The Law

The Law
Bab 10


__ADS_3

Di tempat ini, negara yang tidak punya nama, yang berperang dengan saudara sendiri, harus ku sebut apa tempat tinggalku ini?


Sebenarnya negara ini memiliki satu kesamaan, namun orang tak bertanggung jawab membaginya menjadi dua wilayah, Barat dan Timur. Kalian pasti sudah tahu perdebatan apa yang sedang dialami negara ini, ya tidak usah ku jelaskan lagi.


Timur berusaha mengkampanyekan agar masyarakat Barat mau bergabung untuk menjadikan negara ini sebagai negara pencari kejayaan yang membabi buta.


Kalian bertanya apa itu kejayaan membabi buta? Itu adalah sebuah sikap yang merasa kalau bangsanya adalah yang paling baik dan mencari kejayaan dengan menjajah negara lain. Mereka bilang agar negara ini dianggap jaya, tapi aku membuang pola pikir itu, jaya bukan berarti harus menjajah atau memberikan kampanye gelap yang mencuci otak semua orang.


Dan–karena presiden yang sering menutup diri, membuat para rakyat kesal dan melakukan aksi unjuk rasa.


"KAMI TIDAK LAYAK DIJAJAH!"


"DIMANA PRESIDEN YANG DULU PUNYA RASA BERANI!? JANGAN MENGUMPAT TERUS! RAKYAT MEMBUTUHKANMU!"


Ya, itulah suara rakyat Barat yang tidak pernah didengar oleh presiden kami, Richard Stanly Grey atau orang organisasi memanggilnya tuan Ricci. Bodohnya aku malah lulus menjadi abdi negara yang harus berjalan dibelakang Ricci.


Sebenarnya Ricci hanya anak petani biasa, hanya saja semangat juang yang tinggi juga pengatur strategi yang handal membuat Timur mundur ketakutan. Setelah itu Ricci diangkat menjadi presiden pertama negara tanpa nama ini dengan sifat yang jauh berbeda dari sebelumnya.


Ya–bersyukur saja karena rakyat yang melakukan unjuk rasa tidak dihabisi oleh para tentara yang berjaga di gerbang istana.


Sepertinya, aku dan Parker tidak hanya menghadapi kasus antara Thomson dan Robert, tapi juga tentang perang Barat dan Timur. Membela tuan Robert adalah ancaman besar bagi kami, karena lawan kami begitu kuat. Thomson dan Miranda adalah orang Timur yang bisa saja membungkam mulut masyarakat Barat untuk menutup kasus ini, kalau tidak maka ancamannya akan lebih buruk. Bisa saja menyangkut kematian.


Kalau itu terjadi, aku dan Parker akan siap menghadapi serangan yang diberikan oleh Timur, terutama–Miranda.


*


Pintu terbuka dengan kasar. Sekumpulan orang yang duduk di meja bundar menoleh kebingungan ke arah pintu.

__ADS_1


Di depan pintu itu sudah terlihat dua wanita dengan rambut berwarna senada dengan pakaian yang mencolok.


"Semuanya, rapat sudah dimulai!" Ucap Pevita yang langsung duduk di kursi.


Sedangkan Miranda duduk disebelahnya.


"Miranda? pantas saja kau memintaku menambahkan satu kursi lagi disamping mu, Pevita," Ucap Charles.


"Baik semuanya, rapat kali ini membahas tentang bagaimana kita bisa mengalahkan Lexan Parker, sekaligus aku ingin menjelaskan alasan adikku ikut rapat hari ini."


"Sudah sekian lama Miranda tidak pergi ke Timur, dan–kenapa hari ini dia ada bersama kita? karena Lexan Parker telah mengambil tindakan besar padanya," Lanjut Pevita.


Semua orang yang ada disana mulai berisik, menanyakan tindakan besar apa yang dilakukan Lexan sehingga bisa diadakannya rapat.


"Semuanya tenang! Lexan Parker telah mengintai Miranda dan mendengar sekilas obrolannya tanpa pendamping sama sekali."


"Bagaimana kau bisa keluar sendirian tanpa pendamping?!" Tanya Aimee.


"Itu karena dia tidak mau mendengarkan ku!" Potong Pevita sambil menatap mata adiknya sinis.


"Aku sebagai kakak yang baik telah memberitahunya bahwa dia dalam bahaya, tapi memang dasar bodoh dia malah keluar sendirian, ke salon lagi! bagaimana orang lain tidak curiga?!"


"Pevita!" Tegur Miranda.


"Diamlah!" Bentaknya.


"Tapi–Lexan Parker tidak sendirian," Lanjut Pevita.

__ADS_1


Semua orang disana semakin kebingungan, selama ini yang mereka kira Lexan selalu bekerja sendiri, oleh karena itu timbullah pertanyaan di benak mereka.


"Ada orang lain yang membantunya?!" Tanya Charles.


"Benar, dia yang menembakkan alat pengintai yang wujudnya sangat kecil di pakaian Miranda."


Pevita menunjukkan foto alat pengintai itu sebelum dihancurkan olehnya.


"Benda ini–" Jhon mengambil foto itu dan melihatnya lamat-lamat.


"Apa kalian sepemikiran denganku?" Tanya Jhon kepada semua orang yang berkumpul disekelilingnya.


"Ini kan alat pengintai milik Sea," Ucap Aimee.


"Benar, ini milik Sea!" Seru Charles.


Pevita tertawa kecil. "Aku benar kan, ini jelas benda milik Sea."


"Jadi maksudmu, Lexan bekerja sama dengan Sea, begitu Madam?" Tanya Jhon.


"Mata-mata mu bilang dia adalah seorang wanita bernama Sherine Dawson," Ucap Pevita.


"Jadi selama ini Sea adalah seorang wanita?" Tanya Aimee.


"Aku tidak tahu pasti, tapi–aku sudah menyuruh mata-mata Jhon untuk mencari tahu apakah Sherine Dawson itu adalah Sea."


"Kalau ya, kita harus mengambil tindakan, Madam," Usul Jhon.

__ADS_1


"Aku sudah memikirkan itu, kalau Sea ikut campur dengan kasus ini berarti dia harus berhadapan dengan Wind, dan–si pengacara Barat itu akan mudah dihancurkan oleh kita."


Mereka semua tertawa seakan kemenangan telah berada di genggaman tangan. Sedangkan Miranda dengan wajah seriusnya menyaksikan kumpulan orang bodoh itu tertawa.


__ADS_2