The Heroes & The Fallen Angel

The Heroes & The Fallen Angel
Chapter 1


__ADS_3

Rasanya seperti ada sesuatu yang mendorong kami, bentukan tak kasat mata, bergeliat layaknya ular dan terbang seperti seekor naga. Aku terhempas jauh, berguling-guling hingga akhirnya berhenti berputar setelah menumbuk batang pohon birch. Pandanganku terasa berkunang-kunang, suara kacau medan pertempuran memperparah rasa pusing yang aku hadapi.


"Akiyama, awas!" teriak Mugi dari kejauhan, seraya menahan serangan gaib menggunakan perisainya.


"Aku tahu, aku tahu!" dari arah yang cukup jauh, Akiyama membalas teriakan Mugi. Si master game-game retro ini entah mengapa memilih berlari, dia terus berlari, namun di belakangnya tanah terasa berguncang. Makhluk itu mengejarnya. "Hey, Mugi, bantu aku! Dia terus mengikutiku!"


"Kau tak perlu berteriak begitu! Aku sudah paham!" parau Mugi yang sedang kesulitan bertahan dari serangan gaib monster itu. "Makhluk ini, masih belum membiarkanku bebas!"


"Kyaa!!" Saku terbaring jatuh, tongkat rotan miliknya berputar menjauhinya. Lingkaran magis yang berada di kakinya mendadak hilang.


"Saku bertahanlah!" Ruri berlari menghampiri Saku yang terjatuh. Seraya melontarkan pisau magis terbuat dari es, Ruri meraih Saku yang terjatuh. Namun semua malah bertambah buruk.


Makhluk gaib itu berhasil melewati pertahanan Mugi. Dalam sekejap mata Ruri dan Maehara terhempas jauh, terbang layaknya bola rugby yang dilemparkan tinggi ke langit. Mereka berdua dalam kondisi seperti aku sekarang, jatuh tak berdaya, kedua kaki lemas tak mampu berdiri dengan benar.


"Ini bohong kah?" terbelalak Akiyama mendapati Maehara dan Ruri terkalahkan begitu saja, padahal mereka yang paling kuat di regu untuk saat ini. Langkah Akiyama terhenti, di depannya sudah muncul manusia tak berwajah itu.


Harus bagaimana sekarang? Semua tersudut. Akiyama pasti dengan mudah dapat dikalahkan oleh Manusia Tak Berwajah; Mugi sibuk bertahan melawan serangan gaib makhluk penghuni Ether Node; Saku, Ruri, Maehara dan aku sendiri jatuh tak berdaya.


"Masih harus banyak belajar!"


Ketika keadaan sudah begitu kalut, di situlah Master Tudor menginjakkan kaki di medan pertempuran. Dengan kasarnya beliau menciptakan bara api sepanas api neraka. Sangat panas hingga sanya tanah hangus ketika kakinya melangkah. Manusia Tak Berwajah berpaling, dia berlari melompat, hendak mencakar Breaton itu, tapi HUSH! Sekejap mata tubuhnya berubah menjadi abu. Master Tudor menggunakan pedang api membelah tubuh Manusia Tak Berwajah menjadi dua, membakar sisa tubuh itu hingga habis dengan menggunakan bara api miliknya.


Aku tertegun menyaksikan sebagaimana mudahnya Master Tudor, si master elemen api, menghanguskan musuh dalam sekejap. Aku tahu levelku memang sangat jauh dengannya tapi tetap saja, bagaimana beliau membelah tubuh itu, sangat mengagumkan! Apalagi ketika beliau berjalan santai menuju Ether Node di depan sana.


Makhluk gaib yang menyerang Akiyama seketika menunjukkan sosok aslinya. Belut listrik, besar sebesar ular piton terbesar di dunia kita, tapi belut ini memiliki mulut seperti laba-laba—terdapat capit yang besar di mulutnya itu—. Belut itu tak memiliki mata dan parahnya dapat terbang bebas di udara. Tatkala Master Tudor berdiri di depannya dengan aura membara sepanas api neraka, sang belut berhenti berenang-renang di udara.


"Kembali ke tempat asalmu," ucap Master Tudor, yang mana belut listrik langsung mengikuti perkataannya. Dia terbang masuk kembali ke Ether Node. Master Tudor berbalik, matanya menyapu wajah kami satu persatu. "Kalian baik-baik saja?" tanya Master Tudor pada kami.


Aura panas sudah hilang dari tempat ini. Meski begitu, rasa panas membara masih terasa, bukan karena api milik Master Tudor, melainkan karena rasa malu kami pada diri sendiri. Aku tak tahu harus berkata apa, ku yakin teman-temanku yang lain merasakan hal yang sama, kami pahlawan yang dipanggil dari dunia lain dan kami benar-benar payah. Tak mampu mengalahkan monster kelas teri seperti itu.


"Maafkan kami master," kata Maehara menyesal. Dia memejam, menunduk hormat, setelah itu bangkit kembali lalu berkata, "Kami tak bisa berguna."


"Jangan berkata begitu, kalian berguna, tapi mungkin masih terlalu dini untuk kalian turun ke lapangan." Master Tudor membantu Saku yang terjatuh, mengulurkan tangan dan membantunya berdiri.


"Kami akan berusaha sebaik mungkin lebih kuat," ucap Maehara mantap.


"Berusahalah kalau begitu, dan jangan buat aku kecewa."


Seperti itulah kata-kata terakhir dari Master Tudor sebelum meninggalkan kami di tengah hutan ini. Kami saling menukar pandang, tidak ada satu pun dari kami yang sanggup berbicara, bahkan Akiyama yang selalu berucap tanpa berpikir itu juga kini diam membisu, duduk menyandar ke batang pohon birch.


"Kita memang payah, kita semua, sekelas 11-3."


"Bukan kita yang payah melainkan dunia ini terlalu berbahaya, Akiyama juga mengerti 'kan sulitnya mengalahkan monster tak berwajah tadi?"


"Aku masih bisa bertarung! Kalau master tadi tidak menginterupsi, aku pasti bisa melakukannya!" kata Akiyama sedikit berapi-api, wajahnya mengerut. Di sisi lain Ruri tertawa kecil.

__ADS_1


"Benar, melakukannya, maksudku mati," ucap Ruri dengan nada sedikit menyindir.


"Hey kamu!" Akiyama bangkit, dia mendekat.


Instingku mengatakan dia akan memukul Ruri. Untungnya ada, Maehara yang datang cepat menepuk bahunya. Sang ketua kelas memang pandai membuat kepala panas Akiyama mencair.


"Sudah-sudah, kita sebaiknya cepat kembali ke kota."


"Tentu saja harus cepat, kita kacau balau." Mugi bangkit, "Lihat." Dia memperlihatkan bagaimana kuirassnya penyok gara-gara serangan belut, perisainya patah, dan juga rambutnya awut-awutan.


"Aku akan meminta bantuan Nirnir untuk memperbaiki perlengkapan kita, tapi sebelum itu kita akan ke Ratu dulu untuk menyapa."


"Bukannya lebih baik kita datang ke kedai untuk makan?" tanya Mugi. Entah mengapa yang lain setuju dengannya, mata mereka seperti memohon kepada Maehara. Kalau Saku jangan ditanya, dia menyatukan telapak tangan, wajahnya berubah manis, terlihat benar-benar memohon gadis itu.


"Ah oke, kita akan makan-makan, sepuasnya dan ingat besok kita akan berlatih lagi."


Semua bersorak gembira ketika mendengar perkataan Maehara si ketua kelas. Dipkir-pikir memang masuk akal juga, aku juga benar-benar lapar sekarang, apalagi setelah bertarung habis-habisan, tidak kah nikmat kalau langsung makan-makan enak?


Kami pun beranjak dari hutan Lothreen. Aura menekan dari Ether Node sudah tak lagi kami rasakan. Kalau boleh jujur, aku sangat membenci rasa menekan dari Ether Node, rasanya seperti berada di tengah aliran sungai yang deras mengalir kencang. Ada dorongan kuat yang kadang dapat membuat napas tertahan, lebih parah kalau kelelahan dapat merasakan mual-mual. Bukan hanya itu, terkadang terasa seperti ada seseorang di sekitarku tapi tak ada siapa-siapa di sana. Seakan Ether di sekitar sana hidup. Entah apa yang menyebabkan itu semua, aku tak tahu.


Akiyama langsung menegak habis mead-nya. Dengan lahap dia langsung menyambar babi bakar itu, melahapnya dengan cepat seperti orang yang belum makan berhari-hari. Ruri yang duduk di seberangnya menatap lamat-lamat Akiyama, terheran-heran akan kelakuan Akiyama.


"Akhirnya aku bisa makan lezat lagi!"


"Dasar Akiyama, padahal baru saja 3 hari kita di dalam hutan. Kau sudah langsung—"


"Terserah dirimu sajalah," ucap Mugi sambil mengibas tangan.


Meja ini seketika menjadi penuh, berbagai makanan dan minuman datang ke meja ini. Seorang pelayan yang terakhir datang ke meja kami, membawakan sepucuk surat. Kami bertukar pandang sejenak, dan kemudian Maehara lah yang mengambil surat itu. Bola matanya berputar, wajah sang ketua kelas seketika memadam.


"Hey, hey apa itu?"


"Dari pusat, mereka bilang sang penghianat ada di daerah dekat sini. kita dimintai untuk waspada. Mereka bilang akan memberikan bantuan kemari, Master Joancen dan juga Naerith bersama regunya akan kemari." Maehara menerangkan, secara lugas dan singkat kepada semua orang di meja ini.


"He, aku kira apa." Akiyama kecewa. Si rambut rancung itu kembali melahap makanannya.


"Kalau Naerith datang bersama regunya, apa artinya Kariya dan teman kelas yang lain."


"Iya, mereka akan datang, Naerith bilang 'siapkan uang yang banyak saat kedatangang kami'," ucap Maehara, dia menjawab apa yang akan di tanyakan Mugi sebelumnya.


Terlihat seketika mata berbinar dari Ruri dan yang lain di meja ini, oh tentu saja terkecuali Akiyama yang fokus melahap daging asap itu.


Buih-buih memenuhi cangkir yang baru diisikan mead oleh pelayan. Tatkala manusia setengah harimau itu pergi, Maehara menoleh kepadaku. Matanya menatap serius kepadaku.


"Bagaimana menurutmu Yuuji?" tanya Maehara padaku.

__ADS_1


"Menurutku?"


"Si penghianat yang dituliskan di surat tadi," ucap Maehara. Dia kembali melanjutkan kata-katanya setelah Saku di sampingnya menampar Akiyama. "Menurutmu apa yang harus kita lakukan?"


"Kalau menurutku, sebaiknya kita." Aku berhenti, mataku tertuju ke langit-langit. "Entahlah, menurutku lebih baik kita ikuti saja arahan dari Master Tudor, aku merasa orang itu tidak jahat." Akiyama menoleh kepadaku. "Maksudku si penghianat ini, mungkin saja ada alasan mengapa di berkhianat."


"Bisa jadi, tapi kalau begitu mengapa dia berkhianat?" tanya Maehara kembali. Tangannya berada di dagu; Akiyama dan Saku terlibat perkelahian kecil.


"Mungkin karena tujuannya sudah berbeda dengan tujuan utama The Watcher di dirikan."


"Apa kalau begitu penghianat ini akan menghancurkan dunia?"


"Aku rasa itu bukan yang terjadi." Aku menyeruput minum sembari berpikir kecil. "Bisa saja ada sesuatu di balik The Watcher, yang mungkin bisa dibilang dapat menghancurkan dunia."


"Tak mungkin menurutku, karena tujuan dari The Watcher adalah untuk melindungi dunia, menjaga keseimbangan ether dan membuat dunia tetap utuh," kata Maehara sambil mencicipi sedikit sop daging.


"Logis juga, tapi aku rasa ada sedikit yang ganjil, apa mungkin kita tanyakan saja langsung padanya alasan kenapa dia berhianat?"


"Mungkin bisa kita lakukan tapi untuk jaga-jaga, kita jangan jauh-jauh dari kota, dan sebisa mungkin ke hutan berlatih jika ada yang mendampingi. Lorath atau senior yang lain mungkin. Kita tah tahu sebenarnya apa yang terjadi dan penghianat itu bisa membawa ketidak setimbangan Ether kemari." Maehara kembali menyeruput minumannya. Matanya seketika tertuju kepada Saku yang berada di samping.


"Ketua, Akiyama jahat!" kata Saku sambil menarik-narik lengan Maehara.


Dan seketika meja mulai kembali ramai, lebih ramai dari sebelumnya. Akiyama terus menerus berteriak, sementara Saku dan Ruri menanggapi amukan orang itu dengan tatapan menjijikkan. Karena hampir membuat semua perhatian orang-orang tertuju kepada kami, Mugi pun turun tangan, dia membungkam mulut Akiyama. Sungguh pemandangan yang merindukan. Ketika itulah aku terbesit pertanyaan kecil.


"Oh ya ketua," ucapku laun agar yang bisa mendengar hanya Maehara. "Kenapa tadi menanyakan pendapatku saja? Tidak anggota lain di regu?"


"Karena dirimulah yang paling kuat di antara kami, aku yakin dan aku yakin pandanganmu."


Benar juga, aku hampir lupa, mungkin karena sudah cukup lama kejadiannya. Ketika kami diperintahkan untuk mengikuti ujian agar menunjukkan elemen apa yang ada di dalam diri kita, semua mendapatkan tingkatan magis masing-masing, seberapa cepat mengendalikan Ether, seberapa kuat dapat menyalurkan Ether, dan masih banyak lagi. Hasil dari ujian itu, aku lah yang mendapatkan hasil paling baik. Terutama dari segi pengendalian Ether. Mungkin saat ini aku sangat lemah karena masih belum bisa menggunakan dengan baik kelebihanku itu.


"Aku kembali ke penginapan saja," ucap Akiyama kecut.


"Jangan murung,"


"Aku tidak murung! Pokoknya kita harus siap besok pagi, kita kan ingin menemui ratu dan membetulkan perlengkapan kita. Dan aku juga mau pergi membeli perlengkapan magis baru."


"Iya, iya, kalau begitu selamat malam Akiyama, beristirahatlah karena besok kita akan lanjut Latihan lagi." Maehara melambai; Akiyama menoleh, dan seketika pergi keluar kedai. "Kalian juga, sebaiknya beristirahat," tambah Maehara pada kami semua yang tersisa di meja ini.


Semua mengangguk paham. Ruri, Saku, kemudian Mugi bangkit dari duduk. Satu persatu mereka pergi meninggalkan meja. Berikutnya Maehara yang mana dia harus membayar uang makan kali ini.


Aku pun mengikuti mereka, pemandangan kota kaum Tigran ini menyambutku di luar kedai. Bangunan seperti bangsa mesir kuno, hampir semua terbuat dari batu pasir dan memiliki model arsitektur layaknya bangunan di tengah gurun. Perbedaannya hanyalah tempat ini tidak berada di gurun, melainkan berada dekat dengan hutan lebat. Tanah di sekitar sini juga subur, meski tak banyak rerumputan yang tumbuh di sekitar pemukiman. Mungkin karena mantra magis kaum Tigran. Kalau yang ingin tahu, Tigran adalah manusia setengah harimau.


"Apa memang sebegitu berbahayanya kah dataran ini?" itulah pertanyaan yang langsung terbesit dalam benakku. "Padahal dunia ini sangat indah," gumamku dalam hati sembari memandangi pulau-pulau terbang di langit utara sana.


Hampir genap 2 bulan aku di sini, atau lebih tepatnya sudah hampir 2 bulan aku hidup di dunia Thyr'das. Seperti yang sudah aku ceritakan, aku berasal dari bumi dan entah mengapa 2 bulan lalu aku terpanggil kemari, bersamaan dengan teman-teman kelasku, Kelas 11-3. Kami semua dipanggil ke dunia isekai, sebagai para pahlawan yang akan menyelamatkan dataran.

__ADS_1


Itulah yang dikatakan Moraine dan Master-master lain di markas pusat. Kami 20 orang dipanggil kemari untuk menyelamatkan dunia. Ironis bukan jika pahlawan yang dipanggil jauh lebih lemah dari monster-monster keronco yang dapat dengan mudah dikalahkan? Aku malu mengakuinya tapi memang benar itu faktanya.


__ADS_2