The Heroes & The Fallen Angel

The Heroes & The Fallen Angel
Chapter 7


__ADS_3

Aku tak menyangka ini semua akan terjadi. Bola-bola api terbang melesat di atas kepalaku. Di belakang, Ratu sibuk sekali menciptakan bola air untuk menghalau serangan Moraine.


Mugi melompat ke samping, lalu mundur dan kemudian melemparkan serangan tikaman yang cepat; Si rambut merah berputar di udara, menangkis serangan Mugi lalu mendarat di belakangnya.


"Biar aku yang bantu!"


Akiyama masuk ke medan pertempuran. Tapi sia-sia usahanya, Si Rambut Merah segera melemparkan belatinya ke arah Akiyama sekaligus melakukan tendangan tornado ke kepala Mugi.


Terdengar debam suara yang cukup keras. Kemudian suara itu kembali lagi terdengar ketiga kalinya. Akiyama, Mugi, dan Fumiko dikalahkan dengan mudah oleh Si Rambut Merah.


Kariya yang sibuk menghindari serangan rantai dari Moraine terlihat begitu tersudut. Pandangannya bergerak sedikit saja ke tempat lain, serangan bola api Moraine mengenai tubuh Kariya; Si Rambut Merah meninju perut Saku hingga terhempas sejauh beberapa kaki ke belakang.


Sekarang giliran Saku yang terbaring tak berdaya. Wajahnya benar-benar pucat pasi.


Dua orang mampu melakukan kekacauan seperti ini? Benar-benar di luar dugaan. Si Rambut Merah satu persatu mengalahkan kami para pahlawan sekaligus dia menyudutkan Ratu dengan semburan es dari tangan kiri. Di sisi lain, Moraine terus-menerus melepaskan serangan rantai yang berkelebat cepat menghantam Lorath dan Naerith juga sekaligus melemparkan bola api dengan cepat ke arah kami. Tidak ada celah sama sekali, jiwa mereka berdua seakan sudah seirama.


"Sialan kalau begini terus," ucap Kariya putus asa.


"Jangan lengah semuanya!" Maehara


Plang! Tang!


Rantai besi Moraine berhasil mengekang Kariya, dan kemudian rantai yang lain menghempaskan Maehara ke udara. Aku melesat cepat memutuskan rantai yang mengikat Kariya. Segera aku menarik Kariya mundur, kami harus menghindar Si Rambut Merah yang mengincar Kariya dan aku. Mujur, Ratu melepaskan elemental air dan menjadikan elemental familiar itu sebagai pelindung serangan si merah pada kami.


"Berhentilah kalian anak-anak, larilah saja!"

__ADS_1


Seru Ratu pada kami, tapi suara itu terhalau oleh suara anak panah bersiul dari Lorath. Terdengar berdenging anak panah itu, membuat lebih kacau medan pertempuran ini.


BUK! BUK!


Kali ini Ruri dan Rin yang terjatuh. Si Rambut Merah masih terus mengincar kami yang sangat lemah. Sementara Moraine membantu mengacaukan Lorath dan Naerith agar tidak mengganggu Si Rambut Merah.


Aku terkesiap tatkala belati perak melesat lurus di depan hidungku. Tentu aku dapat menghindar, tapi yang di belakangku tidak bisa, Kariya terikat oleh kait tali Ether. Ketika belati perak itu berputar dan mengarah padaku, bara api membakar Kariya hingga tak sadarkan diri. Pasti itu ulah Si Rambut Merah juga, tali Ether yang membentang mengikat belati perak sudah dimasukan mantra tertentu di sana.


"Sial harus kuhentikan!"


Ku ganti senjataku dengan panah. Tidak ada waktu untuk meragu, aku melepaskan anak panah dan berhasil! Anak panah mengenai belati itu. Terdengar dentang suara belati yang jatuh ke tanah. Namun demikian belati itu segera kembali ke tangan pemilikna, terbang melesat di atas kepalaku.


Setidaknya, kali ini aku dapat bernapas lega. Meski teman-temanku hampir semua sudah terkalahkan, tinggal bersisa Yuito, Ratu, Lorath, dan Naerith.


Pertempuran sedikit mereda. Moraine berhenti melepaskan serangan rantai-rantai yang muncul dari tanah; Lorath dan Naerith berada pada posisi siaga. Si Rambut Merah menatapku dengan penuh perhatian, dia diam dengan kuda-kuda siap menikam jikalau aku melirik ke arah lain. Ratu di belakangku menatap awas Si Rambut Merah, siap kalau-kalau dia melepaskan serangan cepat kepada salah satu diantara aku atau Yuito.


Si Rambut Merah menurunkan belatinya. Pedang es di tangan kirinya seketika meledak dan tiba-tiba menghilang.


"Kami tidak akan membunuh kalian, tujuan kami hanya pergi ke wilayah para Orc," kata Si Rambut Merah lantang.


"Bodoh, kau kira kami akan melepaskan penghianat sepertimu? jangan berharap!" suara Ratu terdengar begitu serak.


"Ratu, biarkanlah Estella pergi. Dia bukan musuh. Lawan sesungguhnya kita ada di dalam perut bumi," tukas Moraine.


"Aku tidak akan aku biarkan kalian lepas!"

__ADS_1


Jika benar ini seperti film-film atau novel terkenal, aku yakin yang selanjutnya terjadi adalah Si Rambut Merah dan Moraine akan lebih serius menyerang lalu Naerith, Lorath, dan Ratu akan kewalahan. Bila tidak seperti itu, paling tidak akan muncul tokoh baru yang menyelamatkan kami, orang yang benar-benar mampu mengalahkan Si Rambut Merah itu.


Rupanya benar saja prediksi ini, yang kedualah yang terjadi.


BLAST!


Semburan api membakar seantro hutan menjadi abu. Untungnya Ratu cepat tanggap menciptakan kubah air yang menahan api itu. Udara terdengar berdesing dan seketika pusaran air mulai menarik kubah air Ratu. Aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri bagaimana Master Tudor muncul elegant di hadapan Si Rambut Merah. Rupanya bara bantuan bukan hanya Master Tudor saja, Bourneswrath juga datang bersamanya. Nirnir juga datang rupanya, bersama dengan Ragnar.


"Yo! Kita berjumpa lagi Merah!" Bourneswrath melambai pada Si Rambut Merah.


"Jadi ini penghianat itu? Aku menyangka dia akan mengerikan, rupanya hanya gadis kecil biasa,"


"Jangan remehkan musuh Master Ragnar," ucap Nirnir.


Aku dapat bernapas lega sekarang, begitu lega seperti terlahir kembali. Bila ada Master Tudor dan senior lain, aku yakin kita bisa menang walau aku masih meragukannya. Ada yang aneh dari Si Rambut Merah.


Benar saja, Si Rambut Merah menyeringai jahat. Dengan tatapan mengerikannya, dia berkata dengan penuh percaya diri.


"Bala bantuan tidak hanya dari pihak kalian, aku juga mendapatkan yang tidak kalah kuat."


BRAK!


Dari arah belakang, muncul makhluk hijau tinggi besar. Tubuhnya penuh dengan otot yang besar, dadanya begitu lebar, kepalan tangannya bahkan sebesar kepalaku. Dia jangkung tinggi dengan dua taring keluar. Tak salah lagi itu pasti Orc dan dia membawa pedang besar sebesar tubuhnya. Pedang itu berkilau hitam di bahunya.


"Grom marah!"

__ADS_1


Teriak orc itu dengan suara menggelegar. Dia melepaskan serangan besar pada Nirnir dan Ragnar, walau mereka dapat menghindar, kentara sekali kecemasan yang besar di wajah mereka berdua. Tanah sampai retak dan hancur beberapa kaki ke depan, itu diakibatkan oleh serangan pedang besar dari sang orc yang bernama Grom.


__ADS_2