The Law

The Law
Bab 5


__ADS_3

Setelah kegagalan Sherine membujuk Helen untuk membukakannya pintu kemarin, kali ini ia mencoba lagi. Sherine bukan orang yang mudah putus asa hanya kesal saja jika keinginannya tak bisa terpenuhi oleh keadaan.


Sherine bergegas menuju perumahan Edelweis lagi. Sesampainya disana, ia tak melihat ada nenek yang kemarin menawarinya makan.


Sherine yang hendak mengetuk pintu, mengalihkan pandangannya pada sekitarnya yang tampak kotor, ya masih kotor. Keadaan rumah Helen masih seperti kemarin.


"Aku tidak tahu berapa banyak pasokan makanan yang ada dirumahnya, dia tidak pernah keluar dan bahkan tak membersihkan rumahnya."


Tangannya pun hendak mengetuk lagi, namun–


"Aku khawatir apa yang terjadi dengannya," Akhirnya Sherine mengetuk pintu kayu itu.


Yap, tidak ada jawaban.


"Permisi."


Sherine kembali mengetuk pintu itu.


"Baiklah Helen, karena aku mengkhawatirkan mu terpaksa aku harus melakukan ini."


Sherine menjauhkan dirinya dari pintu dan bersiap mendobrak. Namun, langkahnya terhenti ketika–


"Kau datang lagi, Nak?" Ucap si nenek yang kebetulan melihat Sherine.


"Nenek." Ucap Sherine sedikit kaget.


"Ya, aku baru saja dari supermarket dan membeli banyak camilan, mampirlah ke rumahku kau pasti baru datang ya." Ajak nenek.


Sherine terpaksa mampir ke rumah si nenek, padahal niatnya ingin menemui Helen Loise setelah itu pergi.


"Benar, aku bisa bertanya hal banyak soal Helen Loise lebih banyak daripada kemarin." Gumamnya.


Sherine masuk ke rumah nenek yang bersih.


"Nenek, tinggal sendiri?" Tanya Sherine.


"Iya, aku sudah tinggal sendiri disini selama kurang lebih sepuluh tahun."


"Itu waktu yang lama, dimana keluarga Nenek?"


"Anak-anakku semuanya tinggal di penjuru kota, mereka memberikanku rumah ini sebagai hadiah, setelah itu mereka tidak mengunjungiku lagi." Ucap nenek sambil menghela napas.


"Maaf aku menanyakan hal ini."


"Tidak apa-apa, Nak. Ayo makanlah dulu."


Sherine duduk di sofa sembari memakan camilan yang ditawarkan nenek. Ketika si nenek duduk di depannya, Sherine langsung bertanya tentang Helen Loise.


"Apa Helen masih tidak mau keluar rumah?"


"Iya, setelah kau pergi waktu itu Helen tetap tidak mau keluar."


"Aku tidak tahu, apa dia terlalu takut untuk keluar rumah karena berita tentang kematian bos-nya." Ucap si nenek murung.


"Padahal, Helen adalah anak yang ceria, aku khawatir jika Helen sakit atau terjadi sesuatu padanya."


"Oleh karena itu aku mau mendobrak pintunya tadi." Gumam Sherine.


"Kau bilang apa, Nak?"


"Ah, tidak."


"Sebenarnya sudah berapa lama, Helen tinggal disini?"


"Waktu itu dia masih berumur 15 tahun, ya dia masih muda tapi sudah bekerja serabutan. Helen bilang dia yatim piatu, tapi–biaya perumahan ini sangat besar untuk anak usia 15 tahun yang kerjanya serabutan."


"Sungguh dia tidak punya kerabat? atau ada orang lain yang membiayai rumahnya?"


"Kurasa tidak, Helen tidak punya kerabat dia yang cerita sendiri. Anak yang malang, dia harus putus seolah untuk menghidupi dirinya sendiri. Kadangkala aku selalu berada di rumahnya dan sebaliknya, Helen selalu berada di rumahku."


"Nenek tahu jelas sifat Helen, kan?"


"Ya, dia sangat polos, jadi mudah sekali untuk di suruh-suruh oleh orang tak bertanggung jawab, apalagi dibodohi. Tunggu, bukankah kau temannya, harusnya kau tahu, kan?"


"Sebenarnya–aku bukan temannya," Sherine mengeluarkan lencana detektifnya.


"Maaf kalau aku bohong, aku adalah detektif yang mengurus kasus pembunuhan bos-nya."


Nenek itu terkejut. "Nenek tidak perlu khawatir, aku tidak akan menyakiti Helen atau membuat Helen ketakutan. Hanya saja aku ingin Helen menceritakan rangkaian kejadian yang ia lihat." Jelas Sherine.


"Maksudmu–Helen adalah saksi pembunuhan itu?" Ucap nenek masih tak percaya.


"Bisa saja, karena dia kebetulan ada disitu. Aku tahu alasannya tidak keluar rumah, karena pasti awak media akan mencari keberadaannya dan meminta penjelasannya."


"Lalu bagaimana denganmu, bukankah kau sama saja?"


"Aku–sama seperti mereka yang mencari Helen Loise dan memaksanya untuk keluar rumah, tapi–aku mencoba bicara baik-baik dan berusaha tidak menyakitinya."


"Kurasa kau tidak bisa, Nak."


"Apa Nenek melarangku?"


"Jelas, Helen bukan orang seperti itu. Kau bilang mungkin saja dia adalah saksi tapi bagaimana kalau dia adalah pelaku?" Ucap nenek sedikit menunjukkan amarahnya.


"Oleh karena itu, aku ingin bicara baik-baik dengannya."


Nenek terdiam, namun dalam diamnya telah menunjukkan kalau dia tidak suka jika Sherine menemui Helen dengan tujuan seperti itu.


"Baiklah, aku meminta maaf yang sebesar-besarnya kalau aku lancang. Kalaupun Nenek tak mengijinkan, aku akan pergi."


Wajah si nenek itu berubah tak suka, bahkan tak menghiraukan kepergian Sherine.


Namun dengan larangan pun tak menghentikan Sherine untuk tetap menemui Helen. Ia akan datang lagi. Saking keras kepalanya, ia membuat motto kalau Larangan adalah perintah.


"Aku tidak menyesal karena sudah mengaku, justru dengan begitu penyelidikan ini semakin seru." Ucapnya sambil tersenyum.


...****************...


Sesampainya di kantor, Lexan baru kembali dari tugas luar kotanya. Sherine yang tak menghiraukan langsung masuk ke ruangannya.


"Darimana saja kau?" Tanya Lexan.


Sherine kaget, padahal dia tak mengucap salam atau bahkan Lexan tak melihat, tapi–pria itu bisa tahu dia datang.


"Aku tahu ada orang yang datang, katakan saja kau darimana?" Ucap Lexan masih membelakangi Sherine.


"T-tentu saja menyelidiki."


"Mengunjungi tuan Robert?"


"Ya."


Setelah itu barulah Lexan menengok Sherine yang masuk ke ruangannya.


"Apa dia memberikan suatu informasi?"


"Iya." Sambil membuka tumpukan buku yang baru saja dipinjamnya.


"Tentang apa?"

__ADS_1


"Pelayan itu, seperti yang kau minta."


"Oh, apa hasilnya?"


"Nihil."


Lexan tertawa kecil. "Bahkan SEA bisa gagal dalam penyelidikan semudah itu."


Sherine menutup bukunya. "Mudah?"


"Apa?!" Ucap Lexan menantang.


"Kalau begitu–coba buktikan sendiri!" Sambil melempar buku yang ia pegang.


Lexan membuka buku itu, ia melihat didalamnya terdapat profil biodata Helen Loise.


"Helen Loise?"


"Pelayan itu–yang mengantar tuan Robert ke ruangan tuan Thomson sebelum kejadian."


Lexan membaca dengan teliti biodata Helen Loise.


"Dia masih muda?!" Decak Lexan.


"Ya, dan dia sudah bekerja selama dua tahun di rumah Hendrick."


"Saat usianya menginjak 16 tahun?"


Sherine mengangguk. "Aku sudah pergi kerumahnya dan ini yang kedua kalinya, sepertinya dia takut membukakan pintu untuk seseorang ditambah lagi seorang nenek yang akan mencegahmu dengan cara halus."


"Sejauh ini lumayan, tapi kalau kita hanya berdiam diri di satu tempat saja maka permasalahan ini tidak akan selesai."


"Jadi–maksudmu?"


"Soal Helen Loise bisa dialihkan, aku punya tugas yang bisa diselesaikan kita berdua, namun terpisah. Kau tahu kan maksudku?"


"Jadi maksudmu kau ingin membagi tugas agar permasalahan ini selesai?"


"Tepat sekali, perhatikan madingnya." Tunjuk Lexan pada sebuah Mading yang berisi rencana yang akan dilakukan.


"Ada dua tempat yang akan kau dan aku datangi, Yang pertama aku akan pergi menemui dokter forensik yang mengurusi jenazah Thomson Hendrick dan kau pergi ke rumah Hendrick mengambil rekaman Cctv yang merekam kejadian pembunuhan Thomson. Ada pertanyaan?"


"Jadi–tugasku adalah mengambil rekaman Cctv itu?"


"Ya."


"K-kalau rekaman Cctv itu sudah hilang? kau tahu kan orang yang tidak bertanggung jawab akan menghilangkan bukti yang paling utama?" Tanya Sherine tidak yakin.


"Ini baru dua Minggu, dan–siapa yang akan menghilangkan bukti itu?"


"Dan dokter forensik tak akan membiarkanmu melihat jenazah Thomson." Tukas Sherine


"Oh ayolah, kali ini aku ingin kerjasama kita benar-benar utuh dan tak terpisah, kau mengerti?"


"Ya aku mengerti Parker, kau ingin kita bekerja sama tapi– bisakah kau memberikan tugas yang bisa masuk ke akal-ku ini?"


"Kau hanya ragu Sherine, lakukan saja kau akan mendapatkannya begitupun dengan aku," Ucap Lexan bersungguh-sungguh.


"Lalu bagaimana aku masuk ke rumah mereka?"


"Kau kan ahli dalam menyamar. Jangan ragu rekan, karena kau bukan remaja labil," Sambil mengedipkan sebelah matanya.


Lexan pun pergi. "Tunggu, kau mau kemana?" Tanya Sherine.


"Dokter forensik dan kupastikan akan mendapatkan semuanya."


Setelah Lexan pergi, Sherine dengan kesal melempar buku itu ke Mading.


Sherine mengusap wajahnya kesal. "Baiklah, tenang Sherine kau bisa melakukannya."


Pandangan Sherine pun beralih pada Mading yang berisi rencana Lexan. Di dalam Mading itu Lexan menempelkan foto tuan Thomson dengan benang merah yang menjalar ke foto lainnya. Sherine kembali melihat foto yang terhubung pada benang merah tersebut yang menuju foto tuan Robert.


"Thomson adalah korban dan Robert adalah tersangka, lalu–"


Sherine melihat lagi benang merah yang langsung menghubungkannya dengan foto rumah besar bak istana milik Thomson Hendrick, lalu benang merah itu terhubung lagi pada rumah sakit tempat jenazah tuan Thomson disemayamkan.


"Foto ini adalah rumah Hendrick, tujuanku selanjutnya dan rumah sakit adalah tujuan Parker. Aku tidak yakin dokter forensik itu akan memberikan jenazah yang belum dimakamkan. Parker memang orang yang tidak suka menunda-nunda pekerjaan, tapi sifatnya yang terlalu buru-buru membuat analisanya salah, mungkin tapi semoga saja tidak."


Tiba-tiba telepon Sherine berdering, menunjukkan nama seseorang yang berasal dari organisasi detektif.


"Halo, Nyonya Jones," Sapa Sherine.


"Oh SEA, bagaimana kabarmu?" Tanya Caroline Jones.


"Ya aku baik, terimakasih sudah tanya."


"Ah biasa saja, kau tahu kan kenapa aku menelponmu?"


"Ya, misi baru kan?"


"Tepat sekali, SEA."


"Sudah kuduga, baik apa misinya?"


"Pergilah ke kota Helton dan bantulah nyonya Hudson."


"Tapi–Nyonya Jones, kenapa aku harus membantu misi lain?"


"Kau tidak hanya membantu, nyonya Hudson sangat ingin bertemu denganmu, anggap saja seperti pertemuan, oke."


"Baiklah."


...****************...


Lexan dan Felix sampai di rumah sakit, tempat jenazah tuan Thomson disemayamkan.


"Hei, kau yakin dokter forensik akan mengizinkanmu melihat jenazah Thomson?" Tanya Felix tak percaya.


"Aku yakin dia akan memberikannya."


"Tapi, bagaimana?"


"Perhatikanlah, kau akan tahu apa gunanya uang."


Kedua orang itu pun berjalan menyusuri lorong, hingga akhirnya menemui sebuah kantor yang bertuliskan 'Dokter Henry Sullivan' .


Namun, mereka dicegat oleh seorang pria yang perawakannya agak melambai.


"Maaf, tuan-tuan. Dokter Sullivan tidak bisa ditemui hari ini," Ucapnya dengan nada melambai.


"Hei, kenapa orang seperti dia dipilih sebagai penjaga?" Bisik Felix pada Lexan.


Sedangkan yang ditanya hanya menaikkan bahunya tak tahu.


"Aku bisa dengar kalian, ya."


Felix tertegun mendengar si penjaga mengetahui apa yang dibicarakannya.


"Oh, pasti kalian adalah suruhan dari pengacara Robert Khiel si tersangka. Waduh-waduh, pasti tidak mudah ya karena dihujat sana-sini, hahahah," Ucapnya mengejek.

__ADS_1


"Karena kalian adalah suruhan Lexan Parker, jadi aku tidak bisa mengijinkan kalian masuk. Ehe," Lanjutnya.


"Ish, menyebalkan sekali padahal dia laki-laki!" Gumam Felix dengan nada jengkel.


Lexan pun menepuk bahu Felix menyuruhnya percaya dengan apa yang dia lakukan.


"Pasti kau tidak digaji karena tugasmu hanya mengolok-olok yang mengunjungi atasanmu, jadi–"


Lexan memberikan uang untuk si penjaga melambai itu sebagai sogokan agar dia diijinkan masuk.


Mata si penjaga itu berbinar melihat uang. "Ah, ya ampun maafkan saya karena melarang anda masuk, tuan. Hehe maksudku silakan masuk!" Ucapnya penuh ceria.


Lexan pun masuk ke ruangan dokter Sullivan.


Sedangkan Felix masih tak percaya dengan apa yang dilakukan Lexan bisa membuatnya masuk begitu saja.


"Wow, mengesankan," Ucap Felix.


Dokter Sullivan terkejut dengan kedatangan Lexan. Ya, dia tahu orang yang masuk ke ruangannya ini adalah Lexan Parker, memangnya si penjaga yang agak melambai itu mengira Lexan dan Felix adalah suruhan dari pengacara tuan Robert.


"Lexan Parker!" Ucap dokter Sullivan terkejut.


"Selamat siang, dokter Sullivan," Ucapnya sambil menarik kursi untuknya duduk.


"Beraninya kau masuk ke ruanganku! b-bukankah Anderson sudah melarang siapapun masuk?!"


"Oh, penjagamu yang melambai itu. Ya, ya lain kali gaji dia lebih banyak dari yang aku berikan," Ucap Lexan mengejek.


Dari lubang pintu, penjaga yang namanya Anderson itu menunjukkan uang yang diberikan Lexan kepada atasannya.


"Apa yang kau mau, Parker?!"


"Izinkan aku melihat jenazah Thomson."


"Atas dasar apa kau ingin melihat jenazah Thomson?!" Tanya dokter Sullivan dengan wajah marah.


"Penyelidikan tentunya."


Dokter Sullivan mengalihkan pandangannya, lalu memberikan senyum mengejek.


"Aku tahu, dokter. Kau menganggapku sebagai orang yang membela tersangka, lalu–apa kau pikir aku tak membutuhkan penyelidikan?"


"Menurutku percuma saja, karena pada akhirnya pihak korban yang akan menang."


"Ya, kau sama saja seperti orang pada umumnya, menganggap kami tidak akan menang di persidangan," Ucap Lexan merendahkan nada bicara layaknya berbisik.


"Dan kau sudah berubah 100% menjadi orang yang membela kejahatan," Ucap dokter Sullivan mengguratkan senyumnya.


"Begini dokter, aku adalah pengacara dan mau tidak mau menerima tugas ini, begitu juga dengan mu. Tunjukkan aku jenazah-nya atau aku pergi?"


"Justru aku mengharapkan tawaran kedua, Pergilah Parker!" Ucapnya kesal.


"Baik, kau menolak klien," Sambil menunjukkan uang yang banyak.


"Hanya segitu yang kau punya. Haha, aku tidak terpikat dengan–"


"Bagaimana kalau–segini," Sambil menunjukkan uang yang lebih dari sebelumnya.


"Aku bisa memberikanmu lebih banyak lagi, dokter. Apa segini kurang?"


Dokter Sullivan tercengang dengan banyaknya uang yang ada di mejanya.


Dokter Sullivan tergagap. "S-sebelah sini, Tuan Parker."


Dokter Sullivan menunjukkan mayat Thomson yang sudah diawetkan.


"Owh. Tusukan di bagian jantung, apakah ini bekas cakar?"


"Ya."


Lexan menatap sang dokter. "Jangan tanya, tugasku hanya memeriksanya lalu memasukannya ke peti pengawetan." Ucap dokter Sullivan.


"Sudah kuduga."


Ia pun melihat lagi mayat itu, mengelilinginya, sesekali meraba luka yang ada pada tubuh Thomson.


"Menurutku ya, Robert memang orang yang membunuh Thomson. Lihat, luka tusukan itu jelas penandanya," Ucap dokter Sullivan.


"Selain luka tusuk, menurutmu apa yang membuat Robert terbukti bersalah?"


"Ada bekas cakar, mereka pasti melakukan perkelahian sebelum pada akhirnya menusuk Thomson."


"Aku setuju dengan pernyataan itu, dokter. Tapi aku merasa yang menyerang Thomson bukanlah Robert, melainkan seorang wanita."


"Wanita?" Tanya dokter Sullivan tak percaya.


"Jika ada perseteruan dalam rumah tangga atau Thomson melakukan kekerasan pada istrinya, hal pertama yang diandalkan seorang wanita dalam menyerang adalah menjambak rambutnya atau–mencakarnya. Kau lihat saja bekas cakaran ini ada di leher dan di wajah."


"Maksudmu, nyonya Miranda terlibat?"


"Tentu saja." Ucap Lexan yakin.


"Tidak, Parker. Aku punya bukti yang menunjukkan kalau Robert adalah tersangka sesungguhnya dan mereka sungguh melakukan perlawanan sebelum pembunuhan. Kemarilah."


Dokter Sullivan mengantarkan Lexan pada ruang laboratoriumnya.


Ia menunjukkan pisau yang digunakan untuk menusuk Thomson dan wadah kaca yang berisi darah.


Lexan mengerutkan keningnya. "Pisau itu–"


"Petugas mengizinkanku mengambilnya, lihat ini."


Dokter Sullivan memasukan pisau itu ke sebuah alat pendeteksi. Ketika alat itu berbunyi, di layar terpampang tulisan besar COMPLETE.


"Lihat hasilnya cocok, sidik jari ini milik tuan Robert!" Serunya senang.


"Tidak, hasil menyatakan cocok karena yang terdeteksi adalah darah, bisa saja darah itu disengaja," Ucap Lexan masih tidak setuju.


"Maksudmu disengaja?" Tanya si dokter bingung.


"Seseorang telah menyayat jari Robert dan menempelkannya di pisau itu, tentu saja hal itu disengaja karena dibalik darah Robert ada sidik jari yang tak bisa dilihat oleh mata telanjang."


"Apa?!" Tanya dokter masih tak percaya.


"Berikan pisaunya," Lexan mengelap noda darah itu dengan hati-hati.


Lalu ia memasukkannya kembali pada alat pendeteksi itu. Dan hasilnya–


FAILED, si dokter memelotot dengan hasil yang gagal tak seperti diawal.


"Aku benar kan?!" Seru Lexan dengan senyum kemenangan.


Dokter Sullivan hanya bisa tercengang melihat hasil yang diperoleh dari Lexan.


"Aku boleh memotret hasilnya, dan–pisaunya?"


"A-ambil saja," Ucap dokter Sullivan yang masih diam terpaku.


Lexan dengan penuh kemenangannya ingin sekali memberitahu Sherine tentang hasil yang didapatnya.

__ADS_1


"Aku telah mendapatkannya, Dawson," Gumamnya penuh senyum bahagia.


"Eh tunggu, tapi sidik jari siapa itu?" Tanyanya lagi.


__ADS_2