
Di ruang rapat...
"Kalian tahu kan apa yang harus dilakukan terkait misi ini? Jadi siapa yang tertarik?" Tanya Felix.
"Apa ini Felix, kau harusnya menunjuk seseorang yang andal untuk tugas ini, kenapa malah bertanya?" Ucap salah satu pengacara yang hadir.
"Aku sudah memberikan tawaran untuk kalian, jadi siapa yang bersedia?"
"Memangnya siapa yang akan menjadi klien kita?"
"Kalau tidak salah— tuan Robert Khiel."
"Hei, bukankah Robert Khiel adalah seorang tersangka?"
"Ya memang, a-ada apa?" Ucap Felix mulai gugup mengingat semua pengacara sudah menunjukan ekspresi menolak.
Rossa menghela napas. "Kau ini bagaimana, aku keberatan menjalani misi ini." Ucapnya lantang.
"Maaf boleh berikan alasanmu."
"Aku tidak bisa membela tersangka, kenapa kita harus membela tersangka kalau korban sudah pasti menang kan? menurutku percuma saja, setahuku Robert Khiel itu hanya asisten biasa yang digaji kecil."
"Nona Rossa, ini hukum. Dan hukum tak memandang bulu." Ucap Felix.
"Jangan menjadikan hukum sebagai alasan, bagaimana kalau tersangka adalah bangsa Timur. Bukankah sama saja kita membela pergerakan Timur? Semuanya setuju padaku kan?"
"Benar!" Sontak perkataan Rossa dibenarkan oleh seluruh pengacara yang hadir.
"Ah, ya tuhan tolong aku." Gumam Felix sambil memijat pelipisnya.
"Sebaiknya kita keluar saja dari sini, biarkan si ahli yang melakukannya!" Ucap salah satu pengacara yang beranjak dari kursinya.
Sehingga satu persatu dari mereka bergegas pergi dari ruang rapat karena diantara mereka tak ada yang ingin membela seorang Robert Khiel.
Namun langkah mereka terhenti ketika seorang atasan masuk ruangan dengan sangat tiba-tiba.
"Kau ini bagaimana, sudah kubilang berikan saja tugas ini kepada ahlinya!"
Semua orang di ruangan itu tersentak setelah mendengar atasan mereka membentak hingga memenuhi ruangan.
"I-iya aku sudah melakukan tugasnya tuan, tapi tidak ada yang mau melakukannya."
Tuan Cornwell menghela napas berat. "Maksudku berikan tugas ini kepada ahlinya, tentu saja siapa lagi kalau bukan Lexan Parker."
Semua orang terkejut apalagi pemilik nama itu. Lexan menenggak ludahnya, satu misi saja belum tuntas atasannya ini malah menambah beban kerjanya kalau bukan atasan mungkin ia sudah menonjok wajah psikopatnya itu.
__ADS_1
Hening sementara.
Sampai pada akhirnya, sang atasan keluar.
Semua orang di ruangan itu langsung menatap Lexan sinis.
"Ya ya, sudah kubilang kan berikan saja pada ahlinya."
"Iya, Lexan kan orang yang paling diandalkan."
"Iya nih si paling diandalkan." Sindirnya sambil tertawa.
"Apalagi namanya tercatat di organisasi, sudah jelas dia bisa diandalkan."
"Hei, Lexan kalau kau mencari keadilan untuk tersangka apakah awak media masih ingin merekam wajahmu!?"
"Sepertinya pria rupawan ini akan kehilangan pamornya."
Mereka tertawa setelah menyindir Lexan. Lexan yang sebenarnya kesal ingin membela dirinya, namun karena reputasi akhirnya dia hanya diam.
Hingga tak ada satupun orang di ruang rapat. Lexan keluar dari ruangan itu disusul Felix yang wajahnya terlihat bersalah.
"A-aku tidak bermaksud mempermalukan mu."
Pria itu hanya membuang napas berat.
"Kalau tugas itu diperuntukan hanya untuk orang yang bernama Lexan, kenapa harus didepan umum? bisa kan bicara empat mata denganku?"
"Maaf, atasan yang menyuruhku."
"Lagi-lagi atasan!" Ucapnya kesal.
Karena tak mau perdebatannya didengar, Lexan dan Felix segera masuk ke ruangan mereka dan mengunci pintu rapat. Terlihat Lexan yang duduk termenung sambil mengusap wajahnya kasar.
Ia sontak beranjak dari duduknya dengan langkah yang agak terburu-buru.
"Kau mau kemana?"
"Menyelsaikan misi pertama."
"Aku ikut!"
"Sebelum itu, aku mau kau mencari detektif untuk kelancaran misi ku."
"Detektif?"
__ADS_1
"Ya, apa kurang jelas?"
"Tidak maksudku, tumben sekali."
"Aku tidak mau dengar ocehan dari orang-orang, lakukan saja tugasku setelah itu bergegaslah ke perbatasan."
"Baik, dimengerti."
...****************...
Lexan dan Felix kembali pada misi pertamanya, mengintai di perbatasan. Namun kali ini bersama dengan pasukan Barat karena mereka akan masuk kedalam wilayah Timur. Keberadaan mereka akan dicurigai jika tidak pandai menyamar, untungnya pria satu ini mempunyai kemampuan menyamar dan juga Felix yang berhasil mencuri seragam tentara Timur.
"Elizabeth Steirn, sekertaris dari organisasi detektif bilang kalau detektifnya tidak bisa datang hari ini karena ada misi penting di Timur."
"Dia juga bertugas di Timur?" Sambil melihat teropong.
"Ya, kalau beruntung kita bisa menemuinya. Kau tahu SEA memang berbeda dari yang lain."
"Aku tahu, banyak sekali yang membicarakannya, tapi wajahnya tak pernah sekalipun terlihat."
"Karena dia detektif, tidak sepertimu yang terkenal di koran-koran."
"Fokuslah, tentara Timur mulai mendekat."
"Omong-omong, tujuan kita kesini bukan cuma mencari informasi kan?"
"Timur sudah mencuri batu berlian organisasi, mungkin SEA di tugaskan disini karena berlian itu."
(SEA merupakan detektif dari Barat yang akan membantu Lexan menyelesaikan kasusnya)
Sedangkan saat ini SEA yang nama aslinya adalah Sherine Dawson, menyamar layaknya seorang mata-mata untuk mengelabui Timur. Alasan dia berada di Timur tentu saja karena berlian berharga itu, ia mati-matian menjadi mata-mata agar mudah masuk kedalam kantor pusat dimana berlian itu disimpan.
SEA belum tahu kalau dirinya akan bekerja sama dengan Lexan, karena ia sedang menjalani misi jadi pihak sekertaris dilarang menghubunginya.
Kemampuan menyamarnya 100% berhasil karena tak ada siapapun yang tahu kalau itu SEA. Namun, dibalik keterampilannya itu ada hal yang bisa membahayakannya.
Ketika Sherine selangkah lagi memasuki pintu kantor pusat, tiba-tiba sebuah bom meledak dibawah kakinya yang membuatnya terlempar jauh dari pintu.
Suara ledakan dari balik pintu sangat keras hingga menghancurkan tembok yang disandar Lexan.
Lexan terkejut. Matanya melotot melihat seseorang berpakaian serba hitam layaknya mata-mata Timur yang berada tepat didepannya.
Sontak, Lexan memerintah pasukannya untuk menangkap Sherine yang penampilannya seperti mata-mata. Sherine yang kaget dengan sigap menarik tubuhnya keatas melalui bantuan tali yang otomatis memanjang saat ditekan tuas kecilnya.
Namun, Sherine belum bebas. Di atas atap bangunan kantor pusat itu, para pasukan Lexan telah mengepungnya. Sherine memundurkan kakinya perlahan. Tiba-tiba dari belakang wajahnya ditutup oleh karung yang membuat napasnya tercekat, hingga beberapa detik ia pingsan.
__ADS_1
Bersambung...