The Heroes & The Fallen Angel

The Heroes & The Fallen Angel
Chapter 3


__ADS_3

Hatiku tergerak, entah apa yang terjadi, tapi seketika dengan perasaan bercampur aduk ini, antara kesedihan dan kebahagiaan, antara kebencian dan kasih sayang, tanganku bergerak tanpa sepengetahuanku. Mungkin ini saat yang tepat, seperti perkataan Ratu. Aku pun memejam mata. Berbagai kenangan terlintas kemudian, kamar seluas 2 tatami itu, pandangan anak-anak kelas sebelah, wajah-wajah menyebalkan mereka, dan semua pemandangan gelap ini terganti oleh kilatan cahaya yang menyejukkan. Lalu muncullah mata merah ruby yang menatapku tajam, sangat tajam seperti pedang yang terbang menusuk ke arahku.


Aku membuka mata lebar kemudian mengepal erat gagang belati, dan tiba-tiba aku berada di belakang senior Lorath. Berdentang terdengar suara pedang yang jatuh terpantul-pantul di tanah.


"Yuuji, kau," kata Maehara laun. Suaranya seperti terpaksa terhenti. Aku membuka mata dan seketika Saku memelukku dan Maehara berkata, "Kita berhasil!" sembari mengangkat tangan ke langit-langit; kubah air seketika menghilang, masuk kembali ke tanah.


"kita berhasil!" seru Saku kemudian. Dia melompat-lompat girang.


"Aku—"


"Benar kau berhasil mengalahkan senior, lihat." Saku mengangsurkan kain putih yang terputus. Itu pita yang digunakan Lorath. Masih tak percaya aku dengan apa yang dikatakan Saku, aku pun menoleh ke arah senior Lorath.


"Kita cukupkan latihan kali ini, kalian menang," ucap Lorath, mengangguk kecil.


Aku mengalahkan Lorath? Bagaimana mungkin? Yang kuingat tadi adalah Lorath berteleportasi dan kemudian— sudahlah, aku sepertinya tidak ingin membuat wajah-wajah teman-temanku menjadi sedih. Aku pun ikut bersorak bahagia bersama yang lain. Ini adalah kemenangan pertama kami sejak masuk dunia ini. Benar, kami berenam tak pernah menang sekalipun melawan monster atau pun guru kami yang bahkan berusaha bertarung dengan tangan diikat dan mata tertutup.


"Hey! Hey! Bagaimana caramu menggunakan jurus sekeren itu?" Akiyama mendorong-dorong bahuku. "Hey Yuuji, kau dengar aku?" suara Akiyama terdengar samar oleh kelontak roda yang mengetuk-ngetuk jalan setapak.


"Sudahlah Akiyama, mungkin Yuuji terlalu bersemangat hingga melupakan caranya mengalahkan Lorath."


"Bilang saja kamu tak ingin aku punya teknik sekeren itu!" Akiyama bersedekap, wajahnya dipalingkan menjauhi Ruri.


"Tentu saja!" Ruri menyeringai jahat.


Melihat bagaimana senyuman Saku yang sedikit sinis terasa, Akiyama bangkit lalu mengejar Saku yang entah bagaimana sudah tahu bahwa Akiyama akan berbuat yang tidak-tidak kepadanya; Saku berlari.


Bertepatan dengan itu semua, Maehara datang membawakan segelas mead dan juga muffin. Ketua duduk di meja seberang, wajahnya lebih ceria sekarang, apalagi dengan pemandangan langit cerah yang ada di belakang, membuatnya terlihat lebih tenang.


"Aku yang bayarkan."


"Terima kasih, ketua, tapi setidaknya biarkan aku memesan."


"Begitukah, kalau begitu aku akan segera kembali."

__ADS_1


"Tidak-tidak, aku hanya bercanda," ucapku cepat, segera agar Maehara kembali duduk.


Ketua duduk lagi, dia memandang wajah-wajah anggota regu kecil ini. Pandangannya kini tertuju padaku, pandangan yang masih sama seperti dulu, santai dan tenang. Sejujurnya, pandangan itu sedikit membuatku benci.


"Yuuji," kata Mugi yang duduk di sebelahku. "Sebetulnya elemen apa yang kau kuasai?"


"Ah iya, aku juga baru melihat dirimu menggunakan magis, mungkin elemenmu adalah api tapi aku tak berpikir itu mungkin." Maehara bersedekap, matanya dipejamkan. "Elemen api tidak memungkinkan pengguna untuk bergerak dengan secepat itu, biasanya elemen angin yang membuat tubuh dapat bergerak lebih cepat," kata Maehara, dia membuka mata dan menatap lamat-lamat kepadaku.


"Aku sendiri masih belum mengerti elemen yang aku kuasai, maksudku baru kali ini aku menggunakan kekuatan magis, biasanya aku gagal dan tadi saja pagi ketika menemui Ratu, pedang yang aku buat memiliki bentuk tak karuan."


"Bisa jadi elemen yang kamu kuasai adalah api dan angin," usul Saku, dia menumpu dagu dengan kedua tangan. Matanya memandang pulau terbang yang memenuhi langit sana. "Tapi kalau begitu,"


"Artinya Yuuji memiliki dua elemen, yang mana ini sangat jarang bahkan untuk senior sekalipun," jelas Maehara.


"Bisa juga karena Yuuji memiliki elemen turunan dari dua elemen itu." Kini Mugi yang menatap langit-langit. Wajahnya sama bingungnya dengan yang lain.


"Mungkin lebih baik kita kembali ke Ratu dan menanyakannya."


Aku berkata demikian agar yang lain berhenti berusaha memikirkan bagaimana hal itu terjadi. Jangankan mereka, aku sendiri masih belum paham. Yang aku ingat waktu itu adalah aku memejamkan mata, lalu tanganku bergerak dengan sendirinya. Tubuhku terasa terbang melayang, seperti sebuah kapas yang meliuk-liuk jatuh, sangat ringan dan cepat karena kedua kakiku entah mengapa begitu berat dan kuat seperti seorang pelari handal.


Namun dibalik kehebatan jurus dadakan yang aku gunakan untuk mengalahkan senior, ada perasaan aneh saat itu. Terutama mata merah ruby yang menatap tajam, rasanya seperti ada seseorang yang ingin membunuhku. Karena perasaan menakutkan inilah aku tak ingin menggunakan jurus aneh itu lagi, bahkan mengingatnya saja tak ingin. Niatan kami untuk menanyakan Ratu saja perlu diurungkan karena aku tak ingin mengingat kejadian itu.


Hari pun berlalu begitu cepat, kami mengadakan pesta untuk kemenangan pertama kami. Tentu aku menjadi bintang utamanya. Esoknya lagi kami mulai berlatih bersama senior Lorath. Berbagai formasi kami gunakan, formasi bertahan, formasi lingkaran dan semua cara yang kami bisa. Hasilnya nihil, kami kalah telak. Begitu juga dengan hari-hari berikutnya, kami terus kalah oleh senior. Kecepatan senior memang tak terduga, wajar, elemen senior Lorath adalah angin. Tentu senior akan sangat cepat.


Aku masih sangat terpukau bagaimana senior melemparkan aku ke langit dan ketika datang kembali ke tanah, semua teman-temanku di garda depan, Mugi dan Akiyama sudah kalah telak. Terbaring tak berdaya dengan wajah-wajah membiru. Akiyama mengumpat sebanyak yang dia mampu, bahkan sampai mengancam akan membunuh senior. Dan senior membalasnya dengan kata-kata "Bunuh aku kalau berani."


Begitulah cerita-cerita kekalahan kami, setelahnya kami terus kalah berturut-turut. Latihan kami selama ini rasanya sia-sia. Peralatan magis yang dibeli Akiyama sama sekali tak berpengaruh. Latihan menciptakan bola-bola api yang lebih kecil dan lebih kuat tetap tak berefek apa-apa, Saku hanya membisu ketika dikalahkan dengan mudah bola-bola apinya oleh tebasan Lorath. Mugi, Maehara, dan Ruri juga dengan jurus baru mereka tetap dikalahkan dengan mudah. Sepertinya kami memang ditakdirkan untuk menjadi orang-orang payah.


Kami tak boleh putus harap, dunia ini membutuhkan kami, menurut ramalan itu kamilah yang akan menjadi penyelamat di 10 tahun ke depan. Kami harus tetap semangat. Itu pemikiran aku selama ini, tapi rasanya benar mustahil. Kami saja tak pernah bertugas untuk menjaga keseimbangan ether, para senior bilang level kami masih terlalu rendah, keganjilan Ether dapat membunuh kami dengan mudah. Oleh karena itu yang mengganti kesibukan kami adalah Ratu, dia melakukan tugas yang seharusnya kami lakukan.


"Sialan! Sialan!" Akiyama merebahkan tubuh di atas kasur. Dia melompat layaknya paus terdampar. "Nanti kalau aku sudah kuat, aku akan menampar seratus kali wajah Elf itu!"


"Eh begitu, senior sendiri bilang, 'lakukan saja kalau bisa'" kata Mugi sedikit mengejek.

__ADS_1


"Mugi, kau juga seharusnya marah besar, lihat bagaimana wajah Elf itu mengejek kita!"


"Ya, tapi faktanya kita memang lemah," ucap Mugi sembari menatap lantai kayu. Akiyama menoleh ke arah Mugi, matanya menatap awas. "Maksudku, kapan terakhir kali kita menang, mungkin seminggu lalu dan itulah kemenangan pertama kita di dunia ini. Sisanya kalah telak, bahkan dengan kadal kecil saja kita kalah."


"Kadal waktu itu licik, dia menggunakan elemen kegelapan, pantas saja kita kalah."


Engsel pintu terdengar berderit, daun pintu terbuka lebar. Maehara masuk. "Sudah-sudah, memang seperti inilah dunia yang kita hadapi, sangat berbahaya," ucap Maehara lembut. Dia rupanya mendengar pembicaraan kami.


"Tentu saja, aku kalah karena musuh terlalu kuat, bukan aku yang lemah." Akiyama mencemooh diri sendiri. Kemudian Akiyama berdeham lalu berkata, "


"Oh iya ketua, ke mana Master Tudor dan yang lain?" tanyaku pada ketua. "Aku belum mendengar kabar tentangnya," tambahku tepat ketika Maehara duduk di kasur tingkat.


"Master kabarnya sedang sibuk mengurus ketidakseimbangan ether di daerah Kekaisaran. Rumornya ini mengenai si penghianat itu."


"Nah kan, sudah kubilang kita orang lemah oleh karena itu tidak banyak diandalkan." Akiyama memukul-mukul udara seperti sedang memukul samsak tinju.


"Kau bilang tadi kita tidak lemah, melainkan musuh saja yang terlalu kuat?"


"Tidak bukan begitu, maksudku." Semua orang menoleh menatap Akiyama. "Ah sudah lupakan saja, aku akan tidur,"


Aku tertawa kecil mendapati kelakuan Akiyama yang sangat jarang terlihat itu di kelas, biasanya dia sok kuat dan benar kuat tak seperti ini. Mungkin karena dunia yang benar-benar berbeda membuatnya menjadi demikian.


"Selamat malam," gumam Akiyama.


Keheningan kemudian menyelimuti kamar ini. Dan seketika terdengar langkah kaki yang tegesa-gesa kemari. BRAK!!! Daun pintu menjeblak terbuka.


"Hey!" Akiyama terhentak bangun. Dia menatap lekat-lekat Ruri yang berada di ambang pintu.


"Tidak bisakah kau mengetuk pintu dulu?" Mugi juga terikut bangun.


"Ketua!" Saku muncul di belakang Ruri. Wajah kedua gadis itu terlihat sangat serius.


"Ada apa Saku dan Ruri sampai-sampai rela datang malam-malam kemari?"

__ADS_1


"Ini mengenai Kariya dan Naerith!" teriak Saku membuat seorang Tigran yang melintas di lorong menoleh ke arahnya sejenak, kemudian kembali berjalan. "Mereka datang ke sini!"


__ADS_2