
Hari pun berganti dan kami terbangun-bangun dengan kepala sedikit pusing. Mungkin karena tidur yang hanya dua jam membuat kami begini, sedikit terkantuk-kantuk. Semangat kami tidak pudar, kami tetap harus bertahan hidup. Acara kami hari ini adalah seperti yang sudah-sudah, kembali berlatih namun kini kami mencoba sedikit varian baru dalam latihan. Reguku atau regu Maehara, melawan regu Kariya.
Sejak dentang pertama pertarungan dimulai, Mugi langsung menyerang cepat ke arah Kariya. Akiyama membantunya menyerang lewat samping kiri. Teriakan Akiyama terdengar hingga kemari.
"Hiyaa!" teriak Akiyama sembari melancarkan serangan tebasan menggunakan pedang besarnya itu.
Kariya menghindar, mundur sedikit lalu menangkis serangan Mugi. Dia membiarkan Fumiko berlari melewati Akiyama dan Mugi, dan langsung menyerangku dan Ruri. Aku melepaskan tiga tembakan anak panah padanya. Semua ditangkis olehnya layaknya film Lord Of The Ring, di mana Aragorn menangkis serangan panah dari para goblin.
"Sialan!" aku kembali menembakkan anak panah dan tetap tak berhasil mengenai Fumiko. "Ruri, aku akan berganti ke serangan jarak dekat!"
"Dimengerti!" sahut Ruri yang sibuk meladeni tebasan dan tusukan trisula milik Fumiko.
Dentang suara pedang dan tombak trisula menghiasi pagi yang cerah di lapang belakang desa. Mugi dan Akiyama mundur sejenak, mereka kembali menyerang tatkala Kariya terlihat sedikit kewalahan. Tapi sial sekali rasanya, karena rasa Lelah kariya dapat dihilangkan oleh karena bantuan magis pendukung yang menyembuhkan luka-luka kecilnya Kariya. Rin di belakang sana sibuk merapalkan mantra penyembuh.
"Terima ini!" teriak Ruri sembari melemparkan belati es yang baru dibuarnya. Belati itu pecah ketika beradu dengan trisula Fumiko.
Aku masuk di saat seperti ini, membantu Ruri menyerang lewat arah samping dan belakang. Ku lancarkan serangan tikaman yang cepat ke arah punggung Fumiko yang terekspos. Gagal tentu saja, trisula itu cepat bergerak di udara seperti sebuah angin.
Pandangan Fumiko kini tertuju padaku, namun terganti kepada bola-bola api yang mendekat. BLAST! Terdengar suara ledakan cukup keras di atas sana. Bola api bertumbukan dengan bola api lain. Rupanya Saku dan Yuito, sedang saling menyerang dan juga saling melindungi kawan yang berada di tengah medan pertempuran. Benar-benar cepat magis milik Yuito, bahkan dia bisa menggagalkan serangan rantai air milik Maehara sekaligus menahan serangan bola api dari Saku.
"Ruri!" teriakku sembari berlari mendekati Fumiko.
"Baiklah!"
Ruri berlari dari arah berlawanan dan kami bertemu di tengah, saling memberikan serangan kepada Fumiko yang bertarung layaknya menari. Cepat dan juga elegan. Memang tak salah disebut dengan kembang kelas, Fumiko memang cantik bahkan ketika bertarung. Tapi entah mengapa perasaan ini membuat kedua tanganku panas, seperti ada pusaran angin bertekanan tinggi.
Aku melancarkan tikaman terakhir dan tetap ditangkis Fumiko. Apa boleh buat, aku mundur sejenak, dan begitu juga dengan Ruri. Wajah Ruri terbelalak ketika menatapku.
"Yuuji, tanganmu,"
__ADS_1
"Tanganku?"
Entah bagaimana, pedang pendek yang aku gunakan mengeluarkan api kecil. Bilahnya seperti membara. Aku sungguh tak melakukan apa-apa, aku tak merapalkan mantra magis dan juga tak sedang menggunakan satu.
Sial, Fumiko mendekat!
"Anak-anak, kemarilah," ucap Naerith dari tepi lapang. Suaranya yang serak itu menyelamatkanku. Fumiko berhenti dan yang lain juga ikut berhenti, semua menoleh ke arah sumber suara.
"Senior," sahut Yuito, sementara lingkaran magisnya perlahan memudar.
"Hey, jangan mengganggu, kami lagi seru-serunya!" teriak Akiyama.
Kami semua saling tukar pandang, bingung akan apa yang hendak senior Naerith katakan. Kariya yang pertama bergerak, dia berjalan sembari menyarungkan pedangnya, mendekat menuju manusia pohon itu. Dia menoleh sejenak kepada kami lalu berkata.
"Ayo teman-teman, kurasa senior memiliki sesuatu yang penting yang harus dikatakan kepada kita." Suaranya terdengar bijak, jarang-jarang dan sangat beda dengan Kariya yang aku kenal di kelas.
Dengan begitu, sesi latihan kali ini berakhir sudah. Kami kembali ke kedai semalam. Tempat ini lebih sepi dan juga tampak lebih rapih. Naerith menunggu kami di meja tengah aula makan. Kami mengikutinya, duduk di meja sana dan meja sebelah.
"Kalian pasti sudah dengar mengenai Penyihir Merah, atau lebih dikenal dengan si penghianat." Kami semua mengangguk. "Kabarnya dia berada di dekat desa ini dan sedang menuju kemari, jadi aku minta kalian untuk bersembunyi sementara waktu ini." Senior Naerith memandang kami satu persatu; Kami kembali saling tukar pandang.
"Bersembunyi ke mana?" tanya Maehara lagi.
"Markas pusat, paling aman ke sana, itu pun kalau si penghianat ini tidak berniat menyerang markas pusat."
Tiba-tiba Kariya bangkit dari duduk, dia berkata selagi membereskan perlengkapannya di pinggang. "Baiklah, kita akan kembali. Fumiko, Rin, dan Yuito, persiapkan barang-barang kalian, kita akan ke markas pusat lewat Lorong Waktu."
"Eh, kalian pergi begitu saja?" Mugi bertanya agak terkejut.
"Tentu saja, karena senior Naerith mengatakannya, artinya hal tersebut penting untuk kita ikuti. Kita memang harus kembali."
__ADS_1
Entah mengapa, aku merasa Kariya benar-benar berubah. Dia lebih terdengar seperti Maehara dan lebih patuh. Ya bedanya Maehara versi kasar sedikit.
*****
Di penginapan, kami sibuk membereskan barang-barang. Mulai perlengkapan perang, seperti perisai, pedang dan lain-lain, hingga barang pribadi seperti kaos sekolah dan juga boneka. (Ruri selalu membawa boneka beruang ke sekolah).
"Kenapa tidak kita bunuh saja si penghianat ini, dia hanya seorang bukan dan kita ada banyak! Ada senior Naerith dan juga Lorath berserta Ratu, kita bisa menang!"
"Akiyama, aku rasa itu tidak mungkin, lihat wajah kedua senior kita yang tegangnya bukan main." Ruri melongok ke jendela kamar, di luar terlihat Lorath dan juga Naerith sedang bercakap-cakap.
"Sepertinya mereka juga sudah memikirkan bagaimana scenario yang terbaik, kita yang sekarang dapat kalah dan mati jika melawan penghianat itu."
"Itu karena kita terlalu lemah, ah sialan!" Akiyama membuang pandang ke lantai kayu, tangannya dilipat di depan dada.
Aku paham apa yang dirasakan Akiyama. Rasanya seperti kami selalu diperlakukan layaknya orang rendahan tak berguna, apa-apa harus ada senior dan juga harus selalu saja kami bersembunyi. Kami orang yang tak bisa apa-apa.
"Sudahlah ayo." Maehara menepuk Pundak Akiyama dan segera pergi keluar kamar bersama yang lain.
Di luar sana, di depan hutan itu, kami bertemu kembali dengan regu Kariya yang tampaknya sudah lebih dahulu datang. Mereka lah yang memimpin di depan, kami mengikuti dari belakang. Muka Akiyama masih saja cemberut. Ya ampun Akiyama, sudahlah jangan murung begitu, kalau kita sudah lebih kuat, kita akan kembali. Itu kata hatiku ketika melihat wajah Akiyama yang cemberut.
Sesaat ketika kami memasuki hutan, udara sedikit terasa berbeda di sini. Agak berat dan juga terasa seperti ada yang mendorong kami. Tak salah lagi ini karena Ether Node yang ada di kedalaman hutan sana. Sekelebat Ether murni berwarna biru melintas di atas langit sana. Layaknya garis-garis benang yang terbang tertiup angin.
Aku mengerling seantero hutan, pohon-pohon birch dan juga pohon ek memenuhi kiri-kanan kami. Bulu kudukku berdiri, entah mengapa aku merasa ada sesosok aneh yang tengah memperhatikanku dari dalam hutan sana. Mata merah ruby miliknya membuatku takut.
"Berhenti!" Kariya mengangkat tangan ke atas. Semua orang berhenti kemudian.
"Ada apa Kariya?"
"Sshhh!"
__ADS_1
"Aku mengerti, kita tidak sendirian disini bukan?" tanya Fumiko pelan sekali.
Kami bergegas pergi dari jalan setapak, keluar dan menuju pepohonan birch dan ek. Bersembunyi sembari mendengarkan langkah kaki yang terdengar berdetap lembut kemari. Dua sosok berjubah berjalan di jalan setapak. Instingku mengatakan bahwa salah satu dari mereka adalah si penghianat itu.