The Life Of Bitter

The Life Of Bitter
#3. Bertengkar


__ADS_3

Aku terbangun dari tidur siang ku. Rasanya berisik sekali. Aku melangkah keluar, belum sempat ku buka pintu itu. Aku mendengar sesuatu.


"jadi gimana? Uang tabungan udah habis. Terus besok-besok mau makan apa? Susu Diwa pun tinggal untuk satu malam ini!" Mama berteriak keras ke Papa.


Aku tak mendengar suara Papa menyaut teriakkan Mama. Tapi ada apa, ya? Aku memberanikan diri keluar kamar. Papa dan Mama melihatku. Mereka terdiam. Kulihat Mama menangis dan pergi masuk ke kamar. Sedang Papa hanya duduk terdiam.


Aku pun bergegas mandi. Belum hilang fikiranku tentang Naka, malah di tambah lagi fikiranku tentang Papa dan Mama. Batin ku dalam hati. Hmm.


Dan ini adalah yang pertama kalinya untuk ku, aku melihat orang tua ku bertengkar.


Aku adalah anak ke-3 dari 4 bersaudara. Abangku, Pram dan Kakakku, Putri. Mereka masih tinggal di Aceh, sebab pekerjaan mereka masih belum selesai disana. Papa berpesan pada mereka, kalau kontrak kerjanya sudah habis, datanglah dan tinggal disini. Sedangkan yang paling kecil adalah Diwa. Masih berusia 4 tahun, dia manis sekali.


Malam itu, berlalu begitu cepat. Tak ada makan malam bersama, tak ada nonton tv bersama. Semua asik dengan dirinya masing-masing. Kulihat jam, pukul 9 malam.


Diwa sudah tidur.


Papa masih di ruang tamu dengan sebatang rokok dijarinya.


Sedang Mama, tengah asik telfonan dengan temannya. Gumam ku dalam hati.


Dan aku sendiri, sedikit merasa sedih. Yasudahlah, semua akan segera membaik, fikirku.


🖤🖤🖤

__ADS_1


Jumat pagi ini, jalanannya agak basah. Masih disertai rintik sisa tadi malam. Pakai sweater mungkin lebih hangat. Baiklah, ayo berangkat.


"good morning, Tere!" sapa ku.


"Morninggg" jawabnya.


Keadaan pagi ini masih seperti biasa. Anak-anak asik sendiri. Kita mulai saja ya.


"selamat pagi.." sapa Bu Ike. Guru antropologi yang super kocak.


"Yuki, minta tolong dulu Ibu. Ambilkan tas Ibu di perpustakaan, lupa Ibu bawanya" kata Bu Ike


"okee.. sama Tere ya, bu" minta ku


Aku dan Tere berjalan ke perpustakaan. Letaknya bersebelahan dengan ruang BK (bimbingan konseling). Kami sedikit mendengar pertengkaran dan sebuah pukulan ke tubuh manusia. Jadi kami putuskan untuk pura-pura lewat sambil mengintip ada siapa di dalam sana.


Terlihat ada Pak Karo, guru BK di sekolah ini. Ada bapak berkemeja juga dan di sebelahnya ada anak laki-laki memakai seragam SMA tengah duduk. Tapi aku tak mengenalinya.


"Ki, itu tadi yang namanya Naka. Anak kelas kita yang gak pernah hadir" jelas Tere.


"ohiya?" tanyaku.


Tere hanya mengangguk. Aku tak lanjut membahasnya. Kulihat saja nanti ketika dia sudah masuk kelas.

__ADS_1


Sampai dikelas, "eh, Naka udah masuk lagi, loh. Tapi sekarang lagi di BK dia" jelas Tere ke anak-anak yang lain.


"masuk juga dia akhirnya, Ya Allah. Ku kira udah mati dia" jawab Aqil.


Aqil sendiri adalah teman ku yang berwujud laki-laki setengah perempuan. Dia memang anak yang frontal.


Setelah 50 menit pelajaran berlangsung, pintu kelas diketuk. Tok... tok... tok...


"saya boleh masuk, bu? " tanya dia, si Naka Leosyaka.


"hm.. baru Ibu nampak wajahmu itu. Masuklah, kami dah mau pulang ini" ledek Bu Ike.


Seluruh isi kelas tertuju padanya sambil saling berbisik-bisik. Dia masuk dan duduk persis di belakang ku. Aku sedikit merasa aneh.


"heei.. kemana aja kau? udah berapa abad nggak masuk. Kenapa itu kepala kau? Begelut kau di BK tadi, ih gak beres kau emang ini" tutur Aqil yang terus bertanya.


Namun Naka terdiam saja. Ia tak menjawab satupun pertanyaan dari teman-temannya.


Sejak ia masuk, anak-anak kembali akrab dengannya,termasuk aku. Bermain seperti biasa. Lambat laun mereka lupa apa penyebab ia tak masuk sekolah hampir sebulan.


Ternyata dia tidak sehoror yang aku fikirkan. Anak yang asik. Berkumis tipis dengan senyum lebar yang manis. Sejak hari itu, dia tak pernah lagi tidak hadir sekolah.


🖤🖤🖤

__ADS_1


__ADS_2