
"Aku ingin mengucapkan suatu hal.... Apakah boleh?"
"Katakan saja, Khey... Aku berjanji akan mendengarkan semua perkataan-mu.."
"Aku mencintaimu, aku selalu berharap...bisa selalu ada bersama kamu, Fei..."
Pipi Fei memerah. Ia merasa seakan dunia berhenti sejenak. Rasanya, ada lebih dari seribu kata untuk mendeskripsikan perasaanya ini. Butuh lebih dari sejuta rasa untuk menggambarkan rasa ini. Fei mulai menjadi salah tingkah dan mengucapkan kata kata yang tidak karuan.
Di sisi lain, Khey merasakan hal yang sama. Ia merasa telah berbuat sesuatu yang benar benar buruk yang membuatnya harus di hukum seumur hidup. Terlalu tiba tiba, tapi yang terus ada di pikirannya, kenapa ia bisa langsung saja mengucapkan kata kata itu tanpa ada pemikiran panjang terlebih dahulu? Padahal selama ini, apa yang dia buat atau apapun yang dia katakan selalu dipikirkannya secara matang terlebih dahulu...
Apa yang harus aku jawaaaab....
Jantung Fei berdebar keras, bahkan sepuluh kali lebih keras dari jantung manusia ukuran normal. Ia merasa semua darahnya naik ke otak dan akan meledak di sana. Dia berusaha bersikap tenang, tapi jantungnya berulah lagi. Ia tidak bisa menatap wajah Khey seperti tadi, ataupun yang sebelumnya. Fei merasa sangat malu, benar benar malu. Hanya memikirkan jawaban apa yang harus ia jawab dari perkataan Khey tadi.
"Maaf, aku mengatakan hal di luar topik kita yang tadi.."
__ADS_1
Ucapan Khey memecahkan keheningan selama beberapa menit tersebut. Sedetik kemudian, Fei langsung menarik kerah kemeja Khey dan menciumnya tepat di pipinya.
"Tidak apa apa, ini jawaban dariku, Khey... Soalnya, aku juga nggak mau kehilangan Khey.. Aku mau melakukan apa aja biar Khey seneng, kok!"
Tanpa sadar, Fei mengucapkan kalimat yang selalu ia rancang dan susun saat ia bertemu Khey nantinya. Tidak disangka, ia akan mengucpakan-nya secepat ini..
Rasanya ingin cepat menghindar dari semua rasa malu ini...! Kuharap ini berjalan lebih cepaat... Kumohon waktu, kalau...Khey menjawab lagi, apa yang harus aku katakan.....!!
Khey tidak menjawab apapun. Ia seperti patung, diam sambil memegang pipi-nya yang baru saja di cium oleh gadis yang di cintainya selama ini. Pipinya berwarna merah padam. Tidak kalah Khey, Fei juga mendapati dirinya mengalami hal yang sama dengan Khey. Muka mereka sama sama merah, se-merah bunga mawar.
"Terima kasih, Fei... Aku menghargai jawaban darimu... Sudah saatnya kau kembali beristirahat. Sebaiknya kau segera tidur kembali. Aku pastikan semua akan menjadi cerah besok. karena ada aku yang akan membuat hari esok menjadi hari yang tidak akan pernah kamu lupakan lagi, meskipun aku sudah tiada lagi.."
"Apa maksudmu 'kenangan yang selalu di ingat meskipun kau mati'?"
"Besok akan kujelaskan, makanya besok kau harus kuat!"
__ADS_1
"Uuuh.... kebiasaan!"
Bibir Fei maju 2 cm dari biasanya. Muka cemberut-nya yang menggemaskan itu, adalah salah satu ekspresi yang di sukai Khey. Ia pun tertawa kecil dan langsung mengelus rambut panjang Fei yang berwarna kuning terang tersebut. Hal itu membuat Fei bisa meredam rasa cemberut-nya yang tiba tiba meninggi itu. Rasanya sangat tenang.
"Tapi, sepertinya kita tidak perlu menunggu agar hari esok menjadi hari yang cerah, deh! Coba lihat deh keluar jendela! Hujan mereda, bulan mulai menunjukan kehadirannya"
"Waah... indah juga ya. Kapan aku pernah melihat bulan yang seindah ini ya?"
"Entahlah, tapi aku setuju soal pendapat-mu soal pemandangan yang indah ini"
Untungnya, semua baik baik saja... aku harap, kami bisa terus seperti ini... Selamanya...
Suara hati mereka masing masing seperti saling terhubung satu sama lain. Akhirnya Fei tidak jadi tidur dan terus menatap keindahan bulan purnama yang terang tersebut bersama orang yang sangat di cintai-nya.
Romeo dan Juliet mengakhiri cerita mereka semua dengan sangat cepat dan benar benar berakhir, tapi percayalah aku Fei/Khey tidak akan mengakhiri cerita kami berdua~
__ADS_1