The Law

The Law
Bab 11


__ADS_3

"Kalau begitu, kau cari tahu siapa Sherine Dawson itu, kalau dia adalah Sea maka urusannya adalah kita dan Wind." Perintah Pevita.


"Baik, Madam," Ucap orang misterius yang ternyata berada di sana bersama mereka.


*


Lexan dan Sherine mengintip pembicaraan mereka di balik dinding yang tak disinari oleh lampu jalan.


Mereka berdua melihat Pevita dan Miranda yang telah menghancurkan alat pendeteksi miliknya dan menyuruh seseorang misterius untuk mengintai Sherine yang merupakan Sea.


"Kau lihat, sudah jelas orang itu adalah Kyle" Ucap Lexan.


Sherine mengangguk. "Dan wanita yang bersama Miranda itu adalah salah satu orang organisasi Timur, Kyle bekerja dibawah kendalinya, apa kita harus memberitahu atasanmu soal ini?"


"Tidak usah, masalah ini tidak ada hubungannya dengan atasan, dia akan tutup telinga jika aku mengadukan Kyle."


"Hah? Maksudnya, ini kan sama saja Kyle telah berkhianat, harusnya atasan mu memberi tindakan untuknya bukan?" Decak Sherine.


"Kau tidak tahu, atasanku itu keras kepala dan pilih kasih, dia akan mendengarkan yang lain tapi tidak dengan aku."


"Dan sekarang–kau dalam bahaya," Lanjutnya.


"Tidak apa-apa," Jawab Sherine santai.


"Kau tidak bisa menganggap Kyle dan orang Timur itu enteng, payah," Sindir Lexan.


"Dengan Kyle yang berfokus mencari tahu siapa aku, kau bisa menjalankan tugas tanpa diganggu olehnya kan?" Tanya Sherine.


"Y-ya aku tahu, tapi dia akan terus mengintaimu dan mencaritahu siapa kau sampai ia menemukan jawabannya."


"Aku akan pastikan hal itu tidak akan terjadi, dan aku akan melindungi mu."


"Apa?!"


"Ya, aku akan melindungi mu, kau carilah informasi sebanyak-banyaknya terkait kasus ini," Ucap Sherine serius.


"Bukannya terbalik, harusnya kan–"


"Ya aku tahu, karena aku adalah rekanmu, aku akan mengalihkan perhatian Kyle sehingga tanpa ia sadari buktinya sudah terkumpul ditanganmu, kau mengerti?"


"Ya, aku mengerti."


"Satu hal lagi," Ucapnya hampir kelupaan.


"Apa itu?"


"Berhati-hatilah, Kyle adalah orang yang gigih, bersikap biasa saja jika bertemu dengannya seolah kau tidak tahu apa-apa."


"Ya."


Mereka berdua menjauhi tempat itu. Sekembalinya mereka ke kantor, Felix keluar dari pintu ruangan Lexan dengan keringat dingin. Sontak hal tersebut menimbulkan tanya bagi dua orang itu yang baru datang.


"Ada apa denganmu?" Tanya Lexan.


"D-di dalam," Ucap Felix tergagap.


"Di dalam? Ada apa?" Tanyanya lagi.


"I-itu n-nona Jane," Sambil menunjuk ke jendela ruangan.


Mendengar hal itu membuat Lexan kaget, ia langsung masuk ke ruangannya. Sherine yang hendak menyusul ditahan oleh Felix.


"Sebaiknya kau jangan masuk."


"Kenapa?"


"Biarkan pawangnya saja yang mengurus, kau ikut denganku," Sambil menarik tangan Sherine menjauhi ruangan Lexan.


"Memangnya ada apa sih dengan Jane?" Tanyanya.


"Dia itu pacar Lexan."


"Iya aku tahu, tapi mengapa kau sangat takut tadi?"


"Bukan takut sih, lebih mengkhawatirkan keadaan Lexan yang sibuk lalu diganggu pacarnya."


"Jane itu sangat sensitif jika melihat Lexan bersama wanita lain, bisa-bisa kau dimarahi habis-habisan olehnya," Lanjutnya.


Sherine pun masuk ke ruangan Felix yang kebetulan ada Deana juga disana.


"Hai Sherine, tumben sekali kau kemari?" Tanya Deana.


"Bahaya kalau Sherine berada di kantor Lexan sekarang," Jawab Felix.


"Kenapa?"


"Ada Jane," Jawab Sherine singkat.


Mendengar itu Deana kaget. "Jane!"


"Kenapa kalian sangat takut?"


"Hei kau tahu, aku pernah dimarahi Jane saat masuk ke ruangan Lexan, padahal kan aku hanya menaruh berkas yang dia inginkan, tapi aku malah kena marah," Ucap Deana.


"Lalu Parker tidak membelamu begitu?!"


"Waktu itu sih Lexan tidak ada, lagipula satu kantor tidak ada yang berani dengannya."


"Iya, kalau Jane sudah kemari itu artinya tidak boleh ada orang yang mengganggu Lexan, Jane itu seperti setan didepan kami, tapi kalau didepan Lexan dia akan jadi kucing yang manja," Lanjut Felix.


"Dia juga bukan orang sembarangan," Ucap Deana.


"Maksudmu?!"


"Dia itu putri dari pengusaha kaya raya, sifatnya itu sombong dan suka pamer. Dia juga sering menyuruh karyawan disini seperti pembantunya."


"Ya sudah kalau dia menyuruh, kita bisa menolak kan?"


"Masalahnya tidak seperti itu, Sherine."

__ADS_1


Deana mendekatkan mulutnya pada telinga Sherine. "Kau tahu, orang-orang yang bekerja disini itu takluk dengan uang, jadi–kalau mereka menolak maka Jane akan bayar banyak untuk mereka," Bisiknya.


"Sekarang kau mengerti kan, Sherine?" Tanya Felix.


"Iya, tapi–kenapa Parker mau berpacaran dengan Jane?"


"Setahu ku, ayahnya yang menjodohkan Lexan pada keluarga Jane, tapi–kau tahu, Lexan tidak menyukai Jane."


"Pasti sulit bagi Parker."


Felix dan Deana mengangguk setuju. Namun dalam hatinya, ia bergumam. "Ya, itu bukan urusanku jadi jangan diambil pusing."


"Kalian tidak masalah kan kalau aku disini?"


"Tenang saja, di ruanganku semuanya bebas," Ucap Felix.


"Oh ya, kalian sudah dapat informasi saat mengintai tadi?" Tanya Felix.


"Iya."


"Dan kameranya?"


"Kau tahu tentang kamera?" Tanya Sherine.


"Haha, tentu aku melihat Lexan membawa kamera ke dalam ruangannya. Omong-omong kamera siapa itu?"


"Itu–milik Kyle."


"Kyle? Jadi kalian menyelidiki bersama Kyle, tumben sekali dia sering absen lho minggu-minggu ini."


"Kyle? Siapa itu, Felix?" Tanya Deana.


"Oh, dia teman Lexan, Kyle jarang masuk saat kau mulai bekerja sama dengan Lexan, jadi kau tidak tahu."


"Oh."


"Kau–tidak tahu kabar apapun dari Kyle?" Tanya Sherine.


"Tidak, memangnya kenapa?"


"Begini, dari awal kita hendak berangkat, dia selalu memaksa kami untuk mengajaknya, dan juga wajah Lexan sangat tidak suka dengan kedatangannya, dan–"


Tiba-tiba pintu ruangan Felix berderit. Muncul seseorang yang tidak asing bagi mereka.


"Hai semuanya!" Sapa Kyle dengan ceria.


"Kyle!?" Ucap Felix tidak percaya dengan kehadiran orang yang baru saja dibicarakannya.


Mereka berdua sempat mengobrol dengan antusias saking jarang bertemu.


"Mereka antusias sekali ya," Ucap Deana senang.


"Tidak, sesuatu yang aku takutkan benar-benar terjadi hari ini," Gumam Sherine.


"Sesuatu yang kau takutkan?"


"Eh, tidak kok."


"I-iya sudah kok, kameranya ada di Lexan," Ucap Sherine dengan nada gugup.


"Oh baguslah," Ucapnya dengan senyum.


"Karena kameranya ada di ruang Lexan, sebaiknya kau disini saja Kyle," Tawar Felix.


"Iya, Lexan sedang pacaran jangan diganggu, hihi," Celetuk Deana.


"Oh begitu ya, hahaha, yasudah."


Sherine mati kutu jika Kyle benar-benar ada seruangan bersama dengannya.


"Eum, teman-teman sepertinya lain kali saja aku berkumpul dengan kalian."


"Lho Kyle, kenapa?" Tanya Felix.


"Aku masih ada urusan."


"Oh, sepertinya kau juga dicari tuan Cornwall, sebaiknya kau temui dia," Usul Felix.


"Tuan Cornwall sudah tahu kok."


"Oh begitu ya sudah."


Kyle hanya memberikan senyum sebelum dia pergi, namun pada satu waktu–matanya melirik ekor mata Sherine.


Sebenarnya Sherine tidak takut, hanya waspada terhadap Kyle yang gigih. Jika Kyle tahu siapa Sherine maka urusan mereka tidak hanya Robert dan Thomson, tapi pada sesuatu yang lebih Sherine takutkan.


***


"Sherine!" Panggil seseorang.


Di lorong yang sepi itu seperti film horor, lagi-lagi Sherine harus berhenti dan menolehkan kepalanya untuk meladeni seseorang yang tak lama ia kenal.


"Kyle," Ucap Sherine dengan senyum terpaksa.


"Kau belum pulang?" Tanya Kyle.


Sherine terdiam tak menjawab pertanyaan Kyle. Dalam hatinya ia mengamati gerak-gerik dan maksud dari pertanyaan itu.


"Hei, Halo–" Ucap Kyle sambil melambai-lambaikan tangannya di mata Sherine.


Karena tak kunjung menjawab Kyle menjentikkan jarinya hingga memecahkan lamunan Sherine.


"Oh, aku tidak sedang melamun."


"Oh kupikir."


"Apa maksudmu menanyakan itu padaku, Kyle?" Tanya Sherine menyelidik.


"Saja, kau–orang terakhir yang ku lihat disini, mau pulang bersama?"

__ADS_1


"Terimakasih, tapi aku bisa pulang sendiri."


"Kenapa? Lexan melarang mu pulang bersama-ku?"


"Tidak, aku hanya–"


"Sherine, tidak baik lho perempuan pulang sendirian di tengah malam."


"Kau bawa kendaraan?"


"Aku naik motor, ya–tidak semewah Lexan yang setiap hari menaiki mobil, tidak masalah kan?"


"Apapun itu yang penting kita pulang," Jawab Sherine dengan senyum.


Kyle sangat senang, bahkan sambil berjalan ia bersenandung ria. Benar apa yang dikatakan Lexan kalau temannya ini orang yang ceria, ramah dan murah senyum, juga sederhana.


Mereka sampai di tempat parkir, hanya ada satu kendaraan yang tersisa. Yap, itu motor milik Kyle. Sherine berpikir kalau Kyle sengaja pulang terlambat, karena dia tahu ada sesuatu yang disembunyikannya. Namun melihat wajah Kyle yang penuh ceria membuat Sherine lupa dengan pikirannya itu.


Pria itu memasangkan helm dikepalanya, hal itu membuat Sherine terdiam sejenak untuk memperhatikan pria itu. Bukan karena suka, lho. Tapi dia memperhatikan Kyle karena itu adalah cara melihat bahasa tubuh seseorang yang ingin menjebaknya lewat raut wajah.


Sontak, Kyle tersenyum melihat Sherine yang daritadi memperhatikannya terus.


"Kau sudah siap?"


Sherine pun langsung memakai helm itu dikepalanya. "Sudah."


"Tunggu–" Sambil menahan tangan Sherine.


"Helm nya bisa lepas kalau tidak di ikat," Ucapnya sambil memasangkan pengikat helm. Sherine terkejut, karena seumur hidupnya tak ada yang memperhatikan sedetail ini padanya.


"Oke, kau boleh naik sekarang."


"T-terimakasih."


Angin kencang menerbangkan rambut Sherine yang panjang, untung dia pakai helm jadi seluruh rambutnya tidak berantakan.


Malam itu, suasana rasanya sangat berbeda dari malam sebelumnya.


"Kau manis," Ucap Kyle melihat wajahnya dibalik kaca spion.


"Terimakasih," Ucapnya dengan wajah datar dan biasa.


"Kau sudah banyak bilang terimakasih padaku."


"Kau tidak suka? Aku tidak masalah sih kalau tidak bilang terimakasih juga."


"Ah bukan begitu, aku hanya senang kali ini ada orang yang bilang terimakasih berulang kali kepadaku," Ucapnya sambil tersenyum.


Sherine bisa melihat guratan senyum di bibirnya yang manis.


"Sebenarnya kalau kau bilang aku manis kau salah, justru kau yang manis."


"Ahahaha masa?"


"Kau belum punya pacar?"


"Belum."


Sherine mengangguk. Setelah itu dia bingung harus bicara tentang apa lagi.


"Kau tahu."


"Apa?"


"Kau orang yang jarang aku temui, makanya–"


"Makanya?"


"Aku suka padamu."


Deg!


Sherine menjauhkan badannya, mendengar hal itu dia kaget bukan main. Apakah Kyle berpikir Sherine suka padanya? Mulai dari Kyle yang mengajaknya pulang bersama, lalu memasangkan helmnya sambil tersenyum, dan sekarang–dia bilang dia suka pada Sherine!


"K-kau suka padaku? Kenapa?!"


"Suka itu–banyak artinya, alasanku suka padamu karena–"


Jantung Sherine semakin berdegup kencang. Bisa bahaya kalau Kyle ingin dia jadi pacarnya.


"Ya, karena kau baik, maksud kata suka tadi aku kagum padamu."


"Padahal kita baru kenal, oh ya memangnya kau tahu rumahku?!"


Tiba-tiba motornya berhenti. Yap, kau tahu berhenti dimana? Tepat di depan rumah Sherine.


Sherine ternganga. Lalu melihat kembali pria yang duduk di motor itu dengan senyum.


Tangannya meraih kunci helm Sherine.


"A-aku bisa melepasnya sendiri, maksudku kau tidak perlu repot-repot."


"Sengaja, aku ingin direpotkan."


Masih dengan perasaan kaget, namun Sherine harus bilang terimakasih atas apa yang dilakukan oleh Kyle.


"Terima–"


"Jangan."


"Hah?"


"Terimakasih untuk malam ini, Sherine."


Motornya pun perlahan menghilang, walaupun tempat itu sepi, tapi entah kenapa Kyle selalu hilang dengan cepat.


Sherine menyentuh dadanya. "Kau tidak berniat menjebakku kan, Kyle?"


Matanya berkedip. "Apa yang kau pikirkan Sherine?! Tidak, buang jauh-jauh pikiran itu, d-dia hanya–baik padamu, ya tidak lebih, hanya seorang teman, Sherine," Ucapnya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Tidak, dia sengaja menjebakku."


"Cih."


__ADS_2