
Awan sore terlihat berwarna kelabu. Suara petir mulai menyambar. Fei memandang langit dengan tatapan sedih dan seperti merindukan sesuatu. Dia bersandar di jendela ruang tamu apartemennya yang berukuran lumayan besar. Tangan kanannya memegang sebuah pisau kecil. Ia menggenggam erat pisau kecil tersebut hingga terlihat sebuah darah menetes dari telapak tangannya.
Mama, aku sudah siap...siap..untuk menyusul mama ke alam sana...tempat yang sangat indah...apa di sana indah mama? Apa papa juga ada disana? ....
Suara rintik hujan mulai terdengar. Sudah mulai gerimis. Dengan keyakinan yang pasti, Fei mulai menyayat pergelangan tangannya dengan pisau kecil yang ia genggam di tangan kanannya. Telapak tangan kanannya, meskipun kelihatannya tidak terlihat terluka, tapi siapa saja bisa mengetahui bahwa dari telapak tangan kanannya, menetes darah berwarna merah cair. Fei menyayat tangannya dengan lemah karena ia sudah tak punya tenaga lagi untuk menahan rasa sakit. Bukan rasa sakit akan luka sayatan-nya, tapi rasa sakit akibat penderitanya selama di dunia ini.
Setelah aku menderita dengan cukup lama, akhirnya aku bisa bebas.....bebas dari semua masalah yang ada di dunia yang sungguh kejam ini...
Kata kata itu terus terulang di dalam fikiran Fei. Sambil terus menyayat tangannya, air mata Fei mulai membasahi pipi berwarna merah muda alami tersebut. Mulai terjatuh-lah air mata tersebut ke atas rok sekolah yang dipakainya dari siang sehabis pulang sekolah tadi, ia belum berganti pakaian sedari siang tadi. Selain itu, darahnya yang terus terusan mengalir tersebut pun sudah terjatuh dari tadi di lantai ruang tamunya di dalam apartemennya.
__ADS_1
Kesadaran Fei mulai berkurang sedikit demi sedikit. Penglihatannya mulai kabur. Ia merasa tubuhnya seperti kertas yang mudah tertiup angin. Sangat ringan, sangat lemah. Darah yang ada di tangannya terus membanjiri lantai ruangan tersebut hingga akhirnya mencapai kaki Fei. Ia sudah tidak menyayat tangannya lagi karena ia pikir sudah cukup dalam. Pisau kecilnya langsung ia lempar dengan sedikit tenaganya ke tengah ruangan.
BRUK.....!
Tubuhnya langsung ambruk ke arah samping. Masih tetap membelakangi jendela ruang tamunya. Meskipun begitu, Fei masih bisa melihat walaupun buram. Nafasnya tak beraturan. Air matanya terus mengalir seperti darah pada tangannya.
Satu kata terakhir itu terucap dari bibirnya. Dengan suara yang lirih dan nada penuh rasa bersalah. Entah kenapa, rasanya ia sudah menjadi orang bodoh. Tapi, dia memang bodoh. Karena menyadari bahwa dia belum melakukan satu hal terakhirnya. Sudah terlambat. Sudah tidak ada lagi harapan. Tidak ada lagi orang di dunia ini yang peduli padanya. Mungkin ada satu orang yang peduli padanya. Namun sayang, orang tersebut sedang pergi ke Inggris untuk mencari ilmu lebih dalam lagi. Satu satunya orang yang dia percaya, satu satunya orang yang dia cintai juga. Sekarang ia malah tidak tahu, kapan dia akan pulang.
Ting-Tong
__ADS_1
Suara bel apartemennya dari pintu depan membuat Fei yang sudah hampir pingsan kembali tersadar sejenak.
Aneh...siapa..ya..ng...mengun....jungiku....ya?
Suara tersebut terus berulang berkali kali hingga akhirnya berhenti. Pada saat itu, Fei mengira ada seorang anak kecil yang salah menekan bel kamar. Ternyata tebakan-nya salah. Sekarang ia mendengar jika pintu apartemennya di buka dari luar. Lalu, dia mendengar langkah kaki yang agak berat, namun cepat.
1..ora..ng?tidak...seper..tinya....le..bih...
Sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit, akhirnya Fei pun pingsan karena banyaknya darah yang keluar. Sebelum ia pingsan, ia mendengar suara yang familiar. Suara yang paling dirindukan-nya selama ini. Tapi sayang, kesadaran Fei sudah memudar seluruhnya.
__ADS_1