
Sherine sampai di stasiun kereta kota Helton, dirinya berjalan melewati sekumpulan orang yang berlalu lalang.
Kota Helton adalah daerah yang paling dekat dengan perbatasan Timur. Selain akses jalan yang tak perlu mengarungi laut, penduduk kota Helton bahkan sulit dipercaya kalau mereka asli orang Barat.
Penduduk kota Helton bisa dibilang lebih sedikit dari daerah-daerah yang ada di Barat, masyarakat Barat percaya penduduk kota Helton sudah dipengaruhi oleh orang Timur.
Dan kota Helton lah, kota yang sering menjadi misi bagi para detektif dan polisi rahasia yang bertugas.
"Tak heran jika ada orang Timur yang masuk dengan mudah, tidak ada penjagaan ketat disini," Ucap Sherine sambil berjalan menengok kanan-kiri.
Sherine keluar dari stasiun dan melihat di seberang jalan, seorang wanita paruh baya yang ia kenal.
Sherine melambaikan tangannya. "Bu Hudson!"
Nyonya Hudson menghampiri Sherine dan langsung memeluknya seperti anaknya sendiri.
"Lama tidak berjumpa denganmu, bagaimana kabarmu?"
"Aku baik, kau lihat," Ucap Sherine penuh senyuman.
Nyonya Hudson tertawa kecil. "Benar, bagaimana kabar Jeff?"
"Ya, sakitnya sudah agak membaik tapi kadang bisa kambuh."
"Oh, ya ampun. Itu berarti dia masih belum bekerja?"
"Aku rasa dia tidak bisa dengan penyakitnya yang kapan saja bisa mengganggunya."
"Ya, kau benar Sherine. Ah, mau minum kopi?"
"Ide yang bagus."
"Ya, ya kau tak pernah menolak tawaranku," Ucap nyonya Hudson sambil mengusap kepala Sherine.
Nyonya Hudson telah menganggap Sherine dan kakaknya seperti anaknya sendiri. Mereka sudah saling kenal sejak Sherine masih menjalani pelatihan di organisasi.
Nyonya Hudson-lah yang membimbing Sherine hingga menjadi detektif terbaik di organisasi.
Nyonya Hudson berprofesi sebagai detektif senior yang masih mendapat tugas, walaupun sudah harus pensiun tapi ia masih menjalankan tugas sebelum masa pensiunnya itu.
"Jadi–bagaimana dengan misi baru mu?" Tanya nyonya Hudson sambil menyeruput kopinya.
"Anda tahu?"
"Tentu saja, Jones yang memberitahu ku."
"Ah, Nyonya Jones sangat mirip dengan Elizabeth," Ucap Sherine.
"Memang, sekertarisku itu tak ada bedanya dengan Elizabeth."
"Ya, berhubung anda tahu, sebenarnya misi ini bisa dibilang biasa kalau rekanku membiarkanku berpikir sejenak."
"Oh, pasti Lexan Parker, pengacara terkenal itu kan?"
"Nyonya Jones menjelaskan se-rinci itu?"
__ADS_1
"Aku hanya menerka, jadi–benar?"
Sherine mengangguk.
"Ya, karena siapa lagi seseorang yang kerjanya tidak ada istirahatnya saat penyelidikan," Ucap nyonya Hudson.
"Bagaimana anda tahu sifat dari Parker?" Tanya Sherine ingin tahu.
"Aku mendengar cerita itu dari sekertarisnya, Felix Lucas."
"Ternyata anda mengenal semuanya."
Nyonya Hudson tertawa kecil. "Karena aku detektif senior dan akhir-akhir ini kerjaku hanya duduk saja dikantor, jadi–tak ada yang harus ku kerjakan selain menjadi pendidik. Oleh karena itu, aku tahu mereka semua."
Sherine merespon anggukan.
"Kau tahu, Sherine. Walaupun kerja Lexan terlihat buru-buru, sebenarnya dia adalah orang yang gigih. Memang dengan langkah yang terburu-buru membuat mu kelewat satu hal penting, tapi dibalik semua itu dia tidak ingin ketinggalan sedikitpun. Aku kenal dia saat pelatihan, dia tidak bisa dibilang tepat waktu tapi–terlalu awal."
"Oh."
"Menjadi temannya memang membutuhkan napas panjang ya, tapi kau punya trik agar semua itu tidak terlihat melelahkan, suatu saat."
"Boleh aku tahu kasus apa yang sedang kau selesaikan? ya, kali ini Jones tidak memberitahu ku." Tanya Nyonya Hudson.
"Pembunuhan di rumah Thomson Hendrick," Ucap Sherine dengan nada rendah.
"Thomson?! setahuku dia pejabat kaya yang dikenal banyak masyarakat Barat," Ucap nyonya Hudson kaget.
"Dia meninggal di rumahnya, sekitar jam setengah dua belas. Dia ditusuk di bagian jantungnya, tersangka oleh Robert Khiel. Tapi aku yakin kalau tuan Robert dituduh."
"Dari pengakuan tuan Robert, dia ditelpon oleh nyonya Miranda, istri dari Thomson. Sesampainya disana, kepala tuan Robert dipukul dari belakang entah siapa yang melakukannya lalu saat dirinya terbangun, dia melihat tuan Thomson yang sudah tergeletak tak bernyawa dengan pisau di tangan kanan tuan Robert. Hal yang paling mencengangkan adalah, tuan Robert bilang kalau dia kidal, sedangkan pisau itu ada di tangan kanannya." Jelas Sherine.
"Maksudku bagaimana dia melakukannya, kalau tuan Robert kidal apakah bisa menusuk tuan Thomson dengan tangan kanannya?" Tanya Sherine meminta pendapat.
"Seandainya, alat yang dipakai membunuh adalah pistol, aku setuju tuan Robert terbukti tidak bersalah. Tapi–"
"Apa menurut anda, dengan pisau di tangan kanan artinya tuan Robert terbukti bersalah?"
"Begini Sherine, jika Robert kidal keduanya bisa dibilang sebuah tuduhan. Misalkan pisau atau pistol di tangan kanannya sedangkan dia kidal, bisa dibilang kalau dia dituduh. Karena jika kau kidal dan membidik seseorang dengan tangan kanan, tentunya tembakan itu akan meleset bahkan tak mengenai jantung tepat. Begitupun dengan pisau, akan butuh waktu lama untuk menusuk korban dengan tangan kanan jika kondisimu kidal. Aku tahu, kau dan Lexan pasti membela tuan Robert, tersangka itu?"
"Benar."
"Semua orang mungkin akan lebih membela Thomson karena dia dikenal banyak orang sebagai seorang yang baik dan dermawan, dibandingkan Robert yang tidak dikenal sama sekali."
"Tapi, bukan berarti yang dilihat semua orang itu benar," Lanjut Nyonya Hudson.
"Maksud Anda?"
"Siapa yang kau curigai dalam kasus ini?" Tanya nyonya Hudson.
Sherine terdiam sejenak, lalu memutar bola matanya ke arah lain.
"Baik aku tahu apa yang kau pikirkan. Sebenarnya–ini rahasia."
Sherine memajukan duduknya.
__ADS_1
"Tidak disini, Sherine," Nyonya Hudson membawa Sherine keluar kafe setelah membayar pesanan mereka.
"Didalam sangat berbahaya, bisa-bisa ada orang yang mendengarkan percakapan kita," Ucap nyonya Hudson sambil berjalan ke suatu tempat.
Nyonya Hudson membawa Sherine ke sebuah taman yang sepi, walaupun begitu mereka tetap berbicara dengan nada rendah agar tak ada yang mendengar.
"Rahasia apa yang ingin anda beritahu?" Tanya Sherine.
"Sebenarnya–Thomson dan istrinya adalah–orang Timur."
Sherine tertegun mendengar ucapan nyonya Hudson. "O-orang Timur?!"
Nyonya Hudson hanya balas mengangguk. "T-tapi bagaimana? Barat menolak keras adanya penduduk Timur yang masuk ke wilayah Barat," Ucap Sherine tak percaya.
"Benar juga! dia harusnya punya kartu kependudukan Timur, kan?!" Seru Sherine.
"Tepat sekali, Sherine! Thomson dan istrinya merupakan orang Timur yang tinggal di Barat, entah apa yang mereka rencanakan pastinya ingin menarik perhatian masyarakat Barat agar menganggapnya sebagai orang baik apalagi dalam kasus ini. Lalu, soal kartu kependudukan kau pasti bingung kan kenapa Thomson dan istrinya bisa masuk ke wilayah barat?"
Sherine mengangguk. "Tolong ceritakan bagaimana hal itu bisa terjadi?" Tanyanya.
"Thomson dan Miranda merupakan keluarga berada, untuk mengganti kartu kependudukan pastinya kau akan pergi ke kantor sipil. Tentunya Thomson membayar mahal si petugas sipil itu untuk mengganti kartu kependudukan Thomson dan Miranda," Jelas nyonya Hudson.
"Kalau begitu–mereka berdua masih punya kartu kependudukan Timur?"
"Betul, akses keluar masuk mereka akan sangat mudah karena mempunyai dua kartu kependudukan."
"Tapi–bagaimana petugas antar wilayah menanggapi soal kartu kependudukan Thomson?"
"Thomson akan membayar banyak agar mereka tutup mulut, Sherine. Orang berada seperti dia sangat mudah membuat orang kecil bungkam."
Sherine menundukkan kepalanya. "Oh," Ucapnya murung.
"Kemenangan sangat jauh ku pandang, karena mereka yang berada menghalangi segalanya," Ucap Sherine dengan tatapan tak bersemangat.
"Jangan putus asa, Nak. Kau tidak sendirian, ada kami yang senantiasa membantumu," Ucap nyonya Hudson mengelus punggung Sherine.
"Kau tahu, sebenarnya aku memanggil mu kesini bukan urusan misi, lho."
Sherine kaget. "Kalau bukan misi, lalu apa?"
Nyonya Hudson tersenyum. "Justru aku memanggilmu kesini karena ingin membantu misi-mu."
"Sungguh?!"
Nyonya Hudson mengangguk. "Kau bisa minta bantuanku kapanpun kau mau, Nak."
"Terimakasih banyak, Bu Hudson."
"Nah, kau boleh kembali sekarang."
Sherine pun beranjak dari duduknya dan bergegas menjalankan misinya. Namun, nyonya Hudson menahannya sekali lagi.
"Sherine, kau tahu kan harus melakukan apa?" Tanya nyonya Hudson.
"Kartu kependudukan itu kuncinya! aku harus mendapatkannya sebagai bukti," Ucap Sherine bersemangat.
__ADS_1
"Bagus, dan berhati-hatilah–Timur punya mata-mata yang bisa mengintai mu kapan saja."