The Curse Of Kirana'S Family

The Curse Of Kirana'S Family
A Truth and a Murderer in the Dark Pt. 2


__ADS_3

Setelah Fei melemparkan pistol X7, tembak menembak pun tak dapat dihindarkan lagi. Perasaan Fei bercampur aduk. Antara tidak tahu apa yang harus diperbuat, serta perasaan takut yang mulai menyelimuti. Meskipun ia sudah ingin berniat menjadi orang yang kuat, tapi tetap saja hatinya tetap lemah. Ia hanya bisa berlindung dibalik punggung Khey, di sisi yang tidak bisa terlihat oleh Vyn maupun Xyn, di sudut mati dari punggung Khey.


Menyadari Fei yang sedari tadi gemetaran dibalik punggung-nya, Khey langsung ambil tindakan dengan mencengkram erat dengan tangan sebelah kirinya yang tidak memegang pistol. Tapi, tetap saja.. Fei tidak berhenti gemetaran.


Sudah berlangsung sekitar 10 menit... 10 menit sejak tembak menembak ini berlangsung... Mengapa..masih belum selesai...? Kumohon, tuhan....selamatkanlah kami berdua... Kumohon....!


Dor....!


"Ukh...!!"


"Khey!! Kheey!! Kau tertembak! Khey.....Khey.....!!"


Tubuh Khey ambruk seketika. Peluru dari Vyn dan Xyn secara bersamaan mengenai bagian kedua lengan bagian kanan maupun kiri. Darah mengalir deras, lebih deras daripada darah di ingatan Fei soal rencana ia bunuh diri. Setelah Khey tertembak dengan 2 peluru, Vyn dan Xyn segera mundur dari tempat mereka menembak. Sementara itu, darah yang mengalir bertambah deras. Layaknya sungai darah yang bergabung membentuk lautan. Khey masih bisa tersasar, namun tak lama. Setelah beberapa menit berlalu, Khey pun kehilangan kesadarannya. Fei yang dari tadi mencoba untuk menghentikan darah yang keluar dari bagian tangan Khey, langsung berteriak keras... Bahkan sangat keras.


Sedetik kemudian, dokter pun langsung masuk ke dalam kamar mereka.


"Apa yang terjadi di sini!? Mengapa kacanya... Oh, apa ini?! Cepat bawa pria yang terluka ini ke ruangan khusus!"


"Baik!"


"Nona Fei, sebaiknya kau juga harus menjalani pengecekan tubuh dulu untuk sementara waktu... Dan tolong jelaskan apa yang terjadi di sini. Ikut aku ke ruanganku!"


Akal dan jiwa pikiran Fei kacau. Yang ia pikirkan sekarang adalah keselamatan Khey. Ia tidak peduli dengan dirinya, rasa sakit yang sangat besar karena darah yang ia dapatkan masih belum cukup banyak. Melihat Khey yang bertarung mati matian melindunginya, bahkan sampai harus berkorban merelakan nyawa-nya, membuat Fei menjadi hilang akal seketika. Ia tidak mau mengikuti ataupun mendengarkan perkataan dokter sama sekali. Matanya membulat kaku, tubuhnya gemetaran serta keringat dingin terus mengalir di kepalanya.


Akhirnya, dokter yang merupakan keturunan cina-amerika-Jepang yang bernama dr. Xi Lauren tersebut membiarkan Fei sendirian di ruangan tersebut. Walaupun dwngan usaha apapun, Fei tetap tidak bergeming. Tidak bergerak, terus menunduk dan bahkan nyaris tidak bernafas.


Pupil matanya bergerak tidak karuan, detak jantungnya sangat cepat. Sepertinya dia akan mempunyai trauma berat karena kejadian ini.


Menurut data, ia sudah tidak punya orang tua lagi. Kemungkinan pria yang tadi merupakan sahabat baik yang selalu ada di samping Fei. Tapi, kalau aku melihat kondisi kamar di sini, sangat aneh karena kami, para dokter maupun perawat tidak mendengar bunyi bising apapun.


"dr. Xi! Pasien sudah ada di ruangan oprasi dan sudah di bius. Kami menunggu anda untuk memulai oprasi"


"Ya, tunggu aku di sana. Sebentar lagi aku akan ke ruangan oprasi"


"Baik!"


Setelah perawat tersebut keluar dari kamar Fei, dr. Xi pun langsung memeluk Fei. Kaget setengah tidak percaya, Fei makin menangis. Entah apa yang mendoringnya menangis, tapi itu merupakan pelukan yang hangat bagi Fei sendiri. Selang beberapa detik kemudian, dr. Xi pergi meninggalkan kamar Fei dan menutup pintunya.


Fei memandang sekeliling kamarnya yang sangat berantakan. Pecahan kaca, peluru, bahkan ada bercak darah dari Khey dan juga pistol X7 yang kini berubah menjadi sebuah kristal lagi. Ia pun segera metangkak perlahan untuk mendekati kristal hitam tersebut. Dekat dengan kristal tersebut, Fei baru saja menyadari satu hal, yaitu mengapa ia tahu bahwa kristal tersebut ada di laci dekat tempat tidurnya. Rasanya aneh sekali.


Fei menyentuh kristal hitam itu perlahan. Mulai berjalan ke arah lacinya dan mulai mengecek ke dalam lacinya.

__ADS_1


Hanya ada baju sekolahku di laci ini. Tapi bagaimana mungkin ada kristal disini? Aku tidak ingat pernah menyimpan kristal hitam ini. Meskipun ayah... Tunggu? Ayah? Apa... ayah yang...? Bodoh! Ayah kan sudah tidak ada...


Pintu kamar Fei pun terbuka setelah ketukan pintu sebanyak 3 kali. Seorang perawat remaja berdarah campuran Inggris dan Jepang, dengan pin nama bertuliskan Sharon, masuk ke kamar Fei. Terkejut, Fei langsung menyembunyikan kristal hitam tersebut.


"Nona Fei, ini perintah dari dr. Xi. Tuan Khey sudah sadar. Ia ingin bertemu anda"


"Mustahil! Khey kan terluka parah! Bagaimana mungkin dapat sembuh dalam waktu kurang dari 10 menit!?"


"Semua jawabannya akan diceritakan oleh dr. Xi sendiri dan... Tuan Khey"


"Khey!? Khey tahu permasalahan ini?"


"Mungkin, sebaiknya anda begegas"


"Tolong tunjukan padaku, dimana kamarnya"


"Dengan senang hati"


Setelah itu, Fei dan Sharon pun langsung pergi ke kamar VIP yang ditempati Khey. Kamar no.5, di lantai 7. Setelah mengetuk pintu kamar, Fei langsung masuk ke dalam kamr di ikuti Sharon. Terlihat di sana ada Khey yang sedang duduk di atas ranjang sedang mengobrol bersama dr. Xi dengan ringan.


"Fei, Sharon, kalian sudah datang?"


"I,iya.. dr. Xi"


"Khey..."


Seperti teleportasi, Fei langsung memeluk Khey dengan erat. Dia terisak isak sampai sulit bernafas dengan benar. dr. Xi dan Sharon yang ada di samping Khey tersenyum Fei sudah bisa kembali lagi. Khey pun dengan senang hati memeluk Fei dengan erat sampai mereka berdua sesak nafas.


Aku senang kau selamat, Khey!


"Apakah berpelukannya sudah selesai?"


dr. Xi tertawa kecil karena harus menanyakan pertanyaan tersebut. Begitu juga Sharon. Sepertinya mereka tidak bisa menahan tawa melihat kami. Memang biasanya orang suka salah paham dengan hubungan Fei dengan Khey. Dan sekarang dr. Xi dan Sharon pun berpikiran sama terhadap hubungan mereka berdua.


"Ah.... dr. Xi!!"


Pipi Fei berubah menjadi merah. Tubuhnya juga ikut memanas akibat terbakar rasa malu. Ia melepas pelukannya, namun tidak bergeraak dari ranjang milik Khey. Khey pun mencoba bersikap lebih tenang dengan wajah yang agak memerah.


"Nnng, dr. Xi! Kata perawat Sharon, anda akan menjelaskan mengapa Khey bisa kembali seperti semula hanya dalam waktu kurang dari 10 menit"


"Makanya dari tadi aku ingin membicarakan hal itu dengan kalian berdua, tapi begitu kalian bertemu, langsung berpelukan"

__ADS_1


"Tolong lupakan hal itu, aku juga penasaran mengapa aku sendiri bisa merasa seakan akan tidak terjadi apa apa dengan tubuhku? Padahal, jelas sekali tadi aku tertembak"


Tidak mau mengingat hal yang lalu, Khey ikut berbicara. Karena ia tahu, Fei akan membawa terus omongan ini menjadi ke arah yang tidak jelas.


"Khey, sewaktu melawan mereka, kau memakai kristal hitam bukan?"


"Bagaimana kau tahu!?"


"Aku melihat kristal hitam tergeletak di samping tubuh Khey. Selain itu, ada beberapa tanda lainnya juga. Salah satunya, tangan Khey yang harusnya memerah karena mencengkram benda. Tapi, tanganmu malah berubah menjadi agak kehitaman sedikit"


"Bukan itu, bagaimana kau bisa tahu aku memiliki kristal hitam?"


"Karena Sharon"


"Apa maksudmu?"


"Sharon, bisa kembali ke wujudmu? Yang asli..."


Setelah dr. Xi mengatakan hal tersebut, Sharon pun langsung berubah menjadi kristal berwarna kuning.


"Mustahil! Aku dapat kristal warna hitam ini dari ayah! Lalu bagaimana bisa ada kristal lainnya!?"


"Suatu saat kamu akan mengetahuinya. Yang jelas, sejak kau masuk rumah sakit ini, Sharon merasakan hawa akan keberadaan kristal lain"


"Tunggu sebentar, kalau Sharon bisa berubah menjadi kristal dan manusia, apa kristal hitam ini juga bisa?"


"Iya~"


Setelah itu, Sharon pun kembali. Ia tidak dalam bentuk kristal, melainkan seperti seorang perawat sungguhan.


"Oh ya, alasan mengapa Khey bisa sembuh dalam waktu 8 menit, itu semua berkat Sharon"


"Benarkah? Kalau begitu, aku sangat berterima kasih padamu, Sharon! Berkat kau, Khey selamat!"


"Apa itu artinya setiap kristal memiliki kelebihan masing masing?"


Khey yang dari tadi sempat diam, langsung ikut berbicara.


"Pengamatan yang bagus, Khey. Seperti katamu tadi, masing masing kristal mempuyai kekuatan tersendiri. Kristal hitam yang Fei pegang, menurutku, kekuatannya ada perubahan menjadi senjata dengan kemampuan lebih tinggi"


"Waah... Meskipun begitu, daya observasi-mu tinggi juga ya"

__ADS_1


"Keluargaku semua juga sama kok"


Sampai saat itu, mereka berempat mengobrol dengan riang. Selalu mengganti topik. Di tengah tengah hujan seperti ini, mereka layaknya keluarga yang saling melengkapi. Menggoda Fei dan Khey juga termasuk dari agenda mengobrol di tengah hujan tersebut. Semua yang terjadi, bagaikan tidak terjadi. Yang mereka rasakan hanyalah perasaan nyaman, bahagia, riang dan berbagai perasaan lain yang tidak bisa diungkapkan dengan kata kata.


__ADS_2