
Seusai percakapan panjang lebar antara Fei, Khey, dr. Xi dan Sharon, dr. Xi pun kembali berugas bersama dengan Sharon. Sepertinya ada panggilan dari beberapa pasien lain untuk segera diobati. Setelah dr. Xi dan Sharon pamit, Fei segera mengambil kristal hitam yang tadi sempat ia letakan di meja depan ranjang. Sekali lagi, Fei memandangi kristal hitam tersebut dengan seksama.
"Apa yang sedang kau lakukan, Fei?"
"Aku hanya penasaran. Sharon, mengapa dia bisa menjadi manusia? Padahal dia kan wujud sebenarnya dari kristal itu. Apa kau tahu sesuatu Khey?"
"Mungkin itu karena ada jiwa yang terkurung dalam kristal itu? Mungkin"
"Tapi, ini kan bukan zamannya yang seperti itu. Oh ya, tadi kristal yang di pegang dr. Xi itu warna kuning kan?"
"Ya, itu kuning cerah"
"Kalau begitu, apa ayah juga membuat kristal lain? Kan aku di kasih ayah yang berwarna hitam, lalu dr. Xi mempunyai warna kuning. Apa maaih ada kristal lain?"
"Ada, aku yakin masih ada"
"Waah... aku jadi sangat penasaran"
Fei kembali duduk di ranjang Khey. Tapi, kali ini dia duduk di bagian yang dekat dengan kaki. Memandang ke arah gedung yang terlihat dengan tatapan kosong.
"Fei, ada apa?"
Fei pun langsung tersadar dari diamnya. Ia
langsung menoleh terhadap Khey dengan senyuman tipis.
"Hei, mengapa kamu bengong terus?"
"Aku tiba tiba teringat dengan hal yang sebelumnya terjadi. Tentang 2 orang sniper itu"
Mendengar kata kta Fei dengan nada yang sedih dan raut muka yang tersenyum samar, Khey langsung beranjak dari tempat tidur dan duduk di samping Fei.
Menggenggam tangan Fei yang begitu dingin. Mendengar birama jantungnya yang berdegup kencang. Melihat apa yang di lihat Fei. Semua yang dirasakan gadis itu, membuat hati Khey nyeri. Rasa sakitnya bahkan bisa mengalahkan rasa sakit tertembak. Demi senyuman Fei, Khey akan melakukan segalanya. Demi seulas senyuman tanpa paksaan dan dengan hati yang tulus, Khey rela mengorbankan dirinya.
Keheningan terjadi. Tidak ada tanda tanda yang akan memulai pembicaraan. Situasi dan keadaan masih tetap sama, Khey masih menggenggam erat tangan Fei.
Cklek
Pintu kamar di buka dengan perlahan. Kemudian, muncul kepala Sharon dari luar untuk mengintip sebentar.
"Ini sudah larut, bagaimana dengan kalian? Apakah kalian akan tidur sekamar untuk malam ini? Hihi...."
"Eeeh, sekarang jam berapa?"
"Sekarang sudah jam 23.30. Sebaiknya, kalian berdua beristirahat. Nng, nona Fei sebaiknya anda ikut saya pindah ke kamar VVIP yang lain"
"Tidak usah VVIP! Aku mau yang biasa saja"
__ADS_1
"Ini sudah di pesan oleh dr. Xi tadi"
"Oh? Benarkah? Baiklah kalau begitu. Selamat malam, Khey"
"Selamat malam untukmu juga, Fei"
Setelah itu, Fei diantar Sharon ke ruangan baru untuk pemeriksaan mendetail. Memang sekarang Fei sudah tidak membutuhkan jarum infus lagi, tapi sebagai gantinya, ia akan lebih sering di periksa. Untuk 2 orang ini, dr. Xi-lah yang mengambil komando. Ia yang akan memeriksa, meneliti dan lain halnya. Meskipun dalam ruangan yang indah dan besar, baik Fei maupun Khey tidak terlihat menyukainya.
Kemudian, dr. Xi juga Sahron bertemu di ruangan pribadi milik dr. Xi untuk membicarakan jawaban dari pertanyaan yang telah di pikirkan oleh dr. Xi.
"Sharon, bagaimana jawaban dari kedua orang itu saat ditanyakan tentang kejadian malam itu?"
"Sesuai analisa anda dr. Xi. Jawaban mereka sama persis"
"Tidak ada perbedaan?"
"Sama sekali tidak, dr. Xi"
"Kalau begitu, apa ini ada hubungannya dengan salah aatu dari ke-11 kristal itu?"
"Kemungkinan ada memang besar. Karena saya ingat, salah satu adik saya mempunyai kekuatan untuk menidurkan orang"
"Mungkin kita pada saat itu di tidurkan oleh salah satu dari adikmu itu dan tidak menyadari akan adanya sniper dan kerusuhan tembak menembak itu"
"Saya setuju dengan anda dr. Xi"
"Nng, soal nama kalau tidak salah ran. Dia mengendalikan kristal oranye"
"Bagus, terima kasih Sharon"
"Dengan senang hati melayani anda dr. Xi~"
"Oh ya, informasi apa lagi yang kau punya tentang saudaramu itu? Untuk sekarang aky sangat membutuhkan informasi itu"
"Entahlah. Daya ingatku tidak sebaik kak Ark. Mungkin sekarang ia sedang tertidur di dalam kristal hitam itu"
"Jadi, kita harus berusaha mengeluarkan Ark?"
"Ya, tapi kak Ark itu sangat kuat. Aku sih kurang yakin dr. Xi bisa melakukannya"
"Bukan aku kok, tapi Fei sendiri yang akan mengeluarkannya"
"Hah?"
"Kamu ikuti saja alurnya. Ayo, sebaiknya kita pertemukan mereka berdua. Sepertinya hubungan mereka sangat erat sampai terus merindukan satu sama lain"
"Baik, dr. Xi"
__ADS_1
Setelah itupun, Fei di ajak oleh dr. Xi menuju taman, sementara Sharon mengajak Khey ke taman juga. Mereka berdua dibawa ke sebuah taman yang dipenuhi banyak bunga indah. Khususnya, bunga mawar.
Setelah bertemu dengan satu sama lain, merka duduk di bangku taman tapi terpisah.
Bagaikan mengenang masa lalu, Fei ataupun Khey tidak berbicara sama sekali. Tidak ada suara sedikitpun. Hening, namun bukan keheningan yang canggung. Melainkan keheningan damai yang bercampur antara perasaan dan keindahan taman bunga mawar tersebut serta angin yang mulai bertiup dari arah barat.
"Kangen..."
Tiba tiba Fei mengucapkan kata dengan nada yang sangat lirih. Namun masih dapat di dengar oleh Khey. Kemudian Khey berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Fei. Lalu, ia mengulurkan tangannya ke arah Fei dengan lembut.
"Maukah kau mengulang masa lalu bersamaku? Khey Brandent sahabat masa kecilmu ini?"
"Ya"
Jawaban singkat dari Fei yang kemudian dilanjutkan dengan Fei yang menerima uluran tangan dari Khey. Fei membiarkan tangannya di tarik Khey menuju ke padang bunga mawar tersebut. Karena sesuai ucapan Khey sebelumnya, ia akan membawa Fei ke masa lalu.
Khey berjalan pelan menggengam erat tangan Fei menelusuri setapak jalan di tengah padang mawar tersebut. Sesaat kemudian, Fei langsung berlari sambil memandu Khey. Kini, posisi mereka bertukar. Fei-lah yang akan membawa mereka kembali ke masa lalu.
Fei mulai tersenyum dan tertawa pelan dengan senyum manisnya. Ia menggandeng tangan Khey dan terus berlari kecil menyusuri ladang mawar kecil tersebut. Meskipun tidak ingin mengakuinya, Khey sudah sangat bahagia. Bisa menari bersama dengan Fei di taman bunga mawar bagaikan masa kecil mereka, melihat matahari yang tersenyum cerah di akhir tragedi, serta melihat senyum dan tawa Fei saat itu juga.
Pada akhirnya juga, mereka tertawa riang melupakan masa lalu. Berdua menari bersama dengan alunan nada dan irama langkah kaki mereka masing masing.
Angin musim semi yang bertiup benar benar menyejukkan jiwa dan pikiran.
Sementara itu...
"dr. Xi, sepertinya kita berhasil! Aku senang mereka kembali berdua"
"Aku juga sangat senang bisa melihat mereka bahagia"
"Iya, hihi~ Mereka sangat romantis. Benar kan, Mrs. Brandent?"
"Uhuk! Sepertinya, kau menyelidiki asal usulku ya?"
"Ya, tentu. Aku tidak menemukan nama Xi Laurent di dokumen mana pun di setiap kasus. Aku juga tidak menemukan namamu di file dokter khusus. Sampai akhirnya ada dokumen lama dengan nama Ellie Brandet, dokter wanita yang terkenal karena kemampuannya"
"Hoo, hebat juga kau. Padahal sudah susah payah aku sembunyikan"
"Terima kasih atas pujianmu, dokter. Tapi, mengapa kau sampai harus pura pura mati dan mengubah identitas?"
"Aku punya alasan kuat yang tidak bisa aku ceritakan untuk hal itu. Oh ya, ngomong ngomong sekarang apa yang akan kamu lakukan? Memberitahu Khey? Memaksaku menceritakan alasan? Atau tetap bungkam?"
"Demi kebaikan kedua orang tersebut, aku akan bungkam untuk sementara waktu"
"Terima kasih ya, Sharon"
"Aku bukan melakukannya untukmu"
__ADS_1
"Fuh... dasar"