The Law

The Law
Bab 7


__ADS_3

Sherine kembali ke kotanya untuk menyelesaikan tugasnya pergi ke kediaman Thomson.


Didalam kereta dirinya menatap jendela yang terbuka memikirkan rencana apa yang akan dilakukannya nanti, tiba-tiba saja pikirannya diganggu oleh seorang pria bertopi yang duduk di depannya.


"Hai," Sapa si pria bertopi.


"Halo," Jawabnya dengan wajah datar.


Karena tidak kenal dengan pria itu, Sherine menghiraukannya dan kembali memandang jendela.


"Di luar udaranya terik, tapi hanya kau satu-satunya orang yang memandang keluar jendela," Ucap si pria bertopi melontarkan senyum.


"Oh, pasti karena kau melihat orang lain menutup jendela dan memakai topi mereka, dan–kau berpikir aku orang aneh begitu?"


"Tidak," Ucapnya singkat.


"Tapi, karena kau mirip sekali dengan temanku. Pastinya kau orang yang suka berpikir kritis," Lanjutnya.


Sherine menganggukan kepalanya. "Jadi–temanmu juga suka mengeluarkan kepalanya ke jendela saat cuaca terik?" Tanya Sherine.


"Tidak hanya cuaca terik, bahkan saat mendung atau berkabut pun dia tetap menjulurkan kepalanya, kau tahu dia lebih mirip seperti Anjing."


Sherine tertegun. "Oh, m-maksudmu temanmu disamakan dengan Anjing, kau berniat menyindirku juga?"


"T-tidak, bukan begitu maksudku Nona, tapi–"


"Maaf tapi aku bukan temanmu dan selamat tinggal!" Serunya.


Bel pemberitahuan stasiun berbunyi. Sherine melangkah keluar dengan pikiran jengkel. Bisa-bisanya dia disamakan dengan Anjing. Pikiran itu masih mengganggunya hingga sebuah mobil putih berhenti didepannya.


Kaca mobil itu turun memperlihatkan seorang gadis sepantarannya. Ya, siapa lagi kalau bukan–


"Hai, bagaimana liburanmu ke kota Helton?" Tanya Elizabeth.


"Aku mengunjungi seseorang bukan berlibur."


"Ya, ya. Masuklah."


Elizabeth melajukan kendaraannya. Di jalan seperti biasa mereka berbincang. Sepertinya Sherine lupa kejadian saat di kereta.


"Oh iya, memangnya misi apa sampai kau disuruh pergi ke kota Helton?"


"Sebenarnya aku tidak membantu misi Bu Hudson, tapi sebaliknya. Beliaulah yang akan membantu misi ini sampai menemukan jalan keluarnya."


"Benarkah?! syukurlah kalau begitu. Selanjutnya kau mau kemana?"


"Ke kediaman Thomson Hendrick."


"Mau apa kau kesana?"


"Mencari bukti, Parker bilang tugasku kesana adalah mengambil rekaman Cctv itu, tapi sepertinya hal yang paling efektif adalah mencari kartu kependudukan Thomson dan istrinya."


"Kartu kependudukan–maksudmu? Jangan-jangan!?"


"Benar, mereka adalah orang Timur. Untuk membuktikannya, aku harus pergi kesana dan menemukannya."


"Dan, aku juga punya tugas untukmu," Lanjutnya.


"Hah, aku?!" Tanya Elizabeth bingung.


"Ya, pergilah ke perumahan Edelweis dan berikan kertas ini kepada penghuni rumah nomer 17."


"T-tunggu beritahu aku nama orang yang dituju, penghuni rumah itu kan tidak hanya satu orang," Keluh Elizabeth.


"Tenang saja, penghuni rumah itu tinggal seorang diri. Jika dia tidak ingin membukakan pintu untukmu, selipkan saja kertasnya. Berhati-hatilah dengan tetangganya yang akan mengusir mu kalau tahu kau ingin mewawancarainya."


Elizabeth membaca kertas yang dituju untuk seseorang. "Helen Loise?" Ucapnya.


Elizabeth perlahan menghentikan mobilnya. "Semoga berhasil, Eli," Ucap Sherine.


...****************...


Elizabeth melajukan mobilnya pergi ke perumahan Edelweis. Sesampainya disana, ia melihat dengan teliti rumah nomor 17. Hingga akhirnya dia menemukannya.


"Rumah disini sama semua. Iya-lah namanya juga perumahan," Gumamnya.


Dirinya pun berdiri di depan pintu pemilik rumah yang bernama Helen Loise. Namun, dia ragu untuk mengetuk pintunya.

__ADS_1


Elizabeth menengok ke kanan dan ke kiri, ia khawatir tentang tetangga Helen yang akan mengusirnya.


Tekadnya untuk mengetuk pun mulai terkumpul. Ia mengetuk pintu rumah Helen dengan penuh harap. Tapi hasilnya–


"Ya–percuma saja aku kesini, akhirnya akan–" Terdengar suara seseorang sedang membentak. "Bisakah biarkan aku tenang!"


"A-apa itu kau, Helen?!" Tanya Elizabeth tak percaya.


Sontak pintu kayu itu berderit. Terlihat seorang gadis dengan pakaian lusuh dan rambut gimbal yang sepertinya tidak terurus.


"Bisakah kau pergi sekarang!" Bentak Helen kesal.


"K-kau Helen Loise?" Tanya Elizabeth masih tak percaya.


Mata Helen membulat melihat seseorang didepannya. "Kau–"


"Kau orang yang waktu itu hampir ku tabrak?!" Tanya Elizabeth histeris.


"Kau pemilik mobil putih, ya?"


"A-aku sungguh tidak percaya! Jadi kau Helen?!"


Elizabeth memegang tangan kasar Helen. "A-aku benar-benar mengkhawatirkan mu, syukurlah aku bisa bertemu denganmu. Kau tahu aku bahkan tidak makan seharian karena aku takut sesuatu terjadi padamu," Ucap Elizabeth terburu-buru.


Elizabeth menghembuskan napasnya. "Aku benar-benar minta maaf telah menabrakmu, kau tidak apa-apa kan?!"


"Aku baik kok," Ucap Helen santai.


"Jangan membuatku takut begitu, katakan saja Helen?!" Ucap Elizabeth dengan ekspresi panik.


Helen menarik tangan Elizabeth masuk. "Kita bicara didalam saja, ya."


Mereka pun kembali melanjutkan pembicaraan yang agak canggung dan sepertinya sikap Elizabeth tadi berhasil membuat Helen mengajaknya masuk.


Seketika mereka berdua diam, ruangan itu jadi menyeramkan karena diantara keduanya tidak ada yang memulai obrolan.


"Apa karena aku terlalu lebay, ya. Helen pasti takut dan menganggapku orang aneh," Ucapnya dalam hati.


"Tidak usah minta maaf, a-aku yang salah kok," Ucap Helen menundukkan kepalanya.


"Tidak apa kok, asalkan kau baik-baik saja semua itu tak masalah."


"Eum, aku Elizabeth. Sepertinya temanku sudah mengganggumu, maafkan dia, ya."


Helen menghela napas. "Sebenarnya apa tujuan kalian kemari?"


"Kami–"


"Aku tahu. Kalian pasti menuduhku sebagai tersangka, kan?" Sela Helen.


"Bukan begitu, kami hanya ingin minta penjelasan mu Helen."


"Bohong!" Ucap Helen menitikkan air mata.


"Pergilah dari rumahku, biarkan aku tenang," Ucap Helen nada bergetar.


"Lho, kau kan yang menyuruhku masuk?" Tanya Elizabeth bingung.


Helen membuka pintu dan menyuruh Elizabeth keluar.


"T-tunggu, dengar dulu penjelasan ku–"


"Keluarlah!"


"Helen, mengapa kau sangat takut, bahkan aku belum menanyakan apapun padamu. Kita bicara baik-baik, ya. Tenangkan dirimu dulu," Ucap Elizabeth menenangkan.


Akhirnya mau tidak mau, Helen kembali duduk dan mendengarkan penjelasan Elizabeth.


"Mengapa kau sangat takut?"


"Karena, aku sadar telah terlibat dalam pembunuhan itu," Ucapnya ketakutan.


Elizabeth tertegun, namun dengan profesionalnya lanjut menanyai. "Kau melihat semua kejadian itu?"


Helen mengangguk. "Aku juga tidak tahu, apa yang kulakukan sama saja dengan membantu pembunuhan."


"Aku tidak mengerti, jadi kau itu saksi atau bukan. Tolong ceritakan semua itu dengan rinci."

__ADS_1


Helen pun menghapus air matanya, lalu mengatur napasnya. "Aku hanya disuruh nyonya mengantar tuan Robert ke ruangan tuan besar."


"Nyonya Miranda?"


Helen mengangguk. "Setelah itu?" Tanya Elizabeth.


"A-aku mendengar keributan dari dalam."


"Keributan?"


"Ya, seseorang yang sedang bertengkar."


"Jadi–tuan Robert bertengkar dulu dengan tuan Thomson setelah itu terjadi pembunuhan?"


"Soal itu aku tidak tahu, sungguh."


"lalu, kau tidak tahu tentang tuan Robert yang dipukul kepalanya?"


"Sungguh aku tidak tahu soal itu."


Elizabeth menghembuskan napas berat. "Bagaimana kau bisa tidak tahu?!"


"Maafkan aku," Ucap Helen menunduk.


"Baiklah, aku hanya bisa memberikan ini padamu. Kapanpun kau siap, hubungi nomor ini," Ucap Elizabeth memberikan secarik kertas berisi nomor telpon.


Tangan Helen mengambil kertas itu, dilihatnya Lamat.


Elizabeth menatapnya kasihan. "Dia gadis yang polos, aku tidak bisa memaksanya untuk menjawab semua pertanyaan yang ku berikan," Ucapnya dalam hati.


Elizabeth pun bangun dari duduknya. "Kalau begitu aku permisi, aku sangat berharap kau menghubungi kami."


Ia pun pergi tanpa ada balasan kata dari Helen. Ya, gadis polos itu langsung menutup pintunya rapat.


Helen menyandar di pintu kayu, lalu mencengkram secarik kertas yang diberikan Elizabeth. Semakin kencang genggaman tangannya, hingga membuat kertas itu robek.


Apa yang kalian pikirkan?


Tentu dia sengaja melakukannya.


Tapi kenapa?


...***...


"Pakaianmu aneh, kau orang Timur Tengah ya?" Ucap si pelayan toko melihat penampilan Sherine yang memakai kerudung di kepalanya.


"Aku memang orang Barat dan bukan turis sama sekali," Ucap Sherine sambil mencari-cari pakaian.


"Oh," Ucap pelayan toko itu sinis.


"Apa kau tidak nyaman dengan penampilanku? kalau begitu anggap saja yang ada di kepalaku ini selendang."


Mendengar perkataan Sherine membuat pelayan toko itu kesal. "Cih," Ucapnya.


Sherine menghela napas. Pelayan itu dengan raut wajah tak suka terpaksa menanyai Sherine yang merupakan seorang pembeli.


"Sebenarnya apa sih yang kau cari?!"


"Tidak ada, toko ini tidak punya apa yang aku inginkan," Ucapnya sambil melipat kedua tangannya.


"Beraninya kau bilang begitu! seleramu saja yang je—"


Mata Sherine pun beralih ke pakaian yang dikenakan pelayan toko.


"Apa?!" Tanya si pelayan toko kesal.


Sherine tersenyum. "Aku beli pakaian-mu."


"Hah?!" Tanya pelayan itu masih tak percaya.


"Aku bersungguh-sungguh, berikan pakaianmu dan kau bisa membeli gaun-gaun bagus disini," Ucap Sherine meyakinkan si pelayan.


Pelayan itu masih ragu. "Aku tahu, kau suka dengan gaun berwarna hijau itu kan? ya, walaupun harga pakaian yang kau kenakan tak sama dengan harga gaun ini, tapi– aku akan bayar sesuai harga gaun itu," Ucapnya langsung memberikan uang untuk si pelayan.


Mata si pelayan itu berbinar, lalu tersenyum merekah. "Aku terima."


"Bagus," Balas Sherine tersenyum senang.

__ADS_1


__ADS_2