
Lho? Dimana ini...?
Fei terbangun dari alam bawah sadarnya. Dia melihat sekelilingnya dengan pandangan yang masih agak buram dan menyadari bahwa ia sedang berada di rumah sakit.
Sudah berapa lama aku terbaring disini?
Semua badan Fei terasa sakit saat ia menggerakan-nya. Sepertinya orang yang menolongnya adalah orang yang masuk ke rumahnya. Tangan kiri Fei sudah di jahit dan di perban dengan baik. Sedangkan pada tangan kanannya, langsung di perban dengan perban khusus. Tangannya di infus karena ia banyak kehabisan darah. Telah ada seseorang yang mendonorkan darahnya.
"Fei! Akhirnya kau tersadar!!"
Suara seseorang yang memasuki pintu itu terdengar sangat familiar dan penuh dengan kehangatan. Dengan penglihatan yang masih agak buram, Fei tidak terlalu mempedulikannya. Tapi, semakin ia mencoba untuk diam, makin sakit juga hatinya.
__ADS_1
Akhirnya, Fei melihat seorang pria yang tadi mendekatinya. Ia melihat mulut pria itu terus mengucapkan suatu kata. Namun sayang, Fei tidak bisa mendengar dengan jelas.
Entah karena apa, namun tiba tiba saja Fei menangis. Memang sedari tadi sejak pria itu datang, Fei sudah merasakan kehangatan tersendiri. Kehangatan yang sudah hampir ia lupakan seumur hidupnya. Perasaan tenang dan damai serta perasaan rindu yang sangat besar. Semua perasaan itu menyelimuti tubuh Fei dan membuat Fei menangis. Ia menyadarinya. Bahwa hanya ada 2 orang yang bisa membuat ia merasakan perasaan seperti itu, yaitu ibunya dan orang yang selama ini selalu di tunggu-nya, Khey.
Huuh....dia selalu datang tepat pada waktunya... sungguh aku sangat kesal.....kesal sekali aku di tolong olehnya lagi..... kesal tapi aku senang, Khey...
Pada saat itu juga Khey yang menyadari bahwa Fei menangis, langsung mendudukan Fei dan langsung memeluk-nya. Seketika, air mata Fei langsung mengalir lebih deras dari pada yang sebelumnya. Perasaan bahagia dan berbagai perasaan lain yang menyelimuti-nya berkecamuk pada saat itu juga. Semua perasaan itu bercampur aduk dalam hatinya yang sangat lembut itu.
"Aku kembali, Fei.....aku kembali..."
Suara Fei sangat lirih namun Khey masih dapat mendengarnya. Ia mengatakan itu di sela sela isak tangisnya. Fei, yang sedari tadi menangis di pelukan Khey, langsung memeluk Khey dengan sangat erat. Air matanya kembali tumpah. Tak tahan dengan kehangatan yang diberikan oleh Khey. Fei bahkan sudah hampir lupa. Kapan terakhir kali dia merasakan kehangatan itu? Kapan terakhir kali ia merasa senyaman itu?
__ADS_1
"Maafkan aku, Fei.... aku tak akan pernah tahu... ternyata kamu sangat menderita..."
Sesaat Fei merasa sosok yang selalu menjadi malaikat penyemangat-Fei tiba tiba saja menjadi penuh rasa bersalah karena telah membiarkannya menderita. Fei belum pernah melihat Khey yang seperti ini. Padahal mereka sudah kenal dan bersahabat dari kecil. Khey adalah sosok yang periang dan selalu bersemangat serta pintar dalam semua hal. Semua kesedihan Fei selalu dapat ditaklukkan oleh senyuman Khey. Senyuman hangat seperti sebuah matahari pagi yang bersinar cerah. Akhirnya Fei paham akan penderitaan Khey. Ia selalu berusaha untuk tersenyum apapun yang terjadi. Semua terlimpahkan pada wajahnya yang sangat mudah dibaca untuk sekarang ini.
"Tidak perlu meminta maaf, Khey.... aku tidak apa apa.... I'm ok, Khey"
"Semenjak aku pergi, kau pasti sangat kesepian... aku dapat mengetahuinya begitu melihat apartemen-mu yang dikelilingi oleh hawa dingin dan kesunyian. Kau sangat depresi sehingga ingin bunuh diri, benar kan?"
"Semua itu..."
"Maafkan aku yang tidak bisa menjaga Fei dengan baik. Padahal orang tua-mu sudah menitipkan dirimu padaku dan orang tua-ku"
__ADS_1
"Terima kasih untuk semuanya, Khey...."
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Fei pun langsung tertidur. Tertidur di pelukan Khey....