The Heroes & The Fallen Angel

The Heroes & The Fallen Angel
Chapter 2


__ADS_3

Hari berganti, dan keramaian tadi malam kembali menyelimuti regu. Akiyama sedari tadi sudah mengomel ingin cepat-cepat latihan, dia berkata "Aku menemukan peralatan magis hebat! Aku ingin mencobanya langsung!". Tentu saja reaksi anggota regu lain bervariasi. Ruri memberikan kesan tak peduli. Mugi dan Saku berpendapat bahwa alat magis baru itu tak berguna. Hanya Maehara saja yang mendukung Akiyama, apapun itu, Maehara pasti mendukung hal yang bisa membuat kami lebih kuat.


Kami sudah mendiskusikan hal ini kemarin, dan juga tadi sepanjang perjalanan menuju kemari. Kami harus lebih kuat, dan kami memutuskan bertanya beberapa hal pada Ratu sekaligus kami menyapa Master Elemen air itu.


Tak dirasa kami sudah sampai di sebuah pondok mungil di perbatasan hutan. Beberapa Fey terbang laun menuju kami, mereka mendesing kemudian meraung lucu. Entah apa yang ingin dikatakan mereka, mungkin anggap saja mereka menyambut kami.


Daun pintu berderit terbuka. Kami masuk ke pondok.


"Selamat datang!" sapa Fey berwarna emas yang tengah sibuk meracik ramuan. Matanya yang berwarna hijau kelabu berbinar menatap kami. "Ah, kalian!"


"Selamat pagi Ratu." Maehara melangkah kecil.


"Maehara dan regu pahlawan, selamat datang, sini kemari-kemari!"


Melihat bagaimana reaksi Sang Ratu, jelas-jelas dia terkejut mendapati kedatangan kami tiba-tiba. Namun seketika Ratu menjentikkan jari di udara, dia lalu terbang menuju kami sementara di belakangnya botol-botol ramuan mulai berjejer rapih kembali ke rak di ujung; berdatangan Fey dari arah belakang ruangan, terbang imutnya mereka sembari membawakan secangkir minunan.


"Tak perlu repot Ratu, kami di sini hanya menyapa saja."


"Ini jamuan kecil untuk para pahlawan yang kelak menyelamatkan dataran ini." Ratu terbang memutari Maehara, sayapnya jauh lebih besar daripada Fey pada umumnya. Sementara itu, Akiyama mengulurkan tangan, menunjukkan batu kecil berwarna mengkilat biru. "Akiyama, kau sudah baikkan?" tanya Ratu sopan sembari mengambil batu kecil itu.


"Sudah, sangat baik asalkan Saku tidak memukulku." Mata Akiyama tertuju kepada Saku. Yang ditatapnya menatap balik dengan sinis.


Kami duduk di meja kecil, kalau bisa dibilang meja untuk kurcaci tapi untungnya masih cukup untuk kami berkumpul meski saling berdempet. Fey berwarna ungu menuangkan air madu. Dia mendesing kemudian pergi kembali ke ruang belakang.


"Nah, jadi, bagaimana petualangannya?" tanya Ratu memecah keheningan. Dia terbang di tengah atas meja, tengkurap di udara sembari menumpu dagu dengan tangan kanan sementara tangan kirinya memutar-mutar peralatan magis yang diberikan Akiyama.


"Menyenangkan, tapi kami masih jauh dari kata seorang pahlawan. Bisa dibilang, kami masih lebih lemah daripada perajurit biasa."


"Masih banyak waktu, 9 tahun lagi, tugas utama kalian dimulai. Dan untuk sekarang nikmatilah dengan baik masa santai seperti ini."


"Benar juga," ujar Maehara, suaranya agak laun terdengar. Dari nadanya, terasa bahwa dia sekecil mungkin ingin membuat Ratu tidak kecewa karena kami masih tak bisa berbuat apa-apa.


"Kalau ada yang ingin kalian tanyakan, atau apa pun itu, silahkan katakan saja. Aku akan membantu sebisaku," ucap Ratu. Dia mengembalikan peralatan magis Akiyama. "Apapun itu," katanya lagi karena tak ada satu pun dari kami yang ingin bicara. Tangan kirinya kini ikut menjadi tumpuan di dagu.


"Aku dulu!" Akiyama menyikut kepadaku. Aku mengalah saja, karena Akiyama terlihat agak liar kali ini. Aku duduk kembali; Akiyama mulai berkata, "Ratu, bagaimana alat magis yang aku bawa? Apa itu akan—"


"Sangat membantu, terutama untuk meningkatkan penyaluran Ether tapi untuk level kalian, masih tak bisa menggunakannya." Ratu menunjuk Akiyama, telunjuknya menekan dahi Akiyama. "Maaf nak Akiyama," tambahnya, sementara Akiyama murung mendengar jawaban Ratu.


"Ratu, aku ingin bertanya mengenai pengendalian Ether."


"Pengendalian Ether? Bukan kah Tudor sudah mengajari kalian? Dan kalian sudah mendapat teorinya dari Moraine?"


"Sejujurnya, aku masih tak paham dan kesulitan bagaimana menyalurkan Ether, bisa dibilang tidak bisa sama sekali aku merapalkan mantra magis." Aku mengatakannya dengan nada menyesal. Mungkin karena inilah kami kalah dengan monster-monster itu kemarin.


"Hmmm.... Menarik." Ratu duduk di udara, sayapnya mengepak-ngepak lebih sedikit cepat dari sebelumnya. "Tutup matamu," kata Ratu padaku.


"Menutup mata?"


"Ya, aku ingin kamu menyalurkan Ether dan merasakannya, berikan komentar dan apa saja yang kau rasakan."


Dia menunjuk ke wajahku, kemudian mengangguk mantap. Semua anggota regu kini menatapku dengan penuh perhatian. Kalian tak perlu juga menatapku seperti itu. Ya sudah, aku akan melakukan perintah Ratu. Aku memejam.


"Rasakan sebuah aura kehidupan di sekitarmu, rasakan roh-roh yang kelak akan hidup. Roh-roh yang gugur di kehidupan sebelumnya. Roh-roh yang hidup di masa sekarang. Rasakan kata-kata hati mereka yang terdalam. kemudian bayangkanlah sesuatu yang sangat membuatmu bahagia, sedih, marah, dan semua perasaanmu apa pun itu."

__ADS_1


Aku mengangguk. Perhatianku masih ku fokuskan kepada rumah dulu di Jepang. Rumah kecil didempet oleh rumah mewah. Ruang kecil di lantai dua, ruang seluas 2 tatami. Itu kamarku.


"Bagus, sekarang, salurkan semua perasaanmu itu, salurkan semuanya, dan sembari menyalurkannya, memintalah dengan sopan kepada roh-roh itu sekitarmu, memintalah dengan baik pada mereka agar Ether dapat menerimamu dengan baik sebagai balasannya."


Gelombang panas menjalar di sekitar dadaku dan kemudian merambat hingga ke tangan, merambat cepat seperti listrik, dan seketika mengumpul pada satu titik, yaitu kedua telapak tangan. Kurasakan tangan kecil menarik jari telunjuk tangan kananku, mengangkat tanganku ke atas. Itu tangan mungil ratu, dia menarik hati-hati.


"Sekarang bayangkan senjata, pedang kecil, atau mungkin belati."


Seketika terdengar suara pusaran angin, berdesir di sekitar tanganku. Aku merasakan sesuatu di tanganku yang terangkat.


"Hmm... kau sudah berhasil, bukalah matamu."


"Ini," ucapku pelan ketika melihat pedang kecil yang tak karuan berada di tanganku. Bentuknya berubah-ubah, seperti kesulitan mempertahankan bentuk yang pas. Tapi lebih sering seperti belati api, berwarna merah kelabu. "Apa aku berhasil?"


"Memang, kau sudah berhasil, tapi apa itu pedang api yang kau buat?" Ratu menatap lamat-lamat diriku; teman-temanku yang lain menatap kagum, kecuali Akiyama tentu saja. "Yang jelas, sepertinya Ether masih belum bisa bersatu denganmu, mereka masih menolak atau kamu masih menolak mereka."


"Begitu rupanya," kataku dengan suara pelan.


"Semangat, Yuuji, pedang itu bagus, lebih bagus dari punyaku." Ruri di depanku berusaha menghibur.


"Nah sekarang, ada lagi yang ingin kalian sampaikan?"


Ratu terbang menuju meja resepsionis, dia kembali kepada botol-botol ramuannya. Beberapa Fey terbang membantunya mengangkat botol berisikan cairan merah.


"Tidak, terima kasih Ratu atas waktumu. Kami harus pergi berlatih lagi, tapi sebelum itu." Maehara bangkit, kami pun bangkit juga mengikutinya. "Kami harus ke Tuan Nirnir, peralatan kami rusak."


"Ow begitu? Sayang sekali kalian tak bisa berlama-lama disini, tapi aku pikir kalian tak perlu repot ke markas pusat." Ratu menabur bubuk misterius di udara. Ruangan rasanya menjadi lebih sejuk. "Aku akan meminta Nirnir kemari," ucap Ratu lembut.


"Tapi," kata Maehara laun. Namun sebelum sempat ketua menyelesaikan kalimatnya, Ratu sudah menutup mulutnya dengan jari telunjuknya yang mungil.


Kami semua saling bertukar pandang. Maehara menatapku cukup lama dan kemudian yang lain mulai menatapku. Aku mengangkat bahu.


"Baiklah, terima kasih Ratu, kami pamit pergi."


"Dah." Ratu terbang menuju ruang belakang, tapi seketika berhenti di tengah ruangan. "Ow, hari ini Tudor sedang sibuk jadi kalau kalian ingin berlatih, Lorath akan menemani kalian," ucapnya sebelum akhirnya sosoknya hilang dari balik pintu.


Sangat imut menurutku bagaimana Ratu dan para Fey terbang mengepakkan sayap mereka. Mungkin kalian akan banyak memiliki pertanyaan, seperti mengapa kami memanggilnya ratu? Sebetulnya beliau adalah pemimpin kaum Fey. Namanya adalah Azraela, tapi beliau meminta kami memanggilnya Ratu. Untuk Fey sendiri, kalian dapat membayangkan Fey seperti peri-peri ajaib yang seperti di film-film. Bedanya Fey ini memiliki warna beragam tergantung elemen yang mereka miliki. Dan sepertinya aku harus mulai serius sekarang karena pertarungan sudah dimulai.


"Formasi empat-dua!" teriak Maehara dari arah belakang.


Mugi, Akiyama, Ruri, dan aku berlari ke depan. Kami berbaris zig-zag. Akiyama dan Mugi di baris depan sebagai garda depan dan aku serta Ruri sebagai cadangan kalau-kalau salah satu dari mereka kewalahan melawan musuh.


Bola-bola api terbang melesat di atas kepala kami, sekitar lima buah bola api mengarah kepada senior Lorath. Ketika Lorath menggunakan tombaknya untuk menciptakan perisai magis, Akiyama langsung maju dan menyerang. Terdengar dentang suara tombak dan pedang besar saling beradu. Lorath dan Akiyama saling menyerang. Senior Lorath lebih unggul.


Akiyama mundur sedikit dan di saat itulah Mugi datang melindungi menggunakan perisai, menghentikan mata tombak itu. Lorath dengan cepat menggerakkan tombak, menusuk-nusuk perisai Mugi. Tak mau kalah, Mugi mendorong perisainya, membuat tombak Lorath mengarah ke langit-langit.


"Aku masuk!" teriak Ruri sembari memproyeksikan pedang api di tangan kiri.


"Bagus! Aku Serang lewat samping sana!" teriak balik Akiyama yang sekarang sudah mulai kembali menyerang. Di menyerang dari arah samping kiri, memberikan tebasan kuat hingga mampu merusak tanah.


Ruri menyerang dari sisi kanan, dengan cepat dia memberikan serangan tusukan dan tebasan. Untuk menghindari serangan Ruri dan Akiyama secara bersamaan, Lorath memutar tombaknya di udara, ujung bawah tombak memukul kepala Ruri dan mata tombak menghadang serangan pedang besar Akiyama.


Bola-bola api terbang melesat, menyerang Lorath. Tak ingin kalah, Lorath melompat berputar di udara menghindari semua serangan itu sekaligus. Mugi langsung berseru tatkala itu semua terjadi.

__ADS_1


"Bagus! Sekarang Maehara, Yuuji!"


Aku mengganti senjataku menjadi panah. Ya, aku segera menembakkan anak panah kepada Elf itu. Anak panah yang mampu meledak. Bersamaan dengan seranganku, Maehara menggunakan mantra magis untuk menciptakan rantai air yang mampu mengikat kedua kaki Lorath.


"Belum cukup!" teriak Lorath.


SLASH!SLASH!


Tombak Lorath kini terdapat angin yang bertekanan tinggi disekitarnya. tombak itu dapat memecahkan dengan sekali serang rantai air yang dibuat Maehara. Tiada waktu untuk meragu, Lorath langsung melemparkan tombak itu ke arahku, membelah anak panah yang di udara sekaligus menyerangku. Terdengar ledakan kecil atas sana.


TANG!


"Belum selesai!" teriak Mugi. Dia cepat tanggap melindungiku dengan perisai, menghentikan tombak itu dari memecahkan kepalaku.


"Ruri awas!"


Cepat sekali, Lorath sudah kembali menyerang. Dia kini menggunakan dua pedang kecil, menusuk cepat kepada Ruri. Kecepatan itu terlalu cepat untuk diimbangi Ruri. Sementara Lorath sedang sibuk menyerang Ruri, Akiyama datang dari arah belakang.


Terdengar debam suara tubuh Akiyama yang terjatuh. Gerakan tak terduga, Lorath menari di udara, kakinya menendang kepala Akiyama sekaligus kaki yang lain menyerang pertahanan Ruri. Akiyama terhempas jauh; Ruri terus dalam mode bertahan, kecepatannya tak mampu mengalahkan tusukan-tusukan senior Lorath.


"Mugi, Yuuji!" putus asa Ruri dalam pertahanannya, dia meminta bantuan aku dan Mugi.


"Aku datang, Ruri!" Mugi berteriak sebisa pita suaranya memungkinkan.


Tidak berhasil, Lorath melemparkan salah satu belatinya ke arah Mugi. Hebatnya belati itu dapat mengenai kaki Mugi. Lorath rupanya mengarahkan belati itu untuk memperlambat Mugi. Dan ketika itu berlangsung, dia juga terus mempercepat serangannya kepada Ruri. Terlalu cepat malah hingga Ruri tak bisa mempertahankan belati apinya. Belati itu pecah menjadi partikel ether.


"Ruri!" teriak Mugi dan aku bersamaan.


Tetap tidak bisa bahkan setelah Maehara mengeluarkan dinding pelindung terbuat dari air. Bukannya menghentikan malah air itu digunakan oleh Lorath untuk menyembunyikan keberadaannya dan muncul tiba-tiba di langit, menendang kepala Ruri.


"Mundur Mugi! Yuuji! Sekarang ke formasi bertahan saja!" Maehara melemparkan bola-bola air panas. Bersamaan dengan itu bola-bola api terbang melesat mengarah kepada Lorath.


"Baik ketu—"


Sial! Mugi sekarang juga terkalahkan! Sesaat saja dia menoleh ke belakang, senior Lorath sudah menggunakan belati satunya untuk dilemparkan kepada Mugi. Belati yang satu ini diiringi pusaran angin hingga sanya ketika mengenai, terdapat ledakan angin cukup kuat. Mugi terlempar karena ledakan itu.


"Aku akan membuat kubah air! Mundur Yuuji atau kita akan kalah jika pita milik Saku putus!"


Aku berlari cepat menuju pertahanan terakhir kami, Maehara. Rupanya kami harus menggunakan formasi ini.


Kubah air melingkupi Maehara dan Saku. Aku melompat masuk ke dalam sana. Dan seperti perkiraanku, Lorath masih menyerang. Dia dari arah luar menggunakan elemen udara untuk menghancurkan kubah pelindung ini; Maehara berkeringat dingin, terlihat dia berusaha keras membuat kubah itu bertahan.


"Sang Dewi Pencipa, Sang Penghancur dan Sang Pemilik api neraka."


Saku mulai merapalkan matra; Maehara masih berfokus untuk mempertahankan kubah air; aku bersiap dengan dua belati ini untuk melindunginya, siap kalau-kalau kubah air ini hancur dan Lorath muncul entah dari arah mana.


"Demi langit dan bumi dan demi kelangsungan kehidupan dunia."


Aku menelan ludah. Ratusan anak panah melesat cepat, anak panah itu untungnya dapat dihentikan oleh aliran air kubah pelindung yang dibuat Maehara. Jantungku terus berdegup kencang.


"Pinjamilah aku kekuatan—"


Sial! Ada dua anak panah yang dapat menerobos masuk!

__ADS_1


Aku menghunuskan kedua belati ini untuk membelah anak panah itu. Naifnya aku tak berpikir bahwa Lorath akan berteleportasi ke salah satu anak panah itu. Senior Lorath menendang jatuh Maehara. Dan kemudian


SLASH!SLASH!


__ADS_2