
Di rumah Hendrick...
Ting... Tong...
Bel berbunyi, seorang pelayan rumah membuka pintu besar berwarna cokelat tua. Dilihatnya seorang kurir tua yang mengantarkan sebuah paket.
"Untuk tuan Hendrick," Ucap si kurir tua itu.
"T-tuan Hendrick? maaf kami tidak pesan paket," Ucap si pelayan bingung.
"Oh sungguh, tapi benar ini paket atas nama Hendrick."
"Hah? Kami tidak memesan barang apapun atas nama Hendrick! kau mengerti?"
Kurir paket itu tertawa misterius. "Memang tidak pernah."
Kepala pelayan itu dipukul oleh si kurir tua, hingga dia pingsan. Kurir tua itu membuang tongkat pemukul, lalu dengan tangannya merobek wajah tua yang melekat.
Dibalik wajah tua itu ada wajah Sherine yang sedang melakukan penyamarannya. Ia melepas kumis palsu yang menempel di wajahnya.
"Maaf ya, aku harus melakukan ini," Ucapnya kepada pelayan yang tergeletak pingsan.
Ia pun masuk dengan wajah si pelayan yang dipukul tadi. Dengan penyamarannya Sherine berjalan tanpa dicurigai seorangpun.
"Hei, siapa tadi yang ada didepan pintu?" Tanya salah seorang pelayan yang tak sengaja bertemu dengan Sherine.
"Bukan siapa-siapa, hanya orang iseng," Jawab Sherine dengan suara layaknya pelayan yang dijadikan penyamaran olehnya.
"Oh begitu, kukira apa."
Sherine berjalan meninggalkan si pelayan itu, namun ia dipanggil lagi oleh pelayan itu.
"Hei, tolong sekalian matikan kompor ya. Kau mau ke dapur, kan?"
"I-iya akan ku matikan."
"Bagus, terimakasih ya." Pelayan itu berjalan meninggalkan Sherine.
Dalam hatinya ia menghela napas. "Untung saja dia tidak curiga," Ucap Sherine.
Sherine dengan penyamarannya kembali mencari sebuah tempat dimana kartu kependudukan itu diletakkan.
"Siapa yang akan menaruh kartu penting itu di gudang, tentunya ada di tempat yang aman dan mudah ditemukan, bukan?" Gumamnya.
"Benar, pasti dikamar."
Kaki kecilnya berjalan menuju pintu kamar si pemilik rumah. Ketika Sherine sampai disana, ia mendekatkan telinganya ke pintu kayu tebal. Sherine mendengar suara seorang wanita yang sedang bernyanyi.
"Apa itu suara nyonya Miranda?" Tanyanya.
Kepalanya pun menengok ke kanan dan ke kiri, memastikan tiada seseorang yang ada disana selain dia.
"Kenapa dia bernyanyi, apa dia tidak bersedih atas kematian suaminya?" Mengingat kesempatan ini tidak datang dua kali, Sherine akhirnya memikirkan rencana agar dia bisa masuk ke dalam kamar dan mencari kartu kependudukan itu.
"Pelayan, kau diluar?" Panggil nyonya Miranda dari dalam.
"Iya, Nyonya. Anda butuh sesuatu?" Tanya Sherine.
"Ya, bisa tolong bawakan segelas air?"
"Baik, Nyonya."
Sherine bergegas ke dapur dan membawa nampan berisi segelas air untuk sang nyonya.
"Nyonya, aku membawakan segelas air yang Anda mau."
"Masuklah."
Sherine membuka pintu itu. Ia melihat kamar besar nan rapi itu dengan satu penghuni yang sedang merias diri di depan cermin.
"Taruhlah disini," Perintah nyonya Miranda.
"Baik."
"K-kalau boleh tahu, anda mau kemana Nyonya?" Tanya Sherine.
"Aku mau pergi ke suatu tempat, kenapa kau malah bertanya? aku kan sudah memberitahu mu," Ucapnya sambil mengenakan perhiasan yang indah.
"Maaf Nyonya, karena aku sudah tua jadi sering lupa," Ucap Sherine beralasan.
"Oh begitu, pergilah," Suruhnya.
"Karena Nyonya akan pergi, aku akan bereskan kamar ini."
"Aku sudah merapikan tempat tidur, kau tidak usah repot-repot."
"Tidak Nyonya, kamar ini masih berdebu. Aku hanya ingin Nyonya nyaman dengan kamar ini sepulang dari pergi nanti."
Nyonya Miranda menghela napas. "Ya sudah, karena kau sangat bersikeras." Ucapnya Mengizinkan.
"Hati-hati dijalan, Nyonya."
Setelah nyonya Miranda pergi, Sherine mencari bukti utama itu ke seluruh tempat bahkan yang tertutup sekalipun. Ia mencarinya di slorok, namun benda itu tidak ada.
"Kemana benda itu disimpan? Apa Miranda membawanya?" Tanya Sherine.
Ia pun mencarinya lagi, hingga tempat yang belum digeledah oleh Sherine. Di bawah kasur, ia menemukan kotak kecil yang tidak dikunci, mungkin berisi benda penting yang dicari.
Mata Sherine membulat. "Ketemu!" Ucapnya senang.
"Orang bodoh mana yang akan menaruh kartu kependudukan di kotak yang tidak dikunci sama sekali."
__ADS_1
Lalu ia membaca isi biodata dari kedua kartu tersebut.
KARTU KEPENDUDUKAN TIMUR
Nama: Thomson Hendrick
Lahir: Saberia, G. Timur.
(Saberia merupakan kota yang terletak di wilayah Timur. Dan G. Timur adalah wilayah dimana Thomson selaku korban lahir.)
"Ternyata benar, tuan Thomson adalah orang Timur."
Sherine langsung memasukkan kartu itu ke saku kecil pakaiannya, lalu bergegas pergi dari sana.
Selanjutnya adalah mencari bukti kedua yaitu rekaman Cctv. Namun ia tidak yakin karena pastinya orang tak bertanggung jawab pasti telah menghilangkan bukti utama itu.
Sherine pun pergi ke ruang keamanan, dimana didalamnya ada komputer yang tersambung dengan Cctv rumah. Hanya satu tempat yang tidak dipasang Cctv, yaitu diluar gerbang dan di pintu masuk. Jadi, Sherine yang menyamar menjadi kurir tua tadi tidak terekam.
Ruangan keamanan itu kosong, tiada orang yang berjaga didalam. Sherine melihat dengan teliti rekaman pada saat Thomson terbunuh.
Benar saja, rekaman pada saat pembunuhan itu hilang. Untungnya usaha Sherine menyusup tidak sia-sia, karena ada bukti lain didalam rumah ini.
Karena telah menemukan satu bukti yang kuat, Sherine pun kembali ke kantor Firma hukum untuk menemui rekannya itu dan memberikan hasil yang membuatnya tercengang.
...****************...
Dengan perasaan yang amat senang, Sherine mempercepat langkah kakinya. Bukan senang karena ingin menemui Lexan, tapi karena ia ingin menunjukkan hasil yang ia dapat dan melihat ekspresi tercengang dari wajah rekannya itu.
Sherine membuka kenop pintu dan–
"Kejutan," Ucap Lexan dengan senyumnya yang langka dilihat orang lain.
Sherine kaget melihat rekannya yang ternyata telah menunggunya di depan pintu.
"Parker?!" Ucap Sherine antusias.
"Akhirnya kau datang juga. Kau tahu aku punya hal yang membuatmu tercengang."
"Benarkah?"
"Ya, kemarilah," Lexan menarik tangan Sherine menuju mejanya.
"Kejutan apa yang ingin kau tunjukkan?"
Lexan membawa sebuah kotak hitam. Ia membuka kotak itu. "Sebelum aku membuka kotak ini, kau pernah bilang dokter forensik tak akan mengizinkan ku melihat jenazah Thomson, kan?"
"Lalu?"
Dengan ekspresi senyum merekah-nya, ia menunjukkan sebuah foto. "Ini adalah foto luka yang ada di tubuh Thomson."
"Apa?! coba ku lihat," Ucap Sherine mengambil foto yang ada ditangan Lexan.
"Ini luka tusuk dan–ada luka cakar juga?" Tanyanya.
Ia menunjukkan sekantung plastik berisi pisau untuk membunuh, lalu mengeluarkan sebuah alat pendeteksi yang dipinjamkan dokter Sullivan.
"Benda apa ini, Parker?"
"Alat pendeteksi."
"Dan kau juga membawa pisau itu?!"
"Yap, dokter forensik mengizinkanku membawa alat dan pisau ini. Sekarang, lihatlah."
Seperti yang ia lakukan sebelumnya didepan dokter Sullivan, kini ia menunjukkan lagi hal yang akan membuat ekspresi Sherine tercengang seperti dokter Sullivan.
"Pisau ini awalnya terdapat noda darah dipegangannya, ya seperti sidik jari. Dan lihatlah foto ini."
Lexan menunjukkan foto yang bertuliskan COMPLETE seperti di layar waktu itu.
"Maksudmu, kata COMPLETE itu artinya tuan Robert terbukti melakukan pembunuhan?"
"Ya, awalnya dokter forensik setuju dengan hasil karena dia juga yakin kalau tuan Robert bersalah. Tapi, setelah pisau yang noda darahnya sudah ku bersihkan dan pisau ini dimasukkan ke dalam alat pendeteksi, hasilnya–"
Muncul tulisan besar FAILED. Sherine tercengang melihat hasil yang sebenarnya.
"Kesimpulannya adalah, darah itu memang milik tuan Robert tapi sidik jari itu bukan. Jadi, tuan Robert tak terbukti bersalah." Ucap Lexan.
"Lalu, sidik jari siapa itu?"
"Nah, itu pertanyaannya. Sepertinya alat ini sudah didata atas nama tuan Robert," Ucap Lexan.
"Itu artinya–alat ini butuh seseorang yang terlibat juga di satu ruangan saat kejadian, kan?" Tanya Sherine.
"Iya," Ucapnya masih memperhatikan alat pendeteksi itu.
"Mungkin ini bisa membantu," Menunjukkan kartu kependudukan.
Mata Lexan membulat. "Bagaimana bisa?!"
Kini giliran Sherine tersenyum. "Aku menyelinap ke rumah Hendrick dan mengambil bukti yang lebih penting, selain rekaman."
Lexan merebut kartu itu dari tangan Sherine. Dibacanya secara teliti. Dia kaget.
"Jadi–tuan Thomson dan nyonya Miranda adalah–orang Timur?" Tanya Lexan.
Sherine Mengangguk. "Mereka punya dua kartu kependudukan."
"Apa?! tapi bagaimana bisa?"
"Tentunya karena uang. Mereka akan bayar mahal untuk menyamarkan identitas mereka."
__ADS_1
"Dan, bagaimana kau tahu benda kecil seperti ini adalah hal yang bisa melengkapi bukti kita?"
"Di rumah Hendrick, ada banyak sekali misteri yang belum diungkap. Tapi, berkat bantuan dari bu Hudson, aku bisa menemukan salah satu dari banyaknya misteri itu."
Matanya berbinar pada kartu kependudukan yang diberikan Sherine. "Mengesankan," Ucapnya mengembangkan senyum.
Sherine Menyadari selama beberapa jam dia berada di ruangan yang penuh dengan bukti itu, ada suatu momen langka, yaitu melihat Lexan tersenyum merekah layaknya anak kecil yang baru saja dibelikan mainan oleh orangtuanya.
Tanpa Sherine sadari, dirinya baru saja tersenyum menatap momen langka itu. "Ternyata membuat Parker tersenyum itu mudah ya," Gumamnya.
"Apa?"
"Tidak, maksudku apa kau sudah selesai melihat benda itu?"
"Oh iya. Tapi sebelumnya aku ingin menanyakan satu hal."
"Apa itu?"
"Siapa bu Hudson?"
"Salah satu senior di organisasi detektif."
"Ah jangan bilang, dia orang yang kau temui di kota Helton."
Sherine mengangguk. "Jadi–kapan kau akan menaruh benda itu pada alatnya?"
"Baik, jadi pertama setting alatnya menurut biodata dari Miranda. Setelah diproses, lalu masukkan pisau ini."
Mereka menunggu lama hasil yang keluar dari alat. Tapi ternyata tidak membuahkan hasil.
"Kenapa ya?" Tanya Lexan.
"Apa ada yang salah?"
"Sepertinya yang ku lakukan sudah benar."
"Lalu?"
"Aku tidak tahu sepertinya biodata ini masih kurang. Dan aku harus bertanya lagi pada dokter Sullivan tentang alat ini."
"Tapi tidak apa, kerja bagus Sherine. Kau membuatku tercengang dengan hasil yang tidak terduga," Sambil memberikan kartu kependudukan itu.
"Kau juga, tidak kusangka dokter forensik akan mengizinkanmu."
"Seperti yang kau bilang tadi, uang bisa memperdaya segalanya."
Keduanya pun merasa lega setelah misi pertama mereka selesai. Ya–setidaknya mensyukuri apa yang mereka dapatkan diawal adalah langkah agar mereka bisa terus maju. Selanjutnya apa—
"Yo, kawan!" Sapa seorang pria yang masuk ke ruangan Lexan tanpa mengetuk pintu.
"Kau?" Tanya Lexan tidak percaya.
Pria itu langsung menjabat tangan Lexan seperti orang yang sudah kenal akrab. Sebenarnya pria itu hendak memeluknya, tapi Lexan dengan wajah tak suka menghindarkan tubuhnya dari pria itu. Dari perawakannya pria itu memiliki usia sepantaran Lexan.
"Kenapa tidak ketuk pintu–"
"Hei! sepertinya aku mengenalmu?!" Ucap pria itu antusias melihat Sherine.
Sherine sontak membereskan barang-barang bukti, karena pria itu menghampirinya tepat di dekat meja yang isinya penuh barang penting.
Sherine mendelik. "Kau kan–"
"Kau gadis bertudung yang ada di kereta kemarin, kan?" Tanya pria itu.
"I-iya, dan kau–"
"Kyle Rochford," Pria itu langsung menjabat tangan Sherine dengan antusias.
"Oh–Sherine Dawson," Ucapnya terpaksa, padahal Sherine tidak mau menjabat tangannya mengingat apa yang dia lakukan.
"Kalian sudah pernah bertemu?" Tanya Lexan.
"Kami tidak sengaja bertemu di kereta. Oh iya, soal kemarin tolong maafkan aku ya. Aku sungguh tidak bermaksud mengejekmu seperti itu," Ucapnya masih menggenggam tangan Sherine erat.
"Mengejek?" Tanya Lexan.
Sontak Sherine melepas ganggaman tangan itu paksa.
Lexan melewati punggung temannya itu sambil berbisik. "Mampus."
"Sekali lagi aku minta maaf karena membuatmu tidak nyaman," Ucap Kyle yang mulai takut tidak dimaafkan.
Sherine pun menghela napas. "Tidak apa-apa, aku memaafkan-mu," Sambil mengguratkan senyumnya.
Sontak Lexan terkejut dengan sikap Sherine, begitupun dengan Kyle yang perlahan ikut tersenyum membalas.
"Sungguh?" Tanya Kyle.
"Iya, aku juga minta maaf karena terbawa emosi."
"Syukurlah, aku pikir kau tak akan memaafkan ku."
"Tidak mungkin," Gumam Lexan yang masih terkejut.
"Karena kau sudah meminta maaf dan mengatakan alasannya, wajarlah kumaafkan. Daripada kau diam tapi malah pura-pura tidak tahu, entahlah apakah masih ada rasa bersalah dalam dirinya," Ucap Sherine sambil melirik mata Lexan.
Sedangkan orang yang ditatap malah membalas sinis.
"Dia rekanku, detektif Sherine Dawson. Kau tidak perlu bertanya kasus apa Yang sedang kukerjakan saat ini. Dan hal yang harusnya kau lakukan ada keluar dari ruanganku sekarang."
"Apa? ayolah kawan, bisakah kita mengobrol sebentar?"
__ADS_1
"Aku sibuk, pergilah Kyle."
Akhirnya Lexan mendorong tubuh temannya itu dengan paksa keluar pintu. Tanpa ada kata apapun, Lexan langsung menutup pintu itu kasar.