The Heroes & The Fallen Angel

The Heroes & The Fallen Angel
Chapter 4


__ADS_3

Kami bergegas memakai pakaian seadanya, baju linen dan celana kain, pergi ke luar penginapan. Ibu penginapan memberi salam pada kami saat kami keluar melalui jendela pintu. Rasa penasaran dan merindu bercampur aduk menjadi satu. Suara serak Kariya sudah dapat terdengar samar kemari. Di lihat dari bagaimana percakapannya, jelas-jelas Kariya kesal.


"Woi, kau dengar aku Fumiko?"


"Aku dengar, aku dengar, singkatnya aku harus lebih memperbaiki kecepatanku dan juga tingkatan magis seranganku. Benar bukan?"


"Benar sekali," kata Kariya sedikit kasar. Gelagatnya dan suaranya mirip Akiyama, hanya saja lebih kasar dari Akiyama. "Ingat ini untuk kelangsungan hidup kita—"


Kariya bersama kelompoknya berhenti seketika melihat kami. Tentu saja tatapan mereka lebih dituju pada Maehara yang berada di paling depan.


"Oh, halo ketua."


"Kariya, senang bertemu denganmu kembali. Dan kalian juga teman-teman." Maehara menyapu bersih wajah-wajah regu Kariya yang mana dibalas dengan anggukan kecil.


"Ah, aku ingin istirahat sekarang, kalian sudah lama di sini bukan?" Kariya datang memotong kelompok kami. Aku menyingkir dari jalannya. "Tunjukkan aku tempat makan yang bagus."


Dari gelagatnya, jelas Kariya banyak berubah. Dia masih sama seperti yang lalu-lalu, seorang badung yang agak kasar namun memiliki hati dan niat yang baik hanya saja sekarang lebih tenang dan juga lebih sering diam. Dan mengenai tempat makan yang enak, Saku lah yang paling tahu tempat yang enak di sini, oleh karena itu dia yang memimpin di depan.


Kami pun saling menyapa dan bertukar informasi antar regu dalam perjalanan kecil menuju bangunan berlantai empat di sana. Kabarnya regu Kariya hampir dapat mengalahkan Naerith, dan regu mereka berhasil mengalahkan beberapa monster Ether yang menjaga Ether Node. Luar biasa, regu kami saja yang beranggotakan enam orang, masih belum bisa mengalahkan satu pun monster-monster itu. Perkembangan Kariya dan regunya memang cukup pesat.


Regu Kariya terdiri dari empat orang, Fumiko, Yuito, Rin, dan ketua mereka Kariya itu sendiri. Regu ini bisa dibilang lebih efektif karena ada Kelas Penyembuh, yaitu Rin, sementara di regu kami tidak. Fumiko menjadi petarung utama bersama dengan Kariya, dan Yuito menjadi pendukung serangan jarak jauh.

__ADS_1


Mendengar bagaimana perkembangan mereka, Mugi dan Akiyama terlihat agak kaku sekarang.


"Begitu rupanya, enak sekali kalian ada penyembuh di regu, jadi kalau terluka tinggal minta saja ke penyembuh." Mugi mengatakannya agak kesal.


"Justru aku malah jadi dimanfaatkan terus! Sungguh melelahkan." Rin melepaskan napas panjang.


"Semangat kalau begitu Rin!" Saku memberikan senyuman kecil. Senyumam manis.


Maehara tertawa kecil, wajahnya terlihat agak santai sekarang. Mungkin karena dia lebih mengira kelompok Kariya akan aman.


"Tapi tidak aku sangka kau akhirnya rela melakukan ini, kukira kau akan duduk diam saja karena tak menyukai para senior," ucap Maehara laun.


"Sudah habis lagi saja?" tanya Akiyama.


Seorang pelayan datang ke meja kami, Tigran wanita yang masih muda, membawakan minuman yang diinginkan Kariya. Buih-buih mengisi cangkir Kariya. Sebelum hendak menjawab yang sesungguhnya, Kariya menunggu dulu pelayan itu pergi lalu mulai berkata dengan suara lembut.


"Ehem, banyak yang terjadi beberapa waktu lalu, dan aku yakin kita memang harus melakukannya. Karena jika tidak, kita akan mati."


"Akan mati?" semua bertanya hal yang sama, kecuali anggota regu Kariya tentunya.


"Ingatlah kembali apa yang Moraine katakan ketika kita pertama datang ke dunia ini. Dia berkata bahwa, 'Sepuluh tahun mendatang, kalian akan menjadi pahlawan yang menyelamatkan dunia dari kehancuran dan mengusir kegelapan selamanya. Ketika itu semua sudah tercapai, menurut ramalan kalian akan dikembalikan ke dunia asal' dari perkataan itu aku menyadari bahwa kita dapat kembali atau tidaknya ke Jepang, tidak ada artinya jika tidak mengalahkan kegelapan. Hanya kita sekelas yang bisa." Kariya memandang permukaan cangkirnya yang berbuih. "Artinya, aku dan yang lain juga harus lebih kuat." tambahnya singkat.

__ADS_1


"Ya, sangat penting sekali dan aku melupakan perkataan Moraine itu, tapi berkat senior Naerith yang dapat membujuk Kariya, kami bertiga berniat ikut agar lebih kuat. Tidak ada waktu yang dapat disia-siakan," Jelas Fumiko si kembang kelas.


"Sejujurnya aku tak ingin tapi tidak ada pilihan lagi, aku ingin kembali dan kalian juga bukan?" tanya Kariya dengan wajah sendu. "Ada alasan tertentu mengapa yang datang kemari adalah 20 orang, bukan hanya satu."


Benar juga, aku sempat melupakan hal itu. Hanya kami, para pahlawan yang bisa mengalahkan Sang Kegelapan dan menyegelnya, tidak ada yang lain. Kesulitan kami semua berenam selama beberapa waktu lalu itu masihlah tidak seberapa, ini masih awal. Kami, sekelas 20 orang harus lebih baik lagi, bukan hanya kami berenam di regu Maehara tapi semua kelas 11-3 harus lebih kuat.


Saku memandang hampa meja kayu yang penuh dengan berbagai makanan dan minuman. Wajahnya sedikit cemberut. Ruri merangkul Saku agar merasa lebih tenang. Sementara itu, Akiyama dan Mugi saling tukar pandang, rasanya mereka terpukul juga. Maehara juga demikian. Fakta bahwa kita sekelas 20 orang harus lebih kuat, tapi tidak mungkin untuk beberapa orang seperti Touko dan yang lain.


"Aku punya usul, bagaimana kalau kita adakan acara kelas untuk kembali meningkatkan semangat. Semua anggota kelas harus hadir, tak terkecuali." Akiyama entah bagaimana mengusulkan sesuatu yang sangat berbeda dengan sifatnya yang kasar. "Disana mari kita bicarakan baik-baik dengan yang lain mengenai keadaan darurat ini yang kita hadapi."


"Kau benar, kita harus lebih kuat, bersama. Lagi pula kita anggap saja semua kejadian ini sebagai liburan musim panas yang panjang." Ruri berkata sedikit gugup.


"Dan jika apa yang dikatakan Moraine benar, kita akan kembali ke usia semula saat di jepang dan apa yang terjadi di sini hanya seperti mimpi. Kurasa kita harus benar-benar menganggap dunia ini serius, kita berduapuluh orang." Tambah Mugi.


"Nah bagaimana ketua?" tanyaku sekarang pada Maehara.


Semua mata tertuju kepada Maehara, menatap lekat-lekat setiap gerak-gerik kecil sang ketua kelas. Maehara bangkit, dia mengatakan sesuatu yang kami tunggu-tunggu sejak saat kami kemari ke dunia ini.


"Baiklah, mari kita adakan liburan pertama kita di dunia ini, kita akan adakan di tempat paling indah di benua." Semua orang mengangguk setuju. "Kita akan adakan di Tor Amora, surga di benua ini!" jelas Maehara berseri-seri.


Malam masih panjang, dan pembicaraan mengenai pesta itu membuat semangat semua orang. Saku dan Fumiko yang paling cerewet dan Akiyama yang paling banyak mengusulkan ide aneh. Wajah-wajah cerah itu, rasanya sangat membuatku rindu di Jepang.

__ADS_1


__ADS_2