The Cold Wedding

The Cold Wedding
02. Menguatkan


__ADS_3

"Vin, kantin yok! Udah laper banget ini." rengek Salwa pada Ravina sambil mengelus perutnya.


Ravina yang melihat itu, hanya memutar matanya jengah. Setiap habis mata kuliah, pasti Salwa akan merengek begini.


"Kenapa kamu, Wa?" tanya Nia yang mengenakan jilbab berwarna green tea, baju kemeja putih, serta rok yang senada dengan hijabnya.


"Kantin yok, Ni. Udah laper banget ini aku." Keluh Salwa sambil memasang wajah yang disedih-sedihkan.


Ravina yang tidak tega melihat itu, akhirnya luluh juga dan menyetujui permintaan temannya itu. Salwa bersorak gembira, begitu juga dengan Nia.


Saat mereka bertiga ingin keluar, lagi-lagi langkah mereka terhenti saat suara seorang wanita yang menghentikan mereka. Mereka lalu berbalik, melihat teman mereka yang bernama Wardah.


"Ooo, jadi gitu ya. Mau ke kantin ngak ngajak-ngajak," ucap Wardah sambil menatap memicing ke arah tiga temannya itu.


Sementara Salwa melihat penampilan Wardah dengan kaget. Ia mengenakan pashmina  berwarna abu muda, serta gamis hitam polos.


Bukan Salwa saja yang kaget, Ravina dan Nia juga sama kagetnya. Masalahnya diantara mereka ber-empat, gaya Wardah yang paling tomboy di antara mereka.


"Masyaallah Ukhti, ada apa gerangan anda memakai baju ini?" ucap Salwa heboh.


Wardah yang mendengar itu memutar malas matanya. Ia lalu mengangkat gamisnya dan berjalan mendekati mereka bertiga.


"Baju gua kebanyakan kotor, males nyuci kalau makek baju yang beda-beda. Mendingan pakek gamis, sekali cuci aja entar," jawab Wardah santai.


"Ck! Alasan yang sungguh dapat diterima ya bestie," timpal Nia sambil memandang tidak habis pikir pada Wardah.


Wardah hanya mengangkat bahunya acuh. Lalu mereka berempat berjalan bersama-sama menuju kantin fakultas mereka. Sesekali mereka tertawa karena candaan prik yang mereka lakukan.


Mereka mengambil tempat duduk yang ada paling pojok. Setelah itu, mereka memesan makanan mereka. Tidak perlu yang mahal, karena mereka harus berhemat untuk menyambut tanggal tua.


"Guys, menurut kalian kalau gua nikah gimana?" tanya Wardah tiba-tiba yang hampir membuat makanan yang ada di mulut Ravina keluar.


Nikah?


Si tomboy bahas nikah?


"Kamu beneran mau nikah, War?" tanya Ravina dengan tidak santainya, yang membuat Salwa menggetok jidatnya pelan.


Ravina mendelik kesal melihat Salwa. Namun sesekali ia mengusap jidatnya bekas pukulan kecil yang dilakukan oleh Salwa.


"Santai dikit bisakan nanyanya? Ini orang lain juga bisa dengar kalau gitu caranya," ucap Salwa sambil menatap Ravina dengan tatapan memicing.


Ravina yang mendengar itu mendengus kesal. Tapi ia tetap meminta maaf pada teman-temannya terutama Wardah. Wardah hanya tersenyum maklum melihat kelakuan temannya.

__ADS_1


"Tapi beneran kamu mau nikah, War?" Nia kembali bertanya tapi dengan suara yang kecil, yang hanya mereka berempat bisa mendengar.


Mendengar itu, Wardah hanya mengangguk sekali yang membuat keempat temannya kaget. Bagaimana tidak, Wardah tidak pernah didapati dekat dengan pria dalam artian memiliki hubungan.


Salwa menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Lalu dia menggeleng-gelengkan kepalanya sembari bertepuk tangan.


"Kok bisa sih kamu mau nikah? Ngak nyangka aku ada juga cowok yang mau sama kamu, War," ucap Nia dengan ekspresi kagetnya.


"Yee, si bestie mulutnya kurang rem banget." Cibir Ravina, Nia pun langsung terkekeh kecil lau mengangkat kedua jarinya.


"Ini bukan kemauan gue, ini kemauannya nyokap gue," jawab Wardah lesu, sambil menunduk menatap ke arah makannya.


Mereka yang melihat Wardah begitu, menjadi tidak tega. Biasanya Wardah akan bersikap bar-bar bersama mereka, namun sekarang dia tampak murung.


Ravina yang melihat itu, mengelus lembut lengan Wardah lalu tersenyum manis. Begitu juga dengan Nia, ia mengelus bahu Wardah berusaha memberikan ketenangan. Sedangkan Salwa tersenyum teduh menatap Wardah.


Wardah yang mendapat perlakuan begitu dari temannya merasa terharu.  Ia mengangkat kepalanya dan menatap temannya satu-satu seakan mereka tidak akan berjumpa lagi.


"Udah, War. Ikuti aja apa yang dibilang ibu kamu. Insyaallah, pilihan orang tua ngak akan pernah salah. Lagian juga nyenengin hati orang tua, itu pahalanya besar, War," kata Salwa memberikan nasihat.


"Tumben bijak bang," ucap Ravina sambil menatap Salwa dengan tatapan kagum.


Sementara Salwa menatap Ravina dengan tatapan kesal. Sementara Wardah dan Nia tertawa melihat kelakuan temannya.


Dilain tempat, terlihat  sepasang kekasih yang sedang berdebat. Sang wanita saat ini tengah marah besar, bahkan terlihat dari wajahnya yang memerah.


"Kamu kok ngak pernah ngertiin aku Al! Kamu ngak bisa gitu luangin waktu kamu untuk aku?! Aku ini pacar kamu, Al!" Amuk Raisya dengan wajah yang sudah memerah, bahkan nafasnya kini memburu.


Alvin yang melihat itu berdecak kesal. Inilah sifat yang tidak dia sukai dari Raisya. Alvin tidak suka diatur-atur, bahkan keluarganya sekalipun.


Dia memandang Raisya datar, lalu menghela nafasnya lelah. Ia memijit pangkal hidungnya untuk meredakan pusing dadakan yang diterimanya.


"Kamu cinta ngak sih Al sama aku? Kenapa makin lama kamu makin berubah, Al? Hiks...," Raisya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


M q hebat. Alvin yang melihat itu merasa bersalah. Ia kemudian maju, dan merengkuh tubuh Raisya ke dalam pelukannya.


Raisya yang dipeluk ingin melepaskan diri. Namun tidak bisa, karena Alvin menahan tubuhnya. Ia kemudian balas memeluk Alvin erat dan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Alvin, sambil tersenyum.


Alvin mengelus lembut rambut Raisya yang berwarna honey brown. Ia kemudian baru sadar, pacarnya itu mengganti lagi warna cat rambutnya.


Ia melepaskan pelukannya, lalu menghapus jejak air mata kekasihnya itu. Walaupun masih dengan wajah datarnya.


"Udah ngak usah nangis. Nanti malam aku jemput kamu, kita nonton," kata Alvin dengan nada yang tidak ada manis-manisnya.

__ADS_1


"Beneran ya? Janji!" ucap Raisya sambil menjulurkan jari kelingkingnya kehadapan Alvin.


Alvin menghela napas melihat itu. Namun ia tetap membalas kelingking Raisya sambil menganggukkan kepalanya.


Raisya tersenyum lebar melihat itu, ia kemudian sedikit berjinjit dan dengan kecepatan kilat mengecup pipi kiri Alvin. Alvin yang mendapat kecupan itu mendadak itu tidak kaget lagi, karena Raisya memang sering melakukannya.


Ia kemudian membuka jaketnya, dan memakaikannya kepada Raisya hingga tubuh Raisya seperti ditelan oleh jaket itu. Raisya yang ingin protes kembali diam, saat melihat tatapan tajam Alvin padanya.


"Lain kali, kalau pake baju itu yang bener. Ngapain pake baju kalau perut kamu masih kelihatan kayak gitu. Rok kamu juga harus dipanjangin lagi, kalau bisa jangan makek rok, pake celana aja entar," ucap Alvin sambil menatap dingin pada Raisya.


Memang baju yang dikenakan oleh Raisya, merupakan baju kroptop yang menampakkan perut putihnya. Lalu ia mengenakan rok berwarna putih yang berada di atas lututnya.


"Iya-iya," jawab Raisya dengan malas.


Setelah itu Alvin mengecup dahi Raisya, lalu meninggalkannya saja di roof top yang sunyi itu. Tidak ada salam perpisahan, bahkan dia meninggalkan Raisya begitu saja tanpa mengajak wanita itu untuk turun.


Melihat Alvin tidak ada lagi, Raisya buru-buru melepaskan jaket yang dikenakannya. Terkadang dia merasa lelah berpacaran dengan Alvin. Apalagi mengingat sikap pria itu kepadanya.


Tapi karena wajah pria itu yang tampan serta harta dan kedudukan pria itu di kampus ini, membuat dia bertahan hingga saat ini. Perlu diketahui mereka sudah berpacaran selama tiga tahun, dan selama itu jugalah dia memanfaatkan harta serta kepopuleran dari pria itu dengan baik.


Raisya bukan dari kalangan orang kaya, bahkan dia merupakan yatim piatu yang sempat tinggal di panti asuhan. Berpacaran dengan Alvin terbukti sangat menguntungkan baginya. Bahkan, apartemen sekarang yang dia tempati itu semua merupakan pemberian dari Alvin.


"Untung aja lo kaya, kalau enggak gue mah juga ogah pacaran dengan lo," ucap Raisya dengan penekanan disetiap katanya.


Ia lalu mendengus keras, lalu menelpon seseorang melalui hp yang baru dibelinya menggunakan uang dari Alvin.


"Halo sayang" sapa Raisya dengan manja kepada pria yang ia telepon.


"Iya, kenapa sayang?" balas pria di seberang telepon dengan lembut.


"Yang, hari ini kita ke mall yuk. Aku mau shopping," ajak Raisya dengan nada manja.


"Okey, sayang. Perlu aku jemput langsung ke kampus?" tanya Pria itu.


"Mm ..., kayaknya jangan di kampus deh, yang. Soalnya Alvin masih ada di kampus sampai sore, gimana kalau kamu jemput aku di apartemen aja?" Tawar Raisya.


"Huh .... Oke kalau gitu, nanti aku jemput kamu di apartemen," ucap pria itu sambil menghela napasnya.


"Makasih banyak sayang, aku tutup dulu ya, yang." Setelah mengucapkan itu, Raisya langsung menutup teleponnya.


Ia tersenyum cerah sesudah bertelepon dengan pria yang menjadi selingkuhannya itu. Bahkan dia sudah berpacaran dengan pria itu selama satu tahun di belakang Alvin tanpa ketahuan.


Raisya bosan dengan sikap Alvin yang tak tersentuh, tapi dia juga tidak bisa putus dari pria itu. Ia tidak ingin kesenangannya dengan harta Alvin terhenti. Setidaknya, ia masih bisa mendapatkan kasih sayang dari pria lain di belakang Alvin.

__ADS_1


Dan yang terpenting selingkuhannya juga tidak mempermasalahkan statusnya yang masih menjadi pacar Alvin. Bahkan pria selingkuhannya juga pria yang kaya, tapi kekayaannya masih jauh dibandingkan Alvin.


__ADS_2