 tahun," tanya Alvin menatap ayahnya datar.
"Agar kau memiliki teman dalam memimpin perusahaan ini," ucap ayahnya.
Alvin mengernyit heran. Teman? Untuk apa dia menikah jika hanya khawatir masalah teman? Dia heran dengan pola pemikiran ayahnya, jika dibilang ayahnya orang tua kuno dia juga menyangkal itu.
Ayahnya merupakan pria berpendidikan tinggi serta pemikiran ayahnya hampir sama dengannya. Bisa dibilang dia juga kagum dengan cara berpikir ayahnya selama ini, terbukti dengan perusahaan ayahnya yang memilki pengaruh besar bahkan internasional.
"Karena aku berencana ingin membuatmu CEO di perusahaan itu sepenuhnya seperti keinginanmu selama ini. Jika kau menolak lagi, jangan harap kau akan menjadi pemimpin perusahaan itu," ucap ayahnya santai, lalu berjalan melewati anaknya begitu saja.
__ADS_1
Alvin mengepalkan tangannya kuat. Ia benci jika dikekang dan ditekan seperti ini.
"Keputusanmu hanya sampai pukul satu siang nanti. Pikirkanlah baik-baik." Setelah itu ayah Alvin keluar dari ruangan itu.
Alvin berdiri termangu di tempatnya dengan tangan terkepal kuat.
Ia benci ini.
Tapi dia juga tak bisa membayangkan seandainya saja perusahaan itu tidak jatuh ke tangannya.
S*al!
"Baiklah, Dad. Akan ku terima tantanganmu ini. Tapi jangan salahkan aku jika calon menantumu itu menderita nantinya," ucap Alvin dengan senyum smirknya, sehingga menampakkan sedikit gigi taringnya.
...****************...
"Vina ngak bisa, Bu." Tolak Ravina mendengar penuturan ibunya, tapi tetap dengan nada yang normal.
Tidak mungkin dia membentak ibunya, bisa-bisa ia dikutuk menjadi istri Bekhyun nanti.
Padahalkan dia ingin menjadi istri dari Kyung-soo.
Tapi, ngak papa juga sih.
Berbanding terbalik dengan ekspresi Zein yang saat ini tengah memandangnya, sambil menahan diri agar tidak tertawa. Saat dia mendapati kakaknya menatap dia dengan tatapan membunuh, ia kemudian mengalihkan pandangannya tapi dengan bibir yang masih ia kulum menahan tawanya.
"Tapi kan Bu, ngak mungkin juga Vina nikah. Lagipula Vina juga belum tamat kuliah, masa iya Vina berhentiin kuliah Vina hanya karena perjodohan ini," ucap Ravina sambil menundukkan kepalanya.
Ibu Ravina yang melihat kerisauan putrinya itu, mengusap pelan rambut putrinya yang berwarna hitam pekat yang saat ini sedang diikat asal oleh Ravina.
Ia dengan lembut mengusap rambut putrinya, lalu membingkai wajah Ravina dengan kedua telapak tangannya. Dengan pelan, ibunya mendongakkan kepala Ravina yang tertunduk tadi dan melihat sudah ada genangan di mata putrinya.
Ia mengecup lama dahi putrinya, lalu memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang. Sedangkan Ravina menyandarkan kepalanya pada dada ibunya.
"Vina itu anak solehah nya ayah sama ibu. Kalau ayah masih ada, dia juga bakal sedih liat putrinya sedih kayak gini. Tapi sayang, yang namanya wasiat itu wajib kita laksanakan," ucap ibunya menenangkan.
Ravina menghela napas sedikit, lalu memikirkan apa yang diucapkan ibunya. Tapi, apa harus dengan menikah? Lagi pula, umurnya baru menginjak 20 tahun Cuy!
Bahkan dia masih ingat temannya yang merayakan ultahnya sebulan lalu. Belum lagi impiannya tercapai, eh udah nikah aja.
Kan ngak funny!
Ia lalu menarik napas dalam-dalam lagi, lalu memejamkan matanya menentukan keputusannya. Baiklah ....
__ADS_1
"Okey, Bu. Vina mau," ucap Ravina setelah berpikir ribuan kali.
Tapi ngak sampai ribuan juga sih, emang dia aja yang rada lebay.
Ibunya melepaskan pelukannya pada putri semata wayangnya itu, lalu tersenyum lebar. Tidak dapat dipungkiri, dia juga merasa sedih melihat putrinya akan segera menikah. Tapi ia menutupi itu dari kedua anaknya, dan berusaha untuk terlihat tegar.
"Alhamdulillah, kalau gitu ibu kasi tau langsung sama sahabat ayahmu dulu. Mungkin malam nanti mereka bakalan datang, jadi kamu siap-siap juga ya," Setelah mengatakan itu, ibu Ravina pergi meninggalkan mereka begitu saja di ruang tamu, lalu memilih masuk ke kamar.
Ravina melongo melihat kepergian ibunya setelah mendengar ucapannya tadi.
Sementara Zein, tawanya sudah meledak sejak ibunya sudah memasuki kamar. Bahkan saat ini wajahnya sudah memerah.
Kakaknya akan menikah? Ia merasa lucu mengingat kakaknya yang disuruh ibunya pulang, hanya karena ingin menikahkan kakaknya.
Ravina mendelik melihat adiknya, yang kini sedang memegang perut dan mengontrol tawanya agar mereda.
"Kasian banget lu, Kak. Baru juga ulang tahun udah jadi bini orang," ucap Zein sambil melihat kakaknya yang tengah memandangnya tajam.
Ravina yang kesal, bangkit dari duduknya lalu secara tidak terduga ia menjambak rambut adiknya dengan kuat.
"Aa!! Apa-apaan sih Kak?! Aduh-aduh, entar botak kepala gue!" Jerit Zein.
Setelah merasa puas Ravina lalu melepas jambakan adiknya. Ia tersenyum puas melihat beberapa helai rambut adiknya yang ada di tangannya. Lalu ia menghembuskan rambut yang ada di tangannya pada wajah Zein, yang masih mengaduh kesakitan dan memegang kepalanya.
Zein melotot melihat helaian rambutnya yang sudah jatuh di lantai. Ia berjongkok melihat prihatin pada rambutnya.
"Makanya rambut itu ngak usah di model-modelin kayak artis korea. Kamu itu masih SMA, ngak cocok buat gaya rambut kayak gitu," ucap Ravina sambil bersedekap tangan di depan dada melihat adiknya dengan senyum penuh kemenangan.
"Biarin, dari pada kakak yang suka lihat artis korea sambil joget ngak jelas!" Sungut Zein lalu mengacak rambut kakaknya hingga ikat rambut Ravina terbuka.
Setelah itu Zein buru-buru lari dari rumah setelah mengamankan handphonenya di dalam kantong celananya.
" ZEIN!" Jerit Ravina hingga suaranya bahkan hampir terdengar keluar.
"Untung udah sempat keluar gue," ucap Zein sambil mengusap dadanya.
"Salah siapa ngejambak rambut ganteng gue, mana sampai rontok lagi. Gue sumpahin dapat laki botak lu kak," Gerutu Zein sambil berjalan ingin mendatangi rumah temannya sambil masih mengelus kepalanya yang sakit.
Bersambung ...
Bantu like dan komennya ya bestiee
Kamsamidaaa
__ADS_1
See You