The Curse Of Kirana'S Family

The Curse Of Kirana'S Family
A Painful Secret


__ADS_3

Fei, justru aku yang harus berterima kasih padamu...


Setelah melepas Fei dari pelukan-nya, Khey langsung menidurkan-nya di ranjang rumah sakit yang agak tinggi. Kemudian, ia menyelimuti Fei dengan selimut. Khey melihat ke arah jendela rumah sakit. Melihat ke arah kota yang sunyi karena hujan tersebut, memandang gedung gedung tinggi berjajar dengan rapih. Suasana hatinya akhirnya dapat menjadi lebih baik setelah bertemu dengan Fei. Semua perasaan yang di rasa Fei, dirasakan juga oleh Khey. Semua masalah yang ada di pikirannya seketika terhapus semua. Satu satunya yang ada di pikirannya hanyalah Fei...


Tok Tok Tok


Suara ketukan di pintu menyadarkan Khey dari lamunan-nya. Segera-lah Khey beranjak dari tempat ia berdiri memandang kota yang sunyi tersebut.


Cklek


Khey membuka pintu tersebut dengan perlahan dan hati hati, takut akan membangunkan Fei yang tertidur dengan pulas. Sedetik kemudian, Khey langsung gemetar ketakutan. Ia melihat sesosok pria dengan rambut emas dan bermata merah, berseragam putih layaknya seorang malaikat. Tapi, yang ada di mata Khey adalah seorang dengan hawa seperti dewa kematian.


"Halo, Khey....aku tak menyangka kamu akan pergi dan kabur seperti seorang pengkhianat demi seorang gadis kecil itu"

__ADS_1


"Mengapa kau datang kesini? Jangan coba ganggu aku! Aku sudah melepas semua penelitian mengerikan itu! Cepatlah kau pergi!! "


"Wah, wah.. kasar sekali kau pada tamu ini... Apa setiap tamu yang datang akan di usir seperti ini?


Khu..khu..khu.."


"Bukan urusan-mu!"


"Fei...kamu masih lemah... jangan beranjak dari tempat tidur-mu dulu..."


"Khey, jangan sembunyikan apa pun hal itu dariku... kumohon...."


Setelah mendengar Fei mengatakan hal tersebut, keheningan menyelimuti semuanya. Tidak ada satupun dari mereka yang berbicara. Kemudian, Fei menatap mata Khey dengan mata berkaca kaca. Akhirnya, Khey pun langsung menghembuskan nafas panjang dan melepas pelukan Fei. Ia bergegas menuju ke arah ranjang dan dengan isyarat mata, Fei langsung menyusul Khey.

__ADS_1


"Khey....?"


"Coba lihat mataku... katakan apa yang kau lihat? Seorang malaikat? Kehancuran pada saat yang sama..."


"Khey, apa maksudmu?!?!"


"Aku harap aku bisa kabur dari semua ini, tapi aku tak mau berbohong, berharap bisa melupakan semua... Buat kau bahagia... Tapi, aku hanyalah seorang penjahat... Seorang ilmuwan muda yang menciptakan racun.."


Air mata mulai mengalir. Tapi, kali ini bukan di mata Fei, melainkan di mata Khey. Fei yang sudah mengerti apa yang terjadi, bersikap lebih tegar dari biasanya. Ia menggenggam erat jari jari tangan Khey. Menatap mata Khey dengan lurus dan tersenyum tulus.


"Aku tetap bahagia kok, Khey... Apa yang aku lihat dari mataku, semua berubah semenjak kau pergi... Mungkin memang dulu aku pernah mengatakan padamu bahwa kau adalah malaikat yang selalu menyemangati-ku. Tapi, sekarang aku sadar... Khey bukanlah seorang malaikat... Tapi, seorang yang selalu ada bagiku. Aku gak peduli...kalau Khey menjadi jahat, asalkan....asalkan Khey selalu ada saat aku senang ataupun Khey sedih. Jadi, semua tentang Khey, aku menyayangi-nya...!!"


Ucapan dari Fei membuat Khey mengatakan suatu kata yang sangat indah bagi Fei. Kata yang sangat memalukan bila di ucapkan sekarang. Kata yang harus di ucapkan lelaki pada seorang perempuan kesayangannya....

__ADS_1


__ADS_2