
Dua sosok berjubah melintasi jalan setapak. Mereka memiliki perawakan yang kurang lebih sama. Salah satu lebih tinggi beberapa senti dari satu yang lain. Perkiraanku, mereka adalah wanita.
Kami semua menguping pembicaraan mereka. Kami merapat, bersembunyi dari balik semak-semak tinggi. Akiyama lebih memajukan kepalanya, suara percakapan dua orang berjubah itu terdengar lamat-lamat kemari.
"Apa yang akan kau lakukan kali ini?"
"Ke ibu kota bangsa Orc, kau tahu sendiri bagaimana keadaan Grom dan aku rasa ada hal lain yang penting di Kerajaan Braggazzz," ucap sosok yang lebih pendek. "Sulit sekali melafalkan nama kota tersebut."
"Lantas mengapa kau melewati jalur ini? bukannya malah lebih berbahaya melewati tempat yang dikuasai oleh para senior?"
"Pakai kepalamu Moraine," sindir sosok yang pendek itu pada sosok yang lebih tinggi. "Negeri para Ork berada jauh di dalam bumi, salah satu jalan masuknya ada di tempat ini. Kalau menggunakan Lorong Waktu untuk menghindari tempat para senior, lalu masuk lewat jalur lain, akan lebih berbahaya karena di dalam bumi terlalu banyak yang harus 'diurus'. "
"Benar juga, kau tak ingin repot-repot melakukan hal itu bukan? Jadi kau sengaja melintasi jalur ini. Pintar tapi juga sangat beresiko."
Tunggu dulu, tadi sosok itu berkata Moraine? Mungkinkah yang berkhianat adalah Moraine? Tidak-tidak, Moraine tidak mungkin melakukan hal itu. Apa yang sebenarnya terjadi di sini.
Kedua sosok itu terus berjalan santai. Sial, wajah mereka terbenam oleh tudung jubah. Aku tak dapat memastikan wajah mereka. Kalau memang benar Moraine ikut berkhianat, kami harus mengatakannya segera kepada para senior.
"Hey Estella, aku rasa lebih baik kita percepat atau Naerith dan yang lain lebih dulu menyerangmu."
"Para senior tidak mungkin menyerangku, mereka tidak akan melakukan hal konyol seperti itu," ucap sosok yang bernama Estella.
"Tapi 'mereka' bisa."
"Para Pahlawan yang dipanggil dari dunia lain?"
Kedua sosok berjubah itu berhenti. Mujurnya, mereka berhenti tepat di tengah. Jarak pandang kami jadi lebih jelas sekarang. Sosok yang pendek, Estella, menurunkan tudung jubahnya. Rambut merah yang cantik, mata merah rubi yang bersinar, dan wajah yang rupawan, aku tak mengira penghianat ini akan sangat cantik, secantik bidadari.
"Bagaimana? Apa kita akan kembali lewat Lorong Waktu?"
"Tidak, aku hanya berpikir, tidak kah lebih bijak jika kau langsung membunuh anak-anak itu, mereka terlalu baik untuk dunia yang kejam ini."
__ADS_1
"Aku bukan pembunuh," ucap sosok yang lebih tinggi sembari menurunkan tudung jubah.
"Baiklah, kalau begitu biarlah Anak-anak Hera membunuh mereka perlahan. Ether atau rasa sakit yang akan membunuh mereka." Wanita rambut merah itu kembali berjalan.
Aku menoleh pada Maehara lalu kepada Kariya. Jelas-jelas mereka berdua sama terkejutnya denganku. Senior Moraine berkhianat. Tidak salah lagi, wanita itu adalah Moraine.
"Yuuji awas!"
Mugi berteriak padaku. Aku terheran tapi seketika Saku menundukkan kepalaku. Semburan api melintas di atas kepala kami. Sepersekian detik kemudian, terdengar dentuman hebat kemari. Sekarang semburan angin menerbangkan pepohonan sekitar kami. Aku hampir ikut terhempas, mujurnya Yuito dan Saku segera membuat kubah pelindung terbuat dari api.
Apa yang terjadi?
"Apa yang kalian lakukan di sini anak-anak?"
"Menjauhlah, ini berbahaya!"
Belum sempat aku mendengar perkataan dari entah siapa itu, terdengar dentuman saling sahut-menyahut yang lalu diiringi oleh desis suara aliran petir yang menyambar.
"Aku tak menyangka akan cepat ketahuan seperti ini."
"Cepat atau lambat, kau akan ketahuan." Moraine memutar tongkatnya di udara. "Ralat, bukan kau tapi kita."
"Kau siap Moraine?"
Mereka benar-benar gerak cepat, seirama dan sejiwa dalam menangkis serangan dari Naerith maupun Lorath. Berdentang terdengar suara rantai besi yang bergerak cepat mematahkan semua anak panah; Di sisi lain, si rambut merah melemparkan belatinya lurus ke depan, Naerith menghadangnya dengan tanaman rambat.
"Apa-apaan ini? Moraine kau bisa jelaskan apa yang telah kau lakukan?"
"Maaf Lorath, aku akan selalu di pihak yang menang." Moraine tersenyum sinis.
Belum sempat kami mengambil napas, si rambut merah sudah di hadapan kami, menendang jatuh Kariya dan kemudian melompat menari di udara sembari menyemburkan es kepada kami. Aku lambat beraksi dan ketika sadar, teman-temanku sudah terbaring tak berdaya di atas rerumputan hitam yang hangus terbakar.
__ADS_1
Si rambut merah berada di hadapanku, belatinya sudah tepat di depan mataku. Sial! Tak sempat!
SLASH! SLASH!
Dari arah atas, Ratu datang dengan elegannya dia melemparkan pedang air kepada si merah. Aku selamat, si merah terpaksa dibuat mundur.
Namun demikian, medan pertempuran masih berpihak pada si penghianat. Mereka kembali ke sisi satu sama lain, saling melindungi punggung satu sama lain. Berdiri saling memunggungi sembari melemparkan rantai besi dan juga serpihan es pada kami.
BLAST! BLAST!
Dentuman terdengar saling sahut-menyahut. Bilah belati si merah dilayangkan ke arahku, Ratu menghadang belati itu dengan magis airnya. Bersamaan dengan ini, Lorath terus melepaskan anak panah kepada Moraine dan nihil semua hasilnya. Rantai yang berkelebat dari pijakannya Moraine sangat cepat dalam mematahkan semua anak panah itu tanpa dan dengan bantuan Naerith pun tetap hasilnya nihil. Si rambut merah berganti tempat dengan Moraine dan datang langsung memotong tanaman rambat yang digunakan oleh Naerith untuk menyerang.
Ratu menciptakan kubah pelindung dari air, mengurung kedua penghianat itu.
"Anak-anak pergi dari sini segera!"
"Ratu!" seru Maehara yang masih berusaha bangkit.
BLAST! BLAST! BLAST!
Sebuah dentuman hebat terdengar dari arah kurungan air itu dan seketika ledakan yang sangat besar datang kemudian. Ledakan ini menghancurkan kurungan yang Ratu buat. Sialan! Aku belum sempat membantu teman-temanku bangkit, tapi kedua penghianat itu sudah lolos dan langsung menyerang.
"Mugi awas!" teriakku tatkala menyadari bahwa si rambut merah melontarkan belatinya kepada Mugi.
Belati itu melayang cepat dan tepat ketika Mugi mengangkat perisainya, belati itu seakan ditarik kembali oleh benang tak kasat mata. Dengan cepat belati itu sudah berada kembali ke pemiliknya, si rambut merah. Meski hal itu membuatku tenang karena Mugi aman, tapi aku merasa ada yang ganjal di sini, tak mungkin si rambut merah menarik serangannya begitu saja.
Kami, regu Kariya dan Maehara kembali bangkit, walau kaki dan tangan gemetaran, tapi kami masih memaksa untuk berdiri tegak.
"Hey! Apa yang kalian lakukan anak-anak? Cepatlah pergi dari sini!" Ratu berteriak selantang-lantangnya. Suaranya terdengar begitu serak.
"Kalian tidak mungkin lepas dari seranganku, atau lebih tepatnya, Naerith, Lorath dan dirimu Ratu, terlalu lemah untuk bisa melindungi mereka dari serangan kami." Si rambut merah tersenyum sinis.
__ADS_1